bc

Home, I’m In Love!

book_age18+
407
IKUTI
3.9K
BACA
family
HE
fated
second chance
friends to lovers
kickass heroine
heir/heiress
drama
sweet
bxg
lighthearted
kicking
bold
childhood crush
affair
substitute
like
intro-logo
Uraian

Kepulangan Kiarra Alena ke Jakarta disambut antusias oleh Harsa Kafabi Lais. Setelah bertahun-tahun melarikan diri ke Jerman tanpa menyelesaikan rahasia di antara mereka, Harsa mengira kehadiran Kiarra adalah pertanda pengampunan atas kesalahan masa lalunya.

Namun, kenyataan memukul Harsa dengan telak. Kiarra kembali bukan untuknya, melainkan menggenggam tangan pria lain yang akan segera dinikahinya.

Kecewa dan patah hati, Harsa mencoba menerima. Ia hanya ingin memastikan Kiarra jatuh ke tangan pria yang tepat dan terbaik. Namun, fakta demi fakta justru ia temukan dan kedekatan mereka memicu kembali rasa yang terpendam, Harsa dihadapkan pada pilihan berbahaya yakni bertindak impulsif dan kembali melukai Kiarra, demi satu-satunya cara untuk memilikinya sebelum benar-benar terlambat.

chap-preview
Pratinjau gratis
PROLOG
“Kiarra Alena, namanya...” Felora—kakak perempuan tertua yang sudah berkeluarga—membuka suara, menyampaikan pesan dari orang tua mereka yang kini masih dalam perjalanan pulang. “Ayah dan Bunda berpesan agar kita menyambutnya dengan hangat sebagai bagian dari keluarga ini. Dia paling muda di antara kita semua, jadi sudah menjadi tugas kita bersama untuk menjaganya.” Felora berdiri sembari melipat kedua tangan di d**a. Di sofa belakangnya, Sagara, sang suami, tampak telaten memangku Valora, si kecil kesayangan keluarga mereka. Pandangan Felora bermula pada Hikami, salah satu adik kembarnya. “Kedua orang tuanya sudah tiada. Dia tidak memiliki yang lain selain Ayah dan Bunda yang memang sudah bersahabat lama dengan mendiang papanya. Seperti yang kita tahu, sebelum meninggal, papanya Kiarra membuat surat wasiat resmi hitam di atas putih yang sah secara hukum, menunjuk Ayah kita sebagai wali tunggal untuk Kiarra jika terjadi hal buruk padanya.” “Iya, Ayah pernah cerita seberapa dekat hubungan mereka dulu,” sahut Hikami dengan raut serius yang khas. Dia si paling mirip Ayah Halim. “Bahkan waktu Ayah dan Bunda menikah dulu, almarhum papanya Kiarra yang jadi saksi dari pihak Ayah saat itu.” Puas dengan respons Hikami, tatapan Felora lantas beralih pada sosok di sampingnya. Harsa Kafabi Lais—kembaran Hikami yang bertolak belakang—duduk kelewat santai dengan punggung menyandar penuh ke sofa, jemarinya bergerak lincah mengendalikan karakter di layar ponsel. Hembusan napas Felora berembus berat. “Harsa...” panggilnya lembut. Tak ada jawaban. Ibu jari Harsa masih menari cepat. “Harsa Kafabi Lais, Kakak sedang bicara!” suara Felora naik satu oktaf. Tetap tidak ada reaksi. Dengan gemas, Felora melangkah maju dan melayangkan tangannya, merebut paksa ponsel dari genggaman adiknya. “Yah... Kak Felo! Lagi seru!” protes Harsa seketika, mendongak kaget. “Kamu dari tadi tidak mendengarkan sama sekali, astaga! Mulut kakak sudah sampai berbusa!” omel Felora sembari bertolak pinggang. “Chocolate girl, tenang... Harsa juga pasti dengarkan,” sela Sagara santai, mencoba meredakan emosi istrinya. “Mana bisa tenang kalau Harsa dari tadi nyebelin begini!” gerutu Felora. “Iya, iya, dengar kok,” balas Harsa malas, meluruskan kakinya. “Sini kembalikan ponselku—” Ucapan Harsa terputus bertepatan dengan kepala ART di rumah yang tergesa menghampiri ruang tengah. “Non Felo, mobil yang menjemput Bapak dan Ibu dari bandara sudah sampai di depan.” Kabar itu seketika membuat semua orang bangkit dari duduknya dengan penuh antusias—kecuali Harsa. Mereka bergegas menuju teras depan untuk menyambut kedatangan Ayah Halim dan Bunda Kikan yang baru saja menempuh perjalanan panjang dari Hamburg, Jerman, ditemani oleh Keenan—putra tertua, anak kedua yang turut mendampingi penerbangan tersebut. “Kak Felo, ponselku—astaga jangan dilempar!” Harsa tersentak, dengan sigap menangkap ponselnya yang main dilemparkan begitu saja oleh kakaknya. Ia terkekeh pelan sembari menggelengkan kepala. “Ck! Semangat sekali menyambut saudari baru kalau sama adiknya satu ini, pada sensi terus...” gumamnya dengan seringai usil khasnya. Harsa berjalan paling akhir dengan langkah malas-malasan. Ia memilih berdiri bersandar pada pintu utama yang sudah dibuka, dengan kedua tangan terlipat di d**a. Matanya memerhatikan Ayah, Bunda, dan Keenan yang baru keluar dari mobil pertama. Sementara itu, dua pekerja rumah tangga bergegas menyambut mobil kedua untuk menurunkan deretan koper. Kening Harsa mengernyit tipis, matanya menyapu mobil dan sekitarnya. Kaca mobil yang gelap, membuatnya tidak bisa melihat ke dalam mobil. Harsa membenarkan letak kaca matanya. Apa Ayah dan Bunda tidak jadi membawanya ke Jakarta? batinnya heran. Tepat saat itu, Keenan melangkah ke sisi mobil lain dan membukakan pintu penumpang belakang. Dari dalam, seorang gadis melangkah keluar. Kaki dengan sepatu kets perpaduan pink dan putih itu mulai menginjak bumi. Rambut panjang sebahunya terikat rapi ke belakang. Ketika ia berdiri tegap di atas pelataran parkir, Felora adalah orang pertama yang melangkah maju dan merengkuhnya dalam pelukan hangat. Harsa masih bergeming menatapnya. Tinggi gadis itu hampir setara dengan Felora, berarti hanya sebatas bahu Harsa. “Selamat datang di rumah, Kiarra... Senang sekali akhirnya bisa bertemu langsung dan menyambutmu sebagai adik kami,” ucap Felora begitu melerai pelukannya. Dari tempatnya berdiri, Harsa dapat menangkap jelas jejak duka yang masih membayang di sepasang mata gadis itu—sorot kehilangan dari seseorang yang baru saja kehilangan pilar terakhir hidupnya, lalu terpaksa melintasi benua untuk tinggal bersama keluarga asing walau Ayah mereka bersahabat. “Hikami, Harsa... kemari, sambut adik kalian juga,” panggil Bunda Kikan lembut. Harsa menaikkan sebelah alisnya. “Aku kan anak bungsu. Posisi itu sudah tergeser Valora sebagai cucu pertama, sekarang mendadak punya adik yang sudah gede begini?” celetuknya santai. Kiarra mendongak seketika, dan untuk pertama kalinya, pandangan mata mereka berbenturan di udara. “Harsa, baru juga sampai sudah mulai,” tegur Ayah Halim tegas sembari berjalan melewatinya begitu saja, lebih memilih merentangkan tangan menyambut cucu kesayangannya. “Opa dokter!” seru Valora gembira, langsung berpindah ke pelukan kakeknya. Harsa menuruni beberapa anak tangga teras hingga kini berdiri tepat di hadapan Kiarra. Matanya menatap lurus manik mata gadis di depannya. “Aku yakin kamu terpaksa,” ucap Harsa lugas tanpa basa-basi, membuat suasana hangat di teras seketika hening. “Tapi berusahalah untuk merasa nyaman tinggal di sini. Ya... paling tidak sampai Ayah dan Bundaku merasa tenang membiarkanmu pergi suatu hari nanti.” Kiarra tetap mendongak menatap Harsa. Tak ada senyum sedikit pun di wajah cantiknya yang tenang. “Kiarra, jangan dengarkan ucapan Harsa, ya,” potong Felora cepat, merasa tak enak hati. “Tidak apa-apa, Kak Felo,” sahut Kiarra dengan suara halus namun mantap. “Aku tidak tersinggung. Lagi pula... aku tahu kok, kalau dia memang tidak suka berpura-pura ramah sejak dulu.” Harsa tertawa pelan. Tanpa permisi, tangannya terulur mengusap puncak kepala Kiarra singkat. “Wah, apa aku harus merasa terpukau sekarang?” “Maksudmu? Aku tidak sedang menyanjungmu,” Kiarra mengernyit. “Oh ya? Ternyata kamu paham karakterku sekali, ya? Padahal baru juga sampai,” cengir Harsa lebar tanpa peduli raut Kiarra yang sempat tertegun. “Maybe you’ll become my favorite girl, Kiarra Alena...” Felora yang menangkap sinyal kejahilan adiknya langsung bertindak. “Jangan berani-berani mengerjai Kiarra di rumah ini, Harsa! Berhadapan sama Kakak nanti!” “Sama Ayah Halim juga?” Harsa terkekeh santai sembari menyembunyikan kedua tangannya ke dalam saku celana. “Kalian terlalu berburuk sangka padaku. Padahal aku cuma menyambut kedatangan adik baru.” Harsa berbalik dan melangkah masuk lebih dulu ke dalam rumah, meninggalkan tawa kecilnya yang mengudara. Kiarra masih mematung di tempatnya, matanya terpaku menatap punggung Harsa yang kian menjauh. Di detik itu, Kiarra menyadari satu hal jika ia mungkin akan sangat mudah menyayangi dan diterima oleh keluarga yang hangat ini—kecuali satu orang. Harsa Kafabi Lais, si bungsu yang amat menyebalkan. Bahkan dari segi penampilan saja pria itu tampak paling berantakan sendiri di antara saudara-saudaranya. Jika yang lain menempuh jalan mulus di dunia kedokteran dan profesional mengikuti jejak Halim Benjamin Lais, maka Harsa tampak memilih jalurnya sendiri yang serba tak terduga, dia tak pernah serius menjalani pendidikan formalnya. “Kiarra, ayo masuk. Sekarang, ini juga rumahmu.” Ajak Felora, yang diangguki Bunda Kikan. Rumah? Bagi Kiarra rumah itu ikut terkubur saat ayahnya telah tiada dan dia ditinggalkan seorang diri didunia ini sampai harus ikut sahabat ayahnya.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Yüzbaşının Cerrahı

read
1.4M
bc

The Silver Wolf

read
565.4K
bc

The Billionaire’s Intern

read
1.1M
bc

Chosen, just to be Rejected

read
889.1K
bc

Inferno Demon Riders MC: My Five Obsessed Bullies

read
1.2M
bc

Claimed by the Biker Giant

read
2.3M
bc

Unscentable

read
2.2M

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook