Luna mengekori Dewa yang kini berjalan menuju lapangan tempat tadi ia mengajar kelas olahraganya.
“jadi mau di bantuin apa?”
Tanya Luna begitu langkah Dewa terhenti di tengah lapangan olahraga sekolahnya.
“ehmm... sebenernya pengen minta videoin buat dokumentasi, mau kan?”
“dokumentasiin lagi beresin semua bola bekas anak IPA 1 olaharaga gitu?”
Tanya Luna sambil menunjuk pada banyak banyaknya bola yang berserakan bersamaan dengan alat olahraga lainnya.
“seharusnya sih tadi waktu lagi ngajar anak-anak, tapi karena gak keburu jadi sekarang aja... seengganya ada bukti kalo aku lagi kerja”
Ucapnya, Dewa kemudian mengeluarkan handphonenya dari dalam sakunya dan menyetel kameranya kedalam mode record,
“tolong ya”
Pintanya, Luna mengganguk dan kini ia mulai merekam Dewa yang sedang memunguti beberapa bola. Sesekali ia melakukan shoot pada ranjang tempat bola-bola itu harusnya di masukan dengan penuh gaya, ia bertingkah seperti tengah memamerkan keahliannya. Dan Luna yang melihat betapa lihainya kemampuan Dewa dalam memainkan bola-bola itu langsung terkesima padanya.
“Luna... tangkap”
Dewa melemparkan satu bola ke arah Luna, tapi alih-alih menangkapnya Luna malah menghindar dari bola itu.
“ah, aku lagi pegang kamera”
“gak papa taro aja dulu, main sini”
Terdengar asik di telinganya, sampai Luna menaruh handpnone guru barunya itu dan berlari ke arah Dewa.
“ini... tangkap”
Kali ini Luna menangkapnya dengan baik, akhirnya Luna dan Dewa bermain-main di lapangan sekolah, mereka tampak menikmati waktu mereka sambil membereskan bola-bola di lapangan itu.
Sampai beberapa menit berlalu semua sudah rapi dan tugas Dewa membereskan semua benda habis pakai olahraga itu sudah selesai dengan cepat berkat bantuan Luna.
Dan kini Luna sedang berdiri sambil memegangi satu bola basket di tangannya. Ia berniat ingin memasukannya ke dalam ring basket. Luna pun mulai melompat, bolanya juga sudah di lemparkannya, tengah melambung tinggi di udara, tapi sayangnya itu gagal masuk ke dalam ring.
Luna kemudian berlari mengambil bolanya dan melakukan percobaan keduanya.
“ah, kayanya aku emang gak berbakat jadi pemain basket deh”
Gumamnya saat ia juga gagal melakukan lemparan bolanya yang kedua kalinya itu. Luna kembali berlari untuk mengambil bola basketnya dan kembali berdiri di depan ring.
Tapi tiba-tiba saja ia merasa tubuhnya terangkat meninggi sampai akan mencapai tinggi ring tempat ia ingin memasukan bolanya itu.
“ah! turunin nanti jatoh”
Luna berkata demikian saat sadar Dewalah yang ternyata tengah memangku tubuhnya itu.
“udah cepet masukin”
“apa?”
Luna tak mengerti
“lempar bolanya pasti masuk”
Luna menurut dan benar saja lemparannya kali ini masuk berkat tubuhnya yang pangku oleh Dewa.
“yeayyy!! masukk!!!”
Luna sampai mengangkat kedua tangannya ke udara untuk merayakan keberhasilannya. Tubuhnya hampir saja kehilangan keseimbangannya dalam pangkuan Dewa karena saking senangnya berhasil memasukan bolanya pada ring itu.
“kamu ini...”
Dewa berusaha menahan tubuh Luna yang riang dan jadi tak bisa diam itu, sampai ia jadi memanggku Luna dalam posisi menghadap ke depan,
Keduanya kemudian bertatapan dalam jarak yang begitu dekat, pipi Luna memerah karena di tatap lekat oleh pria yang menurutnya sangat mempesona itu, dadanya juga jadi berdegup sangat kencang sekali karenanya. Kedua matanya tertuju pada bibir yang kemarin sempat mendarat di bibirnya dan di pagutnya dengan lahap.
Wajah Dewa semakin mendekat, membuat jantung Luna jadi semakin berdup tak karuan seperti berada dalam sebuah pacuan, ia memejamkan matanya. Luna pikir ia akan dapat merasakan bibir pria yang merupakan guru olahraganya itu untuk kedua kalinya. Sudah semakin dekat dan dekat saja, Luna sampai menahan napasnya kini.
Tapi kemudian ternyata Dewa hanya ingin jahil saja dengan membenturkan keningnya pada kening Luna yang berada dalam pangkuan bridal stylenya itu.
“ah, sakit”
“dasar nakal!”
Ucapnya sebelum ia menurunkan tubuh Luna itu.
‘hhhffttt kirain mau di cium, taunya’
Ada sedikit sesal dan kecewa di hati Luna karena bukan ciuman lembut yang di dapatnya.
“biarin! hwweee”
Luna membalas begitu sambil menginjak pelan sepatu Dewa untuk membalas kejahilan guru olahraganya itu, setelah itu ia langsung melarikan diri di lapangan menjauh dari Dewa.
“Luna! awas kamu yaa...”
Dewa jadi mengejar Luna karena gemas dengan tingkahnya yang baru saja menginjak sepatunya itu, keduanya jadi berlarian, kejar-kejaran di lapangan sekolah. Luna yang akhirnya tertangkap oleh Dewa, langsung di gelitikinya sebagai hukuman karena sudah bersikap jahil padanya tadi itu.
“ahahhh...aahh geli geli... ahh udah”
“diem kamu ya... sini...”
Luna mengelinjang, menggeliat karena di gelitiki oleh Dewa, Luna sampai menyembunyikan dirinya pada tubuh Dewa dengan suara renyah tawanya karena kegelian itu.
“udah...udah... ampun”
“hhh... hhh... jangan nakal makanya”
Dewa akhirnya melepaskan Luna yang terlihat sampai kelelahan dengan napasnya yang ngosngosan karena di gelitiki oleh tangan tangan jahil guru olahraganya itu.
“ahh... cape”
Ucap Luna sambil merebahkan dirinya di lapangan, ia tak mempedulikan seragamnya yang akan kotor atau tidak, yang pasti ia benar-benar ingin mengistirahatkan tubuhnya yang lelah karena di buat terus tertawa kegelian oleh Dewa barusan.
“lemah”
Balas Dewa sambil duduk di samping Luna.
“biarin”
“ehmmm.... karena udah bantuin, aku beliin ice cream deh...”
“serius?”
Luna langsung membuat tubuhnya tengkurap menghadap ke arah Dewa dengan tatapan matanya yang sangat antusias mendengar akan di belikan ice cream oleh Dewa.
“iya... mau rasa apa? berapa banyak? ehm?”
Luna jadi tampak sangat riang kegirangan akan di belikan ice cream oleh guru olahraganya itu.
“pengen rasa vanilla, 10 biji”
Jawabnya, bahkan tak tanggung tanggung ia meminta sampai 10 buah pada Dewa,
“10? hahahha... kamu tuh mau bikin aku bangkrut ya?”
“iya mumpung gratisan”
“dasar bocah”
Dewa mengatai Luna begitu sambil mengusapi puncak kepala Luna yang masih betah merebahkan dirinya di lapangan.
“yaudah ayo beli sekarang”
“masih cape”
Luna mendadak bersikap sangat manja di hadapan Dewa, ia merebahkan kembali tubuhnya seolah enggan dan lupa kalau dirinya itu sedang berada di lantai lapangan sekolah bukan di ranjang tempat tidurnya, tempat biasa dirinya merebahkan tubuhnya dengan bebasnya.
“banguunn, baju kamu kotor itu”
Dewa terpaksa menarik tangan Luna untuk membuatnya bangun, tapi Luna membandel sampai ia sulit sekali untuk di bangunkan. Sampai Dewa jadi meraih pinggang siswanya itu, dan barulah Luna bisa bangun ke posisi duduk.
“ayo buruan!”
Ucap Dewa sambil tersenyum dengan tangan yang masih di taruhnya di pinggang Luna. refleks Luna menahan napasnya dan mengerutkan tubuhnya,
“atau mau di gelitikin lagi emh?”
“engga engga... jangan AHH!!”
Luna terlambat, pinggangnya yang lebih sensitive terhadap sentuhan itu kini sudah menjadi target gelitikan tangan Dewa.
“hahahh... udah udah iya aku bangun”
Luna mau bangun juga akhirnya, tapi tetap ia di bantu berdiri oleh tangan Dewa. Keduanya kemudian berjalan beriringan bersama untuk membeli ice cream sesuai dengan yang Dewa janjikan pada Luna.
“ini ... vanilla”
Dewa akhirnya membelikan Luna ice creamnya, tapi hanya satu dan tidak sepuluh seperti yang Luna inginkan, karena ia tahu Luna hanya ingin bercanda saja padanya tadi.
“loh kok gak ambil stroberi?”
Tanya Luna saat Dewa mengambil ice cream dengan rasa coklat vanilla.
“emang harus stroberi ya?”
“engga sih, kirain pencita stroberi”
Balas Luna, ia pikir guru olahraganya itu menyukai rasa stroberi dari kondom stroberi yang ada di saku celana trainingnya itu.
“sok tau banget sih, ayo duduk sana”
Setelah membeli ice cream keduanya menikmati makanan dingin itu bersama di kursi dekat taman sekolah.
“jadi... kenapa kemarin tiba-tiba berenang di sana? itukan gak boleh di masukin sama umum?”
Dewa membuka pembicaraan dengan pertemuan pertamanya dengan Luna.
“ehm? itu... aku- aku... ehmm”
Luna memutar otaknya, ia berusaha mencari alasan kenapa sampai berakhir di sana kemarin, tapi tak menemukannya sampai jadi ber ehm-ria begitu.
“aku pikir kamu tuh duyung penghuni stadion tau gak?”
Ucap Dewa asal pada Luna, sampai Luna terkehkeh di kira duyung oleh Dewa.
“hahahhh emang aku berekor ya? masa duyung sih”
“abisnya... lagian kamu kemaren gak pake baju renang lagi... pasti buka baju langusng nyemplung ya?”
Luna mengangguk sambil tersipu malu pada Dewa.
“eeuuhh dasar bocah, kalo katuan sama anak-anak sana abis kamu... “
“kalo kam- maksud aku Pak Dewa ngapain berenang di sana? Pak Dewa atlit juga di sana?”
Tanya Luna
“ehm, tadinya iya, tapi sekarang udah gak lagi... kemarin sebenernya hari terakhir aku jadi atlit di sana, karena banyak masalah ini itu, akhirnya aku putusin buat berhenti, padahal mimpi banget bisa sampe menang di kejuaran besar akhir tahun ini”
cerita Dewa pada Luna,
“kenapa gak di lanjutin mimpinya?”
“ketinggian, jauh sama kemampuan jadi di lepas deh mimpinya”
Ucap Dewa sambil tertawa miris, ia berusaha mengatakannya seolah itu bukan apa-apa, padahal dalam hatinya ia merasa sangat kecewa karena harus melepas mimpinya itu.
“gak papa mimpi tuh yang tinggi aja, lebih tinggi dari langit sampe luar angkasa...”
Jawab Luna, dan Dewa berhasil di buat tertawa karena perkataan Luna barusan itu.
“hahahh... ada-ada aja sih kamu”
“serius, soalnya kalo mimpi tingginya sampe ke luar angkasa kan gak ada gravitasinya jadi gak akan jatuh terus sakit deh”
Balas Luna, dan Dewa jadi memperhatikan Luna lekat-lekat, ia mengangguk-anggukan kepalanya berpikir kalau perkataan bocah SMA itu ada benarnya juga.
“aku jadi pengen balik lagi jadi seusia kamu, dan kayanya enak banget kalo pikiran aku bisa senaif kamu Luna... “
“kenapa?”
“karena kenyataannya itu segalanya gak segampang itu tau”
Balas Dewa sambil jahil menyentuhkan ujung ice creamnya pada hidung Luna.
“aahh... dingin”
“sukuriin”
“iih jahat”
Luna kemudian membalas menyentuhkan ice creamnya pada Dewa, mereka lagi-lagi saling menjahili satu sama lain dalam tawa renyah keduanya.