“tarik ulur?? kamu kira aku sama Billy itu layangan apa, jangan becandain aku Willy... aku tahu pengetahuan aku emang gak seberapa di banding kalian, tapi ini tuh persoalan hati, seharusnya kamu gak jadiin bahan candaan gini dong”
Balasku, entah kenapa aku bisa sampai meresponnya sesensitif itu.
Sementara Willy yang mendengar nada bicaraku yang sedikit kesal begitu, ia jadi menatapku dengan satu alis yang sedang di naikannya kini.
“Luna, siapa yang mau bikin persoalan hati kamu jadi bahan candaan sih, orang aku cuma mau usulin cara biar kamu tuh cepet jadian sama Billy”
“boong, cara apaan coba tarik ulur...”
Balasku begitu,
“Luna aku seriusan, itu tuh cara efektif buat dapetin hati gebetan...”
Tegasnya padaku, Willy kemudian terlihat membuang napasnya banyak-banyak seperti yang selalu di lakukan ayah dan Fey saat harus menjelaskan sesuatu padaku,
“itu maksudnya trik Luna... di kencengin terus di kendurin...”
Aku mengerjapkan mataku berkali-kali. Sebenarnya ini soal hubungan atau soal apa sih, aku semakin tak mengerti dengan arah pembicaraan Willy.
“Billy gak seelastis karet yang bisa di tarik kenceng terus bisa juga dengan seenaknya di kendurin ya Will...”
“bukan Billynyaaa!!! huffttt.... tapi cara kamu deketin Billy nya Lunakuh, cintakuhh...”
Otaku stuck tak bisa memikirkan bentuk cara pendekatan yang di bicarakan Billy itu, sampai kulirikan mataku pada Fey, berharap ia mau menjelaskan dengan sesuatu yang lebih singkat dan bisa kumengerti.
“Luna itu tuh kaya strategi buat uji kesungguhan Billy dan seberapa serius dia mau jalanin hubungan sama kamu, caranya di kasih banyak perhatian terus pelan-pelan di kurangin intensitasny-“
“kenapa? kenapa aku harus kurangin perhatian aku sama Billy, kalo dia sedih atau marah gimana?”
Tanyaku memotong kalimat penjelasan Fey.
“hhh... justru ya kalo dia sedih dan marah otomatis dia bakal jadi serius dan pengen cepet-cepet milikin kamu Lunaa...”
“oh ya? kenapa?”
Fey kini malah beralih menatap Willy, ia jelas berharap kalau Willy mau menjawab pertanyaanku itu.
“gini Luna... kalo kamu jauhan terus jarang ketemu sama orang yang kamu suka, kamu pasti kangen kan?”
Aku mengangguk pada pernyataannya itu.
“nah kalo kamu buat Billy terus kangen sama kamu dengan agak jauhin dia bentar, mungkin aja dia bakal lebih cepet nembak kamunya... karena orang yang bener-bener suka sama kamu itu, pastinya gak mau lama buat jauh-jauhan kan...”
“aahhh... initinya buat Billy kangen aku? gitu?”
“NAH!! Pinter... akhirnyaaaa”
Willy dan Fey kompakan berkata begitu, mereka sampai melakukan tos karena perkataan sehati yang baru saja mereka ucapkan.
“okey besok aku bakal jauhin dia”
Akhirnya kuputuskan untuk begitu. Tapi kemudian ada sedikit karaguan dalam hatiku, bagaimana kalau sampai malah aku yang jadi kangen berat karena memilih untuk menjauhinya.
“demi jadian sama Billy”
Tekadku.
~~~
Ost Coba Katakan
...
Coba-coba katakan kepadaku
Bahwa kita sedang berjalan
Menuju satu alasan
Janganlah kau katakan
Bila kita memang tak ada tujuan
Dari apa yang dijalankan
Aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan
Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini
Coba-coba katakan kepadaku sekali lagi
Bila kita memang benar akan kesana
Buktikan dan buatlah kupercaya
Bahwa kita bisa
Mewujudkan bahagia
Aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan
Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini
Ohh-oh habis sudah semua rangkai kata
T'lah terungkap semua yang kurasa
Yang kuingin akhir yang bahagia, hoo
Aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan
Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka
Aku tak ingin terus terdiam memandangi harapan
Terlena akan manis cinta dan berujung kecewa
Aku tak ingin terus menunggu sesuatu yang tak pasti
Lebih baik kita menangis dan terluka hari ini
Wo-ho-ho dudu-du-du u-hu
Wo-ho-ho dudu-du-du u-hu
Yang kuinginkan
Satu tujuan
Sebuah kenyataan
Bukan impian
Bukan harapan
Bukan alasan
Satu kepastian
Coba katakan
***
Author pov
Hari ini Luna berangkat ke sekolah seperti biasanya. dan seolah sudah seperti di beri magnet, pandangan Luna selalu saja berhasil menemukan Billy yang kini tengah melambaikan tangannya padanya. Refleks ia kemudian balas melambaikan tangannya dengan senyum cerianya.
Dan ketika ia hampir saja akan berlari ke arah laki-laki yang sedang sangat di gilainya itu, Luna melihat Willy yang saat ini berdiri tak jauh darinya, sedang menatapnya dengan menggelengkan kepalanya, seolah mewakili kata untuk tidak lari menghampiri laki-laki incarannya.
“ah... lupa tarik ulur, kayanya hari ini aku gak usah lari samperin dia deh...”
Gumam pelan Luna, dan kini keduanya jadi bertatapan dalam jarak yang cukup jauh. Billy jelas menatap Luna dengan penuh tanya dan keheranan karena sikap tak biasa Luna.
Biasanya setiap pagi Luna selalu berlari dengan riangnya lalu menyapanya dengan senyum cantiknya, dan hari ini malah harus absen dan menyisakan question mark besar di kepala Billy.
“Lunaa...”
Billy hari ini yang jadi menghampiri Luna, dan betapa terkejutnya Luna mengetahui hal itu, ternyata trik tarik ulur di percobaan pertamanya berhasil membuat Billy berlari padanya.
“hey...”
Sapaan Luna pagi ini di buat hanya singkat begitu.
“kamu... gak papa kan?”
Tanya Willy sadar Luna tak bersikap seperti hari-hari sebelumnya. Dan kemudian Luna pun sengaja tak menjawab dengan suara manis seperti biasanya pertanyaan Willy barusan itu, ia hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“kirain kenapa... kita ke taman yu...”
“ayo...”
Luna tak bisa menolak untuk yang satu itu, karena duduk dengan Billy di bangku taman adalah momen yang selalu ingin di habiskannya berdua, mengobrol dan bercerita satu sama lain.
Billy langsung meraih tangan Luna dan di tuntunnya ia berjalan menuju taman sekolah yang merupaka tempat favorit keduanya.
Billy dan Luna sudah duduk bersama saat ini. Billy tak melepaskan genggaman tangannya pada Luna, ia merasa terlalu nyaman dan enggan untuk berpisah dari tangan halus perempuan cantic yang sedang di pandanginya sekarang itu.
“Luna...”
“ehm?”
“aku denger semalem Willy main ke rumah kamu ya?”
Willy semalam membuat instastory bersama dengan Luna di rumahnya, karenanya Billy bisa mengetahui hal itu.
“semalem Willy sama Fey minta di bantuin editing video tugas bahasa inggris itu, jadi ya... gitu deh mereka main di rumah aku dan aku yang jadi kerjain tugas mereka”
“oh”
Luna menatap Billy yang hanya meresponnya dengan ‘oh’ begitu.
“kenapa?”
“enggak papa... ehmm... Luna, kalo nanti aku main ke rumah kamu gimana?”
Luna membulatkan matanya tak percaya dengan niat Billy itu,
“ehm, boleh...”
Sedikitnya Luna bisa menyimpulkan kalau Billy saat ini mulai ingin melangkah lebih serius soal hubungannya dengan diri Luna.
“Billy...”
Luna memanggilnya dengan nada yang lebih lemah dari pada biasanya,
“kenapa?”
“engga jadi deh...”
Luna menggantung pembicaraannya seperti itu, dan itu sudah barang pasti membuat Billy jadi sangat penasaran, ia jadi yakin kalau ada yang salah dengan Luna hari ini.
“Luna... apa kamu lagi ada masalah?”
Billy sampai menerka seperti itu. Luna menggelengkan kepalanya. dan itu semakin membuat Billy jadi kebingungan.
“hhh... kamu bisa bicara sama aku kalo emang kamu ada masalah...”
“engga ada kok Bill, aku cuma lagi gak mood aja, kayanya bentar lagi aku dateng bulan”
Luna beralasan demikian, padahal sejujurnya ia sudah tak tahan dengan Billy yang masih tak kunjung menyatakan perasaannya di saat ia kini sudah lebih dulu menggenggam tanganya. Luna bertanya-tanya apa arti kebersamaan ini baginya, genggaman sampai belaian lembut di rambutnya.
“kita ke kelas yu... udah mau masuk jam kayanya”
Ajak Luna, dan Billy mengangguk sambil tersenyum mengiyakan ajakan Luna itu.
Dan selama berada di kelas, Luna sangat jelas terlihat sangat tak bersemangat. wajahnya datar sampai teman di sampingnya cukup tahu ada yang salah dengan Luna hari ini,
“kenapa?”
Fey bertanya pelan pada Luna yang sedang mencatat materi dari layar infokus di depan kelas.
“tau deh, males...”
“Billy?”
Luna diam, dan itu cukup untuk mengartikan jawaban iya-nya Luna.
“ahh... Luna, denger ya kamu itu gak usah terlalu musingin cowok, kamu itu bisa happy sendiri kok, aku aja jomblo 16 tahun biasa aja, seneng-seneng aja... kamu juga harus bisa enjoy dulu sama diri kamu sendiri sebelum mau dan bisa berbagi sama orang lain...”
“gimana caranya aku enjoy sendiri? selama ini aku sendiri itu pastinya bukan dapet enjoy tapi dapetnya kesepian Fey... plus ocehan ayah aku...”
Fey kemudian membisikan sesuatu yang membuat kedua bola mata Luna membulat sempurna sekarang ini.
“beneran ada? terus emang aku bisa masuk sana”
“iya... kamu bisa bebas berenang di sana, asal jangan sampe ketauan aja... udah lama gak berenangkan?”
Fey yang sempat mendengar cerita Luna yang senang sekali menghabiskan waktunya berada dalam air yang tenang, dan merupakan mantan calon atlit renang saat ia berada di Paris, tentu dengan membawanya ke stadion renang terbesar tempat para atlet nasional berlatih akan bisa mengapus kekesalannya tentang Billy.
Dan Luna tentu saja tergoda untuk mencobanya, ia sudah lama tak berenang lagi sejak peritiwa cedera yang di alaminya saat sedang bersiap untuk menjadi atlet.
“okey deh, berarti kamu latihan taekwondo, aku berenang...”
ucap Luna setuju,
“tapi Billy... rencananya dia mau main ke rumah aku...”
Luna hampir saja melupakan janjinya bersama Billy.
“batalin, kan lagi tarik ulur juga jadi jauhin dia hari ini aja, buat dia kangeeeen sekangen kangennya sama kamu...”
“Fey! Luna! jangan ngobrol di kelas saya!”
Fey dan Luna keasyikan mengobrol sampai mendapat teguran dari guru yang sedang mengajar di depan.
“maaf Pak...”
Luna dan Fey bersamaan meminta maaf pada guru matematikanya.