#2 Pindah Ke Lain Hati

1334 Kata
Luna baru saja berjalan keluar dari gerbang sekolahnya, ia masih menunggu ayahnya yang agak terlambat menjemputnya hari ini. “Luna...” Tiba-tiba saja Billy memanggil dan menghampiri Luna. tentu saja Luna menoleh padanya. “Billy, tadi kamu kemana?” “aku? aku di perpustakaan tadi... kamu cari aku?” Luna tak menjawab, meskipun awalnya ia memang mencari dirinya, tapi kemudian ia malah terlalu keasikan bermain-main bersama Dewa tadi sampai ia lupa kalau ia harus menemui Billy. “kamu gak baca chat aku?” “handphone aku mati” Luna bertanya-tanya mengapa waktu Billy menghilang pas sekali di saat ia tengah menghabiskan waktu bersama dengan Dewa, jadi tak perlu ada perselisihan pikirnya. karena Luna tahu Billy pasti marah lagi kalau ia melihat dirinya bersama Dewa tadi. “kamu mau pulang? bareng aku aja gimana?” Tawar Billy, dan Luna malah terdiam saja kini. Entah apa yang ada dalam kepalanya, yang membuatnya sampai banyak berpikir untuk menerima tawaran dari laki-laki yang sudah membuatnya susah tidur bahkan lupa makan beberapa waktu lalu itu. Sosoknya seolah turun tingkat di hati Luna, jadi sama dan tak jauh berbeda dengan Leo dan Willy sejak kehadiran Dewa kemarin. “aku- aku di jemput ayah Bill, aku takut ayah marah kalo aku malah pulang sama kamu” “sini handphone kamunya” Luna pasrah memberikan handphonenya pada Billy, tangannya langsung mencari nama ayahnya di daftar kontak gadis cantik yang sedang memasang wajah kebingungannya itu kini, ia berniat ingin menghubungi sang ayah untuk meminta izin ingin mengantarkan Luna pulang untuk hari ini. “hallo Om, aku Billy temen deketnya Luna...” Dan begitu Billy mengenalkan dirinya, terdengar nada sambutan ramah dari sambungan telponnya bersama Bryan itu. “ahhaha... kok Om tau aku Billy anak baru di kelasnya Luna?... ooh Luna sering cerita ya...” Billy merasa meninggi karena mendapat tanggapan yang baik, Ia berbicara sambil melirik Luna dengan senyum penuh artinya setelah tahu kalau Luna sering bercerita tentang dirinya pada ayahnya itu. “jadi gini Om, aku mau minta izin buat anterin Luna pulang hari ini, boleh?” “boleh? serius om? iya... pasti om, aku pasti jagain dan bawa pulang dia utuh, selamat sampe rumah” “iya makasih banyak Om, selamat sore” Setelah percakapan menyenangkan antara Billy dan ayahnya itu, anehnya Luna justru jadi hanya terdiam mematung. Ia tak menunjukan wajah senangnya pada Billy yang baru saja berhasil mendapat lampu hijau untuk mengantarkan dirinya pulang dari ayah posesifnya itu. “ini udah... ayo pulang, motor aku di sana...” Ucapnya sambil menarik tangan Luna yang saat ini sudah tak memiliki alasan untuk menolak ajakannya itu. Akhirnya Luna sampai di depan motor, “aku pakein helm kamu...” Billy dengan lembut dan perlahan memasangkan helmnya pada Luna, wajah keduanya jadi dekat saat Billy berusaha mengaitkan tali helm itu. Billy tersenyum sangat senang bisa dekat sekali dengan Luna, tapi sepertinya Luna tak begitu, ia masih terus diam menatap Billy kosong. ‘kenapa hati aku labil banget sih! perasaan masih kemarin deh aku pengen deket terus sama Billy sampe gak tidur semaleman buat nunggu pagi, terus belum lama ini aku marah-marah sampe kesel sendiri gara-gara Billy yang gak nembak-nembak aku... eh, udah di tembak malah aku tinggalin... dan sekarang hati aku malah kaya es gini sama dia... hati! mau kamu apa sih???’ Luna bergumam kesal sendiri dalam hatinya, “Luna...” “Luna...” “Luna ayoo...” “ah? ah iya aku naik” Luna sampai tak focus karena ia tak mengerti dengan hati dan perasaannya sendiri. Luna kemudian naik dengan hati-hati ke atas motor merah milik Billy itu, “udah? pegangan ya” “ehm? pegangan?” “iya Luna... kalo gak pegangan nanti jatoh” “ah iya... kemana? Billy tersenyum mendengar pertanyaan polos Luna yang tak tahu harus memegang kemana itu. sampai akhirnya tangan Billy menuntun tangan Luna yang berada di belakangnya itu untuk melingkar pada tubuhnya. “gini... pegang aku erat-erat ya...” Ucapnya dengan senyum mengembangnya. “ah... iya” Luna menurut, dan setelah siap Billy langsung menjalankan motornya itu keluar dari lingkungan sekolah ke jalanan menuju rumah Luna. Keduanya kini sedang melaju di jalanan, bersama dengan angina yang menerbangkan rambut terurai Luna, Billy terus mengembangkan senyumnya merasakan tangan Luna yang tengah memeluknya itu. sesekali ia menancap gasnya membuat Luna jadi semakin mengeratkan pegangannya di tubuhnya itu. Kurang dari dua puluh menit, Luna dan Billy sudah sampai di depan rumah Luna. Tangan Billy langsung membantu membuka tali pengait helm Luna dan melepaskan alat keselamatan berkendara itu dari kepala Luna. “Billy, makasih ya...” ucap Luna tulus, “Luna... yang tadi... itu... kamu- aku- aku tau mungkin kamu butuh waktu buat terima pernyataan cinta aku, tapi aku pikir kamu punya perasaan yang sama kan sama aku?” Tanya Billy, Luna menatap Billy tak tahu harus menjawabnya seperti apa. Ia pikir kalau Billy sampai menyatakan itu satu minggu yang lalu, mungkin tak akan sulit baginya untuk mengatakan iya, bersedia untuk menjadi kekasihnya itu. Tapi kini... ‘ah! kenapa liat ice cream, aku malah tiba-tiba jadi inget Pak Dewa sih...” Gerutunya dalam hati saat Luna justru jadi teringat saat ia bersama Dewa memakan ice cream bersama tadi. “Luna” “Luna...” Luna melamun kembali, ia sibuk dengan bayang-bayang Dewa sampai ia tak mendengar Billy yang sedang memanggil-manggilnya. “Luna” “iya Pak-... ah, maksud aku Pak- Pa... Parkir! ya! motor kamu parkir dalem aja, kita ngombrol di dalem rumah aja biar lebih enak” Untung otak Luna bisa berjalan dengan cepat hari ini, jadi ia tak ketahuan kalau ia hampir saja akan menyahuti Billy dengan ‘Pak Dewa’. “oh, boleh aku masuk rumah kamu?” “tentu dong, kenapa gak boleh... ayo masuk” Luna menjawab dengan nada yang terdengar pasti sekali, untuk menyembunyikan kesalahan yang hampir di lakukannya tadi. Billy akhirnya masuk ke dalam rumah Luna dengan perasaan senangnya, ia benar-benar antusias sampai berkali-kali ia mengusapkan telapak tangannya yang jadi basah pada celananya. “Billy, sebentar ya aku minum buat kamu...” “ah, iya makasih Luna...” Luna kemudian membuatkan Billy minuman, ia menghela napas panjang dan beratnya, entah kenapa ia malah merasa seperti itu sekarang pada Billy. “kenapa jadi gini sih, hubungan itu emang lebih menarik di awal... pendekatan kemarin rasanya seru banget tapi pas udah deket malah gini...” Gerutu Luna sambil menuangkan jus orange untuk Billy. setelah selesai ia kemudian berjalan sambil mengahantarkan minumannya itu. “makasih Luna...” “ehm...” Luna dan Billy kini duduk berdekatan, canggung mulai menghampiri seperti biasanya. ‘hhh... dia tuh ngomong apa gitu, kenapa diem-dieman gini sih... becanda kek, apa gitu, perasaan sama Pak Dewa seru deh gak garing... tunggu, kaaannn Pak Dewa lagiii! Luna, kamu ini lagi sama Billy sekarang!!’ Karena suasana yang hening Luna jadi sibuk dengan isi kepalanya yang lagi-lagi di penuhi oleh Dewa, ia bahkan sampai mulai membandingkan Billy dengan Dewa. cup Luna tiba-tiba membulatkan matanya sambil memegangi pipinya yang baru saja mendapat kecupan singkat dari Billy yang kini sedang menatapnya malu-malu. “Billy... kamu...” “aku... aku suka banget sama kamu, jadi... aku, aku pengen bisa jalanin hubungan yang romantic sama kamu...” Ungkap Billy, Luna menatap Billy dengan sorot mata bingungnya. ‘hhh... ciuman di pipi gini udah pasti kalah sama ciuman bibir Pak Dewa kemarin di dalem air... aku kayanya udah bener-bener pindah ke lain hati deh... tapi kalo gitu aku jahat banget dong sama Billy... aku harus gimana??? masa Billy aku tolak sih??? kalo di tanya alasannya kenapa, gimana coba? gak mungkin aku bilang kalo aku udah suka sama guru olahraga baru itu, gila aja... hhh tuhaan aku harus gimanaaa’ Luna terus bergumam dalam hatinya, tak tahu harus menghadapi Billy seperti apa sekarang. “Billy aku-“ “Sayang...” Tiba-tiba saja suara ayahnya yang baru datang dari ujung ruangan mengintrupsi kalimatnya. “Om, selamat sore Om, aku Billy yang tadi telpon” Kenal Billy sambil menghampiri kemudian menyalami Bryan menunjukan kesopanannya. “oh, ini Billy... ganteng ya... pantes Luna suka banget” “ayah!” ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN