Dear Diary
Hari pertama tadi tak kusangka semua ternyata baik-baik saja, bahkan lebih baik dari apa yang ada dalam bayangku. Duduk di bangku yang baru, bersama sahabat baruku, sampai... Si anak baru...
Aku menemukan hal baru dari orang itu, dia tak banyak berkata, tak banyak menyentuh bahkan kerjanya hanya diam menatapku. Tapi entah kenapa di keheningan bersamanya itu, aku merasakan bahwa aku sedang di bawanya berkeliling ke dalam dunia yang baru, aku tersenyum bahkan ingin tertawa meski taka da lelucon yang di lontarkannya, hatiku kegelian meski tanpa di gelitiki tangan-tangannya,
Dia tak menghujaniku dengan kata-kata seperti ayahku yang super bawel itu dan untunglah dia tak seperti si Rey yang memiliki tangan tak sopan menyentuh tubuhku di sana sani... Dia hanya memberiku sebuah rasa tenang dan nyaman...
Meski begitu aku tak mau terburu-buru menyimpulkan apa yang kurasakan kini, aku tak ingin terlalu terburu-buru hanya karena hatiku berkata aku suka perlakuannya itu padaku, karenanya nyatanya aku pernah salah mengartikan sentuhan dan perhatian Rey yang ternyata hanyalah sebuah umpan perangkap muslihatnya saja.
Bodohnya aku sampai memimpikan dia saat itu, hanya karena sentuhan kecilnya saja, aku tak mau seperti itu lagi.
Hati... kumohon tenanglah ketika rasa baru menghampiri, jangan terbuai dan serakah lagi, kau harus mau kukontrol dan sejalan dengan kepalaku, mengerti?
...
tok tok tok
Belum kuselesaikan menulis diaryku malam ini, ketukan di pintu kamarku terdengar, aku langsung menoleh.
“Ayah...”
Sapaku sambil tersenyum padanya,
“boleh ayah masuk?”
Ucapnya, tak biasanya ayah meminta izin begitu padaku.
“sure... why not?”
Balasku sambil merentangkan tangaku, ayahku berjalan dengan langkah lambatnya sambil tersenyum ke arahku. Setelah dekat ayahku hanya berdiri dan anehnya tak langsung memelukku,
“Peluk Luna ayah... tangan Luna pegel di rentangin gini terus...”
“boleh ayah peluk kamu?”
“ayah kenapa sih... ayo peluk Lunaa”
Kataku sambil bangun dan akhirnya aku sendiri yang menghamburkan diri ke dalam pelukannya.
“katanya harus ada batas, mau ayah kecup aja kemarin-“
“ah, batasnya cuma sampe peluk, cium aja... Luna denger orang dewasa juga lakuin itu kok sama orang tua mereka...”
Balasku pada Ayah. Aku diangkatnya dan diayun-ayunkannya tubuhku dalam pelukannya itu.
“nahh... sayang, sekarang ceritain gimana tadi di sekolah?”
Ucapnya sambil mendudukanku di ranjang tempat tidurku, begitu juga dengan ayah yang kini duduk di sampingku menatapku penasaran siap mendengarkan ceritaku.
“ehmm... tadi baik-baik aja kok, gak ada yang gimana-gimana juga... cuma aku harus pindah tempat duduk aja, soalnya ada anak baru di kelas”
Ceritaku pada ayah.
“oh ya? cewek? cowok?”
“cowok, namanya Billy, orangnya tinggi, jarang ngomong, tapi matanya teruss aja tatapin Lu...na...”
Suaraku semakin ujung semakin menghilang begitu kutemukan tatapan ayahku yang kini terlihat menaruh curiga.
“jadi Billy itu suka tatapin kamu? gitu?”
Aku merapatkan bibirku, dan entah kenapa aku ingin tersenyum sekarang. Perasaan geli itu muncul ketika kuingat tingkah Billy di saat ayah sedang bertanya padaku saat ini.
“ehm...itu- itu... dia itu gak banyak tanya soal Luna, cuma diem aja kalo deket Luna... tapi kenapa Luna kok kaya- kaya gimana yah... kaya gitulah pokoknya”
“hahahahhh...hahhhh”
Ayahku tiba-tiba malah tertawa puas sekali mendengar cerita tak jelasku barusan dengan Billy.
“ahh... kok malah ketawa sih...”
“gak abisnya kamu lucu sayang... hahahh...”
***
~Rabu 15.32
Aku bersama Fey sedang dalam perjalanan menuju rumah Willy, ketua kelasku sekaligus ketua kelompok tugas pelajaran Prakaryaku. Hari ini pelajaran di akhiri lebih awal dan jadi di ganti oleh tugas kelompok. Fey, Aku, Leo, dan Billy satu kelompok yang di ketuai oleh Willy.
Willy, Leo dan Billy sampai lebih dulu di rumah Willy, di mana kami berlima sepakat akan mengerjakan kelompok bersama di sana. Sementara aku memilih menemani Fey dulu melakukan satu sesi latihan taekwondonya di gymnasium yang berada tak jauh dari sekolah.
“mereka pasti dari tadi cuma main games deh”
“oh ya? bukannya mereka bilang mau pergi duluan itu, biar bisa cari materi referensi terus mulai duluan ngerjainnya?”
“halah... jangan percaya mereka, mereka itu gak mungkin kerjain duluan tugasnya Lunaa... mereka itu sukanya main, dan coba tebak kenapa juga mereka butuh cewek di kelompok mereka”
“kenapa?”
“ya buat kerjain tugas kelompok ini lahhh... biasanya kebanyakan anak laki-laki itu ya kaya gitu... aku Leo, sama Willy itu lulus dari SMP yang sama. Dan kalo soal tugas kelompok, mereka pasti cuma mau ngandelin cewek cewek di kelompok mereka... aku udah kenal banget gimana mereka, jadi jangan percaya apa kata mereka okey”
“ih... kok gitu... gak adil banget deh”
Sampai akhirnya kini aku sudah berjalan masuk ke halaman rumah Willy. dan ternyata menurut cerita Fey, orang tua Willy itu tinggal di Bali mengurusi usaha property di sana, jadi Willy selalu di tinggal sendiri bersama bibi pembantunya.
“Fey, ketuk pintu dulu, kenapa langsung buka”
“udah biasa, gak papa ayo masuk aja”
Ucapnya, Fey bertingkah seperti tuan rumah saja saat ini.
“Willy... Willy... Willyyy...”
Fey memanggil manggil Willy dengan sangat santai, sampai menimbulkan suara gema di rumah yang cukup besar dengan interior yang juga cukup megah ini. Aku tak heran melihat Fey bertingkah begitu, karena memang mereka sudah kenal lebih dari tiga tahun lamanya.
Sementara aku hanya berjalan mengekori Fey yang sekarang melangkah menuju ruang tengah.
Akhirnya kutemukan tiga anggota kelompokku yang ternyata sedang anteng menatap layar laptop yang ada di depan mereka, sampai tak sadar aku dan Fey kini sudah tiba.
“Liatkan? mereka mana mungkin ngerjain tugasnya Luna... malah nonton yang ada”
Ucap Fey padaku, sampai kemudian finnaly Willy sadar akan keberadaanku dengan Fey yang masih berdiri di ambang batas ruang tamu dan ruang tengah rumanya.
“Oh shitt!!”
Willy tiba-tiba saja mengumpat dan langsung bangun dari duduknya, tangannya kini ribut terlihat tergesa-gesa menutup laptop yang semula terlihat di pantenginya dengan serius dan seksama oleh ketiganya.
“udah sampe? sejak kapan??!! Kita- kita ... kita barusan lagi nunggu kalian hehe”
Ucapnya padaku dan Fey, ia memasang wajah aneh dengan sunyum ‘hehe’-nya yang terlihat sangat di paksakannya itu.
Aku jelas bisa melihat bahasa kaget dari tubuh mereka, bahkan ketiganya bertingkah sangat aneh kini. Yang satu terlihat sedang mengelusi kedua pahanya dengan kedua telapak tangannya, dan yang satunya lagi tengah menggaruk-garuk belakang kepala dengan pandangan mata yang entah sedang melihat apa di sisi kanan tubuhnya, sementara sang pemiliki rumah malah tersenyum sangat lebar kearah ku dengan Fey.
“ehm bener... kita cuma lagi nungguin kalian barusan”
“serius...”
Tambah Billy dan Leo.
Aku dan Fey jadi saling menatap, tak mengerti dengan tingkah ketiga laki-laki di kelompok tugasku ini.
“kalian ini aneh banget deh...”
ucap Fey, dan aku setuju soal itu.
“oh! kalian pasti cape kan? aku buatin minum dulu, ah Leo ambilin satu lagi laptop di kamar aku, kita butuh satu laptop lagi kayanya...”
Ucap Willy
“aku ikut, aku pengen ambil cemilan sambil kerjain tugas”
Fey dengan santainya berjalan bersama Willy ke dapur, begitu juga dengan Leo yang mulai berjalan menaiki tangga untuk mengambil lapotop Willy yang berada di kamarnya.
Sampai akhirnya kini hanya ada aku dan Billy di ruangan ini. Aku berdiri sangat kikuk, begitu juga dengan Billy yang berada di sofa malah terlihat jadi tak nyaman dengan duduknya.
“hay...”
Sapanya tiba-tiba aku hanya tersenyum sebagai balas sapaannya itu.
Kecanggungan itu datang kembali, aku heran kenapa ini selalu terjadi antara aku dengannya.
“duduk”
Ucapnya dengan tangan yang kini sedang mengusap-usapi sofa di sampingnya, bertingkah seolah tengah membersihkan itu untukku.
Aku berjalan pelan dan akhirnya kini sampai sudah aku duduk di sampingnya. Rokku jadi sedikit naik saat aku duduk sampai ku taruh kedua tanganku canggung di atas kedua pahaku.
“ini...”
Billy tiba-tiba saja menaruh bantal sofa di atas pahaku.
“ah... makasih”
Balasku, seketika aku merasa sangat aman duduk di sampingnya. Aku pikir Billy bukan laki-laki yang mau melihat bagian tubuhku yang tak sengaja terbuka, dia bukan laki-laki sejenis Rey yang mau menyingkapkan rok seragam sekolahku, malah baru saja ia menutupi pahaku karena tahu itu tak nyaman bagiku. Jujur saja aku merasa senang dia bisa tahu beberapa hal yang membuatku tak nyaman dan mau membantuku untuk keluar dari ketidaknyamananku itu. contohnya saja kemarin, saat ia langsung bisa tahu kalau membahas Rey akan membuatku tak nyaman, ia memilih untuk tak bertanya tentang itu. Bahkan dia berkata
‘Luna... aku mau kamu lupain dia’
Tak tahu kenapa kata-katanya itu terdengar indah sekali di telingaku, seolah cukup untuk mengusir semua ketakutanku soal Rey dan hal buruk yang pernah terjadi padaku.
“kok senyum? ada yang lucu?”
Tanyanya padaku, itu berhasil membuatku kembali ke kesadaranku setelah baru saja berkelana memikirkan dirinya.
“siapa? aku senyum? kapan?”
“itu...”
Telunjuknya menunjuk tepat di sudut bibirku yang tak sadar ternyata sedari tadi tengah tersenyum karena mengingat semua sikap baik Billy padaku.
‘Aku .... Luna kenapa kamu senyum sih’
kutukku dalam hati. dan sialnya lagi pipiku malah terasa panas, pasti kini wajahku sudah semerah tomat kelihatannya.
“Aku... aku-...”
Aku berusaha mencari alasan, tapi sayangnya tak kutemukan karena Billy yang malah menatapku dengan sorot mata yang tak bisa kuartikan. Itu berhasil membuat otakku beku dan jadi tak bisa berpikir sekarang.
“ah! kita mulai kerjain aja”
Aku tak bisa memikirkan alasan yang tepat, sampai akhirnya aku memilih untuk meraih laptop yang ada di depanku saja sebagai pengalihan topik kenapa aku tiba-tiba tersenyum itu.
Dan betapa terkejutnya aku saat kubuka layar laptop milik Willy itu.
“aahhh...”
*(suara desahan wanita)
“oohh!!!”
Bukkk
Billy langsung menutup cepat dan merebut laptop itu dari tanganku.
“itu... itu- itu mereka kenapa...”
Tanyaku masih kaget, tanganku bahkan tak bergerak, masih berada dalam posisi yang sama seperti saat laptop yang memperlihatkan dua manusia tak berbusana di layarnya itu, di atas pangkuanku.
“Luna lupain... jangan bilang siapa-siapa okey”
Ucap Billy padaku, tapi otakku bukan mempermasalahkan akan kukatakan pada siapa, tapi kenapa? kenapa pria dan wanita itu melakukan itu? gerakan apa itu? sedang apa mereka itu?
“kenapa cewek itu nungging? terus cowoknya kenapa maju-majuin pinggangnya kaya gitu? itu... itu mereka lagi ngapain?”
Aku baru pertama kalinya melihat seorang pria tak berbusana melakukan hal seperti itu pada seorang wanita.
Plakkk
Billy terlihat memukul dahinya sendiri, dan memejamkan matanya kini.
“ngapain? mereka... mereka-... ini- mereka lagi-“
“lagi making Love”
Sahut Leo dari tangga dengan laptop di tangannya.
“making Love? sejak kapan making love harus nungging? terus kenapa p****t ceweknya harus di pukulin sama cowoknya kaya video laptop itu?”
“uhukkk uhukkk”
Willy yang baru datang dari dapur pun entah kenapa ia tersedak sampai batuk-batuk karena minuman oranye di tangannya itu. semua orang tampak sangat kaget mendengar pertanyaan yang baru saja ku lontakan itu.
“Luna... apa kata kamu barusan?”
Tanya Fey padaku,
“Itu-“
“BILLY!!!
Belum sempat kujawab bertanyaan Fey, Willy malah berteriak memanggil Billy yang duduk sambil memeluki laptopnya itu.
“ngapain liatin itu ke Lunaaa??!!!”
“Gak liatinn!!! Luna sendiri yang ambill!!!”
Aku tak mengerti situasi yang terjadi di depanku sekarang ini, sampai sedetik kemudian semua orang mematung dan tak ada satupun yang bergerak.
“hhffttt... jadi... kalo aku mau making Love, aku harus telanjang terus nungging-“
“ENGGAAAK!!!”
Semua orang serempak membentakku dengan berkata ‘enggak’ sampai aku tersentak kaget di buatnya.
“okey...”
Aku tahu, aku harus merapatkan bibirku sekarang kalau tak ingin mendapat semprotan dari mereka.
.....
Author pov
Sementara Luna sedang sibuk mencari materi tugas prakaryanya, Billy, Fey, Willy dan Leo berkumpul di balik tembok yang memisahkan ruang tengah tempat Luna berada dengan ruang tamu tempat mereka sedang saling berbisik membicarkan si polos Luna.
“Luna seriusan belum tau kalo itu namanya doggie style?”
Tanya Willy pada Fey,
“hhh... dia itu masih bocah banget, polosnya ngalahin anak SD sekarang tau gak”
“jadi... Luna belum ngerti ‘begituan’?”
Tanya Willy kembali sambil mengadu-adukan tangan kanannya yang di buat membentuk o dengan jari telunjuk dari tangan kirinya.
“iya makanya kalian jangan aneh-aneh! Luna itu otaknya masih bersih banget, gak kaya kalian isinya kotor semua”
Balas Fey dengan nada yang terdengar menacam pada ketiga teman laki-lakinya itu.
“ahh pantes, tadinya aku sempet bingung anak sebaik Luna kok bisa sampe kesandung kasus sama Rey... ternyata dia belum ngerti toh...”
Tambah Leo.
“eh, udah yu... Luna nanti sadar lagi, kita lagi gosipin dia”
Ucap Billy, nyatanya memang sedari tadi Billy tak bisa focus mendengarkan perkataan teman-temannya itu dan ia hanya jadi terus memikirkan seperti apa sebenarnya sosok perempuan yang sangat di kaguminya sejak pandangan pertamanya itu.
....
Sampai tak terasa kini waktu sudah menunjukan pukul lima sore, Luna berkata ayahnya sedang dalam perjalanan menuju rumah Willy untuk menjemputnya.
“yaudah kita beresin dulu aja sampe di sini, nanti kita bikin grup chat aja buat selsain sisanya”
Ucap Willy, jadilah kini semua orang sibuk berbenah untuk bersiap pulang dan menyelesaikan pekerjaan tugas kelompok mereka itu.
“ah, Willy... soal Making love tadi... aku boleh minta videonya ga?”
Tanya Luna dengan polosnya, dan itu berhasil membuat semua temannya jadi merapatkan bibirnya, terutama Willy yang baru saja di mintai video tak senonoh itu, ia benar-benar tak tahu harus menanggapinya seperti apa.
“gak boleh...”
Ucap Billy singkat, ia jadi mewakili Willy untuk menjawabnya. Billy merasa kalau ia wajib memberitahu Luna, kalau apa yang di lihatnya tadi itu sebenarnya tak baik untuknya. Dengan begitu ia harap Luna bisa tahu dan menghindari hal hal tak baik itu.
“kenapa?”
“Luna denger... itu- itu sebenernya...”
Luna menatapi Billy dengan sorot mata pensaran dan tak sabar jadinya
“apa? itu sebenernya apa?”
“It’s a porn... you know it? .... 19+ Luna..."
Ucap Billy, hasilnya Luna jadi terdiam dengan mulut yang di tutupnya degan kedua tangannya.
“itu... itu 19+? jadi- jadi... itu tontonan yang suka di blokir sama ayah aku??? manusia yang telanjang tadi??? wahhhh....”
Luna dibuat kaget bukan main saat ini,