Semua orang jadi beralih menatap ke arahku dan Fey saat ini.
“Fey! kalo ngomong tuh pelan bisa gak sih...”
“sorry sorry”
Fey yang sadar sudah membuat aku dengannya menjadi pusat perhatian, langsung menarikku pergi naik menuju ke ruang kelas yang jadi sepi di tinggal pergi anak-anak kelas yang penasaran dengan apa yang telah ditempelkan di mading area gedung utama sekolah.
“jadi ayah kamu sexting juga? kamu baca? sama siapa? terus apa aja isinya?”
Fey menghujaniku dengan pertanyaan seperti itu, padahal aku sendiri hanya mendengar selewat saja soal sexting itu dari ayah kemarin, saat aku sedang di ceramahinya soal akun social media yang memiliki banyak resiko berbahaya bagi pergaulan remaja intinya.
“engga tau...”
“kok gak tau?”
“Fey, aku kemarin itu cuma di ingetin sama ayah aku kalo aku harus menghindari orang-orang jahat di social media dan sexting itu... tapi soal sexting sendiri itu apa, aku juga belum tau karena ayah bilangnya bakal jelasin itu lain waktu...”
Jawabku,
“jadi? kamu cuma baru di ingetin buat jangan sexting, dan belum tau apa itu?”
Aku mengangguk padanya.
“hhh... bentar aku jelasin itu ke kamu”
Fey kemudian membuka handphonenya dan mengetikan sesuatu di layarnya.
“... jadi, Sexting itu adalah gabungan dari s*x dan texting-”
“EHM?? s*x itu kan tidur bareng? terus... sambil chatting gitu?”
Aku langsung memotong penjelasan Fey itu, karena aku tak memiliki bayangan akan sexting itu seperti apa.
“bukan gitu Lunaa... dengerin dulu sampe selesai makanyaa... jadi sexting itu adalah aktivitas berkiriman pesan text, foto vulgar, atau video seksual melalui chatroom media social dan aplikasi cari jodoh, di smartphone ataupun PC. Sexting kerap di lakukan untuk membangkitkan gairah antara pengirim dan penerima”
Aku bengong saja mendengar penjelasan Fey itu, rasanya semua kata-katanya itu berputar-putar di atas kepalaku lalu berjatuhan begitu saja ke lantai tak bersisa lagi di kepalaku.
“jadi sexting itu apa?”
“ahhhhh.... lemotnya kambuh deh”
Fey kemudian malah menatapku sambil mengetuk-ngetukan jarinya di dagunya. aku tahu saat ini ia sedang berpikir bagaimana cara menjelaskan soal si sexting itu padaku.
“ah! Luna kamu mau liat chatnya mereka yang di pajang di madding gak? kebetulan aku fotoin tadi... tapi jangan kaget ya”
Aku mengangguk penasaran bercampur antusias, sampai aku jadi berdiri merapat padanya,
“bentar...”
S : sayang... aku kanget banget kamu malem ini :*
H : kan besok di sekolah ketemu yang
S : aku pengen katemu kamu pelukin kamu... kirimin foto kamu dong
H : *foto
S : yang kaya kemarin fotonya, turuni bajunya, aku pengen liat put*ng kamu sayang
H : kemaren kan udah... buat apa sayaaang
S : pengen liat lagi, aku pengen banget liat, kalo bisa aku pengen pegang saking kangen kamunya...
H : gak mau ah, nanti kamu sebarin lagi
S : gak akan sayang... kamu tega sama aku? kamu gak cinta sama aku?
H : aku cinta banget sama kamu sayang...
S : kalo cinta aku ya kirimin, kamu tega apa bikin aku kangen berat sama kamu
H : janji ya jangan di sebarin *Foto top naked di blur
Aku terperanga membaca percakapan chat dua siswa di sekolahku itu. dan aku jadi di buat bertanya-tanya, apa ketika laki-laki jatuh cinta itu memang selalu ingin melihat d**a perempuannya ya? karena jujur saja itu mengingatkanku pada Rey yang dulu juga pernah menyingkap dan memainkan dadaku.
“Luna, ini yang termasuk sexting...”
“ini? aku pikir s*x itu cuma bisa dilakuin sama pria dan wanita yang tidur di ranjang yang sama”
“hhh... itu lain cerita Luna dan aku kasih tau kamu ya... foto kaya gini *(foto perempuan di chat) ini dokumentasi pribadi dan gak boleh sekalipun kamu kasih ke siapapun, kalo kamu gak mau berakhir kaya dia ini”
“kenapa cowok itu minta foto d**a ceweknya sih?”
Tanyaku heran
“ehmm... itu buat puasin nafsu... kamu tau kenapa cowok suka liat majalah dewasa? atau kamu tau kenapa si Willy, Leo sama Billy liat liat video porno waktu itu?”
“karena badannya bagus?”
Terka-ku, aku pikir itu seperti kebanyakan pecinta seni yang selalu menghadiri pemeran patung-patung dewa yunani kuno yang di pahat dengan tak berbusana.
Plakkk
Fey malah memukul dahinya sendiri mendengar jawabanku itu,
“bukan Lunaa... itu buat puasin nafsu, gairah”
“nafsu? kaya jadi pengen makan gitu?”
“aaahhhh!!! bukaaannnn!!! pokoknya intinya cowok yang minta foto kita yang lagi lepas baju, itu pasti dia pengen jahatin kamu...”
Ucapnya, dan tiba-tiba saja banyak anak yang semula berada di luar kini berlarian masuk ke dalam dan mendudukan diri mereka di kursi masing-masing. Aku terdiam heran sekaligus bertanya-tanya ada apa gerangan.
Firasatku tak enak, sampai aku refleks jadi ikut duduk di bangkuku, tak lama kemudian kulihat Pak Bowo datang memasuki kelas dengan wajah garangnya.
BRAKKK BRAKKK BRAAKKK
Ia menggebrak meja guru di depan kelas tiga kali dengan kerasnya, sampai membuat seisi kelas kaget dan diam dalam ketakutan saat ini.
“jujur! siapa itu Gossip Girl??!!!”
Semua orang kini terlihat celingukan, mencari sosok yang di maksudkan oleh Pak Bowo.
“NGAKU!!”
Bentaknya pada semua orang di kelas ini. tapi alih-alih ada yang mengaku, yang ada kini hanya kekagetan saja yang tampak dari semua wajah anak di kelas ini.
“hhhh... baik! kalo masih diam terus saya akan cari sendiri dan akan saya pastikan, GOSSIP GIRL PENYEBAR GOSSIP PORNO ITU DIHUKUM BERAT!!!”
Ancamnya tegas, kemudian ia melangkah keluar kelas dengan wajah yang masih sangat marahnya itu. Dan setelah kepergiannya itu semua orang yang semula menahan napasnya, kini jadi menghembuskan napas leganya ramai-ramai.
“ahhh... gila ya??? satu orang yang bikin ulah kita semua yang jadi kena marah gini, padahal kan Si Gossip Girl itu belum tentu juga dari kelas kita”
Willy protes begitu, dan aku pikir itu mewaliki suara hampir semua anak di kelas ini yang baru saja kena amuk Pak Bowo.
“ehm... gue yakin sih Si Gossip Girl itu bukan dari kelas kita, anak kelas kita mah gak ada yang berani nekat sebarin chat orang gitu deh kayanya”
“bener...”
Timpal yang lainnya.
“hey... pagi Luna”
Kagetku saat tiba-tiba saja kuliat Billy sudah berlutut saja di sampingku,
“Pagi Billy...”
Balasku, ia tersenyum sambil menaruh wajahnya di mejaku dan memandangiku lekat lekat. Tampan dan manis sekali.
“kamu... baca yang di pajang di madding”
“iya dari Fey, kebetulan dia foto... kenapa? kamu mau aku suruh foto kaya gitu juga?”
Billy langsung jadi menaikan alisnya di tambah dengan matanya yang di bulatkannya seperti siap akan melompat saat ku tanya begitu,
“Luna... kamu anggap aku cowok apaan?? aku gak mungkin minta kamu lakuin itu... itu pelecahan namanya”
“gitu ya...”
“Luna... kamu percayakan? aku seriusan gak akan kaya gitu kok...”
Aku tersenyum padanya, aku pikir dia bukan tipikal orang yang akan mengambil foto dan mengoleksi foto anak ayam hanya untuk di pamerkan seperti yang ayah jelaskan semalam.
“terus kamu mau apa?”
Tanyaku penasaran
“ya, aku jelas mau jagain kamu, lindungin kamu dan gak mau kamu terluka Luna!”
Dan tiba-tiba saja semua orang jadi beriul dan bersorak pada Billy yang baru saja mengatakan kalimatnya itu padaku dengan kerasnya.
“cieee suit suittt...”
“couple baru niiiih....”
Beberapa oran terdengar menggodaku dan Billy sekarang. Aku tersipu malu karena kini sudah jadi pusat perhatian semua orang karena ucapan Billy barusan. kulihat ia juga tertunduk sambil mengulum senyumnya.
“anak ayamku...”
....
Dan kini waktu istirahat sudah tiba, aku sedang berada di kantin bersama teman-temanku.
“rame ya... semua orang pada penasaran sama siapa orang yang udah nyebarin chatnya anak kelas IPS-1 itu...”
“oh?? itu anak 10 IPS 1? kata siapa?”
“ya meskipun di blur, tapi temen-temen sekelasnya pasti ngeh banget kalo itu tuh si Hanny sama pacarnya kelas 12 IPS-3”
Aku mendengarkan dengan seksama percakapan Willy dengan Leo yang sedang ikut membahas skandal chat itu.
“terus Hanny-nya sekarang gimana? DO?”
“ehmm... gak tau, tapi denger-denger sih orang tuanya di panggil sama kepsek”
Aku hanya terus mendengarkan sampai akirnya aku tak tahan sekali ingin bertanya.
“kenapa cowoknya pengen liat put*ng Hanny?”
Tanyaku, dan tiba-tiba saja Willy yang sedang meminum jusnya itu jadi batuk batuk karena tersedak, aku mengalihkan pandanganku pada Billy, ia malah hanya berdehem saja sambil menghindari tatapanku. aku cukup tau ia sepertinya enggan menjawab pertanyaanku barusan itu.
“Luna... hati-hati ngomongin kata itu di depan cowok, mereka sensitive soal si P itu”
Ucap Fey sambil mencubit pipiku.
“sssh... tapi sepengetahuan gue sih... biasanya itu tuh cuma buat iseng”
Akhirnya ada yang mau menjawab pertanyaanku, meskipun sekarang aku di buat bingung karena jawabannya.
“iseng??”
Tanyaku pada Leo
“ehmm... biasanya ya kaya buat di sebarin di grup temen nongkrong, atau buat temen ‘main uh ah’ juga bisa tuh kayanya”
Sebenarnya mereka ini bicara pakai bahasa apa sih, aku tak mengerti
“uh ah? apa itu?”
Billy tiba-tiba menutup kedua telingaku dengan tangannya dan membuatku bertatapan dengannya.
“jangan di denger, initinya itu gak baik...”
.....