#2 Billy yang Tersentuh

1953 Kata
Luna kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya Luna tampak hanya diam dan terus memikirkan apa yang baru saja di ketahuinya di rumah Willy itu. “Luna...” “sayang... “sayang... hey kok nggak nyaut sih” Tanya Bryan, dan Luna malah hanya celingukan mendengar pertanyaan ayahnya itu yang secara tak lansung berhasil menyadarkan Luna dari lamunannya dan pikirannya yang berkelana entah kemana. “ehm? apa? kenapa yah?” Tanya Luna dengan wajah kebingungannya. “ada apa? dari tadi kok keliatannya ngelamun terus sih” Ucap Bryan yang sadar sekali bahwa ada yang aneh dengan sikap Luna sejak ia keluar dari rumah teman satu kelasnnya itu. “engga papa kok yah...” “yakin? kok keliatannya banyak pikiran sampe gak bisa focus gitu... gak denger juga lagi ayah panggilin barusan” ucap Bryan, mendegar itu Luna sangat sadar, ia memang paling tak bisa menyembunyikan sesuatu dari ayahnya, sampai kini terpikir olehnya untuk bertanya saja soal 19+ itu pada ayahnya. “ayah... boleh aku tanya sesuatu?” “ehm.... tentu sayang, ada apa?” Luna yang masih duduk di dalam mobil ayahnya itu, kini memposisikan duduknya jadi menghadap kepada Bryan. ia menatap ayahnya itu dengan sangat serius. “ayah... kenapa aku gak boleh nonton film 365 days tahun lalu?” “itu rated R sayang...” Jawab Bryan *(R adalah Restricted atau terbatas) “aku kan juga lagi proses menuju dewasa” “tapi itu khusus untuk mereka yang udah 17 tahun ke atas sayang....” “kenapa yang 16 tahun gak boleh liat? apa karena ada adegan orang telanjangnya?” ckittttt Bryan membanting setirnya sampai mobil yang di naiki oleh Luna dan Bryan itu kini berhenti, memarkir sebarang di jalan. “ayah... bikin kaget aja sih” “Luna kamu juga bikin ayah kaget! kenapa kamu liat tontonan yang gak sesuai sama umur kamu sayang...” Bryan yang meninggikan suaranya itu berhasil membuat Luna kaget. “sayang... denger, ayah gak tau sampe sejauh mana yang udah kamu liat dan kamu tau, tapi itu konten dewasa dan kamu belum siap buat liat itu... kamu tau kenapa Rey bisa sampe tega hati melakukan hal yang hampir aja melecehkan kamu kemarin?” Luna hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya lemah. “itu karena dia terbiasa melihat apa yang seharusnya belum dia liat, sampe akhirnya dia malah melakukan penyimpangan dari apa yang baru aja di ketahuinya itu isayang...” Luna terdiam, kepalanya masih mencerna perkataan ayahnya itu sekarang. “hhh... *(Ps from author: selain polosnya yang kebangetan, Luna juga kadang lemot gak ketulungan-_-“) Bryan mendesah frustasi ia mencari cara agar anaknya itu bisa mengerti perkataannya. “gini sayang... bayangin kalau semisal ayah punya telur, terus ayah kasih telur itu ke anak kecil yang usianya di bawah 3 tahun, kira-kira telur itu bakal di apain sama anak kecilnya?” “di mainin?” “betul... telur itu mungkin bakal di mainin, di masukin ke mulut, atau di lempar sampe jatuh terus pecah, dan kamu tau apa jadinya kalau ayah kasih itu ke anak yang usianya jauh lebih besar, atau orang dewasa.... telur itu jelas akan di taruh di tempatnya yang tepat supaya gak jatuh dan pecah, terus juga bisa di masak nantinya...” Luna mengangguk-anggukan kepalanya, “apa di mata ayah... Luna ini masih kaya anak kecil yang bisa pecahin telur?” Tanya Luna sambil memasang wajah polosnya, “ahh... Luna, bukan gitu maksud ayah-“ “iya iya ayah... Luna ngerti kok, maksudnya Luna masih belum tau banyak dan cuma belum siap aja kan?” ucap Luna akhirnya, Bryan akhirnya bisa bernapas lega setelah mendengar Luna yang ternyata bisa mengerti nasihatnya itu. “pokoknya kamu jangan buru-buru tau, nanti kesandung jatuh, luka... ayah gak mau kamu kaya gitu” “ya ayah...” ... Esokan paginya di sekolah, terlihat tiga sekawan yakni Billy, Willy dan Leo tengah memperhatikan Luna yang sedang menatap keluar jendela, dari tempat duduk mereka yang memang berdekatan. Jelas sekali raut-raut bingung dan heran tergambar dari wajah mereka. “Bill, dia kemaren liat apa aja... liat ‘barang’ lakinya gak?” Tanya Willy dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari temannya yang masih berotak sangat polos itu. “untungnya punya lakinya lagi ada di dalem ceweknya, terus karena keburu kerebut juga, jadi Luna gak sempet liat deh” Balas Billy, ia terdengar begitu bersyukur untuk yang satu itu. “tunggu... katanya Luna tuh gak pernah dapet pelajaran biologi, sama pelajaran ipa lainnya, terus... itu- itu artinya dia gak pernah sekalipun liat bentuk barang kita kaya gimana dong??” Tanya Leo, karena dari pengetahuannya sistem reproduksi itu sudah menjadi sub bab materi pelajaran biologi, tepatnya saat berada di SMP kelas 9. “ah iya!! kita liat isi dalem milik cewek pertama kalinya di pelajaran biologi waktu itu” Tambah Willy mengingatkan Leo ketika keduanya yang masih berada di SMP yang sama saat itu. Dan kini semakin takjub saja tiga sekawan itu pada kepolosan Luna. Di saat semua anak seusianya sudah mulai mengenal tontonan dewasa atau NC17 yang bagi sebagian bahkan mungkin sedang sangat menjadi minat utamanya, tak sedikit juga topik dewasa itu di jadikan guyon, meme dan lain sebagainya, Luna malah masih belum mengerti apapun soal itu, begitu pikir ketiganya. *(NC17, No Children, biasanya mengandung materi kekerasan, ketelanjangan dan seks yang tak pantas untuk di tonton oleh anak di bawah umur bahkan 17 tahun pas juga) Tiba-tiba saja Billy bangkit dan membangunkan dari duduknya, “Bill... Billy mau kemana???” Willy dan Leo di buat heran melihat Billy yang tiba-tiba berdiri dan berjalan menjauh dari mereka. “samperin Luna” Balasnya singkat. “Luna...” Sapanya begitu ia sampai di dekat kursi tempat Luna duduk saat ini. “hay...” “kok sendiri, Fey kemana?” Billy memulai basa-basi dengan menanyakan teman sebangkunya yang sedari tadi tak terlihat di sampingnya. “dia ada latihan buat tanding minggu depan katanya” “ehmm... dari pada sendirian aja, kamu...kamu mau temenin aku gak? beli es krim ke kantin bawah?” Billy bertanya dengan nada ragu, padahal sebelumnya ia berjalan menghampiri Luna dengan langkahnya yang cukup berani, tapi kini Billy malah jadi terlihat malu-malu, bahkan ia menunduk dengan tangan yang di pakainya untuk menggaruk-garuk lehernya, kikuk. “boleh” Jawab Luna, yang tanpa Billy duga ia mau meng-iyakan ajakannya itu. Billy sampai di buat mengembangkan senyumnya yang selebar-lebarnya karenanya, Dan keduanya kini sudah berjalan dengan langkah yang sama, sama-sama terlihat malu-malu, beriringan keluar ruang kelas mereka menuju kantin sekolah yang berada di lantai bawah. “Luna... kamu mau rasa apa?” Tanya Billy saat tangannya kini sudah membuka freezer ice cream, “vanilla aja” “okey” Billy mengeluarkan satu cornetto classic vanilla untuk Luna, dan satu cornetto chocolate untuknya. “ini...” Billy memberikan ice cream itu pada Luna, dan ketika Luna akan mengambil uang dari dalam sakunya Billy langsung menghentikan tangan Luna itu. “ini buat kamu, jadi di ambil aja” Ucapnya, Luna mematung mendengar itu. sementara Billy sekarang sedang membayar ice cream mereka itu pada penjaga kantin yang hanya berjarak beberapa langkah saja dari mereka. “jadi... dalam rangka apa kamu traktir aku?” Tanya Luna, karena di belikan Ice cream oleh Billy itu terlalu tiba-tiba untuknya, sampai jadi menyisakan banyak tanya soal maksud dari apa yang ada di balik sikap baiknya itu padanya. “ehmmm... sebenernya aku masih gak enak soal yang kemarin, seharusnya aku sama yang lain gak nonton ‘itu’, terus... kamu juga jadi gak sampe liat yang begituan kan...” Jujur Billy pada Luna, “ah itu... gak papa kok, malah aku jadi ada sedikit gambaran soal kenapa ayah aku sampe larang aku buat nonton film film kaya gitu...” Luna membalasnya dengan santai sambil mencoba membuka bungkus Ice creamnya yang tak kunjung mau terbuka itu. “sini aku bukain” sadar akan Luna yang terus berkutat dengan bungkus Ice cream itu, Billy akhirnya membantu Luna membukakan ice cream di tangannya itu, “makasih... aku-... aku kaya anak kecil banget ya... gak tau ini, gak tau itu... gak bisa ini, gak bisa itu...” Ucap Luna pada teman laki-lakinya itu. “ehmm...” Billy hanya bergumam begitu, padahal jauh dalam hati Luna, ia mengharapkan sanggahan darinya, sampai ia jadi memasang wajah kesalnya pada Billy yang menurutnya tak peka padanya. “bohong dikit kenapa sih Bill, seengganya kamu bisa bilang gak papa gitu atau kalo aku udah 16 tahun gitu...” Gumam Luna dengan nada kesalnya, sementara itu Billy kini hanya bisa memasang wajah tak mengertinya, soal kenapa Luna yang tiba-tiba saja menjadi kesal padanya. “apa? maksudnya?” “tau ah, sebel...” Luna kini malah berjalan lebih dulu meninggalkan Billy untuk duduk di bangku kantin yang cukup sepi siang ini. “Luna... Luna... Luna tunggu” Billy mengekori Luna yang terlihat kesal sambil terus menjilati ice cremanya. “Luna...” Luna tak menjawab, ia bahkan tak mau melihat Billy yang berusaha untuk mendapat perhatiannya kini. “Luna...” “apa” Akhirnya Luna mau menatap Billy dan bertanya singkat begitu padanya. tapi anenya setelah di tanyai apa oleh Luna, Billy malah tak tahu harus berkata apa padanya. Otaknya membeku setiap kali melihat wajah cantic itu menatapi dirinya, apa lagi kini Billy malah sedang duduk dekat sekali bersamanya. “aku... apa aku harus minta maaf sama kamu?” “ish...dasar gak peka banget sih...” Ucap Luna, tapi meskipun dengan nada kesal ia mengucapkannya, senyum malah tergambar di wajahnya ketika ia mengatakan itu. Entah kenapa Billy yang kini tepat sedang bertatapan dengannya itu tampak lucu sekali di matanya. “kok gak peka? kamu... kamu mau aku beliin ice cream lagi?” Billy malah hanya terpikirkan soal itu. “huffttt... iya sepuluh, beliin aku sepuluh ice cream vanilla di sana” Balas Luna pada Billy yang masih tak mengerti itu, dan kini giliran Billy yang jadi tersenyum karena kelucuan perempuan cantic yang sedang memasang raut menggemaskannya di depannya itu. “dasar anak kecil” Ucap Billy dengan tangan yang sedang di usapkannya pelan dan lembut pada puncak kepala Luna. Luna yang baru pertama kali di sentuh seperti itu oleh tangan selain ayahnya yang selalu mengelusinya lembut begitu, kini ia jadi hanya bisa diam membeku. Seluruh tubuhnya kaku, tak mau bergerak dan hanya ingin terus merasakan sensasi kelembutan sentuhan tangan Billy di puncak kepalanya itu. Keduanya bertatapan, memancarkan sorot keingintahuan akan sosok masing-masing diri yang tengah lekat di pandangi kini. Wajah Luna pun berubah jadi merona seketika. Billy terpaku dan semakin jatuh pada pesona kecantikan perempuan yang sangat polos sekali di matanya itu, sampai sampai jantungnya di buat jadi berdetak tak menentu. Karena larut dalam tatapan itu, keduanya sampai tak sadar kalau ice cream di tangan Luna sudah meleleh sampai beberapa tetesannya jatuh mengenai celana Billy, “ah... Billy maaf ini...” Luna langsung meraih tisu di depannya dan berusaha mengelapi tetesan ice creamnya yang jatuh tepat di bagian paha atas di dekat area pubis kanan celana Billy. *(area pubis adalah area yang ada di depan tulang pinggul dekat dengan organ kelamin) “ahh... Luna...” Billy tiba-tiba saja mendesah ketika ia merasakan sentuhan lembut tangan Luna yang sedang mengelapi tetesan Ice cream itu ternyata sampai terasa pada sesuatu yang ada di dalam celananya, Sementara itu, Luna pun di buat jadi terdiam saat ia merasakan sesuatu yang asing dan menurutnya sangat aneh dari tempat di mana tangannya sedang berada saat ini. “Billy? kamu... kamu benjol? kamu punya benjolan di sini?” Tanya Luna, dan dengan polosnya ia terus mengusapi sesuatu yang menurutnya bejolan itu. “itu... itu bukan benjolan Luna... ah, itu punya aku...” Ucap Billy sambil mengangkat pelan-pelan tangan Luna dari area miliknya berada saat ini. Lalu dengan tubuhnya yang di tekuk, untuk menyembunyikan ereksi hebat ulah sentuhan lembut Luna barusan itu, Billy kemudian berbalik memunggungi Luna yang masih mencerna apa maksud dari ‘punya aku’ itu. .....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN