#2 Kelas Cinta 101

1915 Kata
Tok tok tok “Luna...” Aku langsung melirik ke arah pintu karena panggilan itu dan kutemukan ayahku yang sedang bertopang pinggang menatap tajam padaku. “malem ini tidurnya sama ayah aja” “apa? Luna kan udah gede....” Balasku “kalo gitu cepet tidur, liat ini udah jam dua belas lewat dan kamu masih aja mainin handphone, harus ayah sita lagi handphonenya?” Ayahku mengancamku begitu, “jangaann... baru aja ayah kasih ke Luna, masa mau di ambil lagi sih” “yaudah makanya cepetan tidur...” Aku menghela napasku panjang, sejujurnya aku sudah berhenti chat dengan Billy satu jam yang lalu, meskipun sejujurnya aku masih ingin sekali bertukar chat dengannya.  √Jangan lupa bangun pagi √Bye Luna *emot love √See you tomorrow √Good night √Have a nice dream Aku betaaah sekali membacanya, sampai kugaruk-garuki dadaku meski sesungguhnya di dalam sanalah yang tergelik geli sekali sedari tadi hingga detik ini. Tapi sayangnya aku malah jadi susah tidur sekarang, karena sibuk memikirkan apa yang akan kubicarakan dan yang akan kulakukan bersamanya besok. Aku sampai terpikir untuk pindah duduk saja jadi berdua dengannya. Hasilnya jadilah kini tak ada sedikitpun kantuk hinggap di mataku, yang ada aku malah sangat bersemangat sekali memikirkan banyak hal yang bisa kulakukan bersamanya. “Luna... tidur sama ayah aja deh, Luna susah tidur soalnya” Kataku sambil kubangunkan tubuhku yang tengah memeluk boneka beruang putihku. “handphonenya di tinggal aja ayo ke kamar ayah, kamu ini... makin hari makin adaa aja tingkahnya...” “ayah galak deh” Aku sedikit di buat kesal olehnya, tapi akhirnya kuletakan juga handphoneku yang sebelumnya sudah seperti di rekati lem di telapak tanganku. “galak??” Tanyanya dengan nada yang di tinggikan kini. “tuh kan ayah bentakin Lunaa...” Ayahku terlihat sedang menghembuskan napasnya panjang, dan entah ia sedang bersiap untuk mengatakan apa padaku selanjutnya. “Luna sayang... ayo kita tidur ya, udah malem” Kini nada bicaranya malah terdengar di lembut-lembutkan. Aku tahu itu di lakukan ayah agar aku tak marah padanya. “ayo Lunaa... kamu sekolah besok... atau harus ayah gendong kamu?” Tawarannya, itu terdengar sangat menyenangkan sekali untuk di lakukan, sudah lama aku tak di gendongnya, biasanya kalau aku susah bangun tidur, mandi atau berkata malas saat di suruhnya makan, ayahku langsung menggendongku yang manja sekali padanya. Tapi belakangan ini karena aku ingin tumbuh dan harus bisa belajar bersikap dewasa, jadilah hfttt... rasanya kangen sekali bermanja-manja padanya. “ayaaah gendong Lunaa... Luna kangen di gendong ayaaah” Kataku sambil kurentangkan tanganku di hadapannya. Ayahku terkehkeh mendengar pintaku itu, tapi ayah mulai melangkah, bahkan tangannya sekarang sudah meraih tubuhku untuk di angkatnya. “kamu ini... aahhh beraatt” Ayahku mengerang saat tubuhku ini di anggkatnya dan kini sudah di bawanya berjalan keluar kamarku. Aku tersenyum saja sambil kukalungkan tanganku dan kubenamkan wajahku di lehernya. “hhh... jadi dewasa itu gak enak ayah... kalo bisa sih Luna pengen jadi bayi ayah aja terus selamanya” ungkapku dan seketika ayahku langsung tertawa lepas “hahahh... padahal baru kemarin kamu omongin batas dan pengen mandiri... kalo Billy tau kamu manja dan suka di gendong kaya gini, gimana?” Tanyanya, aku jadi menatapnya dan mulai memikirkan pertanyaan ayahku itu. Jelas akan memalukan sekali bukan? “ayah, ini rahasia ya, jangan kasih tau Billy atau Fey, kalo malem ini aku di gendong ayah dan tidur barenag sama ayah...” Aku harus memperingati ayahku, karena akan bahaya jika teman-temanku sampai tahu hal ini. Selain itu, jujur saja aku malas harus di tertawakan lagi seperti tadi pagi yang gagal menjawab adult jokesnya Leo. “ahhh... ayo sini tidur, peluk ayah sayang...” Ucap ayahku begitu aku di baringkannya dan siap tidur bersamanya. Kutatapi wajah ayahku. Rindu, padahal kurang dari dua minggu saja aku tak tidur bersamanya, tapi rasanya sudah lama sekali aku tak memeluk dan menatap lekat wajah tampan ayahku ini. “sayang...” “ehm?” “tidur” “hhh... paginya masih lama ya yah?” “kenapa sama pagi? kamu mau begadang?” Ayahku malah balik bertanya begitu padaku. “ya engga sih Yah, pengen cepet-cepet pagi aja, tapi... kenapa waktunya jadi malah kerasa lebih lama di saat kita lagi pengen cepettt banget ketemu orang ya?” Heranku, “ya ampun Luna... kamu itu di guna-guna sama Billy atau gimana sih....” “ehmmm... mungkin... aku harus gimana ayaaaah” Jujurku sambil kutenggelamkan wajah malu sekaligus frustasiku di dadanya. Sementara ayahku hanya terkehkeh saja mengetahui anaknya yang jadi setengah gila saat ini, sambil mengelusi punggung juga rambutku dengan tangan hangat nan lembutnya itu. “ayah... waktu ayah suka sama Ibu dulu gimana?” Tanyaku, yang tiba-tiba saja jadi penasaran pada kisah cintanya dengan Ibu dulu. Dan kini ayah terlihat mulai merecall memorinya dengan senyum yang sudah di lengkungkannya. Aku tebak itu adalah saat-saat yang paling membahagiakan untuknya bersama Ibu. “waktu itu... Ibu kamu buat ayah jadi kaya... Power Rangers?” “ahahahahaha... ayah? Power Rangers? hahahhh” Aku tertawa puas sekali jadinya, ternyata cinta bisa membuat orang gila itu benar adanya. “kalo ayah dulu gak ketemu Ibu kamu, ayah gak mungkin jadi seperti sekarang ini sayang...” “ehm? maksudnya?” “dulu ayah pendiem banget, gak peduli sama pelajaran di sekolah, gak peduli sama orang sekitar ayah, ayah terbilang orang yang apatis banget... Tapi sejak ayah punya perasaan sama Ibu kamu, ayah jadi kaya Power Rangers yang bisa berubah...” “ya meskipun awalnya cuma karena pengen keliatan keren aja di depan Ibu kamu, tapi semakin jauh ayah jadi semakin berubah lebih baik lagi, bahkan ayah jadi bisa nemuin jati diri ayah sendiri berkat ibu kamu... ayah sampe dibilang kaya kesambet setan sekolah sama kakek nenek kamu, soalnya akhirnya ayah mau buka buku dan mau belajar katanya...” “serius?” “iya sayang, dan itu ayah lakuin cuma gara-gara pengen ajarin ibu kamu... waktu itu ayah pengen banget jadi temen yang baik, laki-laki orang yang bisa di andelin, capable, sampe akhirnya ayah putusin buat jadi orang yang lebih baik, supaya bisa jadi laki-laki yang pantas buat dampingin Ibu kamu...” “ayah belajar banyak dari Ibu kamu... Terus juga karena ibu kamu itu orangnya positif, jadi ya ayah juga ikut kebawa ke arah yang lebih positif tentunya... ayah belajar banyak, bukan cuma dalam konteks pelajaran tapi juga dari lingkungan, pergaulan, ayah tumbuh jadi lebih baik berkat Ibu kamu sayang... sampe sekarang juga ayah punya kamu yang jadi hadiah terindah darinya...” Tutupnya sambil memelukku erat-erat, Aku hanya bisa diam terharu mendengar kisah cinta kedua orang tuaku. “ayah... gimana ayah bisa yakin soal perasaan ayah sama Ibu? maksud Luna... gimana ayah tau kalo ayah itu udah jatuh cinta sama Ibu waktu itu?” Tanyaku, jujur saja aku takut, kalau aku terlalu mudah mendefinisikan perasaanku pada Billy saat ini dengan istilah fall in love itu. “apa bedanya cinta sama perasaan yang cuma sebatas suka aja?” Ayahku malah terkehkeh lalu mencium pipiku berkali-kali. “bahaya... anak ayah ini udah serius mau tau soal cinta aja yah...” “ayaaah... kasih tau Lunaa” Aku meminta padanya. “jadi bedanya itu... ehmmm gini, ayah kasih perumpamaan aja, misalnya kamu liat anak ayam di peternakan, nah kalo kamu jatuh cinta sama anak ayamnya itu, kamu bakal langsung mau jagain anak ayam itu, kaya di kasih makan, di kasih minum, di bantu buat tumbuh jadi ayam yang besar dan sehat... tapi kalo kamu cuma sekedar suka sama anak ayamnya itu, kamu mungkin cuma bakal kasih pujian, fotoin buat di pamerin di social media, atau mungkin di beli buat di masak jadi ayam goreng...” Aku mengangguk-anggukan kepalaku mencatat penjelasannya itu. “tapi anak ayamnya aku cari di mana ayah?” “hahahahh... anak ayam sih Lunaa hahahh” Ayahku tertawa padahal sudah jelas aku salah bicara, tidak pengertian sekali ayahku itu. “maksud Luna itu cintanya ayah... gimana kalo Luna malah temuin anak ay- ah, maksud Luna cinta yang salah...” “sayang...hati kamu pasti bisa tuntun kamu sampai ke anak ayam itu, sekarang tidur dulu baru besok cari anak ayamnya dan mungkin aja Billy punya...” Godanya padaku, kenapa jadi anak ayam begini sih, padahal bahasannya itu seharusnya romantis tapi malah jadi komedi begini hufttt... “ish ayaaah... ngeselin deh” “tidur cepet” Ayahku mendekapku dan memelukku erat sekali malam ini. ~~ Ost Like My Father .... I wanna come home to roses And dirty little notes on Post-its And when my hair starts turning gray He'll say I'm like a fine wine, better with age I guess I learned it from my parents That true love starts with friendship A kiss on the forehead, a date night Fake an apology after a fight I need a man who's patient and kind Gets out of the car and holds the door I wanna slow dance in the living room like We're eighteen at senior prom and grow Old with someone who makes me feel young I need a man who loves me like My father loves my mom I want a road trip in the summers I wanna make fun of each other I wanna rock out to Billy Joel And flip our kids off when they call us old He'll accidentally burn our dinner And let me be the scrabble winner And when my body changes shapes He'll say, "Oh my God, you look hot today" I need a man who's patient and kind Gets out of the car and holds the door I wanna slow dance in the living room like We're eighteen at senior prom and grow Old with someone who makes me feel young I need a man who loves me like My father loves my mom And if he lives up to my father Maybe he could teach our daughter What it takes to love a queen She should know she's royalty I need a man who's patient and kind Gets out of the car and holds the door I wanna slow dance in the living room like We're eighteen at senior prom and grow Old with someone who makes me feel young I need a man who loves me like My father loves my mom I need a man who loves me like My father loves my mom .... .... *** Aku berjalan dengan sangat malas sekali pagi ini, karena semalam aku susah sekali untuk tidur dan malah jadi mendengarkan ayahku yang tiba-tiba memberikan kelas 101 tentang cinta di pukul 1 dini hari. “ah” Bahuku tiba-tiba tertabrak seseorang yang berlari dari belakangku. “oh sorry Luna... sorry buru-buru gak sengaja” Ternyata itu adalah Willy yang sedang terburu-buru sekali berlari menuju kerumunan banyak siswa di depan madding sekolah. “ada apa sih? kok rame banget...” Gumamku ikut penasaran, kubuat tubuhku sedikit berjinjit ingin mengintip apa yang sedang terjadi di sana. Dan ternyata Fey juga ada di antara kerumunan itu. “Fey!” Panggilku, ia menoleh dan kini langsung berlari ke arahku. “Lunaaa... siang banget sih, ini sisa 2 menit lagi gerbang di tutup dan kamu baru dateng ckckkk” “gak telat tapi kan, dan itu on time namanya hehe... tapi itu ada apa di sana?” “ah itu... ada orang tiba-tiba masang gossip di madding, jadi rame gitu deh” Balasnya “gossip? gossip apa?” “screenshoot sexting...” Bisiknya padaku, Aku jadi terdiam, rasanya aku pernah mendengar itu tapi dimana ya... Aku langsung mencoba mengingat-ingat kata itu, karena rasanya tak asing sekali di telingaku. “ah Ayah! Sexting kan?” “APA? LUNAAA AYAH KAMU SEXTING????” ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN