2. Jejak Palsu

1158 Kata
Rua da Felicidade Satria Wiratama berdiri di balkon suitenya, menatap cahaya yang memantul dari gedung megah Lisboa Casino. Kubah emasnya bersinar seperti mahkota iblis. Gagah dan penuh misteri. Dia mulai bergerak mengikuti satu permainan yang baru saja dimulai dan ia tidak suka berada di posisi bidak. Pukul 01.17 dini hari. Mobil hitamnya meluncur melewati Avenida de Lisboa, lalu berbelok ke Rua Cidade de Sintra. Lampu jalan memantulkan kilau di kaca jendela yang gelap. Roberto duduk di kursi depan, sementara dua mobil lain mengikuti dari belakang. Tetap dalam pengawalan ketat. “Dermaga yang mereka sebut ada di mana?” tanya Satria pelan. “Area lama dekat Inner Harbour, Tuan. Kemungkinan akses lewat Rua do Almirante Sérgio.” Satria mengangguk tipis. Wilayah itu bukan tempat turis karena sepi dan tidak mencolok sebab terlalu banyak gudang tua yang sudah berubah fungsi menjadi tempat transaksi ilegal. Macau, itu sebabnya mendengar nama negaranya saja, seperti menjadi simbol topeng kejahatan. Mobil berhenti tak jauh dari lorong sempit yang mengarah ke Travessa do Armazém Velho. Satria turun meskipun fokusnya masih pecah. Di kepalanya, potongan-potongan kejadian tadi malam terus berputar. Aleta. Perempuan yang memakai cheongsam merah itu menjadi satu-satunya perempuan yang berhasil membuat hidupnya kacau dalam semalaman. “Gudang ketiga, Tuan,” bisik Roberto. Pintu besi berkarat itu setengah terbuka. Di dalam terdengar suara percikan air dari pipa bocor. Begitu dibuka, ternyata kosong. Akan tetapi, lantainya masih menyisakan bekas gesekan peti kayu. Artinya, ada orang yang datang. Satria berjongkok. Ujung jarinya menyentuh serpihan kecil yaitu robekan kertas. Ia membaliknya, di sana tertera satu baris tulisan Mandarin, tapi hanya setengahnya saja yang bisa ia baca. "Setelah transaksi selesai, menghilang." Hanya kalimat itu. Singkat, padat dan jelas. Ia tersenyum tipis. “Bersihkan area ini, lalu cek sidik jari. DNA dan semuanya jangan sampai ada yang terlepas," perintahnya tegas. “Baik, Tuan.” Satria berdiri. Pandangannya menyapu sudut ruangan. Jika Aleta memang target pengiriman, berarti ada pihak yang menginginkannya hidup, maknanya ia sangat berharga. Pertanyaannya, untuk apa itu semua dan kenapa harus melibatkannya? Toh, mereka tidak saling kenal bukan? Mobil kembali bergerak, menyusuri Rua do Visconde Paço de Arcos menuju Senado Square yang kini sepi. Satria meminta berhenti. Ia turun lagi. “Di sini terakhir CCTV publik menangkapnya setelah keluar dari hotel,” ujar Roberto. Satria berjalan perlahan melintasi batu-batu hitam putih khas Senado Square. Ia membayangkan langkah Aleta dini hari yang sangat tenang. Perempuan yang baru saja kehilangan ‘keperawanannya’ tidak mungkin berjalan setenang itu. Seharusnya kecuali ia sudah merencanakan sesuatu dan itu yang membuatnya kesal. Satria menghentikan langkah. “Noda di seprai itu. Bagaimana hasil uji lab-nya?" Roberto menoleh. “Darah asli. Tidak tercampur zat kimia.” Artinya benar darah perawan. Aleta masih gadis dan itu kali pertama bersamanya. “Nomornya terenkripsi. Routing lewat tiga negara.” Satria tersenyum. Bagus. Akhirnya ada yang setara dan kali ini lawan tidak bisa dianggap remeh. Dini hari semakin larut. Mobil sudah bergerak ke arah Rua da Felicidade. Lucunya, nama jalan itu berarti “Kebahagiaan”, tapi deretan bangunan merah tua di sana menyimpan sejarah rumah bordil dan transaksi gelap selama ratusan tahun. Macau, di setiap tempat terkecil pun selalu punya daya khas tersendiri dan itu tidak pernah lepas dari dunia hitam yang penuh muslihat. Satria turun tanpa pengawalan kali ini. Ia tahu seseorang mengawasinya. Langkahnya menyusuri lorong sempit, melewati lampion-lampion redup. Beberapa pintu kayu tertutup rapat. Di ujung jalan, seorang lelaki tua duduk di kursi plastik, merokok dengan sesekali menengadah ke langit. Tatapan mereka bertemu. “Perempuan cheongsam merah, apakah lewat ke sini?” ujar Satria langsung dalam bahasa Mandarin, khas dialek campuran bahasa Hong Kong. Lelaki itu tersenyum, jelas terlihat dia tanpa gigi alias ompong. “Banyak. Yang mana satu?" “Yang lewat pukul empat pagi.” Ia mengeluarkan selembar uang besar. Lelaki itu tidak langsung mengambilnya. “Perempuan itu bukan untuk Anda," lanjutnya dengan bahasa kasar. Satria sempat mengepalkan tangannya, tapi kemudian ... ia sadar, bukan cara kasar yang harus ia lakukan. “Lalu, untuk siapa?” tanya Satria, memancing. Lelaki tua itu akhirnya berdiri dan melenggang dengan membawa satu gepok uang di tangan kanannya. Santai, seperti tidak merasa bersalah. “Untuk orang yang tidak suka disebut namanya.” Jawaban yang abu-abu dan menjengkelkan. Satria mengikutinya, pelan. Maksudnya ke dermaga mana?" “Outer Harbour. Tapi mungkin sudah pindah.” “Ke mana?” Suara Satria agak tinggi karena lelaki itu seperti ingin cepat-cepat pergi karena tidak jauh ada sebuah mobil yang seperti sedang menunggunya. “Ke tempat di mana orang tidak mudah ditemukan.” Satria menyipit. Di mana itu? Hong Kong? Taiwan? Atau ke mana? Bayangan lelaki tadi sudah hilang menyisakan kekesalan yang memuncak. Perempuan itu, siapa dia? Kenapa seberani ini membuatnya kewalahan? Namun perempuan itu, terlalu muda untuk dendam lama. Satria menggeleng pelan. Kecuali ia bukan pemain utama melainkan hanya sebuah hanya pion. Iya, ini betul sekali. “Roberto.” “Ya, Tuan.” “Buka arsip lama. Semua proyek lima tahun terakhir. Aku ingin daftar orang yang dirugikan. Keluarga yang memiliki anak perempuan. Siapa pun dia." Roberto terdiam sesaat. “Itu akan panjang, Tuan.” “Aku punya waktu.” Satria merasakan sesuatu yang berbeda dari sekadar ambisi. Ia merasa diburu dengan rasa penasarannya itu. Anehnya, ia menyukainya. Pukul 03.40. Mereka kembali ke suite. Satria berdiri di depan meja, memutar fa zan giok di tangannya. Batu itu bukan murahan. Ukiran halusnya menunjukkan simbol keluarga tua Tiongkok. Bukan aksesori pasar malam yang bisa didapatkan siapa saja. Unik dan klasik. “Tracking pembelian batu giok dengan simbol ini,” katanya. Roberto memotret benda itu. “Baik.” Satria duduk perlahan. Ia membuka laptop, memutar ulang rekaman CCTV. Frame demi frame ia lihat dan perhatikan. Sampai berhenti di momen ketika Aleta menoleh. Ia memperbesar gambar. Di sudut mata perempuan itu ada sesuatu yang jelas terlihat, bukan ketakutan atau kemenangan. Melainkan seperti ada rahasia yang jauh tersembunyi, ada luka, air mata dan dendam. Agh ... Satria bersandar. Jika ini dendam, kenapa ada luka di matanya? Namun, jika hanya pertemuan tanpa perencanaan, kenapa ia harus pergi lebih dulu dengan menyisakan tanda tanya? Subuh mulai menyentuh cakrawala Macau dan ia sama sekali belum terlelap semenit pun. Langit berubah mendung yang kemudian meneteskan rintik hujan. Satria berdiri lagi di depan jendela bukan memastikan cuaca di luar, tapi ia melihat bayangan dirinya sendiri. Ia selalu menjadi predator dan kini ada seseorang yang memancingnya keluar dari wilayah aman. Aleta. Perempuan misterius yang datang dengan cheongsam merah dan pergi membawa lebih dari sekadar harga dirinya. Ia tersenyum tipis penuh persiapan. “Baik, kita akan bermain, Aleta. Lihat saja, kau tidak akan pernah bisa mengalahkanku," gumamnya dalam hati. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Satria Wiratama merasakan adrenalin yang bukan berasal dari uang atau kekuasaan melainkan dari seorang perempuan yang berjalan keluar dari kamarnya pukul 04.12 pagi dan meninggalkan dirinya dalam permainan yang jauh lebih besar dari sekadar satu malam. Ponsel bergetar pelan. Satria menoleh. "Hmmm." "Saya sudah mengirimkan lokasi terbaru, Tuan." Satria langsung membukanya dan ia terdiam beberapa saat karena titik itu berada tidak jauh darinya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN