“Aku pikirin nanti deh Fey... aku pengen pulang dulu....”
Aku pikir sepertinya aku bisa menangani soal Billy besok hari saja, dan rasanya akan lebih baik kalau aku bisa beristirahat di rumah.
“yaudah ayo...”
Kepalaku terasa jauh lebih berat ketika fey membantuku untuk bangun dari baringku, sampai kupegangi kepalaku yang amat penat dan serasa hampir pecah ini.
“Luna kamu masih belum baikan... mending di sini aja dulu sampe kamu bener-bener pulih”
Fey yang akan mulai memapahku, membantuku untuk berdiri dan berjalan pulang, sepertinya ia mengetahui kalau tubuhku ini memang sedang lebih lemas dari biasanya, sampai sampai ia memintaku untuk lebih lama berada di rumah sakit ini.
“Aku udah abisin cairan infusnya kok Fey, jadi anterin aja aku pulang sebelum ayah pulang dari kantornya”
“ah iya Om Bry, duh Luna... kalo kamu sampe di marahin aku bakal tanggung jawab kok, aku jadi ngerasa bersalah banget sama kamu Luna, maaf ya”
Fey sepertinya benar-benar merasa bertanggungjawab sekali akan insiden yang menimpaku ini.
“gak papa Fey, kayanya ayah juga gak akan ngeh deh kalo aku abis masuk UGD, soalnya kan kulit anaknya ini emang pucet”
Jawabku berharap ia mau lebih tenang dan setelah mendengar itu.
“tapi gak enak aja... padahal aku udah janji mau jagain kamu Lunaa... tapi malah kaya-“
“udah gak papa... beneran deh, berkat kamu aku seneng-seneng berenang tadi”
Akhirnya Fey bisa sedikit tersenyum sekarang.
“yaudah ayo, aku anter kamu pulang”
Setelah itu aku dan Fey menaiki taxi menuju rumahku. Dan sepertinya keberuntungan sedang berpihak padaku, Karena begitu aku pulang, mobil ayahku belum terparkir di depan rumah, lalu saat ku hubungi ayahku, ternyata ia mengambil lembur untuk malam ini dan malah memintaku untuk menghubungi Fey agar ia bisa menemaniku sampai setibanya ayahku di rumah.
“ahhh... untung untung...”
Kurebahkan tubuhku di sofa ruang tengah dengan semua rasa lemas, lelah juga syukurku karena tak harus menerima hujanan pertanyaan kenapa pulang malam dengan penampilanku yang seperti sekarang ini. Eerrrr.... tak terbayang bagaimana reaksinya, saat ayah melihatku yang pulang malam dalam keadaan lemas, pucat dan malah memakai pakaian kebesaran milik pria asing begini.
“Luna... cerita, jadi tadi kenapa?”
Fey duduk mendekat dan menatapku lekat lekat, ia sepertinya benar-benar penasaran sekali dengan apa yang telah terjadi padaku.
“Ayo kenapa? beneran sampe di kasih napas buatan sama orang lain? ehm? atau kamu kram terus hampir tenggelem terus di selamatin orang? tapi, itu artinya kamu ketauan orang stadion dong kalo kamu masuk sana tanpa izin?”
Fey seperti sedang menyusun beberapa puzzle di kepalanya, menerka-nerka apa saja yang telah menimpa padaku saat sedang berenang tadi sore.
“jadi karena kamu bawa aku ke stadion itu tanpa izin, aku hampir aja ketauan... eh, udah ketauan deh...”
“hampir mau ketauan apa udah ketauan? yang mana yang bener...”
Aku bingung menjelaskannya, karena aku memang ketauan oleh pria penyelamatku itu, kemudian aku di tolongnya agar tak ketahuan oleh atlet lainnya.
“jadi gini Fey...”
Kuceritakan apa saja yang terjadi antara pria itu dan aku selama di kolam stadion sore tadi, Fey sering kali mengerutkan wajahnya, beberapa kali juga ia membuka mulutnya terperanga, bereaksi tak percaya soal cerita antara aku dan pria itu.
“hah? serius???”
Ia terus bertanya begitu padaku sambil menutup mulutnya yang jadi sulit mengatup itu. Sampai akhir ceritaku, Fey menggeleng-gelengkan kepalanya masih enggan untuk percaya atas semua yang telah terjadi padaku sore tadi.
“itu film kan?”
“film apa?”
“itu... itu.... sweet bangeett Lunaa... padahal impian aku tuh bisa tenggelem di kolam itu, terus di selamatin sama atlit macho, kekar, bugar, sexy and superhot kaya cerita kamu ituuu...”
Fey meracau tak jelas, aneh-aneh saja dia ini, aku pikir di dunia ini tak ada orang yang ingin tenggelam ternyata ada satu yang ingin di sini.
“gak tau deh... ini kaya gak nyata tau gak... aku harap aku bisa ketemu lagi buat balas kebaikannya dia dan balikin bajunya ini”
Ungkapku dengan tangan yang ku tepuk-tepukan pada celana trainingku ini.
“oh? kayanya ada sesuatu di sakunya deh...”
Terdengar suara kresek-kresek dari dalam saku celana pria itu. Aku harap itu identitas atau atau semacamnya yang bisa membawaku kembali bertemu dengannya. Akhirnya kurogohkan tanganku ke dalam sakunya dan kukeluarkan isinya.
“apa ini?”
“gak tau, permen kayanya”
Fey berpikir kalau sebungkus kotak kecil berwarna merah muda bertuliskan Fiesta dari dalam saku celana pria itu adalah sebuah permen. Dan aku juga berpikir kalau apa yang ada di tanganku ini memang benar permen, karena warnanya yang merah muda dan saat kusobek sedikit pembungkusnya, itu tercium aroma stoberi.
“ehm... iya permen deh kayanya, wangi stoberi... tapi ini permen apa ya, baru liat yang kaya gini”
“cobain aja... yang punya gak akan ngeh kok kalo permennya ilang”
Fey mengsulkanku begitu, karena aku yang juga sangat penasaran dengan isinya, jadilah langsung saja benar-benar kusobek bungkus berbentuk persegi itu.
“kok gini sih? kaya karet, tipis gini, ini bisa di makan?”
Saat kuperhatikan benar-benar bentuknya, ternyata itu tidak bulat tapi lebih mirip seperti sarung kecil yang tipis, transparan, seukuran jempol tanganku, dan begitu ku tarik ternyata itu elastis.
“sini pinjem”
Fey mengambil benda kecil yang semula kita sepakat anggap permen itu, dan kulihat ia malah meniup benda yang masih tak kuketahui apa namanya itu.
“huuuuuhh...”
“ih, rasanya manis loh, kaya stroberi”
Fey tak sengaja mencicipi rasanya saat sedang meniupnya, aku jadi benar-benar penasaran dengan benda itu,
“mungkin itu permen emut”
dengan instingku akhirnya kupasangkan permen stroberi itu pada ibu jari Fey, dengan membungkuskannya.
“jilat”
kataku, dan Fey menurut, ia mulai menjilati jempolnya yang jadi berasa stroberi itu.
“enak gak?”
“manis”
Sementara Fey yang asik menjilati permen aneh itu, aku masih sangat di buat bertanya-tanya sampai kupungut kemasannya yang tadi sempat ku jatuhkan di lantai. Penasaran permen jenis apa itu, akhirnya kubuka handphoneku mencari nama merek Fiesta di pencarian google.
Dan muncullah gambar produk yang sama dengan banyak varian rasa mulai dari rasa banana, bubble gum, grape, dan lainnya. tapi sayangnya tak tertulis di sana kalau itu adalah permen, tapi...
“kondom?”
“Fey kamu tau kond-“
“LUNA! FEY!! KALIAN NGAPAIN MAININ KAYA GITUAN??!!!”
Ayahku tiba-tiba muncul lalu membentaki aku dan Fey begitu. Kaget, sangat sangat amat kaget, bahkan Fey langsung berdiri dan tertunduk di depan ayahku. begitupun aku yang refleks terperanjat mendengar suaranya yang sangat keras dan meninggi itu.
“ayah... apa sih bikin kaget aja”
“AYAH TANYA! KAMU NGAPAIN MAININ KAYA GITUAN LUNA! SINI KASIH AYAH!”
Aku bingung, ada apa dengan ayahku yang muncul dan tiba-tiba marah begitu. Lalu dengan kasarnya ia merebut bungkus kotak merah muda di tanganku itu. Tak sampai di situ, ayahku juga melepaskan permen yang terpasang di ibu jadi Fey.
“Luna, Fey, jawab Om jujur, ini dapet dari mana?!”
Aku dan Fey langsung saling menatap, tak tahu harus menjelaskannya seperti apa.
“Luna, jawab sayang, sebelum ayah marah dan kurung kamu di kamar seminggu”
Ancamnya padaku. Aku sangat takut padanya dan memikirkan akan di kurung seminggu lamanya tentu aku tak inginkan hal itu sampai terjadi.
“itu-... itu... dari baju ini ayah...”
Jujurku, ayahku terlihat mengerutkan wajahnya, siap meledakan amarah berikutnya.
“LUNA! KAMU PAKE BAJU SIAPA INI???”
Mataku memanas, aku takut sekali dengan ayahku yang sangat marah padaku itu. Buluku berdiri semua, tanganku bergetar, tak sanggup aku menatap matanya.
“ahahhhaaa.... ayah maafin Luna... tadi Luna berenang, terus- terus... ahahhhh”
Entah kenapa sulit sekali untuk bercerita dan malah terus menangis saja aku jadinya. Sambil menunduk dan melihat ujung jempol kakiku, tangisku pecah dan sudah meledak-ledak kini.
“Lunaaa....ahh”
Fey yang bediri di sampingku juga jadi ikut menangis dan memelukku.
“hhh sayang, Luna... Fey...”
Ayahku tiba-tiba berlutut di hadapanku dan Fey, tangannya mengusapi wajahku dan Fey yang sudah di banjiri air mata karena ulahnya yang marah tiba-tiba itu.
“denger, kalian tau apa yang kalian mainin berusan itu”
Aku dan Fey bersamaan menggelengkan kepala untuk menjawab pertanyaan ayahku itu.
“itu bukan sesuatu yang boleh di mainin sama remaja seusia kalian, itu buat orang dewasa”
Aku sedikit kaget mendengarnya dan semakin bertanya-tanya sebenarnya benda asing apa itu.
“ini alat kontrasepsi pria sayang... kalian gak boleh mainin benda itu sembarangan”
Ucapnya dan tiba-tiba saja Fey terlihat seperti ingin memnutahkan sesuatu dari mulutnya, ia cepat cepat berlari kekamar mandi karena rasa mualnya yang sudah tak tertahankan. Sementara aku masih mempertanyakan alat kontrasepsi apa? dan kenapa rasanya rasa stroberi? juga apa yang kutemukan di google tadi.
“ayah... hasil pencarian google, permen- ah maksud aku fiesta ini adalah kondom, kok ayah bilang ini alat kontrasepsi... sebenernya ini apa? kenapa ada rasa stoberinya”
Tanyaku panjang, sambil masih di barengi sedikit isakan dari sisa tangisku, dan kulihat ayahku kini malah memejamkan matanya di barengi dengan hembusan panjang napasnya.
“Luna... ayah nyerah....”
Ucapnya sambil menenggelamkan wajahnya di perutku dan memeluk tubuhku erat.
‘kok nyerah, padahal aku kan cuma nanya’
....