18. MISUNDERSTAND

1754 Kata
-MINERVA POINT OF VIEW- Hari sudah mulai gelap dan udara nenjadi sangat dingin. Dari atas tebing yang tidak terlalu tinggi ini aku bisa melihat ombak pantai yang semakin pasang, bulan dan bintang yang mulai terlihat jelas memenuhi langit malam dengan sinar indahnya bagaikan lampu-lampu kota di malam hari. Ak Kami sudah selesai merapihkan barang-barang kami dan sekarang sedang bersantai, Noah dan Benjamin sedang menyalakan api unggun, Lyra dan Cassa sedang menyiapkan bahan makanan yang ingin di bakar. Sedangkan Hanon, Lucien dan Charity masih belum kembali juga sejak mereka pergi sore tadi. Mereka sudah pergi sekitar 4 jam.  Aku mengeratkan mantelku saat angin berhembus kencang membuat tubuhku menggigil. Suara ombak, aroma pantai dan hutan, aku sangat menyukainya. Aku melirik arlojiku yang menunjukkan pukul 7 malam.  Suara langkah kaki terdengar di belakangku, "Minerva!" suara yang amat ku kenal memanggilku. Itu adalah suara Charity. Aku berbalik ingin melihat wanita itu.  Aku hanya melihat Charity sekilas sebelum akhirnya pandanganku tertuju pada dua sosok pria di belakangnya. Lucien dan Hanon. Aku menatap Lucien cukup lama. Aku tidak tahu ada apa denganku, tapi aku merasa sesuatu dalam diriku yang tidak bisa berpaling dari Lucien. Seakan kami sudah saling mengenal. Aku tahu itun tidak mungkin, aku sangat yakin ini adalah pertemuan pertama kami. Wajah Lucien yang asing namun juga terasa tidak. Bukankah itu aneh?  Aku menatap Lucien sampai Charity telah berada di hadapanku. Aku baru sadar setelah Charity menyentuh tanganku dan menggenggamnya. "Kenapa kamu berdiri sendirian disini?" Charity bertanya seraya menarikku ke tempat api unggun dimana semuanya berkumpul.  "Mereka tidak membolehkanku membantu mereka, jadi aku memutuskan untuk melihat-lihat pemandangan." jawabku, aku membiarkan diriku dibawa oleh Charity. Charity menarikku dan menyuruhku duduk. Dia menyuruhku duduk tepat di samping Lucien.  Namun aku ragu untuk duduk, "Charity, tapi kamu..."  "Ada apa, Minerva?" ia bertanya, keningnya mengernyit cukup dalam.  "Apa kamu tidak apa-apa jika aku duduk disini?" aku bertanya.  "Kenapa aku harus keberatan?" ia bertanya lagi.  Aku diam sesaat, memilih kata-kata yang tepat untuk menjawab pertanyaan Charity. "Maksudku... Bukankah kalian sedang berkencan ? Aku takut jika aku duduk di tengah-tengah kalian, aku akan menganggu kalian." Aku tidak tahu mengapa tapi napasku terasa sesak dan tidak nyaman saat aku mengatakannya. Charity diam, dia tidak merespon apapun pada perkataanku. Aku menatapnya, mencari tahu jawabannya pada mata dan raut wajah Charity namun perlahan Charity menundukkan kepalanya hingga aku tidak tahu raut wajah apa yang ia buat saat ini. Dan aku mengartikan hal itu sebagai jawaban 'iya.'  Aku menyesal. Harusnya aku tidak bertanya pada Charity. Sekarang aku bahkan tidak bisa    melihat kearah Lucien yang sedang duduk di belakangku maupun Charity. Apa Charity merasa bersalah padaku? Sepertinya benar. Charity sepertinya menyadari ketertarikanku pada Lucien.  Aku adalah temannya, aku tidak boleh egois. Jika mereka memang saling menyukai, aku tidak ingin menjadi penghalang diantara mereka. Jadi aku memasang senyum lebarku. Aku menepuk bahu Charity pelan. "Aku senang kamu akhirnya bertemu seseorang yang kamu sukai. Aku akan terus mendukungmu sebagai teman." Aku menarik kembali tanganku yang memegang bahunya, "Jadi kamu harus berhenti mengurusiku dan mulai memperhatikan pasa-"aku tertegun saat akhirnya Charity kembali mendongakkan kepalanya dan menatapku.  Mataku melebar menatapnya dengan keterkejutan yang tidak bisa kusembunyikan. Aku yakin aku tidak akan pernah melupakan raut wajahnya yang menatapku, raut wajah itu penuh dengan ketakutan hingga keningnya penuh dengan keringat. Aku tidak tahu ada apa dengannya, namun untuk sesaat aku memaku. Aku tidak bisa memikirkan apapun karena sangat terkejut melihat raut wajah Charity yang jauh dari perkiraanku.  Setelah beberapa saat aku baru kembali dari keterkejutanku, saat Charity mulai berbicara, "Lu-- Minerva. Tolong... aku tidak-" ucapan Charity terdengar tidak jelas, aku tidak mengerti apa yang ingin perempuan itu katakan. Aku mencoba untuk memahaminya namun suara Lucien menginterupsi.  "Minerva." Ia memanggil namaku, mengingatkanku akan kehadirannya yang beberapa saat lupa jika pria itu sedang berada di belakangku.  Kini aku merasakan dirinya yang berdiri tepat di belakangku, Tubuhku terasa lemas hanya karena merasakan kehadirannya. Sensasi aneh yang baru pertama kali kurasakan hanya karena tindakan kecil. Reaksi tubuh yang aneh yang membuatku menggigil, gemetar dan lemah di dekatnya. Suaranya seperti bisikan di tengah malam. Suara yang maskulin, berat, dan dalam.  Aku menarik napasku dalam-dalam lalu menghembuskannya dengan cepat. Aku menyiapkan diriku, berusaha menjaga suaraku dan ekspresi wajahku, sebelum aku berbalik menghadap Lucien yang hanya berjarak setengah langkah di hadapanku. Aku bahkan hampir goyah karena terkejut dengan jarak kami yang begitu dekat membuat jantungku semakin berdebar.  "Aku akan duduk di samping Lyra dan Benjamin, jadi kalian berdua bisa bersantai haha, aku tidak ingin menganggu pasangan baru." Aku meninju d**a Lucien pelan, "Kalau kamu menyakitinya, kamu akan berurusan denganku!" kataku lalu menyengir lebar. Sebelum aku berjalan menjauhi mereka, aku sempatkan untuk menepuk pundak Charity pelan sambil tersenyum bermaksud memberinya semangat.  "Apa?" sebelum aku melangkah jauh, samar-samar aku mendengar suara Lucien. Aku tertawa pelan. Mungkin pria itu bingung dan malu karena aku mengetahui hubungan mereka. Mereka sepertinya ingin merahasiakan hubungan mereka. Tapi bukanlah Minerva namanya jika aku tidak menyadarinya.  Aku menghampiri Lyra dan Benjamin yang duduk tepat 180 derajat dari posisi duduk Charity dan Lucien. Tanpa berniat melirik kearah mereka berdua yang duduk tepat di seberangku. Aku terus menyibukkan diriku bicara dengan Lyra, Benjamin ataupun dengan jagung yang baru saja di bagikan oleh Noah dan Cassa. Kami memegang jagung bakar yang telah di lumuri mentega ke depan api unggun untuk menghangatkannya. "Lyra, aku mengenal seorang laki-laki dia sangat baik, tampan dan berasal dari keluarga yang terpandang. Belum lama ini dia menghubungiku dan bercerita jika dia ingin bertemu dengan seorang wanita yang baik untuk hubungan yang serius. Dia tinggal di kota lamaku. Apa kamu tertarik? Namanya Danzen." uhuk!! Lyra tersedak. Aku tidak tahu jika ucapanku sangat mengejutkannya. Buru-buru aku memberikannya air yang kebetulan ada di sampingku. Dia menerima air pemberianku dan langsung meminumnya. Aku mengelus punggungnya pelan. "Kamu baik-baik saja?" tanyaku dan dia mengangguk. Lyra mengelap mulutnya dengan lengan bajunya. Dia menatapku, "Maaf, tapi kenapa kamu tiba-tiba mengatakan ini padaku?" ia bertanya. Aku balas menatapnya. Aku juga tidak tahu mengapa aku tiba-tiba mengatakan ini pada Lyra padahal aku tahu maksud Danzen mengatakan  hal itu padaku di telepon beberapa hari yang lalu adalah diriku. Danzen secara tidak langsung memintaku menjalin hubungan serius dengannya. Itu juga salah satu alasanku ingin pergi kuliah di luar kota ini. Awalnya aku ingin menerima Danzen dan mulai menjalin hubungan dengannya saat aku kuliah. Sebelum aku pergi ke kota ini, aku dan Danzen memang berteman dekat dan sejak awal aku tahu jika pria itu menyimpan perasaan untukku.  Tapi setelah melihat Lucien, rasa tertarikku pada Danzen atau pria lain mendadak hilang begitu saja. Mungkin karena Lucien adalah tipe ideal ku. Benar-benar tipeku. Dari ujung rambut dan aku yakin mungkin sampai ujung kakinya adalah tipeku.  Aku tahu aku tidak seharusnya meminta Lyra untuk menjadi penggantiku untuk Danzen. Hanya saja aku yakin jika itu Lyra, Danzen akan jatuh cinta juga pada wanita itu. Karena Lyra adalah wanita cantik, lembut dan baik hati. Dan juga karena aku yakin jika Danzen akan membahagiakan Lyra. Tapi jika Lyra tidak mau bertemu dengan Danzen aku tidak akan memaksanya begitu juga dengan Danzen.  Aku tersenyum lembut kearah Lyra yang memasang ekspresi bingung. "Karena aku pikir kalian akan cocok. Tapi jika kamu tidak mau, aku tidak akan memaksamu."  Lyra menggumam, "Aku tidak tahu. Apa aku benar-benar boleh menemui orang itu atau tidak." "Memangnya kenapa?"  Lyra menundukkan kepalanya cukup lama sebelum kembali mendongak menatapku dan menjawab, "Bukankah aku sudah memberitahumu , 5 tahun lalu? tentang pekerjaanku."   Aku mengernitkan keningku dalam. 5 tahun lalu? pekerjaan? apa maksudnya?  Aku mencoba mengingat apa yang Lyra pernah katakan padaku, tapi 5 tahun itu adalah waktu yang cukup lama dan aku kesulitan untuk mengingatnya. Pekerjaan... "Aku mendapatkan luka ini dari tuan lama ku, tapi sekarang orang itu sudah tidak ada. Dan kini aku mendapatkan tuan yang baik, bersyukurnya aku, bahkan tuan baru ku mengizinkan aku untuk bersekolah."  "Tuan?" "Apa dia orang yang sangat kaya? Aku tidak tahu ada orang yang sangat kaya di kota ini." "Dia adalah seorang bangsawan." "Astaga! Wah! Benarkah?" "Siapa nama tuanmu?"  Tiba-tiba aku teringat sebuah kilas balik percakapanku dengan Lyra saat kami masih siswi sekolah menengah atas setelah aku mencoba mengingatnya dengan sangat keras.  Ah, aku baru ingat, bagaimana bisa aku melupakannya. Pekerjaan itu yang membuat tangannya yang cantik tergores. Ngomong-ngomong kemarin siapa nama tuan barunya itu? yang ia sebut baik.  "Lucien?" Aku tertegun. Ingatan apa itu? dengan cepat aku menoleh kearah dimana Lucien berada. Begitu aku menoleh kearahnya aku terkejut hingga memaku di tempat. Bahkan untuk sesaat aku lupa bagaimana caranya bernapas saat aku mendapati dirinya yang sedang memandang kearahku. Sejak kapan pria itu menatapku? Aku menatapnya cukup lama sementara mulutku tertutup rapat. Sekarang aku mengerti kenapa Lyra dan yang lainnya mendadak diam dan bersikap aneh. Penyebabnya tidak lain adalah Lucien. Pantas saja saat aku mendangar namanya aku merasa familiar.  Jadi pria itu datang kesini untuk menemui Charity? tapi kenapa setiap aku melihat kearahnya, aku selalu mendapati dirinya sedang menatapku. Bukankah itu aneh? Dia benar-benar tampan, muda dan kaya. Aku memang membayangkan Lyra bekerja dengan tuan muda yang tampan dan kaya tapi aku tidak menyangka jika orang itu akan semuda ini. Aku mengalihkan pandanganku dari Lucien lalu menghela napas. Karena aku sudah tahu kenyataan ini, itu berarti aku harus berhenti memikirkan Lucien dan melupakannya. Pertama dia adalah bangsawan, kedua dia menyukai temanku dan ketiga aku tidak mungkin menjadi orang ketiga diantara mereka. Sebuah tepukan ringan di bahuku menyadarkanku dari lamunan ku. Aku menoleh kearah Lyra seakan bertanya 'ada apa?' dengan dongakan kepalaku. "Jagungmu gosong, Minerva." ucap Lyra seraya menatap jagungku. Aku mengikuti arah pandangannya dengan terkejut lalu buru-buru membalikkan jagungku dan membakarnya di sisi lain.  "Astaga!"  Warnanya benar-benar hitam. "Untungnya sepertinya hanya gosong dibagian luarnya saja." gumamku.  Aku menoleh kearah Lyra, sedikit malu karena tertangkap basah melamun dan membuat jagungku gosong. Lyra juga menatapku, kami saling berpandangan sebelum akhirnya.  "Hahahaha"  Suara tawa keluar dari mulut kami, aku tertawa geli bahkan sampai mengeluarkan air mata di sudut mata ku. Ini pertama kalinya aku berbuat ceroboh seperti ini tapi ternyata tidak seburuk itu, aku malah mendapatinya lucu, begitu juga Lyra yang tertawa bersamaku.  Saat tawa kami mereda, aku menoleh kearah Cassa, "Cassa, aku akan ke tenda lebih dulu. Apa kamu tidak keberatan?"  "Ah, tentu saja." katanya sambil mengedipkan mata kearahku.  Ada apa dengannya?  Aku tidak terlalu memikirkannya dan pergi meninggalkan mereka dan api unggun.  Awalnya aku akan tidur dengan Cassa tapi seperti aku akan tidur bersama Lyra kali ini. Karena mungkin Cassa akan bersama Noah dan Charity bersama Lucien. Itu berarti Benjamin akan bersama Hanon dan aku bersama Lyra.  Aku memakan jagung di tanganku, "Enak juga." gumamku saat merasakan gurihnya jagung dengan sedikit rasa manis dan asing yang bersal dari mentega.  To Be Continued 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN