#2 Si Pria Itu

1527 Kata
Luna pov Rasanya aneh sekali terus berada dalam dekapan orang ini, tapi mau bagaimana lagi hanya darinyalah aku bisa mendapat hangat untuk tubuhku yang amat dingin ini. “hey jangan tidur... sebentar lagi sampe kok” Sambil mengeratkan pelukannya padaku, ia terus mengingatkanku untuk tak tidur, berkali-kali ia juga menghembuskan napasnya di kedua tanganku. Pria itu begitu bermurah hati sampai ingin berbagi hawa panas tubuhnya denganku. Entah apa yang membuatnya ingin terus berusaha menenangkanku, bertindak seolah aku ini bukan orang asing yang pertama kali di temuinya, tapi seperti seseorang yang amat berarti untuk di selamatkannya. Aku sampai berpikir, bisakah kita memberikan banyak bantuan dan perhatian pada orang asing yang pertama kali kita temui, seperti yang pria ini lakukan padaku. Pria yang masih belum kuketahui namanya itu bahkan sampai membantuku berpakaian, tangannya sungguh sopan dan tak nakal, tak ada sedikitpun gesture seperti ingin mencari kesempatan saat mengenakan pakaian di tubuhku. Tapi bukannya memakaikan seragam sekolahku, melainkan dengan baju setelan training olahraganya. Dan saat kutanya kenapa, dia malah menjawab bajunya itu lebih hangat dari seragam sekolahku yang ber-rok pendek, dengan lengan kemejanya yang juga pendek. Sampai akhirnya taxi yang membawaku menuju ke rumah sakit kini sudah berhenti, Aku sudah sampai. kemudian di pangkunya tubuhku ini untuk masuk ke dalam UGD. “suster... bantu saya” Pintanya, dan itu adalah kali terkahir aku melihat wajahnya, karena begitu tubuhku di baringkan di ranjang pemeriksaan rumah sakit ini, aku sudah memejamkan kedua mataku. *** Walau berat di tambah kepalaku yang penat, kucoba buka mataku pelan-pelan, yang entah sudah berapa lama ku pejamkan ini. Semula aku berharap kalau potongan kejadian dalam ingatanku hanyalah mimpi gilaku di siang hari, tapi begitu kulihat tiang penyangga tempat cairan infusku menggantung, ditambah bau disinfectant yang tercium kuat di hidungku, aku langsung menyadari keberadaanku begitu juga dengan semua yang telah kulakukan bersama pria itu di kolam stadion. ‘ini rumah sakit... terus artinya semua itu nyata dan bukan mimpi dong! ah, Lunaaa’ Sampai kemudian kutemukanlah pria yang telah membawaku sampai terbaring di rumah sakit sekarang ini, tapi kulihat ia sedang sibuk berkutat dengan handphoneku dan entah apa yang sedang coba di lakukannya. “ahh... gagal lagi...” “ah!” Ia terlihat frustasi sampai menenggelamkan wajahnya di ranjang tempatku berbaring. “kenapa?” Tanyaku, langsung saja ia bangun dan menatapku lekat-lekat. “udah bangun? kamu- kamu gak papa?” Ia bertanya sambil menampilkan raut wajah yang masih sama seperti saat sebelum aku berada di rumah sakit ini. khawatir. “aku udah baikan...” “hhh... syukur deh” Ia menghembusakan napasnya panjang, terdengar begitu lega sekali setelah mendengar jawabku. “ah, ini handphone kamu... aku coba buka kuncinya buat hubungin orang tua kamu dari tadi, tapi gak bisa” Ternyata itu yang sedari tadi coba di lakukannya dengan handphoneku. Dengan masih di peganginya oleh tangannya, kusentuhkan jariku untuk membuka kunci layar handphoneku. “0000? segampang itu??” Dia berkata segampang itu, tapi buktinya ia tak bisa membuka layar handphoneku. “hubungin orang tua kamu sekarang, soalnya aku harus pergi, okey” Ucapnya sambil bangun dari duduknya dan akan berjalan pergi. “tunggu...” Kataku dengan menarik lengan bajunya untuk menghentikannya. “apa lagi ehm?” “aku- ehmm... itu... makasih banyak” Akhirnya kuucapkan terimakasihku itu padanya. Ia tersenyum lalu mengusapi puncak kepalaku, “lain kali hati-hati ya Dek, sekolah yang bener...” Ucapnya, aku diam saja di perlakukan seperti anak kecil begitu olehnya. ‘Dek’ katanya, memangnya aku sekecil itu untuk di katai Adek olehnya, tak tahu saja aku ini sebentar lagi anak jadi wanita dewasa. “udah sekarang hubungin orang tua kamu, aku harus pergi soalnya... Luna” Dengan senyumnya yang amat mempesona, namaku di ucapkannya dengan nada yang begitu manis pada akhir kalimatnya itu “dah...” Ia benar-benar sudah melangkah pergi kini, mataku terus mengekori dengan tatapan tak rela pada dirinya yang sudah semakin menjauh dariku, sampai akhirnya ia keluar juga dari pintu masuk rumah sakit ini. “ah, aku lupa tanya namanya lagi...” Aku sibuk di buat bengong oleh sikapnya yang memperlakukanku seperti adik kecilnya itu, sampai baru aku sadar aku tak meminta nomornya, bahkan namanya saja aku tak tahu, lantas bagaimana aku mengembalikan pakaiannya yang sedang kupakai ini. drrrtt drttt drttt Kulihat satu panggilan masuk dari Fey, “LUNAA!!!” Teriaknya begitu kuangkat panggilan darinya itu, sampai jadi harus kujauhkan handphoneku dengan telingaku takut-takut gendang telingaku bisa meledak karena suara Fey yang amat menggelegar. “apa fey, pelan-pelan ngomongnya” pintaku, namun yang ada ia malah mulai mengoceh dengan suaranya bicaranya yang sangat kencang. “kamu di mana Lunaa!! gak ketauan kan??” “aku ketauan terus di keroyok, ada di rumah sakit deh sekarang...” Bohongku padanya, tapi kupikir mungkin bisa saja itu terjadi jika tak ada pria baik hati itu. “APAA!!! Luna... jangan boong! sekarang kamu dimana?!” Fey yang sudah panik kini semakin kubuat takut dan super panik sekali, ia sampai meledak-ledakan suaranya berbicara padaku. “di UGD, di Rumah sakit Medika, cepetan sini” Balasku sebelum kututup sambungan telpon darinya. Dan tak lama kemudian Fey benar-benar muncul dari pintu masuk UGD dengan raut khawatir, takut dan paniknya bercampur jadi satu di wajahnya itu. Ia terlihat percis seperti lukisan the scream, tangan yang berada di kedua pipinya, mulutnya menganga dan dengan matanya membulat seperti akan melompat begitu menemukanku yang sedang terbaring di ranjang ruang UGD rumah sakit ini. “LUNAAA!!!!” Ia berteriak keras sekali, histeris. membuat semua mata jadi tertuju padanya. Reaksi Fey mengalahkan paniknya seorang wali yang menemukan kerabatnya yang terluka parah bersimbah darah saja. Ia berlari ke arahku dengan sangat cepat, sampai setibanya di depanku ia langsung saja menangkup wajahku, memeriksa diriku dari ujung kepala hingga ujung kakiku. “Luna... kamu gak papa?? kamu kenapa bisa sampe di sini? ada yang celakain kamu? kamu tenggelem??” Fey menghujaniku dengan banyak pertanyaan begitu, ia sampai menggoyang-goyangkan tubuhku seolah aku ini sedang tak sadarkan diri. “Fey... aku cuma kedinginan kelamaan dalem air tadi” “terus kenapa wajah kamu jadi pucet banget kaya mayat gini Lunaaa!!! ah! aku padahal udah janji mau jagain kamu tapi-“ “Fey aku gak papa...” Kataku meyakinkannya. “serius?? terus itu baju siapa? kamu gak di apa-apain orang kan???” Aku tahu Fey tak bisa berpikir baik-baik saat ia sadar aku tengah mengenakan pakaian orang lain. “ini... ini tadi aku di kasih pinjem baju ini biar gak kedinginan” Jawabku hanya begitu, aku tak ingin memberitahu Fey soal insiden di stadion tadi. Tak bisa kubayangkan bagaimana reaksinya jika tahu aku yang baru saja mendapatkan napas dari mulut orang asing di stadion itu agar tak tertangkap basah sudah menyusup dan berenang dalam tempat latihan para atlet. “hh... seriuskan? gak bohongkan?” “iya... tadi kebetulan orangnya baik makanya aku kasih pinjem baju terus di anter juga ke sini” “hh... terus kemana sekarang orangnya?” Mata fey langsung mencari kesekeliling orang yang telah banyak membantuku itu, tapi itu jelas sangat percuma karena ia sudah tadi beberapa menit yang lalu. “udah pergi Fey” “kapan? siapa sih orangnya? bikin penasaran deh...” Aku terdiam tak tahu harus menjawab apa, karena aku sendiripun tak tahu siapa orang itu. “Gak jelas siapa... tapi... yang pasti dia punya banyak oksigen buat di bagi sama aku...” “Luna... kamu kaya orang yang baru aja di kasih napas dari orang itu deh... bicara kamu aneh tau gak, pasti efek samping kelaman di air...” Kini aku sudah benar-benar di buat kehabisan kata-kata, karena memang begitulah yang terjadi. Bagaimana Fey bisa menebaknya dengan benar. Lama aku terdiam, sampai Fey menatapku dengan sorot mata yang penuh dengan curiga. “Luna... jangan bilang... kamu tenggelem terus di kasih napas buatan sama dia? engga kan? gak mungkin kan??” “itu...aku-” drtt drttt drttt Baru saja aku berniat ingin membuat alasan pada Fey, getar handphoneku berbunyi dan kulihat satu panggilan masuk dari Billy. “Billy nelpon...” Padahal jariku tinggal menggeser tombol telpon hijau di handphoneku, tapi aku enggan sekali untuk menerima panggilan darinya. sudah membatalkan janji dengannya demi berenang saja itu cukup membuatku merasa bersalah. “kenapa gak di angkat Luna?” “ehmm... aku agak-” Panggilannya sudah matikannya tapi gantinya aku mendapat pesan darinya. Luna kamu di mana? sama siapa? tadi aku liat Fey sendiri di camp taekwondonya, gak sama kamu, kamu dimana? hubungin aku Membaca chat masuk dari Billy itu, aku serasa seperti kekasih yang nakal dan akan segera tertangkap basah telah selingkuh darinya. “Fey... gimana ini...” “Luna kamu bilang aja tadi kamu tiba-tiba pergi dan gak sama aku...” Aku tertunduk, rasanya ini tak benar karena trik tarik ulur itu aku malah jadi berbohong dan akan berbohong lagi padanya. “Fey, denger... kayanya aku mau berhenti lakuin trik tarik ulur itu deh... aku jadi boong terus sama dia” “terus kamu mau jujur?” Mendengar kata jujur itu, apa itu artinya aku harus bilang kalo aku baru saja mencoba menghindar dan sedikit menjauh darinya karena dia yang tak kunjung menyatakan perasaannya padaku, lalu aku pergi berenang dan karena suatu insiden aku sampai di kasih napas buatan sama orang asing. apa kata Billy saat ia mendengar ceritaku itu. “aku...”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN