bc

SIXSENCE (Rahasia Masa Lalu)

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
dark
kickass heroine
police
sweet
bxg
city
office/work place
high-tech world
war
assistant
like
intro-logo
Uraian

Aulia memejamkan mata bukan karena dia takut tapi pria itu melakukan dengan sangat sadis terhadap korbannya, sialnya wajah pria itu tidak bisa dilihat jelas oleh Aulia, dan Aulia terduduk ketika pembantaian itu telah selesai  dan korban ditinggalkan begitu saja oleh pria tersebut. 

Namun Tato di tangan pria itu mengingatkan Aulia pada seseorang namun dia meyakini itu bukan orang yang memiliki bergambar sama dengan pria yang sudah memberi trauma mendalam pada dirinya.

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1 Aulia Kecil
“Kita harus pindah segera Li,” pintar Reni ketika ia baru kembali dari sekolah. Dan ini bukan kejadian pertama kali yang Aulia alami, sejak ibunya menikah lagi hal ini sering terjadi paling lama hanya dua tahun mereka tinggal di suatu daerah. “Kita akan kemana lagi bu?” Tanyanya sambil menggendong adiknya yang berusia 3 tahun karena menangis, sebenarnya Aulia memiliki 3 orang adik, namun yang dua diambil oleh teman ayahnya. alasannya mereka akan di sekolah dan mendapat hidup yang baik, namun itu benar atau tidak Aulia tidak tahu karena adiknya tu masih belum mengerti apa-apa. “Jangan banyak tanya kau sudah tau alasannya kan?” Aulia hanya bisa menarik nafas panjang. 4 tahun lalu sebelum ibunya menikah lagi mereka baik-baik saja, mereka tinggal di rumah peninggalan ayahnya, di komplek yang boleh dibilang tidak buruk tidak juga mewah. Namun ketika ibunya menikah lagi setahun kemudian baru terbongkar kelakuan ayah sambungnya itu, mereka didatangi oleh tukang tagih bahkan diam-diam ayah sambungnya sudah menggadaikan rumah mereka pada rentenir, alasannya untuk buka usaha, terkadang Aulia bingung dimana ibunya bisa mengenal pria tersebut, yang jelas jauh dari kata baik dari pada mendiang ayahnya. Senang berjudi bahkan pulang dalam kondisi mabuk yang membuat ibunya menyembunyikan Aulia dalam lemari agar tidak terkena amarah ayah sambungnya itu. “Bu kenapa ibu masih bertahan dengan pria itu?” Tanya Aulia, bagaimanapun juga saat ini dia sudah duduk dikelas 8 yang artinya dia sudah mulai memasuki masa balik dan mengerti semua yang terjadi. “Kalau aku menceraikan suamiku, dari mana kita makan?" Tanyanya kesal padahal dulu makanan adalah hal yang tidak pernah jadi masalah karena ibu masih memiliki uang pensiun dari ayahnya. “Jika saja ibu nya tidak menikah lagi maka pensiun ibu akan tetap aman?” Gumam Aulia membuat Reny diam. Hak pensiun Reni hilang seiring dengan ia menikah lagi. “Sudahlah kau tau apa, cepat lakukan perintahku,” ujar Reni kesal. Mereka terpaksa hidup nomaden karena suaminya sering berhutang dan main judi. Namun baru saja mereka selesai berkemas pintu rumah mereka diketuk dari luar. “Bu Reni keluar, ada Polisi mencari suami anda,” ujar suara pria dari luar rumah. “Polisi? Mau apa mereka?”Tanya Reni kalut. “Aku yang buka saja pintunya bu, sepertinya itu suara Pak RT,” ujar Aulia sambil bangun dari duduknya. “Tunggu! kalau mereka cari bapak bilang tidak tau, kamu juga intip dulu jangan langsung buka takutnya mereka orang jahat,” ujar Reni yang dijawab dengan anggukan oleh Aulia. “Cari siapa pak?” Tanya Aulia ketika dia melihat 3 orang berseragam polisi dan Pak RT di depan halaman rumahnya. “Kamu Putrinya Dion?” Tanya Polisi malah balik bertanya. “Dia masih anak-anak Pak biar saya tangani,” seorang perempuan yang sepertinya anggota Polisi mendekati Aulia. “Kamu siapa, mengapa ada dirumah ini, apakah kamu putrinya Dion?” Tanyanya dengan nada lembut. “Bukan, aku anak sambungnya, ada apa mencari pak Dion bu?” Tanya Aulia lagi. “Kami ada perlu, kamu dirumah dengan siapa?” Tanya Polwan itu pada Aulia. “Ada ibu di dalam dan adik tapi kalau pak Dion tidak ada, sudah seminggu dia tidak pulang kerumah,” ujar Aulia menjawab sejujurnya. “Baiklah Aulia, boleh kami menemui ibumu?” Tanya nya lagi, Aulia menjawab dengan anggukan kepala namun dua polisi langsung merangsek masuk kedalam rumah. “Kamu ikut ibu Yuk, kita makan bakso disana,” ujarnya sambil menunjuk ke ujung jalan. Aulia hanya menganggukan kepalanya dia tahu Polisi itu ingin memeriksa rumahnya tapi mereka tidak ingin Aulia menyaksikannya. “Aulia kelas berapa?” Tanya Polwan itu lagi kemudian mereka duduk dan memesan Bakso untuk mereka berdua. “Saya kelas delapan bu,” ujar Aulia sambil menatap Polwan itu. “Oh sudah besar, bapakmu sering gak pulang?” tanya polwan itu lagi. “Dia bukan bapak saya bu, dia juga bukan laki-laki bertanggung jawab, kami hidup berpindah-pindah karena sering didatangi penagih hutang karena bapak punya hutang untuk berjudi,” Aulia hanya berusaha untuk berkata apa adanya. “Oh… kamu awalnya tinggal dimana?” Tanya Polwan itu sambil mengaduk bakso yang sudah tersedia dihadapannya. “Makanlah sepertinya kau belum makan,” ujar Polwan itu merasa kasihan, tubuh Aulia terlihat kurus dan sepertinya tak terurus. Aulia lalu menceritakan semuanya, ia sudah merasa lelah terus berlari. “Jadi dulu ayahmu Polisi juga? Tapi beliau gugur ketika menjalankan tugas?” Tanya Polwan itu merasa prihatin. “Iya bu, namun ibu menikah lagi, otomatis pensiun ayah putus dan rumah kami dijual oleh laki-laki itu, padahal itu rumah peninggalan ayahnya,” jawab Aulia sambil tertunduk. Polwan itu menarik nafas ia benar-benar prihatin dengan apa yang terjadi. “Ya sudah kita makan dulu yuk,” ajaknya. Sementara itu di rumah Aulia, Reni tertunduk, karena dia tidak mau buka suara tentang keberadaan suaminya. “Apakah kau tidak kasihan dengan anak-anakmu, suamimu terlibat penjualan manusia dan kami sedang mencarinya,” ujar Polisi kemudian salah satu petugas mengambil alih anaknya yang sepertinya tidak mengerti apa-apa. “Jika ibu tidak mau memberi tahu maka kami akan membawa ibu ke kantor polisi, karena Ibu dianggap berkomplot dalam hal ini,” ujar Polisi mulai menggertak karena dengan cara baik-baik Reni malah menutup mulutnya dengan rapat. “Jangan Pak nanti anak-anak bagaimana,” ucapnya merengek. “Makanya bu kooperatif, semua akan baik-baik saja,” ujar Polisi lagi “Tapi Pak kalau suami saya tahu saya akan disiksanya,” ujar Reni lagi, polisi itu hanya bisa menarik nafas panjang. “Kami akan menjamin keamanan dan juga keselamatan Ibu dan anak-anak ibu, jadi tidak perlu takut,” ujar polisi tersebut berusaha masih sabar menghadapi Reni. “Sebaiknya ambil saja handphonenya komandan. Lalu kita lihat apa isinya, Saya yakin disana pasti ada percakapan beliau dengan istrinya,” ujar salah satu polisi berpakaian preman “Kalau begitu geledah saja rumahnya lalu ambil ponselnya ,” perintah komandan yang juga sudah mulai kesal karena Reni berbelit-belit dari tadi “Jadi bagaimana Bu? Apakah ibu bersedia mengatakan di mana suami ibu saat ini berada atau kami akan membawa Ibu ke kantor polisi karena dianggap Ibu sudah berkomplot, bekerja sama dengan Dion suami ibu itu?” ujar polisi tersebut yang akhirnya mulai kehilangan kesabarannya “Ini Komandan ponselnya. Apakah kita bisa melihat isinya sekarang?” ujar polisi tersebut sambil menyerahkan ponsel milik Reni kepada komandannya. “Saya lihat di kamar ada dua tas berisi pakaian, ibu memangnya mau kemana?” Tanya seorang Polisi yang baru saja keluar dari kamar Reni. “Itu anu,” Reni tampak gugup. “Kami hendak pergi meninggalkan tempat ini, kemananya aku tak tau ibu belum mengatakan,” ujar Aulia masuk kedalam rumah. “Aulia tutup mulutmu,” bentak Reni kesal karena dia khawatir Aulia membuka mulutnya. “Aku lelah bu terus berlari, hidup serba kekurangan padahal ketika Ayahku meninggal ibu masih dapat pensiun dan kita tidak pernah kelaparan,” ujar Aulia kesal. Dia berharap polisi bisa membantunya untuk berhenti berlari hanya karena menghindari masalah ayah tirinya. “Anda dengar apa yang dikatakan putri anda, apakah kau tidak kasihan padanya?” tanya komandan polisi yang sebenarnya jika bukan perempuan mungkin dia sudah menyeretnya ke kantor Polisi. “Dia akan hidup senang, ada orang yang akan mengambilnya,” ujar Reny membuat Polisi terkejut mendengarnya. “Ibu akan menjualku, sama seperti kedua adikku bu?” Tanya Aulia mulai histeris. “Ibu apakah benar yang dikatakan Putri anda?” Tanya Komandan membuat Reny diam, dua anaknya menurut suaminya diambil oleh orang kaya dan sebagai kompensasi karena sudah mengurusnya ia diberi 5 juta oleh suaminya. “Ponselnya sudah terbuka ada percakapan mereka yang isinya mereka berjanji untuk bertemu di perbatasan desa,” ujar salah satu polisi sambil memperlihatkan isi chat Reny dan Dion. “Dion juga mengatakan ada yang tertarik terhadap anak Reni dan mereka ingin mengambilnya sebagai anak, aku rasa dia akan menjualnya Komandan,” ujar polisi itu menduga kalau tujuan Dion bukan menyelamatkan Aulia dan Ari tapi menjualnya. Tidak lama ponsel Reny berdering, tertulis nama Mas Dion, sepertinya Dion menunggu Reny dan anaknya karena tak kunjung datang. “Pasang speakernya, jawab teleponnya katakan tadi ada orang yang mencarinya sehingga kau baru selesai memberikan pakaian dan sekarang menuju kesana, jika Anda memberi kode yang mencurigakan maka kami akan membawa anda ke kantor polisi,” ujar Komandan memberi perintah. Dengan tangan gemetar Reni menjawab panggilan, benar saja baru saja Reni mengatakan halo Dion sudah membentaknya. “Kau kemana, lama sekali ini orangnya sudah menunggu apa kau tidak mau uang?” Bentak Dion dengan nada tinggi. “Tadi ada orang mencarimu, orangnya baru pergi makanya lama aku baru selesai membereskan pakaian,” ujar Reni sesuai perintah Polisi menjawab omelan suaminya. “Ya sudah cepat kemari jangan sampai ada yang melihat kau pergi dari rumah,” perintah Dion. Sementara hari mulai petang, warga biasanya masuk kedalam rumah kecuali yang hendak sholat di masjid. Setelah menutup panggilan teleponnya Reni lalu diam dia tidak bisa berkata apa-apa lagi dan dia sebenarnya tidak mengerti apa yang terjadi. “De biasanya ibu kalau keluar dandannya seperti apa?” Tanya komandan pada Aulia. “Pakai jilbab Pak, tapi kalau hendak pergi seperti ini biasanya pakai masker,” ujar Aulia mengatakan hal apa yang ia pernah lihat. “Terima kasih nak, nanti kau dan adikmu ikut Bu Polwan ya,” ujar Polisi yang berencana mengganti ibunya aulia dengan seorang Polisi wanita. “Kerjakan semua yang aku perintahkan, ingat keselamatan anak-anak harus diutamakan, karena jika dia datang sendiri tentu dia akan curiga,” ujar Komandan tersebut memberikan perintah, setelah mengatur strategi mereka segera menjalankan rencananya mereka dan langsung menuju tkp karena khawatir Dion curiga jika terlalu lama menunggu. Setelah 30 menit perjalanan mereka turun untuk berjalan ke titik pertemuan yang jaraknya kurang lebih 500 m

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Unscentable

read
1.9M
bc

He's an Alpha: She doesn't Care

read
757.5K
bc

Claimed by the Biker Giant

read
1.9M
bc

Holiday Hockey Tale: The Icebreaker's Impasse

read
989.3K
bc

A Warrior's Second Chance

read
365.4K
bc

Not just, the Beta

read
351.3K
bc

The Broken Wolf

read
1.1M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook