“Luna... gimana suka?”
Dan yang di tanya saat ini malah sibuk terperanga, menyaksikan pemandangan yang sudah lama tak di lihatnya.
“Fey, gimana kamu bisa punya akses masuk ke stadion ini? atlet taekwondo suka berenang di sini?”
“ehmm... itu- itu- jadi sebenerny-“
“nanti aja deh ceritanya, aku mau turun”
Ucap Luna, saking exitednya, juga karena perasaan senang dan rindunya yang tak terelakan, ia memilih untuk tak peduli dengan bagaimana cara Fey bisa sampai membawanya masuk ke tempat para etlet renang melakukan latihannya saat ini.
Kilauan bening airnya tampak seperti kerlingan mata seseorang yang tengah menggodanya, di tambah banyaknya yang tertampung dalam kolam lintasan renang di hadapannya, seolah-olah sedang melambai-lambai padanya untuk segera menceburkan diri ke dalamnya.
Sampai akhirnya karena tak tahan dan terlanjur tergoda, jari Lentik gadis berkulit porselen itu kini sedang di pakainya untuk membuka satu per satu kancing kemeja seragam sekolah yang di kenakannya.
“Luna! ngapain buka baju??!!!“
Fey kaget bukan main saat melihat Luna yang tiba-tiba sudah membuka bajunya dan sekarang di tubuhnya hanya tersisa pakaian dalamnya saja.
“mau nyebur hehe”
Luna menjawab dengan santai di tambah juga nada biacaranya yang terdengar begitu riang, sangat kontras sekali dengan Fey yang kini memandangi tubuh Luna yang hampir tak berbusana itu, dengan mata paniknya ia awas melihat sekeliling.
“kenapa? sepi gak ada orang kan...”
Dan sedetik kemudian Luna benar-benar sudah menceburkan diri ke dalam air.
“LUNAA!!!”
Fey berteriak dengan kerasnya bersamaan dengan suara air yang menyambut tubuh Luna yang baru saja masuk ke dalam air itu. Ia berenang di lintasan nomor 3 pada kolam panjang dan besar di hadapan Fey yang terlihat jadi sangat gelisah kini. Bahkan Ia mulai menyesali ide gilanya yang membawa Luna ke stadion renang ini, yang rupanya di lakukannya dengan diam-diam dan sudah pasti tanpa mengantongi izin masuk dari pihak yang mengurus stadion renang tempat keduanya berada saat ini.
Sebagai remaja yang sempat memiliki rasa penasaran yang amat memuncak, Fey dan teman-teman ‘nakalnya’ tak jarang diam-diam mengintip bagaimana para atlet renang yang selalu berhasil membuat mata mereka di majakan dengan pemandangan tubuh sempurna juga di tambah tak banyak busana yang selalu para atlit renang kenakan. jelas sexy sekali di mata para remaja remaja penasaran itu.
Dan kebetulan Stadion tempat Luna tengah asik berenang itu, hanya berjarak satu gedung saja dari tempat camp taekwondo yang sudah menjadi rumah kedua bagi Fey, karena itulah dikala ia mendapat kejenuhan dan butuh hiburan, melihat tubuh bugar dan sempurna para atlet renang selalu berhasil menyegarkan pikirannya.
Tapi kali ini, bukannya menyegarkan pikiran, Fey malah harus jadi resah karena sahabatnya dengan tingkahnya yang selalu ada-ada saja.
Fey berlari mengikuti Luna ke ujung tempat Luna menuntaskan lintasannya. Dan ternyata Luna sampai lebih dulu, ia sama sekali tak kehilangan kemampuan berenangnya.
“Luna... cepet naik!”
Fey yang terengah-engah karena berlari mengikuti Luna barusan itu, langsung menyuruh Luna naik dan niatnya ingin membawanya cepat pergi.
“sekali lagi ya Fey...”
Luna menawar, jelas sekali kalau Luna enggan naik dan ingin berada lebih lama di kolam saat ini.
“ahh... Luna! aku harus kumpul!”
Fey mulai kesal dengan tingah Luna yang seperti anak kecil bandel yang susah di ajak pulang ketika sedang bermain.
“aku tunggu 10 menit lagi di depan, jangan telat”
“yaahh... katanya bebas berenang, kok malah gini sih Fey...”
Luna sedikitnya merasa kecewa pada Fey, Karena ia pikir, ia benar-benar akan di perbolehkannya untuk berenang sepuasnya di kolam yang mulai di sukainya itu.
“hhh... aku harus kumpul Lunaa!! aku gak bisa tinggalin kamu sendirian di sini”
Mendengar ucapan Fey itu, Luna terlihat sedikit berpikir sekarang. tapi sayangnya bukannya naik, ia malah menjauh dari Fey, bersiap untuk berenang kembali.
“yaudah latihan aja sana... masih ada satu jam sampe semua atlitnya dateng kan??”
“Lunaa...”
“Bye Fey...”
Luna benar-benar mengabaikan Fey yang sekarang jadi sangat kahwatir juga serba salah di buatnya. Luna hanya terus ingin menyelami air kolam lintasan renang yang sangat di rindukannya itu. ia bahkan sampai tak ingat soal tangannya yang dulu sempat mengalami cedera.
....
Tiga puluh menit berlalu, Luna menghabiskan waktunya sendirian karena Fey yang memilih untuk pergi kumpul taekwondonya dari pada harus di marahi oleh Saboem-nya.
*(Saboem: panggilan pelatih dalam olahraga taekwondo)
Dengan pandangan yang sedang menatapi langit-langit stadion besar dan nyaman itu, Luna terus menggerakan kaki-kakinya juga tangannya santai dalam gaya punggungnya.
“hhh... nyaman banget... udah lama gak kaya gini...”
Wajahnya tak henti-hentinya melengkungkan bibirnya, terlampau senang karena bisa menikmati momen yang sudah lama di rindukannya itu.
Tapi tiba-tiba saja terdengar pintu berderit, Luna refleks berhenti berenang. Lalu di bangunkannya tubuhnya itu, dengan mata yang langsung di arahknya pada pintu masuk yang baru saja terdengar di bukakan oleh seseorang.
“Fey??”
Luna memanggil nama sahabatnya itu, ia hanya berpikir mungkin karena Fey begitu mengawatirkannya sampai kemudian ia memilih kembali untuk menemui dirinya.
“Fey?”
“Fey itu kamukan?”
ketiga kalinya Luna memanggil tapi masih taka da jawab.
Sampai seketika Luna di buat amat kaget, ia mematung dan tak bisa berkutik saat tahu ternyata bukan Fey yang muncul dari balik pintu itu melainkan seorang pria bertelanjang d**a, dengan penutup kepala juga kaca mata renang yang belum bertengger sempuran di kepalanya, yang terlihat bersiap untuk bernang di tempat Luna berada.
“Loh... atlet baru?”
Tanya Pria berwajah maskulin yang jelas menunjukan kematangan usianya yang tak lagi remaja.
“ehm?”
Luna hanya bisa begong saja tak bisa menjawab pertanyaan pria yang sedang menatapnya heran itu. dan kemudian mata pria bertubuh kekar khas atlit itu menemukan seragam sekolah Luna dan di pungutlah kemeja berlogo SMA ST. Luois 1 itu oleh tangannya.
“kamu bukan atlit sini kan?”
Tanyanya, dan jelas sekali saat ini bahwa Luna sudah tertangkap basah menyusup ke stadion itu.
“itu- ehm... aku-“
Luna gelagapan bertingakah layaknya orang kepergok melakukan kesalahan yang sedang mencari alasan.
“Luna...”
Pria itu bahkan sampai mengantongi nama penyusup cantik yang berenang diam-diam ditempat seharusnya ia berlatih dari papan nama Luna yang terpasang di d**a kemejanya.
“iya... oh, maaf aku- aku emang gak seharusnya di sin-“
Baru saja Luna ingin berbicara, tapi kemudian terdengar suara ramai beberapa orang mengobrol dari luar gedung, di tambah dengan langkah kaki mereka yang semakin mendekat.
Ketahuan oleh satu orang saja ia sudah di buat tak bisa berhenti ketakutan sampai gemetaran, apalagi harus di keroyok oleh banyak mata yang akan melihatnya.
Luna dengan resah memperhatikan penampilannya saat ini, ia jelas sangat tak mungkin muncul dalam keadaan yang hanya mengenakan pakaian dalamnya saja itu.
Dan Raut takut, gelisah, sampai putus asa tak tahu harus berbuat apa, jelas terbaca oleh Pria yang masih memandangi Luna, yang mengapung dengan bingung di dalam air itu.
“hh... nyusahin...”
Gumamnya pelan, tapi entah kenapa pria itu merasa terpanggil harus melindungi Luna dari mata pria-pria yang akan memandangi tubuhnya yang tak berbalut busana lengkap itu. Meski memang pada real-nya jarang ada atlit wanita yang memilih memakai baju renang tertutup. Tapi Pria itu sangat tahu pasti kalau bukan pakaian renang yang sedang di kenakan Luna saat ini, melainkan hanya pakaian dalamnya saja.
Sampai kemudian jiwa gentle dan rasa tanggung jawab yang ada di dalam diri pria itu, menggerakan hati juga tubuhnya untuk menolong Luna.
Yang pertama kali di lakukannya adalah menghilangkan jejak keberadaan Luna, yaitu dengan menyembunyikan seragam seolah Luna ke dalam loker yang ada di pingiran kolam.
“itu-...”
“suttt... jangan banyak ngomong...”
Ucapnya singkat,
Pelan dan perlahan ia berusaha tak membuat suara saat menceburkan diri ke dalam kolam dan mendekat pada Luna.
Sampai kemudian ketika atlit-atlit renang putra itu masuk ke dalam stadion, Pria itu dengan sengaja membawa Luna buru-buru menyelam bersamanya ke dasar kolam. keduanya kini sudah bersembunyi dengan merapatkan diri pada sisi dinding dasar kolam agar tak ketahuan oleh mereka mereka yang baru saja masuk itu.
“eh denger-denger si Dewa udah mau di keluarin dari tim ya?”
“serius? terus gimana? karirnya ancur dong...”
“paling-paling juga dia ujungnya ngelamar jadi coach renang anak TK and yaa kalo beruntung ya dia bisa jadi guru olahraga anak SMA...”
Percakapan para atlit itu terus berlanjut, Sementara di bawah sana Luna sedang berusaha bertahan dan berjuang bernapas di dalam air,
lima menit berlalu, dan sialnya percakapan para atlet putra itu terus berlajut, sampai sampai Luna kini mulai kehabisan cadangan oksigennya,
‘s**t! dia mulai keabisan napas lagi’
Gerutu pria itu dalam hati saat melihat Luna mulai mengeluarkan banyak gelembung air dari mulutnya. Pria itu mengusapi lengan Luna, lalu menangkup wajah yang sudah nampak pucat pasi itu, memintanya untuk bertahan sebentar lagi saja.
Tapi sayangnya Luna jadi begerak gelisah karena air mulai memasuki saluran pernapasanya. Luna berniat mengambil napas saja dengan naik ke permukaan, tapi pria itu jelas tangkas dan kuat menahan Luna.
Tubuh Luna di cengkramnya kuat, jelas sekali Luna brontak, sampai tangannya memukuli d**a pria yang sedang berusaha menyelamatkan diriya dari mata para laki-laki di atas.
Pria itu menatap Luna lekat, pikirannya berputar-putar terus bertanya pada dirinya sendiri. ‘haruskah’, ‘haruskah aku sampai sejauh itu?’ tapi sayangnya ia tak miliki ide lain untuk membuatnya bertahan di dalam air kolam ini selain memberikannya sisa oksigen yang di milikinya.
“mpphhh...”
Luna menolak keras bibir yang sedang memaksa ingin mendarat di bibirnya itu, ia jadi tak bisa diam sampai membuat gerakan pada air kolam.
“oh... ada orang?”
Mendengar pertanyaan itu dari salah satu atlit yang berada di atas mereka, Pria itu tak ada cara lain selain memaksa Luna untuk menghirup oksigen dari mulutnya. Sampai tangan kokohnya kini mulai memaksa pinggang dan punggung Luna untuk mendekat, merapatkan diri pada tubuhnya.
Dan akhirnya Luna mau tak mau jadi menerima bibir juga oksigen yang di transfer dari mulut pria itu. Luna yang semula menolak langsung berubah dalam sekejap, ia jadi sangat rakus menghirup dan menyesap segala yang ada di dalam mulut pria yang sudah mau berbaik hati memberikan oksigen untuk membantunya bernapas lebih lama. Luna sampai memejamkan matanya, amat larut sampai tangannya juga di kalungkannya pada leher pria asing yang sedang berpagutan memberi apa yang sangat di inginkan dan di butuhkannya.
“engga deh... masa ada yang tahan di air hampir sepuluh menit sih”
“ish... jangan-jangan hantu lagi...”
“jangan bikin gue takut dong...”
“cabut cabut...”
Sampai akhirnya suara percakapan sudah tak terdengar lagi dari atas, Pria itu sadar ini adalah saatnya baginya untuk berhenti memberinya pasukan oksigen.
Bibir yang saling bertautan dalam air itu, perlahan mulai melonggar hingga kemudian terlepas sudah kini. Tangan yang semula melingkar erat pada pinggang Luna, yang berusaha menahan tubuhnya untuk tetap mendekat sekarang ini juga sudah sedikit melonggar. Begitu juga dengan mata yang semula Luna pejamkan, kini di bukanya dan di pakainya untuk menatapi wajah pria yang sudah berjasa menyelamatkannya dari rasa malunya jika ia sampai muncul keluar air kolam.
Sudah menyusup, berenang tanpa izin, hanya mengenakan pakaian dalam, mungkin mereka akan menganggap dirinya itu orang gila yang nyasar jika tak ada pria asing nan baik hati di hadapannya itu, begitu pikir Luna.
Dan seketika Luna menunduk malu, akal sehatnya baru saja kembali setelah apa yang telah di lakukannya dengan pria tak di kenalnya itu.
‘aku... aku barusan... ciuman? sama orang asing??? OMG!! GILA KAMU LUNAAA!!!’
Luna mulai mengutuki dirinya sendiri, ia sadar tingkahnya saat ini lebih gila dari apa yang Rey pernah lakukan padanya, setidaknya Luna membiarkan Rey menyentuhnya saat itu, karena ia sudah mengenalnya, tapi ini malah dengan orang asing yang pertama kali di temuinya.
“hukk...”
Luna kembali mengeluarkan banyak gelembung dari hidungnya, Pria itu sadar kalau Luna mulai kehabisan napasnya lagi. Dan dengan tangannya yang masih berada di pinggang Luna, di angkatlah tubuh Luna itu untuk naik ke atas.
“hhh... hhh...”
Begitu mendapat udara yang sempat tak bisa di temukannya tadi, Luna langsung terengah-engah dan batuk-batuk. banyak air yang keluar dari lubang hidung dan mulutnya.
Tahu kondisi Luna yang tampak tak baik-baik saja itu, seketika perasaan takut dan khawatir akan gadis yang berada di dahapannya itu kini menyeruak, Pria itu takut kalau sampai Luna terluka karena memaksanya berlama-lama di air.
Luna kemudian di angkat pria itu untuk duduk di pinggiran kolam, sementara sang penyelamatnya masih berada di dalam air, tengah menatapi Luna dengan intens, tangannya mengusapi semua air dari hidung dan mulut Luna tanpa merasa risih ataupun jijik.
“kamu... gak papa?”
Tanyanya, Luna yang masih berusaha menormalkan napasnya ia tak bisa menjawab tanyanya itu. Ia malah memukuli dadanya, berharap bisa memompa semua air yang masuk ke dalam saluran pernapasannya.
“jangan gitu... nanti kamu tambah sakit”
Ucapnya sambil menahan tangan Luna, dan mendekap tubuh Luna yang terlihat gemetaran, menggigil kedinginan.
“kita ke rumah sakit, aku takut kamu kenapa-kenapa”
Setelah berkata begitu, ia kemudian naik dan berjalan cepat untuk mengambil handuk untuk membalut tubuh Luna.