17. UNEASY

1709 Kata
-MINERVA POINT OF VIEW- Nafasku tersenggal, aku menunggu apa yang akan dia katakan selanjutnya. Tubuhku menegang saat merasakan sebuah tangan hangat dan besar menyentuh pundakku. Aku bisa merasakan sentuhannya yang sangat hati-hati dan sangat lembut. Aku menoleh saat Lucien memajukan wajahnya untuk melihatku. "Mau mencari udara sekaligus berkeliling bersamaku?" ujar Lucien seraya tersenyum kearahku. Ah.... Senyum itu. Bukankah itu curang? Bagaimana bisa seseorang memiliki senyum seindah itu? "Tentu saja, tapi aku harus membantu Cassa, Noah dan Benjamin disini." jawabku. Aku tidak mungkin meninggalkan pekerjaan ini pada mereka setelah meminta Charity dan Lyra beristirahatkan? Tentu saja tidak. Aku berjalan selangkah menjauh membuat tangan Lucien yang berada di pundakku terlepas. Aku tidak bisa mengendalikan debar jantungku jika tangan itu sedikit lebih lama berada di pundakku. "Begitukah?" Aku tersenyum tipis, "Ya, kamu boleh istirahat disana atau ikut membantu kami." aku menunjuk sebuah batang pohon besar yang tumbang di ujung kawasan kemah kami. Tapi dia tidak menjawab apapun, aku meliriknya kembali. Pria itu malah diam menatap wajahku. Apa ada yang aneh dengan wajahku? Aku tersenyun canggung. "Apa ada sesuatu di wajahku?" tanyaku. Aku meraba-raba wajahku. Lucien terkekeh, "Tidak. Tentu saja tidak. Kamu sangat cantik." katanya dengan matanya yang tak lepas menatap mataku dengan lekat. Seketika wajahku kembali terasa panas namun kali ini lebih panas dari sebelumnya. Aku langsung mengalihkan wajahku menghindari tatapannya yang intens seakan akan memakanku itu. Aku membasahi bibirku yang terasa kering, "Kamu... Bisa duduk disana." aku mengulangi perkataan ku lagi dengan menyuruhnya untuk duduk di kayu itu. Namun kali ini aku tidak menunjuk kayu yang ku maksud karena aku bahkan tidak bisa menggerakkan ujung jariku. Aku masih bisa meraskan tatapannya meskipun aku tidak melihat kearahnya. "Aku akan membantumu." ujarnya. "Ah, begitu. Kamu bisa membantu kami dengan membersihkan halaman sekitar tenda." kataku. Tiba-tiba Noah yang sejak tadi diam -sampai aku hampir lupa jika mereka masih berdiri di belakang Lucien-menginterupsi ku, "Minerva, tugas itu biar aku saja." aku melihat kearahnya. Dia terlihat aneh, dia menatapku dengan raut wajah terkejut dan tubuh gemetar, walaupun samar tapi aku masih bisa melihatnya dengan jelas. "Apa kamu memiliki alergi kotor?" aku bertanya pada Lucien, walaupun aku juga tidak tahu apa itu alergi kotor. Yang kutahu hanya alergi debu yang bisa membuat orang yang terkena alergi gatal-gatal, bengkak, bersin bahkan sampai hidung tersumbat dan berair. Lucien masih menatapku. Pria itu terdiam cukup lama. Entah apa yang dia pikirkan tapi perlahan aku melihat keningnya mengernyit. Apa dia tidak mau membersihkan halaman? Karena kotor? Memang jika dilihat-lihat Lucien seperti pria yang berasal dari keluarga yang kaya. Jika memang dia tidak mau membersihkan halaman katakan saja padaku. Lagipula apa salahnya membersihkan halaman? Beberapa kenalan ku yang sangat kaya saja tidak searogan ini. Mereka masih mau bersih-bersih. Memangnya dia pikir dia seorang raja atau bangsawan? Aku berdecak, "Kalau kamu tidak mau membantu, kamu bisa duduk disana seperti yang aku katakan tadi!" cetusku dengan nada yang sedikit tinggi. Aku menunjuk tempat yang kumaksud itu dengan daguku. Seolah sejak tadi pria itu melamun dan baru saja tersadar, dia menatapku penuh dengan kebingungan di wajahnya, sebelum akhirnya dia tersenyum lebar seperti orang bodoh. Aku mengernyit sambil menahan tawaku melihat ekspresi wajahnya yang tidak pernah aku duga jika dia memiliki ekspresi seperti itu memakai wajahnya yang tampan dan sangat jantan. Padahal beberapa saat yang lalu aku masih kesal dengan dia namun sekarang kekesalan entah sudah terbang kemana. Apa dia bodoh? Mungkin. "Minerva, kenapa kamu marah?" ia malah bertanya padaku. Sepertinya dia sadar saat melihat ekspresi wajahku sebelumnya. Sudah kuduga, dia benar-benar bodoh. Apa sejak tadi dia tidak mendengarkan ku dan malah melamun? "Aku akan membantumu, aku akan membersihkan halaman ini dengan cepat." katanya, suaranya terdengar sangat lembut saat berbicara padaku. Lagi-lagi membuat hatiku berdebar. "Kalau begitu kamu bisa memungut sampah dan mengumpulkannya ke kantung plastik besar disana. Aku akan merapihkan barang dan menyiapkan makanan sementara Noah dan Benjamin bisa memasang tenda untuk kalian." kataku. "Ya, aku akan melakukannya." ujarnya seraya berjalan melewatiku dan mulai memunguti sampah dedaunan yang berserakan di halaman sekitar tenda kami. "Alp- Maksudku... Lucien, aku akan membantumu." Hanon berjalan menyusul Lucien dan membantunya memunguti daun-daun, dan ranting kering. "Ka-kami juga akan membantumu, Lu... Lu... Lucien." Aku melirik Noah dan benjamin yang mendadak gagap. Mereka juga ikut membantu Lucien. Aku bingung enapa mereka sangat ingin membantu Lucien? Padahal memunguti sampah daun adalah pekerjaan yang mudah apalagi halaman tempat kami berkemah tidak terlalu luas. Sebelum aku merasa penasaran karena terus memikirkan perilaku mereka yang memang sering aneh, yang ku maksud adalah Charity, Lyra, Noah dan Benjamin. Ah, Cassa juga sedikit aneh, tapi daripada aneh Cassa lebih banyak menyebalkannya. Ya mereka unik dengan ciri khas masing-masing yang membuatku tidak pernah bosan bermain dengan mereka. Aku melirik Cassa yang berdiri tidak jauh dariku sedang melihat kearah kekasihnya yang tidak lain adalah Noah. "Cassa, ayo kita rapih-rapih." ujarku. Cassa akhirnya memperhatikan ku, dia mengangguk dan segera menghampiriku. Kedua tangannya langsung melingkari tanganku dan bergelanyut disana. Aku menghela napas pasrah melihatnya. Aku menaruh barang-barangku dan milik Cassa kedalam tenda lalu menatanya. Sedangkan Cassa merapihkan sisa barang Charity dan Lyra yang masih belum di rapihkan. Sementara itu para laki-laki sudah selesai membersihkan halaman kemah dan kini Noah bersama Benjamin sedang memasang tenda. Lucien dan Hanon? Kedua pria itu sedang berjalan-jalan entah kemana setelah selesai membersihkan halaman. Karena di kerjakan oleh banyak orang pekerjaan kami jadi selesai dengan cepat. Aku mengeluarkan beberapa bungkus mie instan kedalam panci besar yang kami bawa dan menuang air di dalam botol yang cukup besar yang dibawa oleh Charity di dalam tasnya ke dalam panci berukuran cukup besar. Aku bertaruh jika air ini sangat berat meskipun di bawa di dalam ransel sekalipun. Aku tidak tahu Charity itu kuat atau gila. Air ini memiliki berat 2 liter. Aku tidak bisa membayangkan bagaimana beratnya ditambah dia membawa barang lain bersamanya. Aku menaruh panci berisi air di tengah-tengah api unggun. Aku menunggu sampai air itu mendidih lalu aku memasukan 8 bungkus mie instan beserta bumbunya kedalam panci lalu kembali menunggu sampai mie matang. Setelah sudah cukup matang aku menambahkan 5 slice keju cheddar. Aroma dari mie instan menyerbak, tercium oleh hidungku dan membuat perutku keroncongan. Charity, Lyra dan Cassa keluar dari tenda yang sama bersama-sama. Hidung mereka mengendus lapar. "Wahhh, aku lapar!" ujar Cassa dengan langkahnya yang cepat menghampiriku dan berjongkok di sampingku. "Charity kita tidak membawa piring?" "Ah, aku meninggalkannya di mobil Cassa karena kupikir kita tidak terlalu membutuhkannya. Aku bisa mengambilnya sekarang." "Apa? Kau tidak perlu mengambilnya. Lokasi kita sangat jauh dari tempat parkir mobil. Itu akan memakan waktu dan kamu juga akan kelelahan." kataku. Apa dia sudah tidak waras? Jarak tempat kami berkemah dengan tempat kami memarkir mobil sangat jauh. Tapi dia bicara seakan itu bukan masalah besar. Seperti dia kembali ke kelas setelah sadar jika lupa membawa dompet ke kantin. "Aku bisa mengambilnya dengan cepat. Itu bukanlah apa-apa, aku tidak akan lelah hanya karena itu." Aku menghela napasku. "kita tidak membutuhkan piring. Kita membawa alat makan bukan?" "Oh, sebentar! Biar aku ambilkan." Lyra yang sudah berjalan cukup dekat dengan ku kembali masuk kedalam tendanya. Charity duduk diatas tanah di sebelahku. Matanya memperhatikan panci yang penuh dengan mie dan kuah yang mendidih. Aku mengaduk-aduk mie dengan sendok besar di tanganku. Aku melirik kearah Benjamin yang sedang duduk bersama dengan Noah di batang pohon yang tumbang yang jaraknya cukup jauh dari api unggun. Mereka juga sedang melihat panci mie instan yang sedang kumasak. "Benjamin, bisa tolong angkat panci ini dan letakan disana?" aku menunjuk kawasan yang kosong agar bisa makan bersama. Benjamin mengangguk, "Okey." ia segera bangun dan mencari kain tebal sebelum akhirnya memindahkan panci dari atas api unggun ke tanah yang ku tunjuk sebelumnya. Lyra datang dengan membawa beberapa sendok dan garpu bersamanya. Aku bangkit dari posisi jongkok. Menepuk-nepuk lututku lalu menghampiri panci. Aku duduk di dekat panci. Aku melihat pada mereka yang sedang menatapku bingung, "Ayo kita duduk melingkar, makan bersama." kataku sambil menepuk kedua sisi tanah di sampingku yang kosong. Awalnya mereka terlihat ragu tapi mereka tetap datang dan duduk melingkar denganku. "Kita makan di satu panci yang sama?" Noah bertanya. Aku mengangguk. "Iya, bukankah itu seru?" "Emm... Bagaimana jika kamu makan lebih dulu lalu kita akan makan setelah mu." Aku mengernyit, "kenapa?" "Makanan ini kamu yang masak. Jadi kamu bisa makan lebih dulu." "Tapi aku ingin ikut makan bersama. Atau... kamu jijik makan bersamaku?" Charity membulatkan matanya, dia menggeleng sambil tangannya melambai-lambai menyergah ucapanku. "Tidak, tentu saja tidak. Kita bisa makan bersama." Aku tersenyum puas, mengambil alat makan yang di pegang Lyra lalu membagikannya pada mereka. "Ah aku sangat lapar." ujar Cassa mengambil suapan pertama lebih dulu dengan garpunya. Aku memperhatikan raut wajah Cassa yang menikmati mie buatanku, "Bagaimana rasanya?" tanyaku. "Enak!" jawabku antusias. Aku terkekeh, "tentu saja enak. Memangnya ada mie instan yang tidak enak?" Mereka mulai memakan mienya bersama. Mengambilnya dengan cara bergantian. Aku merasa puas melihat mereka yang menikmati masakanku meskipun itu hanyalah mie instan. Setelah hanya memperhatikan mereka, akupun mulai ikut mengambil mie dan menyuapnya. Karena menambahkan keju, kuah mie jadi terasa lebih asin dan creamy. Dipadukan dengan bumbu mie yang pedas terasa sangat pas di mulutku. Semuanya menikmati makanannya sampai sebuah suara menginterupsi kegiatan kami. "Kalian..." aku kami menoleh bersamaan saat mendengar suara yang tidak asing berada tidak jauh dari kami. Siapa lagi jika bukan Lucien? Sepertinya mereka -Lucien dan Hanon sudah selesai melihat-lihat pemandangan. Untuk beberapa saat Lucien menatapku, mata kami bertemu dan aku terpaku di tempat karena matanya itu. Aku mendengus pelan, padahal sebelumnya dia mengajakku. Tapi dia malah pergi bersama Hanon. "Charity, aku ingin bicara sebentar denganmu." kata Lucien. Aku menatapnya, sementara dia sedang melihat kearah Charity dengan wajahnya yang datar. Aku menghela napasku. Ternyata wajahnya yang datar tanpa ekspresi juga tampan. Tapi kenapa dia ingin bicara berdua saja dengan Charity? Apa sejak awal aku salah paham berpikir jika Lucien terus memperhatikanku? Bahkan aku sempat berpikir jika Lucien menyukaiku. Yah, aku tidak heran. Charity adalah wanita yang cantik dan dia juga belum memiliki kekasih. Charity bangun dari duduknya, dan berjalan mengikuti Lucien yang sudah berjalan menjauh dari kami lebih dulu. "Ya, Tentu." jawabnya. Aku menundukkan wajahku, tidak ingin melihat mereka. Aku tidak tahu kenapa, tapi aku tidak menyukainya. Aku tidak suka melihat Charity bersama dengan Lucien. Aku tahu aku tidak boleh seperti ini. Charity adalah temanku. Harusnya aku bahagia untuk Charity jika ternyata mereka saling menyukai. Ah, suasana hatiku jadi kacau. To Be Continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN