Tell me what you want. I will grant it even if it's impossible.
I will be anything for you. Become anyone for you.
Because my LOVE for you is INFINITY.
-VULNERABLE-
____________________________________
-MINERVA POINT OF VIEW-
Aku terbius oleh tatapannya. Aku tidak bisa lagi mendengar suara Cassa yang awalnya terus bicara ataupun yang lainnya. Aku merasa bahwa disini hanya ada aku dan Lucien. Tatapannya yang membuatku merasa panas, memerhatikan setiap jengkal tubuhku. Memerhatikan setiap detil gerakanku. Aku bahkan tidak perlu melihatnya untuk tahu itu. Demi tuhan, Lucien terlihat sangat seksi dan dia adalah tipe pria yang selama ini aku cari. Semuanya terasa pas, Sempurna.
"Kau juga setujukan, Minerva?"
Suara Cassa memecah keheningan dalam pikiran ku akibat tatapan Lucien. Aku menoleh padanya, Mereka menatapku. Menunggu jawabanku, aku bahkan tidak tahu sejak tadi apa yang mereka bicarakan.
"Apa? Kamu tidak mendengarkan kita sejak tadi?"
Aku merasa malu seperti tertangkap basah saat Cassa mengatakan fakta itu. Aku bahkan lebih merasa malu saat Lucien menyadari penyebab aku termenung. Lucien tersenyum kearahku. Aku merasa tubuhku menggigil melihat senyumnya yang terlihat sangat berbahaya, memacu adrenalin. Aku menelan ludahku susah.
"Hanon berkata jika mereka ingin ikut bergabung bersama kita. Kamu setujukan?"
Bukankah itu berarti Lucien juga akan ikut bersama mereka? Aku melirik sekilas kearah Lucien lalu kembali mengalihkan pandanganku dengan cepat. Aku benar-benar lemah oleh tatapannya. Membayangkan aku akan bersama Lucien selama dua hari ini, memabayangkan dirinya yang terus menatapku dan hanya pada diriku. Jantungku berdebar sangat keras. Aku membasahi bibirku yang terasa kering.
"Y-ya, aku pikir itu juga ide yang bagus. Aku tidak keberatan."
Aku merutuki diriku yang menjawab dengan suara yang gemetar dan gugup. Padahal aku sudah menahan suaraku agar tidak terdengar aneh. Tapi tetap saja. Wajahku terasa panas. Aku bersyukur karena Cassa tidak bertanya mengapa suaraku seperti itu.
"Berarti sudah diputuskan! mereka akan bergabung bersama kita." Ujar Cassa dengan semangat.
"Tunggu dulu." aku menghentikannya. "Kita belum meminta pendapat Charity dan Lyra." ujarku.
Cassa menghela napas.
"Mereka akan setuju jika kamu setuju."
Meskipun aku tidak mengetahui alasannya tapi apa yang dikatakan Cassa benar. Charity dan Lyra selalu menyetujui dan menuruti setiap ucapanku. Bahkan terkadang aku merasa jika mereka tidak menganggapku teman melainkan seseorang yang harus mereka temani. Mereka hampir tidak pernah berdebat dengan keputusanku. Hanya Cassa yang sering mendebatku bahkan menghasutku.
Jika boleh jujur, dengan sikap mereka yang selalu menuruti ucapanku, aku merasa tidak enak. Aku tidak tahu apa yang mereka pikirkan dan inginkan. Terkadang aku merasa tidak pantas menjadi teman mereka karena tidak tahu apapun tentang mereka.
Aku menundukkan kepalaku. Aku menoleh saat merasakan tatapan Lucien lagi, aku tidak mengerti kenapa dia melihatku dengan alisnya yang mengernyit dan terlihat kesal. Aku tidak memikirkan raut wajah Lucien lagi saat Cassa menarik tanganku dan menarikku agar berjalan bersamanya. Aku melirik kebelakang, mereka mengikuti kami. Anehnya mereka sangat tenang.
"Minerva, kamu akan membantuku kan?" Aku segera menoleh pada Cassa yang berbisik pelan tepat di telingaku.
"Bantu apa?"
"Soal minuman alkohol yang sebelumnya kita bahas. Maksudku... Sekarang Noah disini, aku tidak bisa tetap menyimpannya denganku bukan?"
Mataku menyipit, "Lalu?" Aku menunggu Cassa melanjutkan ucapannya. Aku memiliki perasaan tidak enak tentang ini.
Raut wajah Cassa memelas. "Bisakah kamu menyimpannya untukku?"
Aku mengerjap, "A-apa?"
"Ayolah, aku akan mengambilnya kembali saat Noah sudah tidak ada di sekitarku. Lagipula menyimpan satu botol minuman tidak akan menyakitimu." Cassa memohon, dia mengembungkan pipinya dan menatapku dengan mata yang berbinar.
Aku mencoba melepaskan tangannya yang bergelanyut di tanganku, namun Cassa menahannya dengan kedua tangannya. Aku menghela napasku pelan. "Aku tidak mau menyimpan sesuatu seperti itu." cetusku.
Cassa menggumam pelan, "Padahal sebelumnya kamu juga setuju untuk meminumnya bersama denganku."
Dia pasti sengaja mengatakan itu. Dia tidak memberikanku pilihan selain membantunya. Cassa melepaskan pegangan tangannya dan memasang raut wajah sedih. Aku menoleh kebelakang, melihat Noah yang saat itu sedang menatap punggung Cassa. Apa dia selalu seperti itu? maksudku, aku baru sadar jika Noah selalu memperhatikan Cassa. Aku tahu mereka adalah pasangan yang mesra tapi untuk selalu menatap Cassa sepertinya sedikit berlebihan. Dia bahkan tidak sadar jika aku sedang memperhatikannya. Atau dia tidak peduli?
Selalu menatapnya?
Aku menoleh kearah Lucien dengan gerakan cepat. Mataku membulat, aku terkesiap. Mata kami seperkian detik bertemu sebelum akhirnya aku kembali melihat kedepan. Wajahku terasa sangat panas. Aku tidak tahu bagaimana warna wajahku sekarang. Jantungku kembali berdebar. Ya... mereka sama anehnya, kedua pria itu.
Tanganku mengepal dengan rasa yang sedikit lembab karena keringat. Aku menundukkan wajahku menghindari tatapan mereka, terutama Cassa yang berjalan disampingku.
Cassa kembali merayuku, "Minerva--" Saat ia menoleh padaku, aku membuang wajahku.
Aku berharap dia tidak menyadari perubahan wajahku, tapi harapanku ternyata sia-sia. "Astaga, wajahmu merah sekali! apa kamu sakit?" Telapak tangan Cassa menggapai keningku, mengukur suhunya.
"Kamu tidak panas." ujarnya.
Aku menyingkirkan tangannya dari keningku, membuang wajahku lagi. Aku berjalan meninggalkan mereka di belakang "Ayo, mungkin Charity dan Lyra sedang mencari kita."
Selama berjalan menuju tenda, aku tidak bisa memikirkan apapun selain rasa malu yang kurasakan.
Cassa menggumam di belakangku. "Ada apa dengan dia?"
Aku melihat Charity yang tengah membenahi barang-barang dan Lyra yang sedang menyiapkan perlengkapan masak. "Charity, Lyra."
Mereka menoleh kearahku yang memanggil nama mereka, lalu melirik kebelakang ku dimana mereka berdiri. Aku bisa melihat perubahan raut wajah Charity dan Lyra begitu melihat kebelakangku. Mereka terlihat sedikit...
.....Pucat.
Apa mereka baik-baik saja? Mungkin mereka lelah karena sejak tadi bekerja. Harusnya aku membantu mereka walaupun mereka mengatakan tidak perlu. Aku menghampiri Charity yang berjarak lebih dekat denganku. "Kalian berdua pucat, lebih baik kalian beristirahat. Biar aku, Cassa, Noah dan Benjamin yang melanjutkannya." ujarku.
Tapi Charity bahkan tidak memperhatikan apa yang aku katakan. Dia seperti hilang. Aku menyentuh pundaknya, lalu melihat apa yang sejak tadi ia perhatikan. Aku bertanya padanya saat ia terlihat sudah kembali sadar "Mereka berdua adalah teman Noah dan Benjamin. Mereka ingin bergabung bersama kita. Apa kamu keberatan?"
Charity menundukkan kepalanya saat menjawabku, "Tentu saja kami tidak keberatan."
Aku menghela napasku, meskipun dia menjawab seperti itu, tapi sikapnya mengatakan sebaliknya. Aku mendekatkan wajahku pada telinganya lalu berbisik. "Apa kamu benar-benar tisak keberatan? apa aku harus menolak mereka?"
Aku mengatakan itu pada Charity seakan-akan aku mampu untuk menolak kedatangan mereka. Kenyataannya, aku bahkan tidak mampu hanya untuk sekedar menatapnya, maksudku... Lucien. Tapi kenyamanan temanku harusnya jauh lebih penting dari itu. Jadi jika Charity dan Lyra berkata jika mereka keberatan, aku akan menolak ajakan mereka untuk bergabung. Aku tidak mengkhawatirkan Cassa, karena mungkin anak itu tidak akan merengek meminta kami untuk mengizinkan mereka untuk bergabung karena minuman itu.
"Aku..."
Grr!!
Aku terkesiap saat samar-samar mendengar suara geraman, itu terdengar seperti suara binatang buas. Aku merasa merinding dengan bulu-bulu di tanganku yang berdiri. "Aku benar-benar tidak keberatan." katanya.
Mungkin aku salah menilai respon Charity, sepertinya dia benar-benar tidak masalah. Mungkin benar, dia hanya merasa lelah. Kemudian aku melirik Lyra yang berdiri tidak jauh dari posisi kami. Anak itu juga terlihat pucat.
Cassa yang sejak tadi diam berdiri di belakangku bersama Noah, menghampiri kami. "Ahh.. aku senang kalian tidak keberatan. Padahal sebelumnya dia menolak keras Noah dan Benjamin untuk bergabung." ujar Cassa bergelanyut di tangan Charity dan menatapnya dengan tatapan mengejek.
"Oh iya, kenalkan dia Hanon dan Lucien. Mereka teman Noah-ku...."
Aku tertawa pelan melihat kelakuan Cassa yang centil, dia benar-benar tahu bagaimana cara menghancurkan suasana hati orang. Charity sepertinya tidak sedang dalam suasana hati yang bagus untuk Cassa bermanja-manja dan menggodanya.
Aku melirik Charity, dia... seperti dugaanku, wajahnya terlihat sangat tidak baik. Ia menatap Cassa dengan penuh kejengkelan. "Tutup mulutmu, beraninya kamu.." Charity hampir saja mengumpat. Aku terkejut, aku belum pernah melihat Charity yang benar-benar marah. Dia melirikku dan sepertinya menahan amarahnya.
Maksudku, kenapa dia sangat marah? aku tahu dia akan kesal pada Cassa tapi aku tidak menduga hal ini. Cassa juga sama terkejutnya denganku. Aku yakin Cassa juga tidak bermaksud membuat Charity marah. Dia hanya suka bermain-main dengan Charity.
"Charity kamu baik-baik saja?" Aku bertanya.
Charity mengangguk pelan, "Maafkan aku. Aku sangat lelah, apa aku boleh beristirahat?"
Aku mengangguk,"Kamu tidak perlu meminta izin untuk beristirahat." ujarku, dia kembali mengangguk.
Aku menoleh pada Lyra, "Kau juga beristirahatlah, Lyra." kataku.
"Baik."
Lalu mereka masuk kedalam tenda. Aku menghela napasku. Aku merasa ada sesuatu yang janggal. Hanya melihat dari wajahnya aku sudah tahu Charity benar-benar marah, tapi aku yakin itu bukan hanya karena Cassa bercanda dengannya saat dia sedang lelah. Noah yang biasanya selalu membela Cassa saat kedua orang itu bertengkar mendadak hanya diam memperhatikan. Bahkan Benjamin yang biasanya selalu menghampiri Lyra juga hanya diam.
"Minerva..."
Lagi-lagi suara itu, suara yang membuat tulangku terasa meleleh. Suara yang rendah, berat dan terdengar seperti... dia mendesahkan namaku.
Astaga, Minerva! apa yang kamu pikirkan.
Begitu aku tersadar dari lamunanku, aku merasakan dirinya yang berdiri tepat dibelakangku, aku bisa merasakan hembusan napasnya yang berat mengenai rambutku dan suhu badannya yang panas. Aku berharap dia tidak mendengar suara detak jantungku yang menggila dari posisinya yang sedekat ini denganku.
To Be Continued