Maya membuka mata perlahan saat Leon membuka ikatan kain yang menutupi wajah, terlebih matanya.
Leon menyeringai saat gadis itu menatapnya penuh tanya, karena ternyata mereka kini berada di depan restoran, tempatnya bekerja.
"Kenapa kesini?" tanya Maya, sembari mengusap wajahnya yang terasa kaku. Perasaan tadi perjalanan dari hotel tempat insiden itu terjadi menuju ke restoran menempuh waktu cukup lama, meskipun jaraknya sebenarnya dekat, tidak sampai 30 menit.
"Karena aku tidak tahu rumahmu," jawab Leon, enteng. "Masuk dan sembunyi lah di dalam, sebelum penjahat itu menemukanmu," titah Leon, yang kini keluar dari mobil, memutari sisi depan lalu membukakan pintu untuk Maya.
"Kenapa harus tutup mata kalau cuma disini saja tujuannya?" Maya masih penasaran.
"Aku berubah pikiran," jawab Leon singkat. Ia lalu kembali masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pergi. "Cepat masuk lah!" teriaknya.
Sepeninggal Leon, Maya buru-buru masuk ke dalam restoran setelah membuka kedua pintu di bagian depan restoran. Untung saja pintu restoran itu sudah canggih menggunakan card lock, atas saran sang ayah, hingga mudah dibawa kemana-mana.
Maya sengaja menyalakan lampu kecil di bagian bawah tangga, dekat meja kasir, yang menuju kamar atas, tempat pribadinya, agar tidak terlihat mencolok dari luar. Setelah sampai di kamar, ia buru-buru mengambil ponsel dan melihat beberapa pesan dan panggilan yang masuk, yang belum sempat ia jawab karena takut pada Leon.
"Syukurlah kau masih hidup, anakku!" seru Aristha Ronald, ayah Maya, pengusaha garment dan advertising ternama di negara itu.
"Tenang, Pa, aku baik-baik saja," jawab Maya. "Seseorang sudah menolong dan mengantarku dengan aman sampai disini."
"Disini mana?"
"Restoran," jawab Maya, singkat. Tumben ayahnya terlihat begiti mengkhawatirkannya saat ini. Biasanya lelaki itu tidak pernah menanyakan kabar dan hanya mempercayakan hidupnya pada bodyguard kebanggaannya, yang saat ini entah bagaimana nasibnya, karena justru orang asing yang menolong dirinya.
Terdengar suara helaan napas lega di ujung panggilan. "Oke, papa akan tempatkan beberapa orang disana untuk menjagamu dari jarak jauh agar tidak mencurigakan dan membuat takit customer mu."
"Terserah Papa saja."
"Papa sedang usahakan mencari pengganti Hugo."
Maya mengerutkan keningnya. Sepertinya sang ayah sudah mengetahui nasib bodyguard terbaiknya itu, yang selalu menjaganya selama ini.
"Hugo kenapa memangnya, Pa?"
"Dia sudah mati. Seseorang sudah membungkamnya di hotel, tempat acara itu berlangsung. Makanya papa sedari tadi mengirim pesan dan menghubungimu, papa takut terjadi hal buruk padamu."
Maya terbatuk mendengar penuturan ayahnya. Baru kali ini sang ayah peduli padanya.
"Kenapa? Maaf kalau selama ini papa terlalu sibuk dengan perusahaan dan bisnis papa, sampai tidak pernah ada di dekatmu."
"Iya, Pa. Tenanglah, Maya baik-baik saja."
"Terima kasih, Nak."
"Tidak! Berterima kasih lah pada penolongku, anakmu ini tidak akan bisa bernapas kalau tidak ada dia yang berhasil menarikku dari bekapan penjahat, di hotel itu."
"Papa sudah dengar, siapa dia, Nak, apak kamu tahu?"
"Sayangnya tidak," jawab Maya, kecewa. "Maya bahkan masih belum sempat berterima kasih padanya."
"Oke, nanti papa yang cari tahu dan mungkin kalau dia mau, papa akan jadikan dia sebagai pengganti Hugo."
"Terserah Papa saja," jawab Maya, datar. Ia tidak menjamin jika ucapan dan niat ayahnya benar-benar serius, mengingat selama ini perannya tidak terlalu penting di dalam keluarganya. Bahkan sang ibu pun sama, lebih memilih menyibukkan diri dengan semua kegiatan sosial demi nama baik dan kehormatan yang selalu mereka kejar, tanpa memikirkan perasaan kesepian Maya, putri tunggal mereka.
"Ya sudah, kalau begitu papa lanjut dulu ya. Sekarang papa tenang karena mereka gagal menculik mu dan salah satu perusahaan besar papa selamat, tidak jadi diambil paksa oleh mereka," ucap Aristha, sembari menghela napas panjang, yang sontak membuat Maya mencebikkan bibirnya.
"Pantesan, ternyata itu alasan sebenarnya," gumam Maya. Ia benar-benar kecewa sekaligus sedih mendengarnya.
"Apa, Nak, kamu bilang apa?"
"Tidak ada, terima kasih karena Papa sudah menghubungiku," sahut Maya cepat. Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah, ia pun lantas memutus panggilan secara sepihak, lalu melempar ponsel mahalnya ke atas ranjang.
***
Leon terkejut saat sebuah sedan hitam mewah berhenti tepat di hadapannya. Dengan sangat terpaksa, ia menghentikan kegiatan rutinnya pagi buta itu, jogging di sepanjang jalan raya, di area salah satu perumahan elit kota itu.
Leon memasang sikap siaga ketika melihat sosok pria paruh baya, tinggi tegap dengan style pakaian casual yang cukup elegan. Tampang pria itu terlihat serius tapi cukup tenang, saat menatap Leon dengan tajam.
"Leonard Vincent?" tanya pria itu, yang kini berdiri tegap tepat di hadapan Leon. Kedua tangannya tersimpan di kedua saku celana dengan gaya elegan, khas pria terhormat.
"Tepat sekali!" jawab Leon, sembari memicingkan mata, mencoba mengingat apakah ia pernah bertemu dengan pria asing itu.
"Terima kasih karena sudah menyelamatkan putriku," ucap pria itu, yang adalah Aristha Ronald, ayah Maya, tanpa basa basi.
"Siapa putri Anda?" tanya Leon, memastikan, karena bukan sekali itu ia menyelamatkan seorang wanita.
"Tentu saja Maya, gadis terhormat yang sudah kau selamatkan dan bawa keluar dari hotel terkutuk itu, kemarin," jawab Aristha, sedikit sinis.
"Oh, dia," sahut Leon, tenang, sembari menganggukkan kepala. "Kebetulan saja saya ada disana," imbuhnya.
"Apa kau bekerja?" tanya Aristha, tanpa memedulikan ucapan Leon.
"Ya! Freelance dan pekerjaan apapun yang saya bisa," jawab Leon, asal saja.
"Mulai sekarang kau ku jadikan bodyguard pribadi putriku, kalau kau mau," sahut Aristha, sembari terus menatap tajam pada Leon, menelisik pemuda itu dan merasa yakin jika keputusannya benar. Leon sangat pantas menjadi bodyguard Maya, putrinya.
Leon tertawa. "Adakah alasan yang kuat agar saya tidak menolak tawaran Anda, Tuan?" tanyanya.
Sudut bibir Aristha terangkat. Ia kagum dan menyukai gaya Leon saat bicara. Cukup percaya diri dan terlihat tangguh.
"Aku akan membayarmu mahal untuk pekerjaan ini," jawab Aristha. "Kau bisa miliki dan tempati rumah kosong, di sebelah rumahku, untuk bisa mengawasi putriku kapanpun waktunya, gratis! Full service dan all in, lengkap dengan semua fasilitas mewah di dalamnya!"
Leon terlihat berpikir sebentar sebelum akhirnya ia mengangguk, menyetujui penawaran dari Aristha.
"Oke, deal!" jawab Leon, yang disambut anggukan kepala dan senyum sumringah Aristha.
"Ini kunci rumahmu!" ucap Aristha, yang lalu melempar card lock ke tangan Leon dan ditangkap dengan mudah oleh pemuda itu.
"Siap!" sahut Leon.
"Tidak perlu seragam. Kau sendiri yang tentukan pakaianmu, agar tidak terlihat mencolok dan masih tetap terlihat pantas, sebagai anggota keluargaku. Satu lagi, bersikaplah natural seolah kau teman lelaki putriku, agar tidak ada yang curiga. Paham?"
"Paham!" tegas Leon sembari tersenyum lebar. Jalan menuju target utama telah terbuka dengan mudah. Ia tidak perlu bersusah payah untuk mengintai dari kejauhan karena ia akan menjalankan tugasnya, tepat di hadapan sang target!
Leon menatap kepergian Aristha sembari menyeringai dan memainkan card lock di tangannya.
"Kau sendiri yang menyusul maut untuk putrimu, Tuan bodoh!" desis Leon.