19. DRUNK

1229 Kata
Ssrk! ssrk! Sebuah suara membuat Minerva terbangun dari tidurnya. Ia duduk sambil menoleh kearah pintu masuk tenda dengan matanya yang sayu dan mengantuk. Udara malam terasa dingin menusuk tulang. Minerva menarik selimut yang ia kenakan sampai ke bahunya. Minerva menunggu tapi tak seorangpun muncul dari balik pintu tenda, "Lyra?" panggil Minerva. "Astaga!!" Pekik Minerva kaget saat tiba-tiba kepala Cassa muncul di tengah-tengah belahan pintu tanpa memperlihatkan tubuhnya. Jantungnya terasa ingin copot dan berdebar-debar sedangkan Cassa malah tersenyum geli melihat reaksi terkejut Minerva seakan dia puas. Cassa masuk kedalam tenda dengan kedua tangannya yang berada di belakang terlihat sedang memegang sesuatu. Minerva bahkan bisa menebak dengan tepat apa yang wanita itu bawa dan sembunyikan di belakangnya. "Kamu benar-benar serius?" Minerva menghela napas panjang saat akhirnya Cassa menunjukkan apa yang ia sembunyikan di belakangnya. Tebakannya benar. Senyum Cassa tidak luntur, dia duduk di hadapan Minerva dengan sebotol alkohol di tangannya yang sebelumnya ia sembunyikan. "Malam ini kita akan bersenang-senang." Ucap Cassa dengan riang. "Kamu tidur disini bersamaku?" tanya Minerva yang mendapat anggukan mantap dari Cassa. "Beruntungnya, malam ini Noah akan tidur bersama Benjamin dan Charity bersama Lyra. Jadi aku akan tidur disini. Tidak ada yang akan menghalangi pesta kita." Minerva menggeleng-gelengkan kepalanya pelan, ia menenggelamkan kepalanya pada lututnya untuk sesaat. "Pestamu." Koreksi Minerva lalu menghela napasnya. Minerva bangun dari posisi duduknya dan berjalan ke salah satu tasnya yang di letakan diujung tenda. Minerva membuka tasnya dan mencari sesuatu disana sedangkan Cassa sibuk membuka segel botol. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Minerva kembali ke tempat duduknya sebelumnya. Minerva meletakan 2 gelas diantara mereka lalu dengan senyum lebar dan riang Cassa menuangkan minumannya. Cassa kembali meletakan botolnya di bawah tanpa ditutup lalu mengangkat gelasnya di udara menunggu Minerva ikut mengangkat gelasnya dan bersulang. Minerva tertawa kecil melihat semangat Cassa yang membuatnya mau tidak mau mengikuti keinginan gadis itu. Minerva mengangkat gelasnya dan bersulang dengan Cassa sebelum menenggak minumannya hingga tandas. "Wah, kamu kuat minum?" tanya Cassa setelah melihat aksi Minerva. Cassa kembali menuangkan minuman  pada gelas mereka yang telah kosong, "Tidak juga." "Aku hanya ingin ini cepat berakhir. Aku ingin kembali tidur tapi aku tahu kamu tidak akan membiarkan ku tidur sampai kita menghabiskan minuman ini sampai ke tetes terakhir." Cassa tertawa, "Kamu benar. Tapi bukan begitu caranya bersenang-senang." Minerva kembali mengangkat gelasnya dan menenggaknya dengan sekali tenggak lagi. "Maaf ya kalau aku membosankan. Aku sedang tidak dalam suasana hati yang baik. Aku ingin cepat-cepat tidur." Kata Minerva sambil menuang minuman ke gelasnya yang kosong. Cassa tersenyum, "Bukankah berarti pesta ini adalah cara yang tepat untuk membuat suasana hatimu lebih baik?" Minerva menghela napas panjang dan meminum minumannya lagi. "Kamu benar. Setelah minum beberapa gelas aku merasa sedikit lega." Mendengar jawaban Minerva Cassa justru bertambah semangat, setelah menandaskan gelasnya yang kedua, Cassa menungkan gelas ke empat untuk Minerva. "good, good, sekarang kamu hanya harus meminumnya dengan perlahan." "Iyakan Minerva... ?" Minerva menerima gelas yang diberikan Cassa dan meminum, "Hmm..." Minerva menjawabnya dengan gumaman tidak jelas. Mereka terus minum sampai minuman di botol hanya tersisa untuk satu gelas lagi. Hari sudah sangat larut saat mereka sudah sangat mabuk, Cassa sudah pingsan di tempat dia duduk. Cassa bukanlah orang yang kuat minum jadi saat dia meminum gelasnya yang 4, dia sudah mulai mabuk dan di gelas ke enam dia langsung pingsan begitu saja tanpa aba-aba. Minerva duduk dengan posisi yang sempoyongan, dia meraih botol minuman dan menenggaknya langsung air yang tersisa di dalamnya.  "Hei Cassa! kau sudah tidur duluan? dasar curang. Padahal aku yang sejak tadi mengantuk!" "Aku tidak peduli pokoknya aku yang menang. Aku minum lebih banyak darimu." Minerva bangun dari duduknya lalu menggoyang-goyangkan tubuh Cassa dengan kakinya tapi Cassa bergeming ditempatnya. "Heh.. kau mati? masa kau mati hanya karena beberapa gelas?" "Dasar payah. Padahal kamu yang merengek-rengek ingin pesta minum, sekarang kamu malah mati." "Oh! Karena aku teman yang baik, aku akan menguburmu. Tenang saja, aku tidak akan memberitahu siapa-siapa terutama pacarmu itu." Dalam diam Minerva mulai mengangkat tubuh Cassa dan menggendongnya di pundaknya. Perlahan ia membawa Cassa keluar tenda dan berjalan masuk kedalam hutan. Namun tiba-tiba air matanya keluar dengan deras, "Huuu Cassa. Kamu mati. Huu aku tidak akan membiarkan kamu minum lagi. Huu tapi itu tidak berguna karena kamu sudah terlanjur mati... ini salahku." Racau Minerva yang semakin lama tidak jelas. Setelah 5 langkah masuk kedalam hutan, Minerva kembali menurunkan Cassa. Ia mulai mengambil daun-daun  disekitarnya untuk mengubur tubuh Cassa. Air matanya tidak berhenti mengalir hingga wajahnya basah dengan air mata maupun ingus. "Cassa mati... apa aku juga akan mati juga? kepalaku pusing. Apa minuman itu tercampur racun?" Minerva mulai bergumam tidak jelas setelah berhasil menutupi tubuh Cassa dengan daun-daun kering dengan beberapa helai daun yang lebar. "Aku akan mati. aku akan mati, aku mati, mati, mati." "Minerva." Lagi-lagi suara itu, suara yang membuat jantungnya berdebar. Dengan perlahan kepala Minerva menoleh. Pandangannya tidak terlalu jelas karena air mata yang memenuhi matanya, kepalanya yang pusing juga karena cahaya bulan di belakang tubuh pria itu yang sangat terang hingga wajah pria itu tampak gelap tapi Minerva tahu jika pria yang ia lihat adalah Lucien. Postur tubuh pria itu dan suaranya yang berat. "Lu..cien?" suara Minerva terdengar bergetar. Minerva tidak bisa melihat wajah Lucien. ia tidak tahu ekspresi apa yang pria itu buat saat ini. Lucien berlutut di depannya, kedua tangan Lucien yang besar dan hangat menyentuh pipinya, membuatnya merasa nyaman dan tenang. "Ada apa Minerva? Kenapa kamu menangis?" Minerva mungkin tidak menyadari nada bicara Lucien karena dia sedikit mabuk namun suara Lucien yang bertanya padanya terdengar marah namun juga sedih. Suaranya mampu membuat siapapun yang mendengarnya tahu seberapa khawatirnya Lucien pada wanita di depannya ini, yaitu Minerva. Lucien melirik tumpukan daun di belakang Minerva, tidak perlu bertanya lagi, Lucien tahu siapa di balik tumpukan daun itu, dia bisa mencium aroma manusia, salah satu teman Minerva, dia juga bisa mencium aroma alkohol yang kuat dari manusia itu dan juga Minerva. Minerva kembali menangis, namun tidak sekencang sebelumnya. Minerva  menyentuh punggung tangan Lucien yang menangkup pipinya lalu mendongak menatap pria itu. Menunjukan wajahnya yang berlinangan air mata. "Lucien... aku akan mati..." ucap Minerva dengan lirih. Saat itu juga tubuh Lucien mendadak kaku. Minerva tidak tahu bagaimana wajah Lucien. Tapi tangannya yang terasa sangat hangat mulai terasa dingin di ujung-ujung jarinya. Lucien terdiam cukup lama, sedangkan Minerva hanya mendongak kearah Lucien sambil menangis. Setelah hampir 3 menit Lucien hanya diam dalam suasana di hutan yang sangat sunyi, akhirnya pria itu kembali bicara, "Kamu tidak akan mati." Lucien menghapus air mata Minerva dengan ibu jarinya, "Kamu hanya mabuk sekarang. Istirahatlah, Minerva." Tangis Minerva perlahan mereda, "Aku tidak akan mati?" Minerva bertanya. "Kamu tidak akan mati. Aku akan selalu melindungimu. Kamu akan terus hidup, lebih lama dari apa yang kamu bayangkan. Disisiku." "Ta..tapi... Cassa mati. minumannya beracun.." "Temanmu itu juga tidak mati. dia hanya pingsan." jawab Lucien. "Lalu kenapa kepalaku sakit?" Tanya Minerva lagi. Namun kali ini Lucien belum sempat menjawabnya karena Minerva yang mendadak pingsan di pelukannya. Lucien terdiam untuk sesaat, ia terkejut. Awalnya ia merasa takut, ia merasa bodoh karena merasa takut meskipun hanya beberapa padahal dia tahu Minerva hanya pingsan karena minuman yang wanita itu minum. Setelah ia menghilangkan rasa takutnya dan meyakinkan dirinya jika Minerva baik-baik saja. Jantungnya berdebar, dia merasa senang akhirnya dia bisa memeluk Minerva, belahan jiwanya meskipun dalam keadaan seperti ini. Lucien mengusap kepala Minerva yang bersandar di dadanya dengan lembut, "Selamat beristirahat, mi amor." To be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN