5. SCENT

1729 Kata
-Lucien Helle Alaistair POV- Hari ku yang memuakkan dimulai saat aku membuka mata ku di pagi hari, dimana pemandangan yang pertama aku lihat adalah kamar besar yang kosong dan sunyi. Cahaya matahari yang masuk melewati jendela besar yang sedikit terbuka dengan gorden yang bergerak di hembus angin. Kamar ku hanyalah sebuah kamar besar dan mewah biasa, tidak ada yang spesial, hanya terdapat barang-barang pada umumnya di dalam kamar seperti kursi, meja, lemari, kasur, beberapa vas antik, lukisan di dinding, jendela besar dan juga balkon. Aku menoleh ke sisi kanan tempat tidur ku, tempat tidur yang selalu terlalu besar untuk ku tidur seorang diri. Tangan ku bergerak mengelus sisi tempat tidur yang selalu kosong dan dingin. Mata ku menatap bantal yang tidak pernah ku gunakan disana, bantal itu baru dan selalu diganti, entah kenapa aku selalu meminta itu. Aku hanya tidak ingin saat tiba saatnya aku menemukan jiwa ku, dia tidak merasa nyaman tidur di tempat tidur ku. Karena aku tidak tahu kapan saat itu datang jadi setiap hari aku menunggunya dan menyiapkan semuanya dengan baik. Aku sudah berada di tahap frustasi dan hampir gila karena menunggunya. Aku harap aku segera bertemu dengannya, takdir ku. Dan aku percaya jika waktu pertemuan kami sudah dekat sejak aku bermimpi tentang gadis kecil itu. Aku bangun dan mendudukan tubuhku, selimut tidak menutupi tubuh bagian atas ku yang tidak mengenakan pakaian, tato di d**a ku yang bertuliskan 'Αθηνά' terlihat jelas, nama yang ditulis dengan bahasa yunani. Aku langsung memutuskan menggambar tubuhku saat aku bermimpi 5 tahun lalu, dalam mimpi itu aku bertemu dengan seorang gadis kecil berambut cokelat karamel yang bergelombang dan berkulit seputih s**u, sayang sekali aku tidak bisa melihat wajahnya.  Tiba-tiba sebuah nama bertuliskan huruf yunani terus memenuhi pikiran ku dan aku juga memutuskan untuk membuat ingatan ku tentang gadis itu menjadi salah satu lukisan di kamar ku, karena tidak bisa melihat wajahnya, aku hanya melukis rambut, tubuh, pakaian yang gadis itu kenakan, dan juga bibirnya yang tersenyum begitu hangat padaku, aku tidak bisa melupakan itu. Betapa indah senyumannya selalu terngiang di kepala ku setiap hari. "Athiná"    Aku yakin tulisan itu adalah sebuah nama, 'Athina' apa itu nama belahan jiwa ku? Tapi rasanya sangat aneh saat mengucapkan namanya.   'Αθηνά' yang dibaca 'Athina' atau 'Athena' adalah nama seorang dewi Yunani, dewi kebijaksanaan. Nama yang indah dan cantik, jika Athina nama belahan jiwa ku, kenapa aku merasa asing?  Athena... ....."Minerva!"  Ahh.. apa mungkin 'Αθηνά' itu maksudnya adalah Minerva. Minerva adalah Dewi Kebijaksanaan Romawi, dalam bahasa yunani nama mereka sama. Mereka juga sering dikaitkan karena memiliki banyak kesamaan, entahlah.. aku tidak terlalu mengerti tapi jika benar, mungkin 'Μινέρβα' lebih cocok tertulis di d**a ku.  "Minerva..." Tanpa sadar aku tersenyum, rasanya saat mengucapkan nama itu, jantung ku berdetak lebih cepat dan suasana hati ku menjadi lebih baik, namanya juga nyaman dan terasa pas di lidah ku. Aku tidak sabar bertemu dengannya. Tok!Tok!Tok! Suara ketukan pintu terdengar keras memecah kesunyian di dalam kamar ku, aku tidak perlu bertanya, aku sudah tahu siapa yang mengetuk pintu itu, penglihatan dan pendengaran ku sangat tajam, bahkan aku bisa mendengar suara semua yang berada di pack sampai langkah kaki dan binatang kecil, aku juga bisa memperhitungkan berat tubuh dan kekuatan mereka dari getaran saat kaki orang itu melangkah. Dulu aku sangat terganggu dengan kemampuan ku ini yang tidak dimiliki oleh kaum Lycan lainnya. Aku sudah hidup dengan kemampuan ini selama lebih dari 100 tahun, aku sudah terbiasa.  Aku bangun dari tempat tidur, menampakan kaki di atas karpet tebal yang menyelimuti seluruh lantai kamar, lalu berjalan menuju kamar mandi yang berada di kamar ku. Melepas celana ku dan berjalan menuju shower, aku menyalakan shower dan membiarkan tubuhku terbasuh oleh guyuran air hangat dari shower. Mata ku terpejam merasakan tetes demi tetes air yang mengenai tubuh, tidak membutuhkan waktu lama untuk ku membersihkan tubuhku, aku pun segera keluar, memakai pakaian yang tersimpan di ruangan pakaian dan segera keluar.  Begitu aku membuka pintu, seperti biasa disana sudah terdapat belasan omega dan beberapa guard yang berbaris di sepanjang lorong, menunggu ku untuk keluar dari dalam kamar agar mereka bisa masuk dan membersihkannya, sedangkan guard akan terus mengawal sebelum beta ku -Hanon- menggantikan untuk menemani dan membantu ku mengurus urusan pack.  Mereka tahu jika aku benci kebisingan, jadi mereka akan melakukan tugas mereka tanpa mengucapkan sepatah katapun, mendengar suara mereka yang lebih daripada yang diperlukan membuatku bertambah pusing, suara dari luar sana saja sudah membuat kepala ku sangat pusing.  Kastil pack. Bagiku semua kastil pack yang ku pernah ku kunjungi sama saja, tidak ada yang spesial, aku memiliki kastil yang jauh lebih besar dari kastil manapun di pack, namun kastil ku saat ini sangat jauh. Sudah genap 90 tahun aku meninggalkan kastil, aku ingat belum lama ini kedua orang tua ku menghubungi ku dan memberitahu jika aku memiliki adik perempuan. Bukankah itu lucu? Aku memiliki adik perempuan yang 100 tahun lebih muda dari ku.  Kastil yang saat ini kutinggali adalah kastil The Depcrest pack. Tidak ada yang istimewa dari kastil bergaya klasik yang dipenuhi warna putih yang dominan dengan hiasan corak berwarna biru dan langit-langit yang dilukis berwarna gelap seperti awan.  Menuruni tangga, mata ku menangkap sosok Hanon yang sedang berdiri di bawah dekat sisi tangga sambil menundukkan kepalanya, aku menghela napas ku, sudah 5 tahun aku menjadi alpha di The Depcrest pack, sejak saat dia tanpa sengaja menatapku saat perkanalan 5 tahun yang lalu, pria itu menjadi begitu segan. Aku tidak tahu apa yang salah dengannya. Sedangkan di sisi seberangnya terdapat kepala juru masak dan juru masak lainnya yang berbaris, kepala mereka juga tertunduk dalam.  "Selamat pagi King Alpha," seru mereka serentak, aku melirik mereka bergantian lalu mengangguk samar. Tidak terlalu peduli dengan keberadaan mereka, aku langsung berjalan ke meja makan yang sudah dipenuhi oleh menu sarapan.  Meja makan itu berukuran besar yang memiliki 12 kursi yang sangat jarang di gunakan, dalam setahun mungkin hanya 1 kali kursi-kursi digunakan, yaitu rapat para Alpha yang biasa kuadakan setahun sekali membahas masalah dalam setahun di masing-masing pack. Biasanya setelah rapat aku mengadakan pesta dan para Alpha bersama pasangannya akan menginap semalam di kastil pack ku. Karena telah hidup cukup lama, aku sudah sangat sering melihat pertukaran Alpha. Aku tidak begitu peduli karena aku tidak pernah membiarkan diriku dekat dengan seseorang ataupun berteman di tempat asing ini.  "Alpha, mengenai pengangkatan Charity menjadi Delta--" Aku menoleh pada Hanon, saat itu juga dia langsung terdiam dengan kepala yang menunduk dalam dan tubuh yang gemetar.  Apa-apaan reaksinya itu? Seperti aku akan membunuhnya. "Kita akan membahasnya nanti," Kata ku. Hanon mengangguk, "Maaf Alpha, saya mengerti." jawabnya cepat.  Aku kembali melihat makanan yang tersaji diatas meja. Dari sekian banyaknya menu yang tersaji, aku hanya mengambil satu menu dan sisanya tidak ku sentuh sama sekali karena biasanya para staff akan memakan makanan yang tersisa. Aku mengambil piring berisi 2 buah telur, kentang dan daging, porsi makan yang cukup besar hanya untuk sebuah sarapan untuk orang normal.  Sementara aku makan, mereka hanya berdiri menunggu ku. Aku memakan sarapan ku dengan tenang dan perlahan. Itu sebelum aku mencium aroma vanila yang memenuhi indera penciuman ku, mematikan indera pengecap dan menajamkan indera pendengaran ku.  Klang!!! Tanpa sadar aku menjatuhkan pisau dan garpu yang sedang kugunakan. Jantung ku berdetak dengan keras sampai aku yakin jika semua orang di ruangan ini bisa mendengarnya. Lagi dan lagi, aku menghirup udara itu seperti seorang yang kehabisan nafas. Tiba-tiba aku tidak bisa mendengar apapun yang biasa ku dengar, kebisingan. kebisingan itu menghilang, berganti dengan suara jantung yang berdetak berirama, begitu indah. Rasanya sesuatu yang hilang dari diriku sudah kembali, aku merasa utuh, satu hal yang kutahu pasti, "Mate." gumam ku penuh penegasan.  Tanpa aba-aba aku berdiri dari tempat duduk ku, mata ku menjelejah keseluruh ruangan, dengan terburu-buru dan menggila, nafas ku memburu dan mata dan tubuhku tidak bisa berhenti bergerak untuk menemukan pemilik aroma itu. "A-alpha, anda harus tenang. Biar kami yang mencari Luna." Aku menggeram, beraninya dia menghalangi ku untuk mencari belahan jiwa ku, 'Bunuh dia, Lucien.' Aaron-serigala yang bersemayam di dalam tubuhku- menggeram penuh dengan kemarahan.  Padahal sejak aku mengambil alih pack dan tidak menemukan belahan jiwa, Aaron terus bersembunyi dan marah, dia bahkan tidak ingin bicara padaku, tapi tiba-tiba dia muncul kembali setelah mencium aroma 'mate', dasar serigala s****n! umpat ku.  "Minggir."  Hanya itu yang bisa ku katakan di tengah kesadaran ku saat Aaron bersikeras untuk mengambil alih tubuhku. Harusnya Hanon tahu jika saat ini yang dia lakukan hanya akan membawanya pada kematian.  Saat Aaron mengeluarkan aura dominannya, semua orang di ruangan terlihat tidak mampu hanya untuk sekedar menggerakkan jarinya, mereka semua kesulitan bernapas menghirup udara yang sama dengan ku. Aku menatap tajam Hanon yang menunduk. Tanpa ingin membuang waktu lebih lama dan melewatkan kesempatan yang mungkin hanya akan ku dapatkan sekali dalam seumur hidup. Aku bertransformasi ke wujud serigala ku dan berlari keluar kastil secara membabi buta seperti serigala gila.   Aku bahkan tidak bisa membedakan orang lain lagi, yang kurasakan hanyalah aroma vanila yang memabukkan memenuhi penciuman ku yang sepertinya berjarak cukup jauh dari tempat ku saat ini.  'Perbatasan! Mate ada di perbatasan!' Aaron terus berteriak, membuat kepala ku berdenyut dan sakit. Namun aku langsung mengikuti arahan Aaron karena Aaron adalah serigala terbaik dalam penciuman dan melacak.  Perbatasan. perbatasan. belahan jiwa. perbatasan. belahan jiwa. Aku terus mengulang kata itu. Meyakinkan diriku jika saat ini aku tidak bermipi karena saat ini aku sangat senang, setelah sekian lama akhirnya aku akan bertemu dengan belahan jiwa ku.  Langkah kaki ku memelan bersamaan dengan mata ku yang menangkap sosok seorang perempuan remaja yang sedang berdiri di dekat sungai dan air terjun, perempuan itu... dia memancarkan aroma vanila.  "Mate." Aku menggeram.  Aku menyebrang meloncati sungai deras sebagai batas jika di seberang sana, hutan itu adalah 'gerbang'. Aku tertawa pelan, saat dia tidak menyadari jika sejak tadi aku memperhatikannya karena terlalu antusias dengan air terjun di hadapannya.  Rambut cokelat karamel, senyum hangat. Persis seperti gadis yang ku impikan 5 tahun lalu, "Athina?" gumam ku, kepala ku menggeleng cepat, "Minerva."  "Astaga! ini surga dunia!" aku bisa mendengar suaranya yang terdengar sangat senang walau sedang bersembunyi di dalam hutan sekalipun. Saat itu, saat aku melihat mata berwarna hazelnya yang sangat indah, rasanya aku menemukan poros dunia ku. "Minerva. Mate." Jantung ku sakit karena berdetak terlalu cepat, dan untuk pertama kalinya aku takut akan kematian. Aku tidak ingin mati, aku ingin hidup bersama dengannya untuk waktu yang lama, lebih lama dari pada penantian ku menunggu dirinya. Perempuan tercantik yang pernah aku lihat. Dia sempurna.  To Be Continue
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN