Author pov
Luna benar-benar di kejutkan dengan kehadiran pria yang sudah menolongnya kemarin itu, keduanya kini sama-sama berdiri, diam dalam bingung dan saling tatap. Mereka bahkan tak menghiraukan Billy yang jauh lebih bingung dan tak mengerti dengan situasi yang sedang terjadi sekarang ini. Dan sialnya lagi tepat di saat ia tengah mencoba mengungkapkan isi hatinya pada Luna.
“Luna... kamu gak papa?”
Tanya pria itu dengan berjalan menghampiri Luna,
“ehm... gak papa, makasih buat yang kemarin, ah iya baju-“
“Dewa!”
Pria itu langsung menoleh begitu Pak Bowo memangilnya dengan nama itu,
“ya Pak, sebentar saya kesana”
Balasnya sedikit berteriak agar guru Luna yang tengah memanggilnya itu bisa mendengarnya.
“baju aku di simpen aja dulu, kayanya kita juga bakal lebih sering ketemu di sekolah, aku pergi sampe nanti”
Ucapnya dengan di akhiri oleh tangan yang eluskannya pada puncak kepala Luna. Luna yang masih di buat kaget dengan kehadirannya di tambah juga dengan sikap hangatnya barusan itu, membuatnya kini jadi mematung dan berusaha mencerna keadaannya.
‘kenapa dia bisa ada di sekolah? Dewa? apa namanya Dewa?’
Luna sibuk dengan semua pikiran tentang pria itu, tanpa sadar ia jadi mengacuhkan Billy yang sudah berdiri sedari tadi dari posisi berlututnya dan tengah memandangi perempuan yang ingin di jadikan kekasihnya itu dengan wajah kesalnya.
“Luna... siapa dia?”
“ehm? ah, bukan siapa-siapa, aku kemarin cuma kebetulan aja di tolongin sama dia”
Sejujurnya dalam hati Luna bertanya-tanya pantaskah orang yang sudah memberikan napas buatan, saling berpagutan seperti menari di dalam air dengan tubuh yang di rapatkan, di katakan bukan siapa-siapa.
“tapi kok dia berani elus elus kepala kamu sih”
Ucap Billy dengan ketusnya, jelas sekali ia tengah sangat cemburu saat ini.
“Billy, kamu marah?”
Luna bertanya demikian dan Billy malah hanya membuang mukanya yang kesal sekali itu.
“kalo iya kenapa? aku gak terima cewek aku di sentuh sama cowok lain Luna”
“dan aku masih belum bilang kalo aku mau jadi cewek kamu...”
Balas Luna, Billy terdiam dengan ucapan Luna itu.
“Luna... kamu- kamu gak mau jadi pacar aku? kamu gak terima pernyataan cinta aku?”
“mungkin lain kali kita bicara lagi”
Balas Luna, dan ia langsung saja pergi meninggalkan Billy di ruang kelas itu sendiri.
“arghhh!!!”
Billy mengerang kesal dengan kerasnya, ia marah namun sayangnya semua keputusan memang berada di tangan Luna, ia menyesalkan keadaannya. Billy pikir seharusnya ia menyatakan cintanya lebih awal dan tak menyia-nyiakan waktu sampai tiba pria pengganggu seperti sekarang ini.
Sementara itu Luna yang pergi keluar kelas langsung mencari pria itu kembali, ia penasaran ada apa, dan kenapa pria itu bisa muncul di sekolahnya. Dan dilihat dari ekpresi tak menyangkanya jelas sekali pria itu datang bukan untuk menemui dirinya, tapi pasti itu adalah pertemuan yang tak di sengaja untuk yang kedua kalinya.
Luna berlarian dengan mata yang awas mencari dari koridor sampai area lapangan sekolah.
“Luna...”
“Fey,
“Luna kok di sini sih? Billy mana?”
Entah kenapa Luna mendadak tak ingin dulu membahas Billy dan lebih ingin mencari pria yang telah menyelamatkannya kemarin.
“aku lagi nyari orang dulu”
“orang? siapa?”
Sampai pencarian Luna terhenti pada sosok yang kini sedang meniupi peluit yang mengalung di lehernya, tengah mengatur dan mengarahkan beberapa siswa yang sedang berolahraga di lapangan basket sekolahnya.
Luna lekat memperhatikan bagaimana pria yang di carinya itu tengah berlarian sambil mengover bola beberapa kali di sana.
“Luna ada apa sih?”
“Dewa...”
Luna bahkan tak menghiraukan sahabatnya yang bertanya penasaran dengan tingkah tak biasanya itu, ia sibuk memandangi sambil menggumamkan nama pria itu, yang tak sengaja di ketahuinya dari Pak Bowo yang memanggilnya tadi.
“Luna... jangan bilang kamu suka lagi sama guru olaharaga baru kita?”
“apa? guru olahraga baru?? dia?”
Luna banyak sekali di berikan kejutan tak terduga olehnya,
‘jadi orang yang udah selamatin aku kemarin itu guru olahraga aku sendiri?? kebetulan macam apa ini???’
Luna yang masih terperanga tak percaya di balikan oleh Fey untuk menghadap padanya, di tepukinya kedua pipi lembutnya, ia berusaha untuk mengembalikan akal sehat sahabatnya itu.
“apa? ada apa? jangan bilang kamu udah bikin ulah sama si guru baru??”
“Fey... dia orang yang di kolam stadion kemarin”
Ucap Luna akhirnya.
“APA?? SI KONDOM STROBERI??”
Fey yang amat terkejut, ia jadi tak bisa mengontrol suaranya sampai beberapa mata beralih menatap heran kearahnya.
“suuttt ih, berisik, kebiasaan deh”
“kita- kita ngobrol di kantin ayo...”
Fey yang masih membutuhkan penjelasan dari Luna langsung menariknya pergi kekantin. Ia mencari spot terbaik untuk membicarakan guru olahraga barunya itu, tepatnya di meja pojokan agar tak ada yang mendengar.
“Luna serius dia yang sembunyi sama kamu di air terus ‘itu’?
Fey mengadu-adukan jari telunjuk kanan dan kirinya, Luna yang mengerti maksudnya itu langsung menggangguk cepat mengiyakan pertanyaan Fey itu.
“jadi... dia yang punya celana training olahraga sama kondom stroberi itu??”
Luna sekali lagi mengangguk mengiyakan,
“waahh... kebetulan apaan ini, gak lucu banget sumpah... orang yang bikin aku mual dan gak mau makan gara-gara bayangin jilatin kondom, terus malah bayangin ada isinya itu... ternyata- ternyata itu punya guru olahraga kita... gila gila! ini gila!”
“isinya? maksud kamu... pen*s itu kan Fey? tunggu deh, berarti ukuran pen*s guru olahraga kita itu seukuran jempol kamu dong Fey?”
Luna dengan polosnnya bertanya demikian, sementara Fey yang mendengar tanyanya itu mulai memegangi kepalanya yang mendadak pening tak tahu harus menjelaskannya seperti apa.
“gak gitu Luna... itukan elastis”
“tapi kemaren muatnya di jempol kamu kan Fey? kalopun ukurannya itu emang lebih gede, bukannya sesek dan gak enak di pake ya?”
“hhh.... Luna aku gak tau, soalnya aku gak punya si pen*s itu”
Jawab Fey asal, ia masih berkutat dengan pertanyaan bagaimana bisa guru olahraga barunya harus bertemu dengan cara yang seperti itu dengan sahabatnya itu.
“tunggu, Luna... kamu gak punya perasaan apa-apa kan sama dia? kamu gak akan selingkuh dan berpaling dari Billy kan?”
Tanya Fey, ia tak bisa untuk tak menaruh curiga pada sahabatnya itu, karena dilihat dari bagaimana cara Luna menatap pria itu, baginya itu bukanlah tatapan biasa dan pada umumnya, tersimpan banyak rasa di dari sorotnya. terlebih mereka sudah saling berpagutan lama di dalam air, meskipun memang tujuannya untuk memberikan napas, tapi bagi Fey itu bukanlah sesuatu yang bisa di abaikan, tapi sesuatu yang bisa menimbulkan benih-benih perasaan.
“Aku- aku... aku cuma penasaran sama pengen tau aja dia siapa, lagian salah ya kalo aku pengen tau orang yang udah selamatin aku?”
Luna jadi pandai membalas perkataan orang-orang sekarang, bahkan nada suaranyapun terdengar lebih berani dan ia tak lagi merasa terpojokan sama sekali saat tengah di curigai.
“Luna... terus Billy?”
“aku tinggal di kelas tadi, dia marah gara-gara kepala aku di elus sama guru olahraga baru itu”
Jujurnya pada Fey,
“kepala kamu di elus sama si kondom stroberi?? di depan Billy? terus kamu tinggal Billy sendiri gitu??? waahh Lunaa... kamu tuh suka gak sih sama Billy??”
Fey tak mengerti dengan sikap sahabatnya itu, sangat aneh. Ia pikir bagaimana mungkin Luna secepat itu tergoyahkan oleh orang yang baru di kenalnya kemarin sore.
“Dewa namanya, kamu itu kasih panggilan kok aneh banget”
Protes Luna tak terima pria yang telah menyelamatkannya di panggil Si Kondom Stoberi.
“terserahlah... tapi hari ini kita gak ada kelas sampe siang nanti, mending kamu beresin urusan kamu sama Billy, sebelum nanti ada kelas dan gak ada waktu lagi... kalian gak akan marahan terus kan?”
Fey memberi saran demikian, karena Fey pikir kalau ia menjadi Billy ia tentu akan sakit hati sekali, semudah itu di gantikan Luna oleh pria yang asing yang belum lama di kenalnya.
“ngapain...”
Balas Luna berpura-pura tak peduli, padahal sejujurnya ia pun merasa tak enak hati pada Billy karena tiba-tiba meninggalkannya untuk mengejar guru olahraga barunya itu.
“tapi... apa aku minta maaf aja ya ke Billy? tiba-tiba aku ngerasa bersalah udah ninggalin dia gitu aja tadi...”
Seketika Luna terpikir untuk meminta maaf pada Billy, ia merasa bersalah sekali telah meninggalkannya pergi di saat ia sedang menyatakan cintanya tadi.
“yaudah sana pegi samperin dia”
Setelah mendengar ucapan Fey itu Luna langsung berlari pergi menuju kelasnya, tempat terakhir kali ia bertemu Billy tadi.
“hhh... dia pergi”
Padahal Luna sudah berlari dengan cepat dari kantin, tapi rupanya Billy sudah tak ada lagi di kelasnya, terpikir olehnya untuk menghubungi Billy, karena ia ingin meminta maaf dan merasa harus mengatakan yang sebenarnya telah terjadi padanya.
Luna membuka handphonenya untuk mengirimkan pesan pada Billy sambil berjalan di koridor menuju taman, ia pikir siapa tahu saja Billy sedang ada di sana.
Karena sibuk mengetikaan pesan pada Billy, Luna malah jadi tak melihat jalanan dan menabrak orang dari arah yang berlawanan.
“ooh maaf maaf gak sengaja”
“Luna...”
“oh??”
Luna kembali bertemu dengannya, dan terhitung sudah kali ini menjadi kali ketiga pertemuan tak di sengaja mereka berdua.
“liat-liat kalo jalan, nanti jatoh terus harus di bawa ke UGD lagi gimana?”
Godanya pada Luna. Ia benar-benar menganggap kalau apa yang terjadi kemarin adalah hal biasa dan bukan apa-apa sampai membuatnya jadi bahan candaan seperti itu.
“maaf sama makasih udah ngerepotin kemarin”
Ucapnya sambil tersenyum malu-malu pada Sang Penyelamatnya itu.
“lain kali jangan berenang tanpa izin lagi”
Luna menunduk ketika dia mengungkit kejadian itu lagi, ia malu tapi bercampur dengan perasaan senangnya bisa mengobrol dengan orang yang telah menyelamatkannya itu.
“ah iya itu aku... itu nama... kamu...”
Niat hatinya ingin bertanya, tapi karena ragu dan malu ia jadi meracau seperti itu.
“nama... ah, aku Dewa, dan mulai hari ini aku guru olahraga di sini”
Luna balas dengan mengangguk-anggukan kepalanya sambil tersenyum, meski sebenarnya ia sudah mengetahui soal hal itu.
“ah, Luna kamu bantuin aku gak?”