“Luna... jadi kamu sama Billy udah jadian?”
Aku terdiam mendengar pertanyaan Fey itu, tak terpikirkan sebelumnya olehku soal seperti apa status hubunganku dengan Billy sampai sekarang ini, aku hanya terus sibuk dengan perasaanku yang selalu di buat berbunga-bunga olehnya.
“belum...”
“belum??? dia gak bilang kalo dia suka sama kamu gitu? terus minta kamu jadi pacarnya?”
Aku menggelengkan kepala sebagai jawabku.
“lah... terus kalian belum jadian tapi udah saling pegang-pegang gitu?”
“ya itu... itu-“
“Luna coba inget lagi apa yang udah Billy lakuin sama kamu”
Sesuai pintanya aku merecall semua hal yang pernah Billy lakukan padaku. Dari mulai pertemuan pertamaku dengannya sampai tadi di kantin aku duduk berdampingan bersamanya.
“ehmm... billy pernah pegang tangan aku, terus peluk aku waktu hari itu, ehm... ah dia pernah bantu papah aku jalan ke UKS, terus... elus-elus kepala aku*(favorit hihihi) ... kayanya udah deh...”
Aku berusaha meruntunkan apa-apa saja yang pernah Billy lakukan padaku.
“udah sampe elus-elus terus peluk-peluk juga Si Billy? waah belum jadian udah gini gimana pas jadian ckckk”
“tapi itukan reflex Fey! kebetulan aja dia ada waktu pas aku takut liat banner Si Rey itu, dan aku tau kok dia gak maksud buat jahat sama aku, dia itu cuma mau lindungin aku...”
Balasku, entah kenapa aku tak terima saat Fey membicarakan Billy, yang di buatnya jadi terdengar seperti laki-laki tak sopan yang ingin memelukku, padahal saat itu kalau dia tak ada aku bisa langsung jatuh dan ketakutan sendirian.
“ah tapi seengganya dia gak pegang-pegang area privasi kamu... kaya tangan kamu itu...”
“FEY!!! itukan gak sengaja, aku gak tau waktu itu....”
Balasku, Dan Fey malah tertawa puas sekali saat ini, dia selalu saja menjadikan topik itu untuk mengolok-olokku.
“hahahhh... apa? benjolan? hahahhh”
Dia mengungit-ungkit soal benjolan itu lagi, menyebalkan sekali dia itu.
Tapi kemudian aku jadi terpikir soal perkataannya tadi. kalau Billy memang belum pernah menyatakan perasaannya padaku, dia juga masih belum memintaku untuk menjadi kekasihnya.
“terus... aku harus gimana?
“yaa... maunya gimana? gak mungkin kamu suruh dia pegang punya kamu biar impas gitu...”
“aaahh!!! Fey bukan soal ituuu...”
Lama-lama aku bisa jadi marah sungguhan padanya, karena dia yang terus saja mengungkit kebodohanku saat itu.
“terus soal apaa Lunaa”
Fey berdiri di depanku dan mencubiti kedua pipiku, lalu mengoyangkan wajahku kekanan dan kekiri layaknya boneka mainannya kini.
“Billy... gimana kalo dia ternyata gak punya perasaan sama aku makanya dia gak nyatain cintanya sama aku... apa aku bakal di mainin sama cowok buat ke dua kalinya?”
Tiba-tiba saja perasaan tak tenang menghinggapi diriku, seketika aku cemas akan kembali kecewa dan terluka karena telah percaya pada laki-laki yang aku pikir baik padaku.
“hhh... tunggu dulu aja...”
“tunggu? sampe kapan? kalo dia gak nyatain perasaannya sama aku sampe lulus itu gimana?”
“ya semua bakal indah pada waktunya kok”
***
satu hari
dua hari
tiga hari
.....
satu minggu kemudian....
Dear Diary
Aku kesel
Aku pengen marah... tapi gak bisaaaa
kesel kesel kesel!!!
“aahhh!!!”
Saking kesalnya aku jadi mencoreti buku diaryku, aku tak sedang mood menulis diary malam ini.
“Billy kenapa masih belum nembak aku sih... ini udah lewat seminggu aku nunggu!!”
Tok tok tok
Aku menoleh dan kulihat kepala ayahku menyembul
“Luna ada temen kamu di bawah”
“siapa?”
“ayah lupa gak tanya namanya, cowok....”
Aku langsung menurunkan kakiku dan berlari keluar kamarku.
‘mungkin itu Billy... dia dateng buat aku, malem-malem gini... pasti dia mau nembak aku sambil bawa bunga malem ini... OMG!!!’
Dengan riang dan jantung yang berdebar sangat tak sabaran, juga hati yang penuh akan harap, aku berlarian menuruni tangga menuju teras depan rumah.
“Bill- loh... Willy? Fey?”
Harapku hancur jadinya,
‘kenapa bukan Billy yang datang bawa bunga! ini yang ada malah Fey sama Willy yang ada di hadapanku sekarang....’
“Luna... pinjem kamera dong, buat ngerjain tugas video bahasa inggris itu loh...”
Aku curiga kalau Fey tak hanya berniat ingin meminjam kameraku saja.
“pake handphone kan bisa?”
“ehmm... sebenernya mau sekalian minta bantuan buat editin sih hehe”
Sudah kuduga, aku tahu ujung-ujungnya mereka akan meminta bantuan seperti itu. Fey yang hanya selalu tanding dan tanding saja kerjanya, bahkan seminggu ini hanya dua hari saja ia berada di kelas karena sibuk mempersiapkan pertandingannya, sudah jelas ia tak akan tahu materi dan bagaimana pengeditannya, kalau Willy ya... aku tahu dia pasti hanya malas saja.
“hhh... yaudah ayo...”
Kataku mengiyakan, dan raut senang kini mulai menghiasi wajah mereka, Fey bahkan sampai merangkulku dan mencium pipiku.
cup cup cup
“Luna baik deh hehe”
Dia tiba-tiba memujiku begitu, dasar kalau saja ada maunya pasti begitu.
“jadi ini siapa?”
“oh aku Willy Om, kayanya waktu itu aku sempet sekali liat Om waktu jemput Luna di sekolah deh”
“ah! yang ketua kelas itu...”
Willy mengangguk dan ayahku kini mengajakannya bersalaman sambil menepuki punggunya ramah.
“ah iya, orang tua kamu ikut ke pertemuan orang tua kemarin? Fey, kayanya Om gak liat Bunda kamu di pertemuan wali siswa soal skandal kemarin deh”
Tanya ayahku pada kedua temanku itu.
“ah... biasa Om ada sift di rumah sakit yang gak bisa di tingal”
“kalo Aku di wakilin wali om, orang tua aku stay di Bali soalnya”
“gitu ya... yaudah kalian kerjain tugasnya taman belakang aja biar enak suasannya, nanti om bawain minuman sama cemilan buat kalian”
“yeayyy makasih Omm!!”
Fey memang yang selalu paling bersemangat kalau urusan makan, dan ayahku sudah biasa dengan dirinya yang memang selalu bermain di rumahku ini untuk mengabiskan waktu bersamaku di saat ia tak ada latihan taekwondonya.
“kita kerjain tugasnya dulu ya Om...”
Pamit Willy, dan aku hanya tersenyum pada ayahku yang sudah mau menyambut teman-temanku dengan ramahnya.
Sudah berada di taman belakang rumahku, kini aku mulai dengan memasang kameraku untuk merekam Willy dan Fey yang akan melakukan tugas bahasa bahasa inggris materi text report. Dan tak butuh waktu lama bagi keduanya untuk melakukan rekaman itu. Sampai kini giliranku untuk melakukan editing video mereka.
“eh, Luna hasil pertemuan orang tua sama pihak sekolah itu gimana? ayah kamu cerita gak?”
Tanya Fey padaku penasaran.
“dari cerita ayah aku sih chaos banget katanya, orang tua pada marah-marah, maki maki sekolah, terus juga katanya orang tua siswa minta pertanggung jawaban pihak sekolah soal chat vulgar yang gak baik gitu malah jadi omongan anak-anak satu sekolah...”
Kuceritakan kembali apa yang kemarin malam aku dengar dari ayahku.
Jadi setelah skandal sexting yang di sebar Si Gossip Girl yang sekarang masih buron itu, banyak orang tua yang protes, menyayangkan kenapa hal seperti itu bisa sampai kecolongan pihak sekolah dan jadi bahan perbincangan anak-anaknya, dan ayahku juga jadi satu dari yang protes seperti itu.
Ayah jadi uring-uringan tak tenang mendengar skandal sexting itu, karena dampaknya akan buruk sekali bagi pergaulanku, ungkapnya begitu padaku. Sampai akhirnya dua hari yang lalu sekolah mengadakan pertemuan soal skandal sexting yang masih ramai dan semakin ramai saja jadi perbincangan di sekolah.
“tapi... sebenernya kan sextingnya itu mereka lakuin melem-melem, di luar jam sekolahkan... terus kenapa sekolah yang di salahin... kan itu berarti kelalaian orang tua si Hany kan, yang sampe biarin anaknya pacaran over gitu...”
Perkataan Willy itu memang ada benarnya juga, karena tak adil jika hanya sekolah yang di salahkan atas tindak kenakalan remaja di sekolahku itu.
“sekolah kena amuk itu karena kecolongan ngebiarin anak-anak polos kaya Luna ini sampai tau bahasan vulgar kaya gitu...”
Tambah Fey, Aku jadi mendelik padanya, entah kenapa ketika dia memanggilku polos begitu, ada sedikit rasa tak terima, karena kan sekarang aku sudah lebih tahu dan tak sepolos dulu.
“Jadi... sebenernya orang tua itu kecewa sama pihak sekolah karena tempat yang seharusnya buat anak-anak mereka dapet ilmu yang bermanfaat, tapi malah harus temuin suatu pergaulan yang sesat... itu yang sangat di sayangkan sama orang tua”
Ayahku datang dan langsung saja ikut masuk ke dalam pembicaraan, sambil berjalan menenteng banyak sekali cemilan dan minuman.
“ah... gitu ya Om”
“ehmm... itu buruk banget soalnya, bisa jadi tindak criminal, soalnya sebarin chat vulgar, gambar ketelanjangan, itu masuk ke pelanggaran pornografi dan itu sangat buruk sekali dampaknya untuk anak sekolah kaya kalian...”
“buruknya di mana yah?”
Tanyaku, karena bukankah kita hanya mungkin akan melihat saja dan tak ikut melakukannya, lalu di mana bahayanya.
“bisa jadi inspirasi, bikin penasaran, pengen coba-coba eh ujung-ujungnya terjerumus juga Lunaa... gitu kan om?”
“pinter tuh Willy... sekarang udahan dulu bahas itunya dan kerjain aja tugasnya, nanti kalian kemaleman terus di cariin orang rumah, gimana?”
“iya siap om”
Setelah berkata begitu ayahku kembali ke ruang kerjanya.
Dan kini aku mulai kembali sibuk mengedit video tugas Willy terlebih dahulu.
“Bill- Ah, Willy maksud aku... ini mau di tambahin opening gak?”
“ciee... di kepalanya Billy mulu...”
Aku diam saja karena tak bisa ku berdalih kalau di kepalaku memang hanya Billy, Billy dan Billy saja seminggu ini.
“hayooo... mau aku telpon gak suruh dia kesini? siapa tau-“
“Will! jawab ini mau di tambahin opening videonya atau enggak?”
“ooh... terserah kamu deh, yang penting jadi”
Ucapnya tampak tak peduli, aku menghela napasku panjang.
‘Tugas siapa yang kerja malah siapa’
Heranku dalam hati, bahkan pemandangannya semakin aneh saja sekarang ini. di saat aku serius mengerjakan tugas mereka, Fey dan Willy yang punya tugas, kini malah tampak serius memantengi handphone mereka.
“eh... ini seriusan??”
Willy tiba-tiba menujukan berita di handphonenya, dan itu masih seputar berita perempuan di chat vulgar itu.
“waahh... kok beritanya makin gila aja sih, gak selesai-selesai deh”
Aku setuju dengan perkataan Willy itu. Banyak berita yang seperti sengaja di kembang-kembangkan, seperti yang baru saja Willy perlihatkan, yang menyatakan kalau Hanny memang perempuan murahan dan gampangan yang selalu di jadikan mainan anak-anak nakal kelas 12. ini benar-benar merusak. dan aku merasa ini tak benar.
“tapi... dari semua berita yang beredar, kenapa Cuma Hany aja yang di sudutin, maksudnya kenapa semua orang cuma bicarain Hany-nya aja, yang udah jelas kalo dia itu korban pacarnya, yang udah gak sopan minta foto dia lagi telanjang dada... kenapa gak ada yang ngehina cowoknya yang jelas-jelas b******k itu”
Refleks aku ngedumel kesal sambil mengerjakan editing video.
“wihhh tumben... Fey, Luna kesambet apa bisa ngomong kaya gitu...”
“kan gue gurunya Will, bentar lagi dia bisa hajar semua cowo b******k di sekolah hahaha”
Fey malah menimpali ucapan Willy dengan canda seperti itu. tapi mungkin aku bisa sampai berkata seperti itu karena hampir saja jadi korban kebrengsekan laki-laki saat itu.
“tapi emang di sana gak adilnya sih... makanya cewek tuh bener-bener di tuntut harus bisa menjaga mahkota dan kehormatannya, karena sekalinya ternodai ya... kayanya bisa jadi tinta permanen seumur idup deh... beda sama cowok, perjakanya ilang juga gak ketaua-”
“kenapa semua ulah cowok tuh bikin pusing pusing pusing!!!!”
Kesalku sambil kutekan tekan tombol enter di laptopku dengan kerasnya.
“duh... jangan menggeneralisasikan gitu dong, ada cowok yang gak bikin pusing”
“siapa?”
“nih”
Willy menunjuk dirinya sendiri dengan percaya dirinya.
“hhh... sama aja, bikin pusing, bikin nunggu, bikin capek, bikin-“
“oooh tau ini mah.... alamatnya sama Billy kan? kenapa kenapa... biar aku ceramahin dia yang udah bikin Luna yang cantic bin baik hati ini jadi kesel banget gini”
Willy berkata begitu padaku, aku benar-benar sudah tak bisa menahannya sendiri lagi, aku merasa ingin meledak saja sekarang.
“cowok... ngechat tiap malem, deketin tiap hari, perhatian tapi gak minta pacaran, itu kenapa? apa emang cuma mau sekedar temenan aja apa gimana sih??!!”
Unggkapku dengan nada yang lebih emosi, Fey dan Billy kini malah terlihat saling melemparkan tatap mereka.
“ahh... Si Billy belum nembak-nembak gitu...”
Willy akhirnya tanggap akan masalahku saat ini.
“heh! awas aja ya kalo temen gue sampe di php-in temen Lo... kalian bertiga bakal kena hajar gue nanti kalo Luna sampe patah hati...”
Fey mengancam Billy begitu,
“ihh apaan serem banget sih, ya tunggu aja lagi... biasanya cowok kaya gitu tuh, cuma butuh pertimbangan yang lebih mateng aja...”
Willy berkata begitu dan itu kemudian membuat aku jadi bertanya dalam hati ‘apa aku sebegitu buruknya ya sampe harus di pertimbangin dulu mateng-mateng...’
“Billy... mungkin... dia jadi gak tertarik lagi ya sama aku... makanya dia pertimbangin lama gini”
kataku dengan nada pesimisku,
“bukan gitu Lunaa... tapi emang cowok tuh lebih ke logika, gak cewek yang apa apa tuh pake perasa, jadi yaa... kita gak bisa sembarangan nembak cewek gitu aja... timingnya harus pas gitu...”
“kalo gitu dari mana logikanya coba, belum pacaran tapi Luna udah di gombalin, di pelukin, di pegangin, bahkan sampe di cemburuin, Lo ingetkan gimana ngambeknya si Billy waktu Luna banyak di godain di Instagramnya?? itu sih namanya... e-go-is bukan Lo-gi-ka”
Aku mengangguk, dan rasanya benar sekali apa kata Fey, aku jadi tak terima dengan perlakukan Billy padaku, ingin memiliki tapi juga seperti tak ingin memiliki(?). membingungkan sekali.
“hhh... Billy yang buat masalah kenapa gue yang kena marah gini sih...”
Gumamnya, sudah pasti Willy merasa tak adil karena dia yang malah jadi yang di salahkan atas perbuatan Billy padaku.
“ah Luna! tarik ulur....”
Seperti baru saja ada lampu yang menyala di atas kepalanya, ia tiba-tiba mengatakan itu padaku.
“apa? tarik ulur??”
.....