“Luna... Luna kamu-... hahahh...”
Fey benar-benar di buat tak bisa jika harus menahan tawanya, mengingat semua yang baru saja di ceritakan Luna saat bersama Billy di kantin ketika dirinya sedang dalam sesi latihan taekwondonya.
“Fey.... jelasin... Billy kenapa? dia- dia gak kenapa-kenapa kan? kenapa dia buru-buru pergi ke toilet tadi?? terus kita ini mau kemana sih...”
Tanya Luna sambil terus mengekori langkah Fey yang kini sedang menyeret tangannya menuju lab biologi yang kebetulan sedang tak di isi oleh kelas manapun.
Dan sesampainya di depan pintu ruang Lab Biologi, Luna malah celingukan, masih tak mengerti mengapa Fey tiba-tiba membawanya ke ruang lab biologi itu.
“ayo masuk sini Luna...”
“Fey kita mau ngapain di sini?”
“gak papa Luna, ayo masuk aja...”
Ucap Fey sambil mendorong tubuh Luna yang mematung di depan pintu itu, untuk melangkah masuk ke dalam ruang lab biologi.
“sekarang liat ini”
Fey kini tengah menunjukan alat peraga organ reproduksi pria yang di miliki lab biologi sekolahnya itu.
“ini??”
Dengan mata yang membulat Luna menatapi alat perga yang di tunjukan Fey padanya. Sedikitnya tentu Luna bisa menebak kalau apa yang ada di depannya itu adalah apa yang selalu ada di balik celana dalam pria termasuk ayahnya.
Fey menarik napasnya, bersiap untuk menjelaskan kepada temannya yang melewatkan pelajaran biologinya dulu ketika ia mengenyam pendidikan SMP-nya di luar negeri.
“jadi ini namanya organ reproduksi pria, yang panjang ini namanya p***s, dan yang bulet di bawah ini namanya testis, kalo pembungkus luarnya ini namanya skrotum... dan yang tadi mungkin kamu sempet sentuh itu ... ya mungkin ini, p***s punya Billy...”
Jelas Fey pada Luna, padahal biasanya Fey itu termasuk jajaran anak yang paling tertinggal soal perlajaan di kelas, kerena yang ia kuasai hanyalah soal olahraga dan tanding saja dengan taekwondo kebanggaannya. Tapi sekarang akhirnya ia bisa merasa setingkat dengan Leo si anak paling pintar, ketika bersama dengan Luna yang pengetahuan biologinya itu nol besar. bahkan dengan bangganya ia merasa bisa menjadi guru biologi untuk si polos Luna yang benar-benar baru mengetahui organ reproduksi pria itu.
Sementara itu Luna kini hanya diam, membisu, setelah mengetahui fakta bahwa teman lelakinya itu memiliki benda seperti itu di tubuhnya.
“huk”
“huk”
“huk”
“Luna... kenapa jadi cegukan?”
“enggak... huk, ini...huk, jadi mereka punya yang panjang ini...huk”
Jawab Luna dengan di tengahi cegukannya di setiap katanya, ia tak bisa berhenti cegukan berkat perasaan takjub, kaget, speechless, nge-wow yang kini tengah bercampur aduk dalam dirinya. Ia merasa seperti seketika pindah ke mars dan menemukan sosok mahluk baru yang padahal selama ini ia hidup berdampingan bersama mereka yang kini jadi tampak asing baginya itu.
‘kenapa aku baru tau ya?’
Di kepala Luna sekarang ini seperti ada bulatan buffering yang berputar-putar, tubuhnya diam tak bergerak, sedang loading, masih berusaha mencerna apa yang baru saja di ketahuinya itu. Tapi satu hal yang pasti kini sudah di dapatnya, akhirnya Luna jadi mengetahui perbedaaan besar antara pria dan wanita, selain selama ini ia hanya mengetahui kalau dirinya memiliki p******a dan mengalami menstruasi sementara ayahnya dan juga pria lainnya tidak.
“huk”
“huk...”
Luna memukuli dadanya berharap bisa menghentikan cegukannya itu.
“hahahhh... Luna Lunaa... aku gak pernah nyangka bakal nemu temen kaya kamu... hahahh”
Fey benar-benar tak bisa menyembunyikan tawanya melihat Luna yang sekarang ini terus saja memperhatikan peraga kelamin pria yang ada di depannya itu. Luna jadi terlihat seperti anak kecil yang takjub karena baru pertama kali tahu apa itu gunung dan bintang saja, matanya benar-benar membulat dan mulutnya yang sedikit terperanga, tingkah Luna itu membuat Fey semakin gemas padanya.
“ini... mereka kencing dari sini?”
Ucap Luna sambil menyentuh ujung p***s pada peraga di depannya itu.
“iyaaa... kencing mereka keluarnya dari situ... ahhhh sekarang aku ngerti kenapa kita harus belajar Biologi dan kenapa bahasan ini ada di kelas 9 waktu aku SMP kemarin... kayanya sekolah gak mau siswa-siswanya jadi polos banget kaya kamu deh ckckkk”
Balas Fey, ia setengah merasa bersyukur bisa sempat mendengarkan dan tak tidur kelas biologi saat SMP dulu, di tengah-tengah keingingannya untuk tertawa lepas karena tingkah lucu sahabatnya itu.
“sshh... pantes aja ayah aku setiap kali kencing suaranya kaya air dari selang gitu kedengeranya, ternyata airnya keluar dari benda yang bentuknya kaya gini ya...”
Entah kenapa semua yang di katakan Luna itu membuat Fey ingin selalu tertawa, ngakak(?) jadinya.
“udah jangan di pegangin mulu...”
Ucap Fey sambil menarik tangan Luna dari ujung peraga p***s itu.
“tapi Fey, waktu aku liburan di LA, ada banyak cowok yang cuma pake celana renangnya aja, tapi itu kok gak ada keliatan kaya gini bentukannya... maksud aku, ya kan biasanya itu agak-agak ngejiplak gitu loh, tapi kok aku gak liat dan sampe gak ngeh ya, kalo bentuk punya cowok itu ada yang panjangnya kaya gini... apa jangan-jangan bagian yang panjangnya ini atau p***s itu bisa di lipet ya? makanya aku sampe gak tau...”
“hahahhhh... hahhhh.... Luna ahh, aku sakit perut ahhh hahahh... p***s di lipet? hahahh di gulung gitu? hahahhh....”
Tawa Fey pecah sampai terdengar keras sekali, mendengar kalimat Luna barusan itu, ia bahkan jadi memegangi perutnya yang di buat melilit karena tak tahan dengan pikiran lucu Luna itu.
“Fey... jangan ketawa muluuu...”
“aku gak tau Luna, aku kan gak punya hahahhh...”
Sementara Fey yang masih terus tak bisa berhenti tertawa, Luna kemudian jadi terpikir kalau ayahnya yang selama 16 tahun ini telah menjaganya dan tinggal bersamanya itu pasti juga memilikinya. Tapi herannya Luna tak pernah melihat benda panjang milik ayahnya itu. Bahkan saat ayahnya hanya memakai celana dalamnya saja pun, tak pernah terpikirkan oleh Luna kalau ayahnya ternyata memiliki benda panjang bernama p***s itu. Ia hanya memperkirakan kalau tepat di tempat p***s berada itu, hanya ada benda bulat saja yang selalu menonjol, yang selalu di peringati keras oleh Bryan untuk jangan pernah di sentuhnya. sampai semua itu berubah saat ia menyentuh milik Billy, yang masih menjadi teka-teki untuknya, kenapa bisa sampai ada di area paha atasnya itu.
“ayah...ayah aku juga kayanya selama ini sembunyiin penisnya dengan baik deh”
Gumam Luna pelan,
plakkk
“aww sakit! kenapa kamu pukul aku Fey”
Luna meringis saat tiba-tiba Fey memukul jidatnya
“Luna, denger ya, jangan sampe penasaran sama punya ayah kamu, itu PA-MA-LI, gak boleh dan gak sopan, ngerti?”
“iya iyaaa...”
Luna mengiyakan dan menurut pada sahabatnya itu, sambil mengusap-usapi jidatnya yang baru saja kena pukul tangan yang sering di pakai bertarung di ring itu.
“hhh... kirain aku punya temen yang wajahnya cantik kaya bule, terus sering pindah-pindah negara bakal bikin aku nemu banyak hal baru yang keren gitu... eeh ternyata malah polosan begini hadeh...”
Di tengah gumaman Fey itu, Luna kini terlihat jelas sedang memikirkan banyak hal di kepalanya, dan tentu Fey sadar akan itu, ia pikir semua yang baru di ketahuinya itu pasti terlalu mengejutkannya.
“sini duduk, dari pada di tumpuk di kepala kamu, mending tanyain satu-satu semua sama aku, aku siap jadi guru kamu hari ini, yaaa meskipun aku gak hebat-hebat banget soal bejalar, tapi soal biologi apalagi system reproduksi aku sebelas dua belaslah sama Pak Ery guru Biologi kita”
Ucapnya sambil menarik Luna untuk duduk di deretan kursi yang ada di lab biologi itu.
“Fey, kemarin aku nemu artikel ada satu artis yang kampanye body positivity, teruskan isi salah satu unggahannya itu dia kasih liat tubuhnya yang gak berbusana dan ternyata baaaanyak banget yang komen kalo dia itu katanya baru aja unggah konten pornografi...”
“terus? apa ini ada kaitannya sama video yang ada di laptop Willy? yang kata Billy itu porno kemarin?”
Terka Fey
“hhh... yang jadi persamaan dari video di laptop Billy sama yang ada di konten artis itu adalah ketelanjangannya, dan yang baru aku tau kalo di Indonesia ketelanjangan itu masuk ke dalam tindakan pornografi... terus aku sampe mikir kaya... apa ... apa selama ini aku yang selalu telanjang di depan ayah aku, itu... itu apa aku juga udah termasuk jadi pelaku tindak pornografi?”
Mendengar pertanyaan itu Fey tahu ia harus berhati-hati dalam menjawabnya, karena itu adalah sesuatu yang cukup sensitive dan Luna bisa jadi salah tanggap jika Fey sampai membuat penjelasan yang ambigu padanya.
“ah itu... sshhh... gimana ya.... aku juga takut salah jelasinnya ke kamu, tapi dari apa yang bunda aku pernah jelasin, suatu tindakan itu bisa di katakan sebagai pelanggaran pornografi, bukan di liat dari batas atau limitatifnya, tapi efek yang di timbulkannya... kalo tindakan itu gak dimaksudkan buat eksploitasi seksual dan memuat unsur kecabulan sih... kayanya engga deh Luna...”
Luna terdiam, Fey tahu Luna tak mengerti dengan apa yang baru saja di ucapkannya itu.
“haduhh... gini deh, percaya aja kalo kamu yang selalu telanjang kemarin-kemarin itu, dan ayah kamu yang liat terus suka mandiin dan bajuin kamu itu, sama sekali gak ada niatan untuk melakukan hal-hal yang berbau kecabulan... maka itu gak bisa di golongkan ke dalam tindak pornografi, titik”
“ahh... gitu ya...”
Luna akhirnya mengerti dengan penjelasan terakhir Fey itu.
“dan mungkin aja karena kamu yang biasa tinggal di luar negri, yang punya budaya yang bebas kali ya... beda banget sama di sini, kalo di sini itu bisa di bilang kaya ada semacam budaya gila hormat gitu antara ayah sama anak, kalo kamu telanjang depan ayah kamu, mungkin bakal dapet respon yang biasa aja... tapi kalo anak yang besar sama adat jawa mungkin dia bakal langsung kena lempar sandal swallow terus di marahin abis-abisan...”
“segitunya???”
Luna terdengar tak percaya dengan apa yang baru saja di ceritakan oleh Fey,
“ehmm...”
“terus yang harus kamu tau juga, ada perbeadaan culture yang jelas banget antara budaya timur sama budaya barat...”
“apa?”
“contohnya... kaya ketika di negara bebas beberapa biasa menganggap ketelanjangan itu kaya bagian dari unsur seni, sementara di sini orang yang pake bikini aja itu di anggapnya orang yang gak bisa menempatkan diri dalam budaya ketimuran... ciuman di tempat umum di negara luar juga mungkin di anggapnya bentuk kasih sayang, tapi ya kalo di sini itu termasuk tindakan gak sopan bahkan di anggapnya gak senonoh buat di lakuin...”
Jelas Fey pada Luna,
“terus kenapa lab ini punya patung telanjang kaya gini?”
Tanya Luna sambil berdiri dan meraih satu kain taplak meja lalu menutupkannya pada peraga organ reproduksi pria itu.
“ahh Lunaaaa kenapa di tutupin pake kain sihhh... gak papa biarin aja... kalo tujuan dari patung telanjang itu buat pendidikan itu gak papa...”
“tetep aja... aku gak enak liatnya, kaya liatin punya ayah aku, terus juga malah jadi kebayang punya- ehmm...”
Luna kini jadi menatapi tangannya yang tadi siang habis di pakainya untuk menyentuh milik Billy,
“ahh... kenapa tangan aku jadi geliiiii...”
Ucapnya sambil mengerutkan tubuhnya yang kini serasa tengah di gerayangi kegelian hebat, karena di tangannya itu malah jadi menyisakan jejak-jejak milik Billy yang tak sengaja di pegangnya dari celananya itu.
“hahahhh... Luna gimana rasanya pegang punya Billy? gede gak? terus keras gak?”
“aahh!!! gak tau, kenapa itu di simpen di pahanya sih, jadinya kan aku pikir itu tuh benjolaannn!!!!”
“hahahhhh...benjol kok segede gitu? mana adaaa Lunaaa hahahhh”
....