#2 Antara Billy, Benjolan dan Luna

1750 Kata
“Luna...” ‘aduh gimana ini... Billy makin deket aja lagi...’ Kakiku semakin gemetaran, tak tahu harus ku bawa melangkah kemana untuk menghindarinya. “duh gimana yaa...” Sampai akhirnya mataku menemukan pintu kelas ruangan IPA 5 yang untungnya hanya beberapa langkah saja dariku, tanpa pikir panjang aku putuskan untuk masuk saja kesana agar bisa bersembunyi dari Billy. Dukkkk “AH!” “shhh...kenapa kepentok segala sih!” Kutukku, saat dengan sialnya tiba-tiba aku malah harus menabrak papan tulis yang baru saja di gotong keluar oleh dua orang siswa dari dalam ruang kelas itu. Aku sampai di buat jatuh, terduduk di lantai, karena tubuhku yang akan kubawa berlari masuk itu justru menabarak sampai terpental keras jadinya. “sorry sorry sakit ya... maaf gak sengaja kita di suruh ganti papan tulis” “i- iya... gak papa kok” Kataku sambil mengusapi kepalaku yang baru saja terbentur itu. Aku mencoba untuk berdiri, tapi sayangnya aku terlalu pusing sampai kembali duduk di lantai. “Lunaa!! kamu gak papa? sini aku liat” Billy yang sudah pasti melihatku yang dengan konyolnya menabrak papan tulis barusan itu, kini tiba-tiba saja sudah berjongkok di depanku, dengan tangannya yang langsung saja meraih wajahku untuk memeriksa dahiku yang terasa amat cenat cenut itu. Kulihat matanya memperhatikan dahiku yang jadi terasa berdenyut dengan lekat dan sangat serius. Wajahnya di dekatkannya padaku, aku di buat takut dengan apa yang akan coba di lakukannya padaku itu, sampai akhirnya aku jadi memejamkan mataku karenanya. “huuuhhh...” Dan yang kudapati adalah hembusan dingin napasnya sampai ke seluruh wajahku. Billy ternyata hanya ingin meniupi dahiku yang baru saja dengan malangnya mencium papan tulis itu. Dalam gelapnya mata yang sedang kupejamkan, entah kenapa sekujur tubuhku serasa baru saja terkena angin kencang seperti badai pasir, darahku bahkan jadi kencang berdesir, padahal napas lembut yang keluar dari mulutnya, yang menyelusuri halus sampai ke pori kulit wajahku. “Luna... ini... pasti pusing banget ya?” “ehm??” Aku membuka mataku dan menemukan wajahnya yang hanya berjarak tak sampai lima senti saja dari wajahku. “ah, gak papa kok...” “tapi ini... agak memar...” Mendengar kalau dahiku memar darinya, aku langsung mengusapkan jari-jariku dan benar saja... terasa benjol. “kita ke UKS aja, aku kompres dahi kamu” Aku menurut saja padanya, karena sejujurnya kepalaku terasa pusing sekali. Untung saja Billy mau berbaik hati membantuku, aku pikir dia akan menertawakanku yang dengan bodohnya akan lari darinya dan malah jadi menabrak papan tulis yang tak kulihat tadi itu. Aku di papahnya sampai kini sudah berada di ruang UKS. Aku hanya duduk diam di pinggiran salah satu ranjang yang ada di ruang UKS ini, sementara Billy kulihat ia sedang disibukkan menyiapkan kantung kompresan untukku. “sini... biar aku kompresin” Ucapnya, dan dengan lembut tanganya meraih wajahku, tapi kemudian aku tersentak saat dahiku yang kini membenjol(?) besentuhan dengan dinginnya kompresan dari tangan Billy. “oh maaf... aku bakal lebih pelan lagi” Pipi kananku di genggamnya, ia membuatku menengadah sampai mataku jadi sangat jelas memandangi wajahnya. Dingin. Tapi rasanya jauh lebih baik sekarang, berkat Billy tentunya. Billy mengusap lembut bejolan di dahiku. Aku hanya bisa diam, bahkan aku sampai jadi tak ingin bersuara karena tak ingin mengganggunya yang mendadak jadi dokterku seketika. Tapi diamku itu sesungguhnya sangat bertolak belakang sekali dengan apa yang sedang terjadi di dalam dadaku, kini seperti ada seseorang yang sedang menabuh genderang yang siap memecahkan perang di dalam sana, riuh dan seolah tengah terjadi kekacauan besar di dalam dadaku sekarang ini. “huuuuhh...” lagi lagi Billy meniupkan napasnya di dahiku, bulu-buluku sampai di buat berdiri olehnya. errrr.... “Billy...” kumundurkan tubuhku sedikit menjauh darinya. “ehm? kenapa? pusing? atau sakit banget? kita- kita... ke rumah sakit aja gimana?” Tanyanya dengan panik, tak tahu kenapa sikap kahwatirnya itu mengingatkanku pada ayah. Aku bahkan jadi mengulum senyumku karenanya. “Luna... serius? sakit? apa aku terlalu kasar obatinnya?” “engga-engga kok... bukan itu, tapi- ehmm... gak jadi deh...” kataku menggantungkan kalimatku “ahh... yang bener aja kamu ini... kenapa bilang sama aku” “Billy...” “ehm? apa? apa?” “Boleh minta bawain aku cermin gak? aku pengen liat jidat aku” Pintaku padanya. Dan dengan cepat ia langsung membawakan cermin yang kuminta, lalu aku meraih cermin yang sudah berada di tanganya itu untuk kulihat bayangan diriku. Jeng jeng jeng Ternyata aku benar-benar memiliki benjolan hijau ke unguan di hahi kananku. “ahh... jadi benjol gini” Keluhku, sementara Billy yang melihatku berkaca, tiba-tiba saja ia terkehkeh sambil memandangiku. “Aku- jadi keliatan aneh banget ya...” Kataku, dan tanpa kuduga Billy malah mengusap-usap puncak kepalaku lembut. “gak papa, lucu kok, untung cantiknya gak ilang nempel di papan tulis tadi” Aku tersipu mendengar perkataannya itu. ‘hhhffttt.... bikin aku malu aja deh, kenapa dia bilang gitu sih sama aku, apa katanya? cantik?... ish dia itu bisa aja deh’ Aku asyik berbicara sendiri dalam hati, sampai sampai tak sadar kalau aku malah jadi bertingkah seperti kucing peliharaan yang senang sekali di elusi oleh tangan Billy, yang juga terlihat sangat betah mengusapi rambut dan puncak kepalaku. “Lunaaa!!!” Fey yang muncul tiba-tiba dari pintu masuk ruang UKS langsung berteriak histeris memanggilku. “kemana aja sih... aku cariin dari tadi juga...” Fey menghampiriku sambil bergerutu, dan tentu saja ia langsung menyadari ada sesuatu yang baru di wajahku, sampai kini ia sudah membulatkan kedua matanya tepat di depan wajahku. “ini? ini kenapa bhahahhhh... kamu- kamu benjol ahahahhh ahahaaa...” Fey menertawakanku dengan keras dan terlihat puas sekali sekarang ini. Menyebalkan sekali dia itu, hobinya selalu saja menertawakanku. “hhh... Fey, jangan ketawain aku bisa gak? kepala aku pusing tau” “hahahahh... Luna... Lunaaa... ini gimana ceritanya, sehari aja gak buat masalah kayanya gak bisa deh ni anak...” Ucapnya, tapi kemudian kulihat tangannya tengah mengambil salep dan langsung saja di oleskannya pada benjolan di dahiku itu. “aww... pelan-pelan” Protesku, dia ini perempuan tapi kenapa kontras sekali dengan Billy yang bisa begitu lembut sekali mengobatiku tadi. Meski begitu aku bersyukur, selain hobinya Fey itu menertawakanku, tapi dia jugalah orang yang selalu ada untuk menjagaku dan mengajariku banyak hal, selain ayahku tentunya. “diem... biar cepet sembuh Lunaa...” ucapnya, Dan setelah selesai mengolesi salep itu, Fey lalu memperhatikan dahiku lekat-lekat. “nah... ini baru yang namanya benjolan, dan yang kemaren kamu pegang itu namanya penismmmmhhh-“ Meski terlambat dan sudah terucap, tapi aku berusaha untuk membungkam mulut Fey yang dengan santainya mengatakan ‘Si P’ itu, di saat Billy masih berdiri tepat di sampingku. Sontak saja refleks langsung kulirikan mataku, dengan wajah maluku pada Billy yang terlihat sedang memandang ke arah lain dengan senyum yang di kulumnya. Aku tahu dia hanya sedang berpura-pura mengabaikan perkataan Fey barusan itu. aarghhhh maluuuu!!!!’ “ehehehe...” Fey kulihat hanya bisa cengengesan saja padaku sekarang, padahal baru saja aku bisa melupakan soal kejadian ‘benjolan’ yang ternyata milik Billy kemarin itu, dan Fey malah muncul lalu mengingatkan itu. “ah, aku- tiba-tiba inget... tas aku ketinggalan di kelas, dah Lunaa” Ucap Fey tiba-tiba sambil melarikan diri dan tak bertanggung jawab setelah membuat kecanggungan di ruang UKS ini. “FEY!!!” Aku berteriak memanggilnya tapi percuma saja, dia sudah jauh pergi meninggalkanku berdua kembali bersama Billy. “ehemm” Billy malah berdehem dan terlihat tengah mengulum senyumnya. ‘aduh... canggung, malu, berasa pengen ngilang aja gitu dari dunia ini’ Gerutuku dalam hati. Aku diam dan tak berkutik sekarang, pipiku panas sekali, bibirku ku rapatkan dan jadi kugigiti, sedikit kesal karena malah jadi membisu dan harus terjebak dalam kecanggungan ini. “ah! aku bawa ini... ini... buat kamu” Ucapnya sambil mengulurkan Chupa Chup candy lollipops yang di keluarkannya dari kantung jaket baseball merah yang di kenakannya hari ini. Ia bahkan sempat-sempatnya membukakan bungkus permen yang berwarna pink itu untukku, aku tentu dengan senang hati menerima permen pemberiannya itu. “siapa tau manisnya bisa ilangin sakitnya...” Ucapnya, sulit untukku tak tersenyum di buatnya. Entah kenapa menurutku dia itu... tampan sekali saat sedang mengatakan kalimat barusan itu padaku. Aku menunduk dan mulai mengulum permen manis dengan rasa stroberi pemberian Billy itu. “gimana? benjol di kepalanya udah gak begitu kerasa sakit kan?” Aku hanya mengangguk sambil tersenyum tapi tak berani untuk kunaikan pandanganku untuk menatap dan menjawab pertanyaannya itu. Aku hanya memandangi kaki kakiku yang sedang kuayun-ayunkan sekarang ini. “ehmm... kamu? itu... kamu baik-baik aja kan?” Tanyaku ragu padanya. “apa? itu? itu apa... maksudnya?” Billy jelas tak mengerti dengan pertanyaan ambiguku itu. “itu... yang kemarin gak sengaja aku pegang...” kataku pelan... saaaangat pelan, bahkan aku tak yakin Billy bisa mendengarnya. “itu... baik-baik aja kan?” Tanyaku sambil ku pejamkan mataku rapat-rapat, aku malu sekali untuk menanyakannya. Tapi harus kutanyakan dan harus juga kupastikan itu, karena rasanya tak enak sekali padanya. Bahkan seingatku dia sampai terdengar merintih, saat ku sentuhkan tanganku yang dengan bodohnya aku tak kutahu kalau itu adalah miliknya kemarin. Tapi kemudian Billy mengeluarkan suara yang terdengar seperti sedang menahan tawanya. karena penasaran, akhirnya kubuka mata kananku untuk mengintip dirinya. “ben-jo-lan- aku... baik-baik aja Lunaaa....” Balas santai, bahkan nada suara juga raut wajahnya seperti sedang mengajakku bercanda, dan lagi-lagi tangannya kini mengusapi puncak kepalaku, mengelusi rambutku lembut. “aaahh jangan bilang itu benjolan lagi, aku udah tau apa itu... maaf Billy, aku gak tau kemarin...” “hahahhh... hahahhh gak papa Luna... gak papa kok” Ucapnya, lalu beranikan diriku untuk menatap matanya lekat-lekat untuk memastikan ‘gak papa’-nya itu benar atau tidak. “beneran? beneran gak papa kan?” Billy malah tersenyum padaku, sedikit aneh bagiku, entah apa maksud dari senyumnya itu. Ia kemudian tiba-tiba saja mendekatkan dirinya pada telingaku. “beneran... serius deh, orang bejolan aku kamu elus kok, jadi gak papa...” Aku merinding mendengar ia membisikan ucapannya itu di telingaku, aku tahu dia sedang mengejekku sekarang. “aaahhh!!! Billy udah dong...” Pintaku sambil kupukul dirinya pelan, “hahahahh... abis gemesin banget sih kamu tuh...” Billy malah tertawa dengan puas sekali di sampingku kini. “udah jangan bahas itu lagi... aku tau itu apa sekarang, jadi please jangan bahas-bahas itu lagi” “ehm... jadi udah tau nih... beneran?” Tanyanya padaku. hhfffttt... aku baru tahu dia bisa bersikap menyebalkan dengan menggoda aku begitu. “udah Billyyy!!! yang ‘itu’ bukan benjolan dan yang di dahi aku ini baru namanya benjolan...” “hahahahh....” Billy semakin puas saja tertawa setelah mendengar ucapanku barusan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN