Luna pov
“Billy...”
Panggil seseorang, dan refleks aku langsung menoleh ke arah sumber suara itu, sampai jadilah kini aku celingukan mencari sosok orang dengan nama yang berhasil membuatku merasa terpanggil itu.
Dan ternyata... orang itu memanggil Billy yang lain dan bukan Billy yang kukenal. Malu. cepat-cepat saja kualihkan pandanganku pada makanan di mejaku kembali.
“Luna... sejak kapan nama kamu jadi Billy?”
“apa? maksud ayah?”
“Itu... orang panggil Billy, malah kamu yang nengok”
“ahh... itu... ah ayah ini roast salmonnya enak banget, ayah coba deh”
Kataku mengalihkan pembicaraan dengan menyuapinya menu yang kupilih malam ini, berharap ayahku mau berhenti menanyakan kenapa aku yang jadi terpanggil ketika nama Billy itu terdengar di telingaku.
“gimana enak kan?”
“ehmm... iya sayang enak”
Balasnya, dan ayahku langsung saja kembali menikmati makan malamnya.
‘hhh... syukur deh, ayah cepet lupa dan gak banyak tanya soal Billy”
Syukurku dalam hati, hari ini sepertinya aku sedang beruntung atau mungkin karena menu makan malamnya yang lumayan lezat, sampai sampai ayahku jadi bisa cepat di alihkan dan langsung membungkus topik soal Billy itu.
Entah kenapa telingaku berubah jadi sensitive sekali dengan nama itu. Bahkan ketika sedang menunggu ayahku datang untuk menjemputku pulang dari sekolah tadi, aku malah dengan bodohnya mencurigai beberapa anak perempuan dari kelas lain yang kupikir sedang menggosipkan Billy, yang katanya memiliki karya yang bagus dalam bermusik, tapi ternyata setelah lama diam-diam kudengarkan, yang sedang mereka bicarakan adalah Billie Eilish. LOL.
Aku pikir aku sudah di hantui oleh bayang-bayang dirinya. aku bisa gila karenanya.
“hhh...”
Tubuhku kusandarkan santai pada sandaran kursi sambil mengusap-usapi perut kenyangku.
“Bill...”
Sontak saja aku langsung menegakan tubuhku saat kudengar ayahku mengatakan itu. Aku lagi-lagi merasa terpanggil, tapi kali ini aku tak mungkin salah dengar atau salah orang, karena ayah jelas mengatakan ‘Bill’ itu padaku.
“ehm? apa Yah?”
Tanyaku memastikan kebenaran kata yang di ucapkannya.
“Bill...”
Kata ayahku sekali lagi, tapi aku semakin tak mengerti, dan hanya jadi menatap ayahku heran.
‘apa ini delusi ya? kenapa namanya teruuus aja kedengeran, bahkan dari mulut ayah aku sekarang??’
Tanyaku dalam hati, jujur aku kebingungan sekali sekarang ini
“hhh... Bill-nya sayang... ayah mau bayar makan malem kita”
“AH! iniii...”
‘Aduhhh, itu Bill, maksudnya bukan Billy Lunaa... tapi Bill, tagihan maksudnya, ya ampuuun aku ini kenapa sih kok jadi ginii...’
Gerutuku dalam hati rasanya malu sekali, untung saja isi pikiran itu tak nampak, kalau sampai nampak dan bisa di lihat orang banyak, aku sudah tak ingin berpikir atau menghilang saja sekarang.
Gara-gara Billy aku hilang focus seperti ini, aku bahkan sampai tak sadar kalau yang di maksudkan ayah aku itu adalah tagihan makan malamku dengannya, yang kebetulan di taruh di samping mejaku oleh pelayan tadi.
“kamu ini... kenapa sih aneh banget dari tadi”
“kapan Luna gak aneh Yah...”
Balasku, aku cukup sadar kalau kalimat yang sering keluar dari mulutnya adalah ‘aneh banget sih’, atau ‘ada-ada aja deh’, dan ungkapan lain sejenisnya. Dan sekarang ini aku ingin sekali mengatakan ungkapan itu pada diriku sendiri, karena aku benar-benar merasa kalau aku ini jadi aneeh sekali. Aku jadi sangat sangat asing pada diriku sendiri. Aku pikir kalau semua tetang Billy itu telah menguasai dan meninvansi diriku.
“udah ayo pulang”
Ucap ayahku sambil menarikku bangun dan berjalan keluar restoran Prancis ini untuk pulang.
Dan sesampainya di rumah, kulihat waktu sudah menunjukan pukul 8.32, aku pikir ini sudah masuk masa habis handphoneku yang kemarin malam di sita oleh ayah.
Sampai akhirnya bukannya langsung naik ke kamarku, aku malah mengekori ayahku menuju kamar tidurnya.
“ayah... handphone Luna...”
Kataku meminta,
“ehm?”
“sesuai perjanjian, handphone Luna ayah sita selama 24 jam... dan ini udah tepat 24 jam ayah sita, jadi kembaliin...”
Aku tegas menagihnya, bahkan aku menampilkan wajah seriusku sambil bertolak pinggang di hadapannya.
“sayang... duduk dulu ayah mau bicara sama kamu”
Mendengar ayahku yang berkata mau bicara itu, itu sudah pasti bukan hanya sekedar akan bicara, tapi sama dengan ketika aku yang harus mengikuti pelajaran sejarah yang banyak sekali penjelasannya.
Tapi aku jelas harus menurut, sampai kini saja aku sudah pasrah di bawanya untuk duduk di atas ranjang tempat tidurnya. Aku jadi duduk berhadapan dengan ayah yang sudah menatapku dengan sorot mata seriusnya sekarang.
“sayang... maafin ayah, ayah dulu selalu blok semua akun social media kamu...”
Aku kaget mendengarnya tiba-tiba mengaku dan meminta maaf begitu padaku, meski sebenarnya tanpa ayahku berkata begitu pun aku sudah tahu itu, tapi rasanya tak menyangka saja akan mendengar pengakuannya yang sangat tiba-tiba sekali malam ini.
“ayah...”
“ehmm... ayah tau selama ini ayah terlalu mengekang kamu, tapi ayah cuma gak mau kamu yang masih mudah terbawa arus itu kena pengaruh buruk dari social media sayang...”
Ungkapnya, dan aku bisa mengerti sekali akan hal itu.
“kamu pernah denger anaknya Om Samuel yang sakit kan?”
Aku mengangguk, beliau adalah teman ayahku saat aku tinggal di Amerika untuk sementara empat tahun yang lalu.
“Dan kamu tau dia sakit karena apa?”
Tanya ayahku kembali dan aku kini menggelengkan kepalaku karena tak tahu.
“anaknya Om Samuel itu bisa sampai sakit karena dia udah jadi korban kekerasan seksual yang ternyata hanya berawal dari pekenalan di f*******: aja Luna... ayah gak mau kamu sampe di lukain orang kejam di luar sana... makanya ayah-“
“Ayah, Luna ngerti kok... makasih udah jagain dan lindungin Luna selama ini...”
Aku memutus kalimat ayahku dengan berterimakasih juga memeluknya erat kini. Aku jelas sangat tahu seberapa besar keinginan ayah yang ingin selalu menjaga dan melindungiku.
“sayang...”
“dan kalo di pikir lagi, Luna... Luna gak butuh akun i********: kok, jadi kalo ayah mau blok akun yang kemarin, blok aja gak papa”
ungkapku, dan ayah kini jadi melepaskan pelukannya lalu menatapku lekat-lekat.
“serius? kenapa?”
Ayah bertanya dengan sangat penasaran sepertinya, sampai sampai kedua alisnya terangkat sempurna jadinya.
“ehmm... Billy gak suka liat aku yang puji banyak orang dan tahu kalau aku ajakin mereka buat kenalan di media sosial...”
Jujurku, dan tiba-tiba saja Ayahku terlihat jadi mengulum senyumnya.
“Billy lagi... hhh... kemaren kamu kaya orang kehipnotis, liatin fotonyaaaa mulu, terus sekarang kamu juga sampe jadi mau nurut dan ikutin apa katanya ckckk...”
Sindirnya, tapi tak bisa aku berdalih kalau kata-kata ayahku itu benar sekali, aku memang terlihat sudah terhipnotis olehnya.
“hhh... bukan gitu ayah, aku cuma gak suka aja liat dia yang jadi dingin, murung, terus wajahnya juga yang jadi asem banget setiap kali baca komen di postingan aku...”
“kenapa?”
“dia bilang komentar-komentar itu hampir menjurus ke arah yang bisa melecehkan aku secara verbal, sampe ada beberapa yang dia hapus deh jadinya”
“TUH KAN APA KATA AYAH!!”
Ayahku tiba-tiba menaikan suaranya, sekeras kerasnya berkata begitu padaku.
“ayaaah ih, bikin Luna jantungan aja deh...”
Ayahku tak mendengarkan protesku itu dan malah langsung saja mengambil handhponeku yang di taruhnya di laci meja kerjanya. Kini dalam tatapnya yang serius ayahku memeriksa handphoneku, dan aku bisa langsung tahu kalau ia sudah mendapati banyak hal tak mengenakan hatinya di sana.
“Luna... Ayah harus kasih tau kamu komentar mana aja yang harus kamu denger dan yang harus kamu hapus, karena ternyata... ayah aja bisa sampe kecolongan, gak tau kamu banyak di komenin orang kaya gini... dan temen kamu itu, Billy, dia gak akan selamanya mau hapusin atau nge-report komentar-komentar buruk di akun kamu...”
Aku mengangguk, dan siap untuk mendengarkan ucapannya. Ayahku kini mendekat dan menujukan beberapa komentar padaku.
“ini contohnya @fift7**** mulus banget sih Luna bikin pengen megang, ini jelas harus di report, dan gak boleh kamu tanggapin... ini juga @zed_11*** kamu suka timun apa pisang, punya aku 20 cm loh, mau gak... ini jelas wajib banget kamu report sayang”
Sejujurnya aku tak mengerti dengan apa yang mereka katakan itu, jadi bukankah akan lebih gampang kalau kuabaikan saja.
“ayah kalo di biarin aja gimana? Aku gak ngerti soalnya, apa hubungannya foto aku sama timun sama pisang coba? itu apa lagi 20 cm?”
Ayahku bukannya menjawab, malah menarik napasnya dalam-dalam sekarang ini.
“hhh... di tutup aja kolom komentarnya, itu lebih gampang kok”
Aku lebih setuju dengan yang satu itu.
“dan kalo misalnya ada yang DM kamu, terus minta kamu lakuin sesuatu yang aneh-aneh, jangan mau dan gak boleh kamu turutin pintanya itu... kaya minta foto atau video kamu yang harus dalam kondisi pakaian terbuka, atau misalnya ketika ada orang lain yang kirimin kamu foto atau video aneh pun, itu harus langsung kamu report atau blok aja akun penggunanya okey... itu bisa termasuk SEXTING dan itu sangat berbahaya buat remaja kaya kamu...”
Jelasnya panjang sekali padaku,
“Iya ayah, tapi ... sexting itu apa ayah?”
“ehmm... lain kali ayah jelasin sama ya, sekarang pokonya akun insta-“
“ayah udah aku bilang di hapus aja akunnya, gak papa kok... soalnya aku juga males urusinnya, apalagi banyak banget aturan kaya gini dari ayah...”
Kataku, jujur saja kalau di bayangkan bahayanya sebanyak itu aku jadi takut menggunakannya.
“serius??? Kalo Si Billy tiba-tiba update foto baru gimana?”
“ooohhhh jangan jangan jangan... jangan di hapus, kembaliin aja handphonenya sama Luna, dan Luna janji bakal jaga diri baik-baik selama pake instagramnya”
Kataku sambil kuacungkan kedua jariku membentuk v di samping wajahku.
“dasar... kamu ini...”
“hehehe...”