#2 Masih Soal Kondom

1755 Kata
Dear Diary Hari ini seperti kotak Pandora saja, terlalu banyak hal mengejutkan yang kutemukan. Mulai dari pria asing dengan napas panjangnya yang sampai bisa di bagi dengan diriku, terus juga benda asing yang bikin aku dan Fey harus di marahi ayah. Kenapa semua hal asing yang pertama kali kutemui selalu saja membuatku berakhir dengan berada dalam masalah, setiap ada hal baru pastilah bersama dengan masalah baru. Aku heran dengan itu. Semakin bertambahnya usiaku, semakin banyak hari yang kutemui, anehnya semakin banyak pula sesuatu yang asing di dunia ini. Aku pikir 50 tahun tak cukup bagiku untuk mengetahui dan mengenal semua hal yang ada juga terjadi di dunia ini. Aku tak mengerti... Aku jadi sedikit bertanya-tanya, apa jadinya kalau aku memiliki Ibu yang bisa mengenalkanku pada banyak hal, sehingga aku bisa sedikitnya tak sebodoh sekarang ini tentang hidup dewasa ini. Dan apa jadinya kalau ayah tak terlalu mengekangku, membiarkanku bergaul dengan bebas.... Pastinya aku tak akan seperti Luna yang sekarang ini, Luna yang selalu banyak bertanya dan membuatnya sampai kehabisan kata-kata untuk menjelaskannya padaku, juga melakukan banyak hal yang membuatnya jadi terlihat frustasi. Ayah... maaf Tok tok tok “Luna...” Aku menoleh karena suara ketukan pintu yang di susul oleh panggilan itu. Dan kutemukan kepala ayahku yang sudah terlihat menyembul dari balik pintu kamarku. Aku tersenyum canggung padanya, rasanya benar-benar sulit sekali untuk berpura-pura tak terjadi apa-apa, setelah meledaknya amarah ayahku beberapa saat yang lalu itu. “Ayah bawain s**u anget buat kamu...” Ayahku berjalan mendekat membawa sebuah nampan dengan segelas s**u hangat di atasnya. “Bunda sama Fey udah pulang?” Tanyaku, dan ayah hanya menganggukan kepalanya sambil menyerahkan s**u itu padaku. Ayahku memang langsung menghubungi Bunda Fey tadi. Ia pikir penting bagi Bunda untuk mengetahui apa yang telah terjadi padaku dan putrinya. Hasilnya tentu saja Fey di marahi karena sudah membawaku menyusup dan berenang tanpa izin di stadion tempat para atlit renang berlatih. Di tambah juga soal si kondom itu, habislah aku dan Fey di nasihati dan di peringati untuk tidak menyentuh benda itu lagi. Padahal aku sendiri masih belum mengetahui sebenarnya apa dan untuk apa kondom itu ada, lalu sialnya kenapa bisa ada di saku celana pria itu. Intinya Bunda sangat menyayangkan perilaku anaknya dan aku yang tak biasanya nakal seperti itu. Aku merasa bersalah sekali melihat Fey di marahi, padahal ia membawaku ke sana untuk menghiburku tapi malah harus berakhir seperti ini. “Luna... baju yang kamu pake tadi ayah laundry, terus... kamu serius gak tau nama atau kontaknya?” “Luna lupa nanya ayah...” “terus kenapa waktu di UGD kamu gak hubungi ayah? kamu takut ayah marahin? ehm?” Aku sudah menceritakan secara garis besar apa yang terjadi padaku sore tadi pada ayah. Dan tentu saja dengan memotong bagian soal aku yang di berinya napas buatan di dalam air tadi untuk bersembunyi, aku hanya mengatakan kalau aku terlalu lama berenang sampai kedinginan parah dan hampir terkena hipotermia. Tapi sepertinya itu masih belum cukup baginya. *(hipotermia: Penurunan suhu tubuh secara drastic yang berpotensi berbahaya) “engga gitu juga ayah, sebenernya orang itu berusaha hubungin ayah waktu Luna dapet penanganan di UGD, tapi sayangnya dia gak bisa buka lock screen handphone Luna... dan gak lama setelah Luna sadar, Luna langsung pulang kok di temenin Fey yang buru-buru dateng buat Luna, jadi Luna pikir Luna gak usah bikin ayah khawatir dengan hubungin ayah...” Jelasku, aku berusaha jujur soal yang satu itu. “lain kali kalo ada apa-apa bilang ayah, ayah gak mau kejadian kemarin sama Si Rey itu terulang lagi, hhh... untung kamu gak di apa-apain sayang,” Ingatnya padaku “kayanya dia orang baik ayah, buktinya dia mau selamatin Luna, terus mau repot-repot bawa Luna ke Rumah sakit lagi...” Belaku pada pria asing itu dari prasangka buruk ayahku. “bukti kalo dia bawa benda yang kamu anggap permen itu kemana-mana, artinya dia bisa lakuin hal gak bener kapan aja sayang... itu jelas bahaya” Balasnya, aku jadi menaikan satu alisku mendengarnya. “emang kondom bisa bahaya kaya senjata?” Ayahku memejamkan matanya dan mengelusi dadanya mendengar tanyaku itu, kenapa ayah selalu bereaksi begitu sih saat aku bertanya. “ehm, bisa dan itu bahaya banget, itu buat bungkus rudal sayang...” Aku diam sambil mngerutkan keningku. ayahku benar-benar bersikap menyebalkan sekali hari ini. Sudah saat kutanya tentang alat kontrasepsi itu apa, ia tak menjawab lagi dan malah memintaku untuk menunggu sampai system reproduksi di bahas di sekolah oleh guruku dalam materi pelajaran. katanya itu akan terdengar lebih ilmiah, dan kalau di bicarakan dalam obrolan biasa, itu bisa di cap ketidaksopanan dalam budaya ketimuran. Karena di anggap terlalu vulgar meskipun sebenarnya itu adalah edukasi s****l, alasannya padaku. Jadilah ayahku lebih memilih untuk tidak menjelaskan soal si kondom itu padaku. “rudal apanya, nonsense banget sih” Gerutuku “tidur, besok gak usah sekolah aja, ayah panggilin dokter Indra buat periksa kamu” “ayah, Luna udah di periksa di Rumah sakit tadi” “buat check aja sayang...” “gak usah, besok Luna ada kuis ayah... gak papa kok, lagian besok Luna gak full kelas dan pasti pulang lebih awal” “Luna...” “ayah... Luna harus sekolah dan Luna baik-baik aja” keukeuhku padanya, “anak gadis ayah udah mulai keras kepala ya sekarang, yaudah tidur sekarang” Ucapnya sambil mengecup keningku dan mendorong tubuhku untuk berbaring pada bantal yang semula sempat di aturkannya untukku, terakhir tangannya menaikan selimutku. “good night sayang” Ucapnya sebelum ia melangkah pergi dan mematikan lampu kamar tidurku. *** Aku datang ke sekolah seperti biasanya seolah tak terjadi apa-apa kemarin, tapi sepertinya itu tak berlaku untuk Fey. Ia tampak pucat, lelah dan tak bersemangat, tengah duduk lemas di bangkunya pagi ini. “apa Bunda marahin dia abis-abisan ya? jangan di tanya Luna jelas di marahin sih” Gumamku, Sebelum kuhampiri Fey, kukeluarkan lebih dulu s**u kotak dari dalam tasku yang ayah bekalkan padaku tadi pagi. Aku berniat ingin memberikan itu padanya, takut takut ia jadi lemas begitu karena sampai tak di beri makan lagi oleh Bundanya. “Fey!” Panggilku, ia langsung menoleh. Kini aku sudah berlari ke arahnya dan duduk di sampingnya “kamu gak papa? pucet banget... Bunda kamu ngamuk ya Fey?” Ia menggelengkan kepalanya lemah, “terus kenapa?” “mual” Jawabnya dengan suaranya yang jauh lebih pelan dari biasanya. “ini buat kamu, biar ada tenaganya sama gak lemes banget gini” Kataku, dan begitu ku berikan s**u kotak rasa stroberi itu ia tiba-tiba terlihat sangat mual dan ingin muntah. “Fey, kamu gak papa? kita- kita ke UKS aja” “itu... jauhin... Luna! aku benci sama semua tentang stroberi sekarang” “apa?” Aku heran sekali padanya, padahal masih kemarin dia terlihat begitu menikmati si kondom rasa stroberi itu. “buat aku aja sini, Si Fey kenapa sih Lun, masuk angin?” Leo dan Willy yang menghampiri mejaku dengan fey langsung saja mengambil s**u stroberi pemberianku untuk Fey itu sambil bertanya begitu. “tau tuh, mendadak gak suka stroberi juga lagi, padahal kemaren abis jilatin kondom stro mmpphhhh” Fey menutup mulutku dengan tangannya yang ternyata masih kuat tenaganya. “KONDOM???” keduanya berbarengan bertanya dengan keras juga nada kegetnya. “serius? Fey wahh... Lo, Lo jilatin kondom?” Leo bertanya seolah tak percaya, aku bingung dengan reaksi semua orang. memangnya si kondom itu apa dan untuk apa sampai menimbulkan reaksi yang over begitu. “AH!!!” Fey mengerang keras, sambil menampar-nampar kecil mulutnya. “gak sengaja... kirain gue permen!!” “hahahhh... hahahah tukang tanding kebanggaan sekolah gak tau kondom” “hahahh apa apa? permen? hahah... kebanyakan main sama Luna nih, polosnya nular hahahah” Dua orang itu malah sibuk menertawakan dan meledek begitu. Aku mengerti kenapa Fey menutup mulutku tadi, tentunya agar tak di tertawakan oleh dua manusia menyebalkan itu. “Willy, kondom buat apa sih?” Tanyaku akhirnya karena sudah sangat penasaran. “itu buat bungkus punya cowok Luna...” “Itu punya cowok? maksudnya pen*s??? tapi itu kan gede... itu- terus... ngapain di bungkus? kenapa? buat apa??” Aku bingung, tak mengerti dan jadi punya question mark di atas kepalaku, rasanya seperti benang kusut saja di dalam sana. karena rasanya itu tidak matching, seingatku milik Billy saja rasanya sudah besar sekali itu tak akan mungkin terbungkus oleh benda itu. “hahahhh... iya Lunaa... buat itu” “tapi-“ “Luna...” Tak kuselesaikan karena aku langsung menoleh begitu mendengar suara panggilan itu, “Billy...” Ia baru datang dan kini tengah berjalan menghampiri mejaku. Padahal aku sedang membahas soal si kondom itu, tapi Billy datang dan tak mungkin juga aku membahas persoalan itu dengannya. “pagi...” “ehmm... pagi Billy” Rasanya canggung sekali setelah kemarin aku dengan sengaja menghindarinya, tak mengangkat telponnya dan tak membalas pesannya. Leo dan Willy yang semula tertawa sangat keraspun kini mendadak berada dalam mode mute, “kita beli minum dulu ya... bye Bill, Lun” “ah, aku juga mual kayanya harus ke toilet dulu deh, dah Luna” Ucap fey masih dengan wajah masam karena mualnya itu, ketiganya kompak meninggalkanku dan Billy berdua di kelas ini. “ehm Billy... aku mau ngomong sesuatu sama kamu” Aku pikir dari pada memilih cara atau trik aneh untuk bisa berada dalam suatu hubungan, lebih baik untuk mengatakan kejujuran dan mengungkapkan perasaan yang memang jauh lebih di butuhkan untuk membangun hubungan dengannya. “Aku juga...” Balasnya, Aku dan Billy lalu duduk berdampingan di kelas luas dan kebetulan sedang kosong pagi ini. Tapi kemudian sudah dua menit berlalu baik aku atau Billy belum ada yang memulai pembicaraan. sampai kemudian Billy meraih tanganku dan refleks kutatap matanya, mencari maksud dari apa yang ingin di lakukannya. “Luna... aku tau dari Willy...” Ucapnya tiba-tiba, sedikit bertanya apa yang sudah di ketahuinya. Rasanya tak mungkin sekali ia sudah mengetahui soal insiden dengan pria asing kemarin sore yang rencananya akan terus kusembunyikan saja darinya. “apa?” “kamu... ngehindar dari aku karena aku yang gak nyatain perasaan aku sama kamu kan?” Tanyanya, aku malu ketahuan olehnya, seharusnya aku tak sebodoh itu untuk bersikap begitu. “ehmm... itu- itu sebenernya...” “Luna...“ Billy tiba-tiba saja berlutut di depanku dengan tanganku yang masih di genggamnya itu. “Luna aku suka sama kamu, jadi kamu mau ya jadi paca-“ “OH?? kamu? Luna?” Seseorang mengintrupsi perkataan Billy dari ambang pintu kelas, Sontak aku langsung melepaskan tanganku dari Billy dan berdiri. Aku benar-benar terbelalak melihat sosoknya, tak percaya dan tak sedikitpun menyangka. “kamu- kamu kenapa bisa di sini???” .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN