4. Innocent

1827 Kata
Minerva membuka matanya, cahaya matahari yang masuk melalui pintu balkon yang tidak tertutup rapat mengusik tidurnya. Dengan mata yang sayup memandang sekitarnya, masih dengan keadaan setengah sadar, Minerva duduk bersandar di kepala ranjangnya. Hari ini adalah hari sabtu yang berarti sekolahnya libur. Minerva dengan malas bangun dari tempat duduknya, berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi.  Minerva sudah terbiasa bangun pagi, dia tidak perlu dibangunkan oleh ibunya, seperti saat dia masih kecil. Biasanya setelah Minerva selesai mandi, ibunya -Soora- baru akan mengetuk pintu kamar Minerva dan meminta Minerva turun untuk sarapan.  Tidak membutuhkan waktu yang lama untuk Minerva mandi, dia bukan tipe gadis yang suka berlama-lama berada di kamar mandi. Minerva keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya dan rambutnya yang basah. Berjalan ke lemari yang letaknya tepat di samping ranjang, lemari miliknya berukuran besar terbuat dari kayu jati yang diwarnai cat coklat.  Minerva membuka pintu lemari dengan memegang kenop pintunya, di dalamnya terdapat banyak baju yang digantung dan kaos yang di tumpuk. ia memilih sebuah jumpsuit berwarna hitam sependek lutut tanpa lengan dengan sebuah tali yang melingkar di lehernya sebagai penyangga. di dalam jumpsuit, Minerva mengenakan kaos lengan pendek berwarna putih.  Minerva menggerai rambut panjangnya yang bergelombang dan menambahkan sebuah jepitan di rambutnya.  Tok!Tok!Tok! Kepala Minerva menoleh kearah pintu yang diketuk, "Minerva, sudah waktunya untuk sarapan."  "Iya ibu, aku akan turun!" jawab Minerva, langsung berjalan keluar kamar, begitu Minerva membuka pintunya, ibu nya sudah tidak ada. Minerva berjalan di lorong rumahnya yang besar bergaya modern yang selalu sepi karena mereka hanya tinggal 3 itu sambil melihat-lihat sudut ruangan yang gelap karena lampu tidak dinyalakan.  Saat menuruni tangga, Minerva bisa langsung melihat meja makan yang sudah penuh dengan menu sarapan. Duduk di kursi paling kanan terdapat ayahnya yang sedang menunggu dirinya turun, sedangkan ibunya masih sibuk menuangkan s**u hangat pada gelas-gelas.  Setelah turun, Minerva menghampiri ayahnya dan mencium pipinya sekilas lalu beralih pada ibunya, mencium bibir ibunya sekilas sebelum duduk di kursi meja makannya. "Selamat pagi, sayang."  "Selamat pagi," jawab Minerva sambil mengambil kentang goreng, telur dadar dan steak ayam, lalu mengambil segelas s**u hangat yang sudah ibunya tuangkan. Soora-ibunya duduk di hadapannya sambil menyiapkan makanan untuk George-ayahnya.  "Apa yang ingin kamu lakukan hari ini? Kamu ingin berlibur ke suatu tempat?" tanya George.  Minerva menggelengkan kepalanya, "Aku ingin pergi mencari air terjun hari ini."  "Air terjun?" Soora mengulangi ucapan Minerva, keningnya mengernyit.  Minerva mengangguk mantap, "Ya, aku ingin menunjukkan pada teman-teman kalau benar ada air terjun di belakang rumah pohon kami! Mereka terlihat tidak percaya dan menganggap diriku berbohong. Kamu tahu kan, aku sangat tidak suka dianggap berbohong."  Soora tersenyum canggung mendengar ucapan anaknya, sedangkan George terkekeh geli, "Baiklah, semoga beruntung." kata george lalu mulai menyantap sarapannya.  Soora menghela napasnya, "Jangan pergi ke hutan terlalu jauh, jika terjadi sesuatu segera hubungi kami, okay?"  "Okay."  *** Minerva mengenakan sepatu boots kulit tinggi yang menutupi kakinya sampai setengah betisnya. Di dadanya terdapat ponsel yang ia kalungkan di lehernya. Suhu udara saat itu cukup dingin, uap panas keluar dari mulut Minerva.  "Harusnya aku memakai pakaian hangat dan mantel." gumam Minerva, dia ingin kembali lagi kerumah untuk mengganti pakaian dan mengambil mantel hangatnya namun dia sudah setengah jalan menuju air terjun.  Hutan terasa sangat lembab dan sedikit becek, mungkin tadi malam turun hujan. Aroma hutan dan tanah sangat tercium di hidung Minerva. Minerva menyukainya, salah satu alasan Minerva tidak merengek saat ibu dan ayahnya kembali membohonginya saat mengatakan tidak akan tinggal lama di kota ini adalah karena dia suka lingkungan sekitar rumahnya yang dipenuhi hutan, meskipun awalnya dia takut masuk ke dalam hutan. Tapi setelah masuk, sepertinya tidak begitu buruk, malah dia menyenangkan. Apalagi saat menghirup udara pagi dari balkon kamarnya, dia merasa segar. Cuaca di kota ini selalu sejuk, tidak seperti di pusat kota yang mengharuskannya untuk mengenakan pendingin ruangan karena setiap hari udara sangat panas bahkan saat hujan sekalipun.  Suara ranting patah saat ia injak membuatnya terkesiap, ia terkejut sendiri karena hutan begitu hening, ia pikir ada seseorang yang mengikutinya atau binatang buas. Astaga, sepertinya dia harus mengurangi membaca novel thriller atau pun horor, sejak masuk kedalam hutan, dia tidak bisa berhenti memikirkan hal menyeramkan. Tidak lama memasuki hutan, Minerva kini sudah sampai di rumah pohonnya dan teman-temannya. Minerva tidak ingin repot-repot naik ke rumah pohonnya karena cuaca sedang dingin dan bisa dipastikan udara diatas sana lebih dingin daripada yang sudah ia rasakan saat ini. Minerva hanya mengukur dimana letak air terjun yang ia lihat dengan berdiri di bawah rumah pohon dan mengingat-ingat di angka jarum jam berapa letak air terjun itu.  "Angka jarum jam.... " Minerva memutar-mutar tubuhnya sampai akhirnya ia berhenti diangka jarum jam 7, "Benar! disini." Minerva melanjutkan perjalanannya, kali ini sedikit lebih cepat karena udara semakin dingin. Dia hanya ingin memotret air terjun bersama dengan dirinya lalu kembali pulang dengan cepat.  Kring!! Kring!! Kring!! Ponsel Minerva berdering, dengan cepat ia mengangkatnya, tanpa melepaskan kalungan di lehernya. Tertera nama di layar 'Rein'. "Minerva, kamu dimana? aku datang kerumah mu tapi ibumu berkata jika kamu sudah pergi lebih dulu." "Aku di hutan." jawab Minerva sambil kembali berjalan. "Apa?!" "Kenapa kamu ke hutan sendirian? Kita kan sudah berjanji untuk pergi ke air terjun di kota sebelah bersama-sama."  "Tidak. Aku tidak pernah setuju untuk pergi ke air terjun di luar kota. Aku akan mencari air terjun di hutan dan menunjukkannya pada kalian."  "Astaga Minerva! Bagaimana aku tidak berpikir jika kamu berbohong? Karena di kota ini memang tidak ada air--"  Tut!Tut!Tut!Tut!  Tiba-tiba sambungan telepon terputus, Minerva mengernyit sambil melihat layar ponselnya yang mati. "Tadi dia ingin mengatakan apa?" gumam Minerva, mengangkat bahunya acuh, Minerva kembali melepas ponselnya dan membiarkannya bergelantung di lehernya.  Tiba-tiba udara di sekitar terasa lebih hangat dibanding sebelumnya, bahkan matahari sudah terlihat sangat terang. tidak ada aroma hutan yang lembab. Mata Minerva menyipit saat sinar matahari begitu terang menusuk matanya. Minerva terus berjalan sampai dia keluar dari dalam hutan. Matanya melebar dengan pupil mata yang membesar, Minerva terkesiap. Dia menutupi mulutnya yang terbuka dengan kedua telapak tangannya.  Di hadapannya terdapat sebuah air terjun yang besar dan tinggi, terdapat pelangi yang samar-samar di bagian atas air terjun. lalu air yang mengalir deras. Di seberangnya, disisi yang di batasi oleh air terjun, terdapat kebun bunga yang sangat indah, menggiurkan mata Minerva untuk pergi ke sisi itu.  "Astaga! ini surga dunia!" Pekik Minerva kegirangan. Tubuhnya merosot kebawah saking senangnya. "Ah iya, aku harus foto! aku akan tunjukkan pada mereka kalau aku tidak berbohong."  Buru-buru Minerva melepas kalungan ponsel nya agar lebih leluasa memotret, ia berdiri dan berjalan sampai pinggir sungai, menyalakan kamera depan, Minerva mengatur posisinya agar dirinya dan air terjun terlihat jelas di kamera.  Trek!  Minerva memotret sambil tersenyum. Setelah itu, dia keluar dari aplikasi kamera ke aplikasi pengirim pesan. Mengetik nama 'Rein' dan kedua teman lainnya, Minerva mengirimkan foto yang sebelumnya diambil pada mereka. Setelah menekan tombol kirim, kening Minerva mengernyit dalam. Ia melirik sudut kanan paling atas layar ponselnya, disana tidak menunjukkan adanya sinyal. Ia tidak mendapatkan sinyal sedikitpun. "Ah..." Minerva menghembuskan napasnya panjang. 'Pantas saja sambungan telepon ku dengan Rein tiba-tiba terputus.' kata Minerva dalam hati. Minerva memutuskan untuk menyimpan kembali ponselnya dan kembali lebih dulu. Yang terpenting dia sudah mempunyai bukti, pikirnya.  "Mungkin lain kali aku akan menunjukkan air terjun ini secara langsung."  Srak! Srak!  Suara semak-semak dan langkah seseorang terdengar. Minerva terkesiap, ia melihat sekelilingnya dengan waspada. Tangannya mengepal erat bersamaan dengan dirinya yang mencoba mengurangi rasa takut yang saat ini melanda dirinya. Jika dipikir-pikir lagi, dia pergi ke hutan sendirian itupun hutan bagian dalam. Dia tidak sadar jika dirinya sudah melakukan hal yang sangat bodoh hanya karena ego dan harga dirinya, "Astaga... aku tidak tahu kalau aku sekeras kepala ini." Gumam Minerva sambil menghela napasnya.  Dia terus mengutuk kebodohan dirinya untuk mengalihkan pikiran buruknya, awalnya hal itu berhasil ia lakukan namun saat matanya menangkap sosok besar tidak jauh di depannya, semua itu berubah tidak berarti. Untuk sesaat Minerva lupa caranya bernapas, jantungnya berpacu sangat cepat, tubuhnya kehilangan tenaga dan kakinya lemas. Tidak lama Minerva mulai kehilangan keseimbangannya.  Bersamaan dengan tubuh Minerva yang oleng, sosok besar di hadapannya berlari kearahnya. Minerva memejamkan matanya saat melihat pemandangan yang menurutnya begitu menyeramkan dan pasrah saat tahu tubuhnya mungkin akan jatuh ke sungai deras dimana air terjun mengalir.  Sedetik, dua detik, namun Minerva sama sekali tidak merasa benturan ataupun air yang menenggelamkan dirinya. Dengan detak jantung yang menggila, Minerva menahan napasnya saat ia memberanikan diri untuk mengintip.  Sedetik, lima detik, sepuluh detik, sampai "AAAAAHHHHHH!!!!" Teriakkan yang memilukan telinga terdengar memenuhi hutan berasal dari mulut Minerva. Wajahnya sangat terkejut, matanya membelalak. Tidak lain karena sosok besar yang ia lihat sebelumnya kini sedang menggigit pakai bagian depannya, menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke dasar sungai. Tapi bukan itu yang terpenting, sosok di depannya adalah sosok yang sangat menyeramkan. Bahkan jika dia tidak terjatuh, dia pikir mungkin dirinya akan berakhir menjadi santapan pagi sosok di hadapannya.  Sosok menyeramkan di depannya adalah seekor serigala berbulu hitam pekat, jika serigala itu memiliki tubuh yang normal mungkin Minerva tidak akan berteriak sehisteris itu. Tapi sosok serigala di hadapannya saat ini sangat berbeda, tubuh serigala itu sangat besar, mungkin ukurannya 4 kali lebih besar di banding serigala pada umumnya yang ia tahu, tidak masuk akal. Itulah yang terlintas di benak Minerva saat melihat ukuran tubuh serigala di hadapannya.  Mata Minerva turun, melihat mulut serigala itu yang menggigit pakaiannya, wajahnya langsung berubah pucat pasi, tangannya bergetar dan terasa dingin, bahkan tubuhnya terasa lebih lemas daripada sebelumnya. Gigi taring yang besar dan tajam itu, Minerva membayangkan bagaimana gigi taring itu mengoyak tubuhnya setelah ini.  Klak!  Tali yang berada di lehernya yang tersambung dengan ponselnya terputus karena tertarik oleh gigitan serigala di hadapannya, ponselnya pun jatuh. Tapi untuk menyadari hal itu saja Minerva tidak sempat karena ketakutannya.  Perlahan serigala itu menariknya menjauh dari sungai. Tubuh Minerva jatuh tersungkur mencium tanah. Matanya mulai mengeluarkan air mata dan suara isak tangis terdengar dari mulutnya. Dengan segenap keberanian yang tersisa, Minerva bangkit, walau kakinya terasa begitu lemas dan tidak bertenaga. Minerva berlari, berlari sekuat tenaga, sekencang yang ia bisa tanpa menoleh kebelakang, tanpa berani memastikan sejauh mana dia sudah berlari.  Napas Minerva terengah, wajahnya memerah dan bibirnya pucat. Saat ia sadar bahwa dia sudah sampai di rumah pohon. Minerva akhirnya berhenti berlari. Tenaga yang ia kira telah tersedot habis oleh serigala yang sebelumnya ia temui, ternyata masih tersisa cukup banyak sampai ia bisa berlari sangat cepat menuju rumah pohon. Tapi kali ini dia benar-benar mencapai batasnya.  Pandangannya berputar membuat perutnya mual, tubuhnya terasa sangat lemas dan kepalanya pusing. Tidak lama Minerva pun kehilangan kesadarannya, namun sebelum tubuh Minerva berhasil jatuh menyentuh tanah, sepasang tangan kekar melingkari pinggang Minerva, terlihat begitu hati-hati dan lembut seakan dia sedang memegang benda paling rapuh yang bisa hancur hanya dengan sebuah remasan.  Mata Minerva terpejam erat, sebelum kesadarannya hilang, "Akhirnya aku menemukan mu, ratu ku. Belahan jiwa ku." Samar-samar ia mendengar suara bisikan yang amat lembut tepat di telinganya. sekilas Minerva bisa merasakan rengkuhan di pinggangnya, entah kenapa itu membuatnya merasa bahwa dia akan baik-baik saja meskipunn dia akan jatuh di dalam hutan. To Be Continue 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN