Leo yang baru saja sampai di ruang kelasnya dan mendudukan diri di bangkunya, langsung mendapati Billy yang ada di sampingnya, yang terlihat tak baik-baik saja dan aneh sekali pagi ini.
“Bill...”
“Billy... Billy?”
Leo khawatir dan jadi sedikit takut kalau apa yang ada di sebelahnya itu adalah hantu atau manusia yang sudah tak bernyawa, sampai ia jadi menggoyang-goyangkan tubuh yang tak kunjung menyahuiti panggilannya itu.
“Billy!”
Sekali lagi Leo mencoba memanggil teman sebangkunya yang terus diam, dengan kepala yang tengah di taruhnya telengkup di atas mejanya.
“kenapa ni anak?”
“ah... lagi mabuk, gara-gara si Luna”
Willy yang semalaman menemani Billy yang uring-uringan tak jelas karena Luna dana kun i********: barunya, jelas tahu kenapa Billy sampai jadi tak berdaya di atas bangkunya itu.
“kenapa si Luna?”
Belum juga bercerita, Willy sudah ingin menertawakan apa yang telah terjadi pada teman sekelasnya itu, sampai ia jadi seperti sekarang itu.
“jadi... kemaren si Willy bikinin Luna akun istagram, dan ternyata... followernya langsung membeludak dalam semalem, postingannya baaaanyak banget di komenin sama cogan, yaa jadi gitu deh... nyesel kayanya”
“serius? emang udah berapa? 1000?”
“122k followers”
“seriuss??”
Leo yang mendengar angka followers Luna yang sudah mencapai lebih dari 100 ribu itu langsung mengeluarkan handphonenya dan membuka akun i********: Luna, yang memang sudah di Follownya kemarin sore.
“waahh... gila gilaa...”
Leo di buat takjub dengan akun Instgram Luna yang bisa secepat itu menarik banyak followers. di lihatnya juga pujian, ajakan untuk berkenalan sampai godaan sudah banyak memenuhi kolom komentar satu foto yang Luna posting kemarin.
@yae*** beautiful
@angelo_***luv from me,
@choice7** my Queen
@bisho.ch*** pengen pegang tangannya, cantik banget sih Lunaa
@gery***anak IPA 4 kan? cantiknya ketemuan yuu
@Rya99***queen sekolah kita yang baru nih
Leo membaca deretan komentar yang kebanyakannya adalah laki-laki yang jelas sekali sudah terpesona akan kecantikan Luna di foto itu.
“hahahahh... mereka gak tau aja di balik wajah cantiknya itu, ada bocah TK yang bersembunyi, yang polosnya tak tertandingiii... ha ha ha”
BRAKKKK
Billy tiba-tiba menggebrak mejanya dengan keras, sontak saja dua temannya itu berhasil di buat kaget dan langsung menatap ke arahnya heran.
“Bill, bikin kaget aja si”
“tau tuh hhh... udah lah Bill, Si Luna juga belum tentu kepincut sama cowok-cowok yang ajakin dia buat kenalan di akun instagramnya, belum tentu juga dia mau balesin semua pesannya yang masuk..“
“terus kenapa dia gak bales chat gueeee???!!!!”
Ungkap Billy dengan suaranya yang terdengar begitu putus asa, tapi akhirnya ia mau mengangkat wajahnya yang sedari tadi sudah di sembunyikannya pada meja di depannya itu.
Leo di buat kaget bukan main, di hadapannya kini terpampang wajah milik laki-laki yang sudah di buat Luna mendadak terkena insomnia itu. Matanya yang dalam terlihat jadi sedikit memerah, di tambah lingkaran hitam parah di sekitarnya.
“Bill? Lo... temenin setan apa semalem? horror banget muka Lo...”
Leo heran dengan tingkah temannya itu, sampai ia jadi penasaran dan kini coba meraih handphone Billy dari tangan itu, untuk melihat chat room antara Luna dan Billy.
“aahh... sakit!”
Billy tiba-tiba mengerang begitu handponenya itu terlepas dari tangannya, jari kelingkingnya terkena kram, ia jelas kesakitan dan jadi tak bisa menggerakan jarinya itu.
“duh... gimana nih, pijit pijit jarinya”
Willy dan Leo langsung panik, karena jari kelingking Billy yang jadi mengacung keras dan sulit sekali untuk di normalkan kembali.
“ah! jangan di paksaain!”
Leo dan Willy terus berkutat dengan jari Billy, berusaha membantu mengatasi kramnya.
“kalian ngapain sih?”
Tanya Fey yang baru saja muncul dari ambang pintu, langsung bertanya begitu, karena heran melihat pemandangan teman sekelasnya yang terlihat sibuk mengerumuni Billy yang terdengar mengerang itu.
“Fey! bantuin Billy, jarinya kram!”
“kram? ckckckk”
Fey tak heran jika harus menemukan orang kram jari atau tangan, karena sekarang ini banyak orang yang terlalu keasyikan main handphone contohnya seperti mabar games online, mereka terkadang selalu mengeluhkan jarinya yang jadi kesemutan bahkan sampai kram seperti Billy sekarang ini.
“hhh... lebai deh, diemin aja 15 menit nanti juga normal lagi kok, lagian kalo main handphone itu jangan lama-lama, di batesin biar gak kram gitu”
Ucap Fey dengan santainya,
“tapi- ini... ini...kaku, sakit”
Saat ini Billy masih belum juga bisa menggerakan jarinya. Dan memang seperti apa kata Fey, biasanya ia juga selalu membatasi penggunaan handphonenya paling lama satu sampai dua jam saja. Dan kemudian jadi terpikir olehnya, kalau kemungkinan tangannya sampai kram seperti sekarang ini, itu adalah karena reaksi kagetnya, setelah biasanya hanya satu jam saja handphonenya itu di pegangnya, ini malah berubah drastic jadi semalaman ia tak melepaskan handphonenya itu, demi menunggu Luna yang tak kunjung membalas pesan darinya.
“Luna... dia gak bareng Lo Fey?”
Tanya Billy tiba-tiba
“engga tuh, tadi waktu di telponin dia malah baru bangun, kayanya sih penyakit susah bangun paginya itu kambuh lagi deh”
“hhfftt... dia pasti sibuk balesin DM semaleman, terus kenalan juga sama banyak orang lewat akun i********: barunya... aarghhh kesel! kenapa kemaren pake acara bikinin dia akun segala sih, ah bego bego begooo!!!”
Billy malah mengutuki dirinya sendiri sekarang ini.
“lah kata siapa Luna balesin DM di instragram semaleman?”
Fey heran dengan ucapan Billy soal sahabatnya itu, karena sepengetahuannya Luna bahkan tidak online semalaman. dan malah Luna menelponnya dengan telepon rumah, lalu mengeluhkan soal handphonenya yang di sita oleh ayahnya.
“ya terus kenapa dia gak bales chat gue coba hhh... padahal gue sampe gak tidur semaleman buat nungguin dia, sialnya lagi bukannya balesan yang gue dapet, eh malah kram yang ada”
Billy ngedumel kesal pada sahabat Luna itu.
“serius? semaleman nungguin dia bales chat, sampe kram gini?? bhaahahahha... ternyata bukan cuma Luna yang aneh, tapi Lo juga Bill hahahah...”
Fey tertawa puas mendengar cerita temannya yang dengan konyolnya malah menunggu Luna sampai kram begitu. padahal hari ini juga bisa bertemu jadi kenapa harus sampai tak tidur menunggu balasan chat, begitu pikir Fey yang heran pada tingkah Billy.
“sialan, kaya Lo yang engga aja deh”
“yeaah... gue sih gak akan sepolos Luna dan sebodoh Lo yang nungguin pesan sampe kram hwweee...”
Fey jadi bertingkah menyebalkan sekali pada Billy, lidahnya sampai si julurkannya puas meledeki temannya yang satu itu. Sementara Willy dan Leo yang sudah tahu tingkah perempuan tomboy itu begitu, hanya tersenyum saja menyaksikan.
“denger ya, Luna itu gak sepolos dulu lagi, dan kalo kram ini... yaaa itung-itung pengorbanan buat dapetin Luna laah...”
Balas Billy dengan bangganya. dan itu membuat ketiga temannya kini langsung menahan tawanya saat mendengar pengakuan lelaki muda yang sedang di mabuk cinta pada Luna itu.
“kata siapa Bill... Luna itu masih polos tauu...”
“enggak ya, dia gak polos lagi, dia udah pinteran dikit...”
“masih polosss”
“udah enggaaa!!”
Leo dan Billy jadi berdebat soal Luna yang masih polos atau tidak, padahal tangan Billy masih belum bisa di gerakannya, tapi itu jadi di lupakannya karena ia sibuk mendebat Leo yang mengatai perempuan yang sedang di kaguminya itu masih polos.
“okey...kalo gitu kita tes Luna nanti dia masih polos atau enggak”
“okey”
Dan panjang umur sekali, orang yang sedang di pedebatkan itu, kini baru saja melangkah masuk ke ruang kelas dengan wajah malasnya, ia terlihat masih menampilkan muka bantalnya.
“Lunaa...”
Panggil Fey, dan sebagai jawabnya Luna malah hanya mengangkat tangannya karena terlalu malas untuk bersuara membalas sapaan Fey pagi ini. Bahkan ia tak begitu jelas melihat wajah sahabatnya itu, karena kantuk yang jelas masih menempel berat di matanya.
“Lunaa...”
Panggil Billy,
“hay Billy...”
Jawab Luna dengan nada manisnya. Kontras sekali reaksi yang di berikan Luna pada Billy, dengan yang di berikannya pada Fey tadi. Luna berusaha menampilkan senyum terbaiknya kini, bahkan ia yang sedang sangat ingin menguap saja jadi harus di tahannya lebih dulu karena tak ingin ketahuan mengantuk di hadapan Billy, sampai sampai matanya jadi terlihat banyak membendung air saat ini.
“kamu... masih ngantuk ya?”
Tanya Billy, dan gagal sudah acting Luna yang berpura-pura tak mengantuk itu.
“ehm? kamu juga? kayanya semalem begadang ya? lingkaran item di mata kamu ... parah banget”
“ah ini...”
“....”
Sementara Luna dan Billy sedang saling mengecek penampilan mereka masing-masing, Fey, Willy dan Leo tengah bergosip sambil memperhatikan calon pasangan baru di kelas mereka itu.
“tadi aja Lo-Gue panggilnya sama kita... lah sama Luna tiba-tiba jadi Kamu-Aku, cih sok manis banget sih”
Gumam Leo dengan suara pelannya.
“eh, kerjain mereka yu”
Tiba-tiba saja ide jahil menghampiri kepala Fey,
“Luna... sini deh”
“apa Fey?”
“sini... kita ada tebak-tebakan buat kamu”
Luna menghampiri Fey yang sedang duduk di meja dengan gayanya yang cukup macho.
“tebak tebakan?”
“ooohh bentar-bentar... biar gue aja yang kasih pertanyaannya”
Leo mengambil alih,
“benda apa yang keras dan bisa masuk ke lubang kecil?”
Tanyanya kemudian, Luna langsung berpikir memperkirakan benda apa itu. Dan Billy yang sudah tahu otak ngeres temannya itu seketika ia jadi ingin sekali memberikan pelajaran padanya.
“apa?”
Leo, Willy dan Fey kini tertawa melihat Luna yang tampak kebingungan. jelas sekali otaknya itu masih sangat bersih tak sedirty teman-temannya itu.
“kasih clue deh, awalannya K, ayo tebak”
“K? apa aku gak tahu... kamu tau Fey?”
Luna malah bertanya pada temannya itu.
“ehm... itu jokes adult... kalo kamu gak bisa jawab yaa... artinya kamu bukan adult alias belum dewasa”
Billy yang tak tahan dengan mereka yang tengah mempermainkan Luna itu, di buat jadi sangat geram kini.
“KUNCI”
“ah, bener Kunci, wah... jadi Billy udah dewasa gitu?”
Dengan polosnya Luna berkata begitu, dan itu berhasil memancing tawa teman-temannya yang kini sudah mengambil kesimpulan, kalau Luna itu fix masih polos titik.
“hhh... berhenti ngetawain Luna, Luna dan kita semua itu masih ada di tahap menuju ke fase dewasa, jadi gak papa kalo Luna gak tau itu, dan lagi... Luna gak perlu tau pikiran kotor kalian”
Balas Billy dengan tegasnya.
“cieee...”
“aww takutt”
Mereka malah menanggapinya dengan candaan seperti itu.
“ikut aku bentar keluar yu”
Dan dengan tanpa menunggu jawaban dari Luna, Billy langsung saja menarik Luna pergi meninggalkan teman-teman jahilnya itu, menuju tempat yang lebih tenang untuk berbicara berdua saja dengannya.
“ehmm Luna, semalem... kamu... kemana?”
Tanya Billy ragu.
“gak kemana-mana kok ada di rumah”
“sibuk ya?”
Terka Willy, jelas sekali arah pembicaraannya itu adalah ingin menanyakan kemana semalam dirinya dan apa yang di lakukanya, sampai tak membalas pesan darinya.
“enggak juga, aku malah di marahin sama ayah aku gara-gara cuma rebahan terus sambil mainin handphone”
“kamu mainin handphone? tapi gak sempet bales chat aku?”
Luna, menaikan alisnya,
“kan udah aku bales Bill, atau... jangan-jangan kamu chat aku lagi ya? kapan?”
“semalem”
“maaf Billy aku-
“gak papa kok, kamu... pasti sibuk chat sama yang lain ya sampe chat aku tengelem dan gak sempet kamu buka? maklum sih, akunnya kan udah sampe serratus ribu lebih followers”
Luna yang mendengar ucapan Billy itu jadi menaikan alisnya tak mengerti.
“apa? Maksud kamu apa Bill? aku gak ngerti... semalem handphone aku di ambil ayah gara-gara sorenya aku mainin terus, jadi mungkin kamu chat aku pas ayah aku udah ambil handphone akunya”
jelas Luna.
“di ambil? kok bisa?”
“iya, soalnya aku keasikan liatin foto kam-“
“kam apa?”
Luna hampir saja keceplosan mengatakan kalau kemarin sore ia di sibukan memandangi foto Billy sampai kena marah ayahnya.
“kam... kam... kam- bing... iya, kambing itu lucu banget...hehe”
Luna dengan bodohnya mengatakan ‘kambing’ itu. Terpaksa, otaknya stuck, ia tak bisa berpikir lebih banyak lagi dan hanya itu yang terlintas di kepalanya, dan sudah pasti kalau saat ini ia sangat sangat menyesali telah mengucapkan itu sebagai jawaban pengalihannya pada Billy,
‘aahh... kok kambing sih, Billy anggap aku cewe apaan yang betah liatin kambing’
Gerutu Luna dalam hati.
“tapi- akun aku... emang udah seberapa banyak followersnya Bill?”
Tanya Luna, seketika ia penasaran dengan akun instagramnya yang belum sempat di cek nya kembali itu.
“loh kamu belum liat?”
“ehm... ayah aku belum kembaliin handphone akunya, Fey juga hubungin aku pake telpon rumah kok”
“ah gitu ya... ini liat dari handphone aku aja”
Billy menawarkan demikian, dan ia langsung membuka akun i********: Luna dari handphonenya.
“waahh banyak yang like sama komen ternyata...”
Luna tersenyum senang mengetahui fotonya menerima banyak love,
“My Queen... hahahh... aku di panggil Queen”
Luna tersentuh melihat banyak juga yang meninggalkan komen, yang memberikan pujian padanya.
“ehm... Queen”
Ucap Billy dengan nada dinginnya, wajahnya juga berubah jadi datar sekali saat ini.
“Billy...”
Luna memanggil, tapi tak di jawab oleh laki-laki yang kini sedang dengan sengaja menghindari bertatapan dengan Luna dan lebih memilih melihat ke arah lain.
“Billy...”
“ini... siapa tau kamu mau balesin komen mereka”
Ucap Billy dengan nadanya yang tak sehangat biasanya.
“Billy...”
“apa?”
“kamu marah?”
Tanya Luna, ia cukup peka untuk menyadari itu.
“enggak, aku seneng kok kamu sekarang jadi Queennya mereka”
Billy berkata senang tapi raut wajahnya jelas sekali menunjukan kalau ia tak senang dengan itu.
“they call me queen, but I know my king...”
“who?”
Billy kini menatap penuh harap pada Luna.
“itu... kam... itu kam....u”
Huruf U-nya hanya terdengar sekedar napas dan tak jelas sekali di ucapkan Luna, tapi Billy sadar dan mengetahui maksud dari jawabannya itu. Senyumnya juga mulai mengembang, 180 derajat berubah dari sebelumnya.
“kam apa? gak mungkin kambing kan? King kamu bukan kambing kan Luna??”
Tanya Billy jahil, padahal ia sudah tahu jawaban Luna itu. Hanya saja ia ingin mengerjai Luna yang sudah membuatnya tak bisa tidur semalaman.
“ish... Billy ya bukanlaah... masa King aku kambing... it’s You... kam-U, bukan kam-bing”
“hahahhh... So, I’m your King?”
Luna sangat tersipu, wajahnya sudah terlihat merah sekali seperti kepiting rebus sekarang ini. Ia bahkan menghindari kontak mata dengan Billy karena malu.
“Lunaa... jawab...”
Billy yang gemas sekali pada Luna, sengaja ikut menunduk dan jahil mengintip wajah tersipu Luna yang sedang berusaha di sembunyikannya.
“ah... Billy... udah aku malu tau gak”
“hahahha...”
Billy mengusapi puncak kepala Luna dengan gemasnya. Akhirnya ia bisa lega mengetaui kalau Luna tak chatting dengan laki-laki lain yang memuji dirinya atau yang ingin berkenalan dengannya di akun instagramnya itu. bahkan yang ada Luna sampai tak tahu apa-apa soal itu. setelah semua ketakutannya itu, ia jadi mengerti kenapa ayahnya melarangnya bermain social media, dan sampai memblok akun miliknya sebelumnya. Terdengar egois, tapi terkadang ada beberapa kecantikan yang tak ingin di bagikannya dan hanya ingin menjadi konsumsi pribadinya saja, begitu pikir Billy.