“Luna...”
“Luna...”
Bryan berkali-kali memanggil anaknya yang terlihat celingukan menatapi banyak pria yang berlalu lalang di restoran tempat mereka akan diner malam ini.
“Luna... sayang...”
Luna masih belum juga menyahuti ayahnya yang terus memanggilnya itu. Sampai Bryan jadi mengikuti kemana saja arah pandang putrinya itu.
“Luna kamu-”
Bryan di buat jadi menyiritkan alisnya, matanya tak percaya menyadari apa yang sedari tadi menjadi perhatian Luna,
“pesanan anda Pak”
Ucap seorang pelayan pria yang baru saja sampai di meja Bryan dan Luna dengan tangannya yang mulai meletakan pesanan menu makan malam keduanya.
Luna terlihat begitu focus memperhatikan tubuh pelayan yang sedang menyajikan steak yang jadi menu makan malam pilihannya. Tapi yang jelas sekali terlihat oleh Bryan, mata putrinya itu bukan menatapi makanan yang kini sudah berada di depannya tapi apa yang ada di bagian bawah tubuh pelayan pria yang baru saja melangkah pergi menjauh dari meja mereka.
“Luna!”
Bryan memanggil Luna dengan suara pelan tapi nada yang jelas sekali terdengar membentaki putrinya, yang matanya itu masih saja mengekori pelayan yang sudah pergi darinya itu.
“oh? apa? ayah ada apa?”
Luna gelagapan, ia baru sadar setelah pikirannya berkelana berjalan kemana-mana
“hhh... Luna ngapain kamu liatin orang kaya gitu sih sayaaang...”
“siapa? engga... Luna gak liatin itu kok”
“itu? itu apa? kamu- kamu ‘itu’ maksudnya??!!!”
Luna jelas sekali sudah tertangkap basah oleh ayahnya. Bryan jadi sangat ingin marah pada putrinya yang mendadak tak bisa menjaga pandangan matanya itu.
“Luna itu gak sopan ya sayang... kamu gak boleh perhatiin-“
“p*nis?”
Luna menyebutkan kata itu dengan polosnya, seolah-olah itu bukan apa-apa, tak jauh berbeda dengan nama dari anjing peliharaan tetangganya.
“LUNA!!”
Bryan tak tahan, sampai ia langsung saja bangkit berdiri dan menarik tangan putrinya itu berjalan ke luar restoran.
“masuk!”
Ucap Bryan tegas pada Luna, setelah tangannya membuka kasar pintu mobilnya itu. dan dengan tertunduk Luna menurut masuk lalu duduk di kursi mobil ayahnya, ia sangat sadar sebentar lagi adalah saat baginya untuk mendapati semua omelan panjang dari ayahnya itu.
Bryan cepat-cepat melangkah masuk menyusul ke dalam mobilnya.
“Luna”
“iya ayah”
Bryan menarik napasnya dalam-dalam, ia mencoba untuk tak meledak dan tetap mengontrol emosinya.
“kamu tau... kata yang kamu ucapin tadi itu apa?”
Tanya Bryan pada Luna yang kini jadi tak berani untuk menaikan dan menatap ayahnya yang mendadak mengintrogasinya itu.
“itu... itu... punya ayah”
Jawab Luna pelan, tak jelas bahkan hampir tak terdengar. Luna sangat takut pada ayahnya sekarang ini.
Plakkk
Bryan benar-benar di buat tak tahu harus bagaimana menghadapi Luna, hingga keningnya sampai kena pukul telapak tangannya sendiri karena putrinya itu.
“LUNAA-”
“ah ayah! Luna baru tau itu tadi siang!”
Luna berani membalas, karena sejujurnya ia sendiri pun tengah kebingungan, kenapa ia malah jadi selalu memperhatikan dan penasaran akan apa yang ada di balik celana pria. Ia menerka-nerka sampai mencoba menerawang bentuk milik pria yang dilihatnya. Kepalanya jadi di penuhi oleh pertanyaan ‘apakah bentuknya itu sama seperti alat peraga yang ada di Lab biologi sekolahnya’
“ayah, Luna gak tau jelasnya kaya gimana... itu- itu tuh ... kaya asing banget sampe ganggu banget di otak Luna, dan... dan Luna gak tau kenapa ‘itu’ terus aja muter-muter di kepala Lunaa...”
Ungkap Luna,
“sayang-“
“Fey tau itu... semua orang tau ‘itu’ kan ayah? cuma Luna aja yang gak tau kan??!!!”
Bryan yang berniat memarahi Luna, kini malah harus mendapati anaknya yang bereaksi jauh lebih emosi darinya, karena baru saja tahu hal yang selama ini tidak pernah di ketahuinya.
“kenapa Luna gak pernah dapet pelajaran biologi dan terus aja ambil sastra, seni, sama olahraga kemarin??? sampe sampe Luna ngerasa kaya ada di planet lain waktu liat bentuk p*nis itu di lab... bahkan Luna ngerasa tiba-tiba asing sama ayah... ayah jadi kaya alien yang punya ekor di depan di mata Luna...”
“EKOR???”
“wahhh... itu- itu... aaahhhh!!!!!”
Bryan tak bisa mengatakan apapun, ia hanya mengerang frustasi mendengar semua yang di ucapkan putri semata wayangnya itu.
‘itu bukan ekor!! itu benda kebanggan ayah yang bikin kamu lahir Lunaaa!!’
Ingin sekali Bryan mengatakan itu dengan kerasnya pada Luna, namun ia hanya bisa menyentak-nyentakan kakinya, memejamkan matanya dan mengepalkan tangannya, menahan kesal karena tak tahu harus menjawabnya seperti apa.
“hhhh... Luna denger ayah... kamu harus jaga mata kamu, seberapa besar pun rasa penasarannya kamu sekarang, sama ketika kamu yang baru tau kalo gak boleh liatin bagian tubuh privasi kamu ke orang lain termasuk ayah, yang artinya gak boleh ada lagi yang liat tubuh kamu especially bagian privasi kamu... itu juga berlaku buat laki-laki sayang, kamu harus hormatin mereka dan gak boleh sembarangan ucapin, liatin, perhatiin, apalagi sampe sentuh bagian tubuh privasi laki-laki...”
Luna yang mendengar itu langsung menutup mulutnya yang mengaga dengan kedua tangannya.
“apa? kenapa?”
“Billy... ayah... aku... itu- itu punya Billy... aku gak sengaja...itu-“
Luna berbicara tak jelas, sadar akan apa yang sudah di lakukannya terhadap teman laki-lakinya itu.
“LUNAAAA!!!!”
***
Luna pov
“ayo buruan turun...”
ucap Fey padaku,
“Bunda makasih ya... aku sama Fey pergi sekolah dulu”
Pamitku pada Bunda Fey yang sudah mengantarku pergi ke sekolah hari ini.
Semalam saking bingungnya, ayahku akhirnya membawaku ke Bunda Fey untuk di berikan pengertian mengenai apa yang baru saja kuketahui, yaitu masih soal organ reproduksi laki-laki yang sangat mengganggu pikiranku. Hasilnya aku jadi malu sendiri, sampai tak ingin pulang dan memilih menginap bersama Fey yang terus saja tertawa semalaman. Bahkan aku yakin tidurnya itu juga sambil menertawakanku, cih teman macam apa dia itu.
“iya Luna... Fey hati-hati jangan nakal”
“iya Bundaa... hati-hati nyetirnya”
Setelah itu aku berjalan memasuki gerbang sekolahku bersama Fey, menyeret tubuh malasku sambil membalasi banyak pesan chat dari ayahku pagi ini.
“Luna udah sarapan dan udah ada di sekolah dengan selamat ayaaah...”
Kataku dalam pesan suara pada ayahku. dan satu pesan balasan lagi kuterima darinya.
from Ayah
Jangan buat ulah hari ini, tangannya diem, pokoknya diem, kalo gak tau tanya dulu sama Fey okey
begitu pesannya.
“iyaaaa ayaaaaaah”
Balasku melalui pesan suara kembali.
Kulirik Fey yang ada di sampingku, ia kini lagi-lagi sudah memasang wajah ingin tertawanya padaku.
“Fey, kotak tertawa kamu rusak nanti kalo terus-terusan pake ngetawain aku”
“eheyyy di kira aku SpongeBob apa... lagian ada-ada aja sih ya ampun, gak ada abis-abisnya kamu bikin aku pengen ketawa tau gak...”
“udah dong”
kataku sambil menarik-narik ujung kemeja putih seragamnya.
“iya iyaa... ah aku jadi pengen pipis deh, naik duluan gih aku mau ke toilet dulu”
Ucap Fey dan langsung saja ia berlari dengan cepat menuju toilet perempuan.
Akhirnya aku berjalan lebih dulu naik menuju ruang kelasku.
“Lunaa!!”
Seseorang memanggilku, aku tahu suara siapa itu. Aku menoleh ke arah suara yang memanggilku barusan itu.
“Billy...”
Gumamku pelan,
‘aahh... gimana ini... aku masih malu buat ketemu sama dia... apa aku lari aja ya?’