#2 PENDEKATAN

1877 Kata
Fey kini sedang anteng menatapi dua manusia yang tengah duduk bersebelahan dengan wajah keduanya yang terlihat sangat cerah berseri-seri. “perasaan baru tadi pagi mereka diem-dieman... kayanya cepet banget berubah jadi demen-demenan, hadehh...” Gumam Fey sambil menggeleng-gelengkan kepalanya atas pemandangan yang nampak jelas terlihat oleh matanya, walau sesungguhnya keduanya itu berada cukup jauh darinya, tepatnya Fey yang sekarang ini sedang berada di depan jendela kelasnya, sementara Luna dan Billy sedang duduk bersama di taman sekolah. Luna yang sedang bertingkah malu-malu di depan Billy yang begitu asyik menjahilinya dengan memainkan ujung ujung rambut Luna, keduanya terlihat lucu sekaligus menggelikan di mata Fey. “mereka jadian?” Tanya Willy yang sedari tadi ternyata juga memperhatikan Luna dan Billy yang jadi pemandangan indah nan romantis di jendela kelas mereka. “ehm? Luna? jadian? engga deh kayanya... masa secepet itu sih?” Fey tak yakin kalau sahabatnya yang begitu polos itu, akan secepat itu menjadi kekasih dari laki-laki yang baru saja di kenalnya beberapa hari ini. tapi kemudian Fey berpikir ulang, mungkin juga karena kepolosannya, Luna jadi langsung mengiyakan ketika Billy memintanya untuk menjadi kekasihnya. “ya mau cepet mau lama kalo udah cinta mah bebas...” balas Willy dengan santainya. “waah... gak bener nih anak, bikin khawatir mulu kerjanya... baru kenal masa udah iya aja di ajak pacaran, kalo di bikin sakit hati gimana coba?” Fey mendadak khawatir pada Luna. Padahal baru saja Luna itu bisa sedikitnya lepas dan lupa dari kejadian buruknya dengan Si Rey, tapi sekarang ia malah akan terlibat hubungan kembali dengan Billy yang belum lama ini masuk ke sekolahnya, benar-benar tak ada kapok-kapoknya Luna itu, begitu pikir Fey. “Fey, Billy itu anaknya baik kok, gue bisa jamin” “serius?” “bener deh, bahkan ya kalo di bandingin sama Si Leo yang emang pinter tapi masih aja ada belok-belok nakalnya, Si Billy mah anaknya lempeng-lempeng aja malah...” Fey bisa sedikit tenang mendengar penuturan dari Willy yang memang cukup bisa di percaya perkataannya. Mata Fey lagi-lagi harus menemukan pemandangan Luna dan Billy yang jadi semakin manis saja, ia ikut tersenyum saat melihat Luna yang tampak berbunga-bunga bersama Billy di taman sekolahnya itu. “bikin iri deh... Will, pegang rambut gue juga dong” Willy yang mendengar permintaan aneh Fey itu jadi menyiritkan alisnya, tapi meski begitu ia menurut saja dan mulai mengulurkan tangannya pada rambut Fey. Namun bukannya dielusi, Willy malah menjiwir seperti jijik rambut yang di ikat pony tail milik perempuan bergaya tomboy di sampingnya itu. “iuhhhh... ini rambut apa sapu ijuk... lengket, jempet lagi...ih” Padahal maksud hati, Fey ingin merasakan sentuhan seperti yang sahabatnya rasakan saat ini. Tapi ia malah mendapat ejekan dari temannya itu. “boong dikit atau pura-pura gak liat bisa gak sih Will?? maklumin gitu, orang aku kan abis latihan banting orang...” “banting banting mulu kerjanya... pergi ke salon kek sekali-kali, beli parfume, atau seengganya mandi biar harum... kaya gini sih... gue yakin gak akan ada yang mau sama Lo” “sialan!!!!” Fey sampai mengumpat, bahkan tangannya yang di kepalkannya bulat-bulat sudah di angkatnya ke udara, bersiap untuk melayangkan tinju pada Willy. Namun tentu saja itu tak mungkin di lakukannya, karena Fey hanya ingin memperingati Willy dengan mulutnya yang sudah asal bicara itu. “wow tungu tungu tunggu... cowok bisa langsung lari kalo Lo kaya gini Feyyy... gak mau apa kaya si Luna... anak TK aja bisa beduaan sama cowok, masa Lo kalah sih” “ssshhhhh...” Fey mendesis pada Willy, jadi semakin ingin saja dirinya untuk benar-benar meninju wajah Willy yang sudah bersikap menyebalkan sekali padanya. Dan Willy yang sadar, kalau ia baru saja sudah membangunkan naga yang garang, langsung melarikan diri, takut takut ia akan benar-benar mendapat hantaman keras dari atlet kebanggaan sekolahnya itu. Tapi kemudian setelah Willy pergi, Fey jadi meniciumi bau rambut juga tubuhnya sendiri, dan hasilnya ia mengerutkan wajahnya. Jelas sekali bau tak sedap terhirup ke hidungnya. “ah... mungkin aku harus minta sampo, sabun sama parfume Luna biar bisa agak cantikan kaya dia...” Gumam Fey. Sementara itu, Luna dan Billy yang kini sedang duduk bersama di bangku taman, tengah bercengkrama dan asyik berbagi cerita tentang diri masing-masing, ini benar-benar real masa pendekatan untuk keduanya. Cuaca yang biasa saja, bahkan obrolan mereka juga yang umum-umum saja, tak ada pelawak atau acara komedi yang sedang diputar, tapi anehnya hanya dengan kata simple saja, langsung menimbulkan tawa bagi keduanya. Semua yang Luna ucapkan selalu saja berhasil membuat Billy tergelitik dan jadi ingin tetap berlama-lama menghabiskan waktu berdua bersamanya. “....” “Rusia?” “ehm... jadi ayah aku kerja buat perusahaan minyak di sana, tapi karena masa kontrak kerjanya udah abis, jadi ya aku sama ayah balik lagi sini deh...” Cerita Billy pada Luna. Luna mengganguk-angguk saja mendengarkan Billy. Tapi sayangnya kini ia sudah kehabisan topik untuk di bicarakan dengan Billy, karenanya Luna hanya bisa diam sekarang. “ehem, jadi... di Paris ada apa?” Tanya Billy tiba-tiba “ehmm...di Paris? ada Menara Eiffel?” Balas Luna sambil tersenyum, meski sebenarnya ia tak mengerti kenapa tiba-tiba saja Billy menanyakan di Paris itu ada apa. “kalo di belanda?” “ehm... ada kincir angin Windmills” Jawab Luna kembali. “Singapura?” “Patung Merlion...” “ehmm kalo Turki?” Billy melanjutkan pertanyaannya yang malah jadi terdengar seperti kuis teka teki pengetahuan umum beruntun itu. “ada banyak tulip di sana Billy... kenapa sih tanyanya gitu?” “ehmm... kalo di sini... ada apa?” Billy mengajukan pertanyaan finalnya, ia kini menatap Luna dengan penuh harap. “di sini? Surabaya? ada... SMA ST. Louis 1?” Hanya sekolahnya yang terlintas di kepalanya untuk di jadikan jawabannya. Dan Billy yang mendengar jawaban Luna itu, jadi menampilkan wajah datarnya, jelas sekali kalau bukan itu jawaban yang ingin di dengarnya. “hhh... padahal maksud aku di sini itu... ya di sini... ada kita gitu Luna ckckk” Gumam Billy superrr pelan, “apa?” “ehm? enggak, gak kok gak papa... eh, aku pengen liat foto kamu di semua negara yang kamu kunjungin dong... di post di media social kan? akun kamu apa? biar aku follow” Billy mengalihkan dengan menanyakan akun media social Luna. “ehmm... aku gak punya, ayah aku gak bikinin itu buat aku” “loh kenapa? kan kamu juga bisa bikin sendiri?” Luna terdiam, itu pernah terpikir olehnya dan sudah di lakukannya. Tapi baru saja dua menit akun i********: itu di milikinya, tiba-tiba ia mendapat notifikasi bahwa akunnya telah di blokir. Dan Luna tahu pasti itu adalah ulah ayahnya yang super protective untuk menjaga dirinya. “ehmm... engga deh, ayah aku bilang media social itu bikin yang jauh jadi deket, terus yang deket jadi malah jauh...” Jawab Luna begitu akhirnya. “ehmm... tapi kan ada banyak manfaatnya juga, gimana kalo sampe ada orang yang jauh terus tiba-tiba udah malem banget, kangen pengen ketemu kamu... kan bisa di obatin kangennya pake liatin foto yang kamu posting...” Ucap Billy malu-malu, jelas sekali kalau orang yang di maksudkannya itu adalah dirinya. “hhh... tapi akun di handphone sama di laptop aku itu langsung kepantau sama ayah aku Bill, kalo aku bikin terus ayah aku blok gimana?” “ehmm... coba aja dulu, sini mana handphone kamunya” Luna tanpa berpikir lagi langsung saja memberikan handphonenya pada Billy. Dan begitu sampai handhpone Luna itu ditangan Billy, tiba-tiba saja senyum melengkung di wajahnya, saat mendapati wallpaper home screen layar handphone Luna itu adalah wajah cantiknya bersama sang ayah. “kenapa?” Luna penarasan pada Billy yang tiba-tiba tersenyum simpul, ketika menatap layar handphone miliknya itu. “mirip” Jawab Billy singkat, dan Luna di buat tertawa jadinya. “hahahh... iyalah mirip, orang itu foto ayah sama anak, Billy” “hehe... bentar ya aku bikinin akunnya buat kamu” Billy langsung saja membuatkan akun baru bersama dengan akun Instagramnya, dan ternyata itu bisa selesai dalam waktu beberapa menit saja. “Luna liat sini” Pinta Billy, ia bermaksud ingin mengambil foto Luna untuk foto profile akun instagramnya. dan satu klik saja, tanpa filter, make up atau apapun, satu potret wajah Luna yang cantik sekali di matanya itu, sudah ia dapatkan saat ini. “cantik” Satu kata singkat dari mulut Billy itu, berhasil membuat pipi Luna jadi memerah tersipu malu. cantik cantik cantik cantik kata itu terus saja terngiang, berulang-ulang terdengar di telinga Luna. Hatinya bahkan di buat seakan-akan terbang melayang-layang karenanya. “ini... udah aku follow juga akun kamu...” “ehm? ah iya makasih” “kamu bisa coba posting foto kamu di akun kamu yang baru ini” “ehmm... yang mana yaa...” Luna mulai memilih foto yang akan di uploadnya itu dari gallery handphonenya, jarinya berkali-kali menscroll banyak koleksi fotonya, sampai ia menemukan fotonya yang sedang mengenakan dress putih tengah berdiri di depan sebuah gedung. “ini aja...” “klik terus kasih caption sama kamu” “ehmmm apa yah... hallo aku Luna... masa gitu sih captionnya?” Entah kenapa tingkah Luna yang baru saja mengatakan ‘hallo aku Luna’ itu menggemaskan sekali di mata Billy, ia sampai mengusapi puncak kepala Luna, yang sebenarnya ingin sekali ia bedah untuk mencari tahu apa saja isinya itu. “hahahhh iyaa... terserah kamu, abis itu upload” Dan akhirnya satu foto Luna sudah terpajang di akun instagramnya. Tak lupa, Luna juga mengunjungi dan melihat-lihat foto-foto yang Billy upload di akun intagramnya. ..... .... .. @rumah “Luna... Lunaa... Luna” Bryan berkali-kali memanggil Luna, dan lagi-lagi Luna tak langsung menyahuti. “hhh... kebiasaan... kemarin gara-gara soal ‘punya’ laki, sekarang gara-gara apa lagi coba, Luna malah kaya orang gila senyum-senyum sendiri liatin handphonenya gitu” Akhirnya Bryan memutuskan untuk menghampiri Luna yang sedang berguling-guling sambil senyum-senyum sendiri itu. Ia sudah seperti itu sejak sepulang sekolahnya tadi sore, dan yang membuat Bryan kesal sekali padanya adalah Luna sampai tak mandi, melewatkan makan malamnya, dan bahkan masih mengenakan seragam sekolahnya sekarang ini. “Luna” Bryan kini sudah berdiri bertolak pinggang di depan putrinya. “oh ayah? ada apa?” “sini handphonenya” Bryan langsung meminta. “ayah...” Luna merengek, ia tak rela handphonenya yang terancam akan di sita oleh ayahnya itu. “sini sayang...” Luna tak bisa mewalawan, ia pasrah dan dengan berat hati langsung memberikan handphoennya pada Bryan. “ini??? ini- ini...ini dari tadi kamu liatin dia? siapa cowok ini Luna??” Bryan kaget saat yang di lihatnya di layar handphone putrinya itu ternyata adalah foto seorang laki-laki. “itu... ehmm... itu Billy ayah” Jawab Luna sambil menenggelamkan wajah malunya pada boneka beruang di sampingnya. “jadi dari tadi senyum-senyum sendiri, sampe gak mandi, makan dan ganti baju cuma buat liatin ini???” Bryan tak percaya dengan tingkah konyol anaknya ABG nya itu. “engga ayaah, Aku baca ulang chat aku sama Billy tadi sore” Jujur Luna dengan suara yang teredam perut boneka beruang yang menutupi wajahnya kini. Bryan langsung membuka room chat Luna dengan Billy. √ Hai Luna √ Udah sampe rumahkan? √ Sampe ketemu besok ya *emot ikon senyum “Lunaa... ini pesan cuma tiga bait aja, kamu bacain dari sore sampe jam 8 gini???” Bryan sudah tak mengerti lagi dengan tingkah ada ada saja putrinya itu. “aaahhhh!!! Luna gak tau ayaaah, Luna kecanduan liatin diaa!!!” .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN