Bab 3. Insiden Di Hotel

1271 Kata
"Kau hebat, seperti biasanya!" Leon tersenyum sinis. "Tidak perlu memujiku! Cepat tunjukkan Elena padaku, aku perlu bukti kalau kau telah menjaganya dengan baik" desisnya. Terdengar suara tawa Rafael dari ujung panggilan. Ia lalu memanggil seseorang dan mengubah panggilan itu menjadi video call. "Kakak ...!" teriak Elena, sembari menatap wajah Leon penuh kerinduan. Kedua matanya terlihat merah dan sembab karena terus terusan menangis, takut pada Rafael. "Gimana kondisimu? Bersabarlah, aku akan membebaskan mu, sebentar lagi," ucap Leon dengan suara tercekat. Elena cemberut sembari melirik sekilas pada Rafael, yang saat itu tengah duduk sembari mengawasinya. "Katakan pada kakakmu itu, aku sudah menjagamu dengan baik!" celetuk Rafael. Elena mencebik tidak suka. "Katakan, apa dia melukaimu?" desak Leon, yang kini memerhatikan penampilan adiknya yang cukup lesu dan sedikit pucat. Elena menggelengkan kepala lalu tertunduk sedih. "Aku pengen pulang," ucapnya lemah, yang sontak membuat jantung Leon teriris pedih. "Sabar, Elena, aku sedang mengusahakannya," jawab Leon, dengan suara parau. "Tidak mau, aku maunya cepat!" Leon menghela napas panjang. Ia menatap wajah adiknya itu dalam-dalam, menumpahkan segala rasa putus asa yang cukup besar. "Dengar, El," ucap Leon, sembari mendekat ke kamera, seolah hendak bicara, mengatakan sesuatu dengan pelan. Elena pun melakukan hal yang sama, saat membaca maksud Leon. "Aku akan me–" Belum sempat Leon melanjutkan ucapannya, Rafael sudah merampas lebih dulu, ponsel miliknya dari tangan Elena. "Waktunya sudah habis!" ucap Rafael di iringi suara teriakan Elena, yang masih belum puas melihat sang kakak. "Hey! Tunggu sebentar, masih ada yang harus ku sampaikan!" "Sudah cukup! Sampaikan itu secara langsung saat kau sudah selesaikan tugasmu!" tegas Rafael. "Tapi, Rafael ...." "Aku ingin kau memulai tugasmu, besok pagi. Pelajari baik-baik terget ketiga dan lakukan dengan rapi, juga secara pelan. Gunakan otak cerdas mu untuk bisa mendekatinya lebih dulu. Ingat, jangan sampai kau jatuh cinta dengan target mu ini!" Leon mendengus sebal. "Tidak ada kata jatuh cinta dalam kamus hidupku, dan kau tahu itu, Rafa!" tegasnya. Rafael tertawa keras. "Bagus! Ku beri kau waktu satu bulan sebelum melenyapkannya!" "Satu bulan? Itu berarti selama itu juga aku masih belum bisa menemui Elena?" Rafael tidak menjawab, ia hanya tertawa lalu memutus panggilan begitu saja, membuat Leon seketika mengumpat dan melempar ponselnya secara sembarangan ke atas sofa. "Bereng sek!" geramnya. Leon mengusap kasar wajahnya berkali-kali. Ia lalu menatap kedua tangannya itu dengan sedih. Tangan yang semula begitu mulia, kini berlumur darah. Leon menutup matanya sejenak sembari mengepal. Tangannya gemetar. Kali ini ia tidak lagi melawan musuh untuk negara, ia melawan dirinya sendiri. Dan ia sadar, semakin banyak nyawa yang diambilnya, semakin jauh ia dari kata manusia. Ia sudah berubah menjadi seorang monster! * Semalam suntuk Leon membaca dan mempelajari file rahasia dari Rafael tentang target ketiga. Ia begitu terkejut saat menyadari jika kedua target yang sudah ia lenyapkan ternyata adalah para koruptor dan terlibat jaringan bisnis gelap. Dan target ketiga adalah putri tunggal pengusaha besar, berusia 23 tahun, sangat cantik dan terlihat selalu hidup dalam kemewahan. "Kenapa malah anaknya yang menjadi target? Padahal ayahnya mafia," gumam Leon, heran, sembari memerhatikan beberapa gambar yang terkait dengan target ketiga. "Hm, Maya Aristha, putri tunggal Aristha Sadewo, pejabat sekaligus pengusaha garment terbesar," lanjutnya, sembari memikirkan cara yang tepat untuk memulai aksinya. Leon tertegun saat menatap wajah cantik itu. Ia kini tidak heran, kenapa saat bertemu dan melihat sosoknya yang tanpa sengaja menghalangi bidikannya pada target pertama, ia merasa tidak asing karena ternyata wanita itu adalah target ketiganya! "Astaga!" desis Leon. "Kenapa harus dia? Kami sudah dua kali bertemu dan nyaris saja dia ini memergoki aku di hotel!" Suara denting ponsel Leon memecah perhatiannya. Ia melihat ada satu pesan yang masuk, dengan tulisan; PENTING! di bagian pop up nya. Sembari mendecak ia pun membaca pesan itu. 'Lakukan pendekatan, apapun itu caranya, jangan sampai target ketiga dan terakhir ini lolos dari pengamatan mu! Ingat, waktumu hanya 30 hari, setelah itu tamat dan Elena akan aku kembalikan padamu!' Leon kembali membanting ponselnya di atas sofa dengan kesal. Rafael terlalu menekan dengan tugas dan aturannya yang sangat memberatkan, bahkan jauh lebih menguntungkan Rafael daripada dirinya. Resiko yang harus ia tanggung jauh lebih besar dari profesi yang sebenarnya. Leon tidak mau membuang banyak waktu. Ia ingin waktu 30 hari itu ia mulai dari sekarang juga. Siang ini! * "Bang, minta apinya," ucap Leon, menyapa sosok lelaki asing dengan postur tubuh tinggi tegap dan sorot mata tajam, yang berdiri siaga di sampingnya. Pria itu sedari tadi menatap Maya yang sedang bicara di atas podium, di salah satu ballroom hotel ternama. Pria yang mengenakan seragam serba hitam itu pun terkejut dan menoleh, menatap Leon heran dan memerhatikan nya sembari merogoh saku bajunya dan mengeluarkan pemantik berukuran kecil, lalu memberikannya pada Leon. "Terima kasih," ucap Leon sembari tersenyum miring. Ia lalu mengembalikan pemantik itu setelah memakainya. Tiba-tiba gelap. Listrik padam dan terdengar suara gaduh di dalam ballroom. "Nona Maya!" teriak pria di samping Leon. "No–, argh ...!" Terdengar suara berdebum, saat pria itu terjatuh. Dalam keremangan, Leon menatapnya dingin, lalu menyeret tubuh tegap itu, membawanya menjauh. "Tolong ...!" Dari dalam ballroom, terdengar suara jeritan seorang wanita. Leon menajamkan pendengarannya lalu berlari ke ballroom, setelah menyelesaikan pekerjaannya dengan pria tegap tadi. Listrik kembali menyala. Kedua mata Leon menyipit, memerhatikan ruangan yang ramai dengan hiruk pikuk orang-orang yang panik, setelah sempat terdengar suara letusan. Ia mencari keberadaan Maya, dan seketika menahan napas, ketika melihat wanita itu sedang dibungkam mulutnya dengan tangan kiri, oleh sosok pria asing yang memakai masker dan topi hitam, sementara tangan kanan pria itu menggenggam senjata api kecil yang diarahkan sembarangan ke semua orang. Wajah Maya terlihat pucat pasi. "Semuanya tiarap!" teriak pria misterius yang menyandera Maya. Leon berjongkok perlahan sembari menatap tajam, mencari celah dan kesempatan untuk bisa menyelamatkan Maya. Kebetulan posisinya saat ini cukup dekat dengan Maya dan pelaku. Tangan kanannya meraba pisau lipat yang ia selipkan di kakinya. Tiba-tiba seseorang berteriak, memancing atensi pelaku, yang kini menodongkan senjatanya ke arah orang itu. Melihat kesempatan yang terbuka, secepat kilat Leon mengambil senjata kecilnya lalu melempar kuat ke arah pelaku dan tepat mengenai sasaran. Saat pria itu lengah, Leon menarik tubuh Maya dan mendorongnya agar menjauh, ia lalu memukul telak sang pelaku dan mencabut senjatanya dari leher pria asing itu. "Kita harus cepat pergi dari sini, sebelum polisi datang!" ucap Leon, sembari menarik lengan Maya, mengajaknya keluar dari ruangan yang kini semakin gaduh. Maya menatapnya curiga. "Kau lagi? Siapa kau sebenarnya?" tanya Maya, curiga, yang rupanya masih mengingat wajah Leon, saat berpapasan di hotel, juga saat Leon datang ke restorannya. "Itu nanti saja, Nona, cepat masuk ke mobil!" jawab Leon, dingin, sembari membukakan pintu mobilnya untuk Maya. Dengan terpaksa Maya masuk dan duduk, disusul Leon yang kini ikut duduk di sampingnya, di bangku kemudi. Pemuda itu lalu melajukan mobilnya cepat, meninggalkan hotel yang kini terlihat ramai dan mobil polisi pun berdatangan. "Sepertinya ada yang sedang mengincarmu, Nona," ucap Leon, dingin. "Tidak masalah, aku selalu dikawal bodyguard," jawab Maya, tenang. "Mana pengawalmu? Tadi kau di posisi bahaya dan tidak ada seorang pun yang menolong," sinis Leon. Maya tercekat. Ia pun lantas teringat sesuatu. "Berhenti! Bodyguardku masih disana!" pekik Maya, khawatir. "Sepertinya dia sudah mati, aku menemukannya di dekat toilet," ucap Leon. Sontak wajah Maya pucat pasi. Kini dalam hatinya diliputi rasa takut, terlebih saat ini ia sedang bersama lelaki asing yang masih belum ia kenal betul siapa dia. "Pakai ini!" titah Leon, sembari memberikan kain panjang ke tangan Maya. "Ikat dan tutup mata erat-erat, aku akan membawamu ke suatu tempat!" desisnya, sembari menatap tajam pada Maya. "K-kau mau apa?" tanya Maya. Ia terlihat begitu ketakutan. Leon menyeringai. Ia menepikan mobil dan berhenti, lalu dengan gerakan cepat mengikatkan kain itu ke wajah Maya, menutupi matanya. "Diam, jangan bergerak!" "Ti–tidak, jangan!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN