#2 Billy Si Anak Baru (Kontak Fisik)

2197 Kata
Luna pov “AH!!” Aku berteriak kaget, kemudian tiba-tiba kurasakan seperti ada yang seseorang yang baru saja menekan tombol stop di jantungku, sampai sampai hampir saja aku menjatuhkan diri karena berhasil di buat lemas seketika. Tapi untunglah kurasakan kini ada satu tangan yang tengah menahan tubuhku untuk tak merosot jatuh ke lantai, karena syok hebat saat kutemukan wajah laki-laki b******k itu tepat di depan mataku. “Luna? kenapa?” “hh...hhh...” Lidahku kaku tak bisa kujawab pertanyaan itu, aku hanya jadi mamatung, masih terpaku menatapi sosok Rey yang kini tengah menampilkan senyumnya jelas sekali di hadapanku. “hey... Luna, kamu gak papa kan?” Entah siapa pemilik suara tanya yang terdengar sangat khawatir sekali padaku itu, tapi kini yang jelas nyata di hadapanku dan tengah mengerayangi sampai memenuhi diriku adalah ketakutanku akan laki-laki yang hampir saja menyakitiku dan perasaan ingin lari menjauh, sejauh mungkin darinya. Tubuh kuat yang menjadi sandaranku sedari tadi itu, kini tengah mengubah posisinya jadi berada di depanku namun ia tetap berusaha menahanku agar tak jatuh dan hasilnya ia jadi sedikit menghalangi wajah laki-laki b******k itu. “Luna... liat aku...” Ucapnya, tapi mataku kini seolah terhipnotis sampai tak bisa lepas dari sisa potongan wajah Rey yang sedang tersenyum padaku. Sampai kemudian tangan yang semula di pakainya untuk menahanku tubuhku itu, kini di pakainya untuk menggenggam tanganku yang bergetar, bersamaan dengan jantungku yang jadi berada dalam irama yang tak wajar. “Luna...” “aku takut” Unggapku akhirnya walau pelan dan hampir tak terdengar, lalu kutundukan wajahku dan kututupi dengan kedua tanganku untuk menyembunyikan semua raut takutku akan laki-laki itu. “Luna...” Kurasakan tangan yang masih belum kuketahui siapa pemiliknya itu, kini membawaku ke dalam dekapannya. Tangannya men-tap-tap-tap-i punggungku dengan pelan dan lembut, dan rupanya apa yang di lakukannya itu bisa membuat ketakutan dalam diriku perlahan dan sedikit demi sedikit surut. “hey! ngapain kalian pelukan di sekolah??!!!” Aku tersentak dalam dekapannya, saat tiba-tiba kudengar teriakan dari suara berat khas Pak Guru yang melihatku kini tengah di peluki oleh seseorang yang belum kutahu siapa itu. “dia sakit Pak!” Balasnya sama berteriak dan terdengar tak kalah kencangnya dari suara Pak Guru yang tak kutahu siapa itu. “bawa ke UKS!!” “IYAA!!” Kudengarkan dalam diam keduanya yang terus saja saling balas berteriak itu. Dan tak lama kemudian tubuh yang mendekapku itu akhirnya kini memberikan jarak dengan tubuhku. Ia terlihat membungkukan tubunya, sampai kutemukan wajah pemilik dekapan yang berhasil mengusir semua ketakutanku itu. “Luna...” Panggilnya dengan tangan yang kini sudah di letakannya di kedua pundakku. “Billy...” Aku tak menyangka orang yang berhasil menenangkanku adalah anak baru yang sudah merebut kursiku tadi pagi. “kamu... mau ke UKS? atau-“ “gak usah... makasih, tadi- aku-... aku cuma kaget liat itu...” Tolakku sambil menunjuk standing banner yang memasang wajah Rey sebagai promotor sekolah. “ah... itu” Brukkk Tanpa babibu, Billy tiba-tiba meninju banner itu tepat di wajah Rey, bahkan kakinya juga kini menendang standing banner itu sampai jatuh dan ringsek sudah di buatnya. Aku hanya menganga menyaksikan tingkahnya itu. “selesaikan...” Ucapnya terlihat bangga, “Billy nanti kena mara-“ “HEYYY!!! MALAH NGERUSAK!!” Belum sempat kuselesaikan kalimatku, sudah terdengar saja satu teriakan dan bentakan amarah itu dari ujung tepat di depan ruang guru. “maaf Pak!! Luna ayoo...” “SINI KALIANNN!!!” Billy tiba-tiba menarik tanganku dan langsung membawaku berlari melewati lorong gedung sekolah. Aku tak memiliki waktu berpikir, mengiyakan, apa lagi untuk menolak, karena rasanya refleks saja untuk mengikuti langkahnya yang membawaku pergi, seolah sekarang ini aku sedang di kejar anjing galak yang menyalak-nyalak, yang juga sangat siap menggigitku. Jadilah aku kini berlarian bersamanya walau tak tahu akan kemana dan sampai sejauh mana ia membawaku pergi dari amukan guruku itu. Anenya di tengah perlarian dari guru yang siap memarahiku dengannya itu, Billy malah terlihat berseri-seri, sesekali ia menoleh padaku dan memastikan apa yang ada di belakang. “Billy...” Panggilku dengan susah payah karena sudah kelelahan. “hh...hhhh... cape ya?” Tanyanya dan langsung saja ia melambatkan gerak kakinya, tahu aku sudah tak sanggup lagi berlari bersamanya. “ehmmm...” Balasku hanya dengan bersuara begitu. Aku berusaha mengatur napasku yang terengah-engah. Billy kemudian menghentikan langkahnya dan berdiri di depanku. “Luna... Pak Bowo, hhh... udah gak mungkin kejar kita... kita duduk dulu di sana ya” Ucapnya, aku kembali di tuntunnya namun kini berjalan dengan langkah yang lebih pelan menuju kursi taman sekolah. Setelah duduk, anehnya tak ada satu katapun yang terucap, yang ada hanya suara napasku dan napasnyalah yang terdengar begitu memburu, seolah tengah berebut oksigen oksigen di area hijau sekolah ini. Kecanggungan mulai menghampiri, menjalar dan merayapi bangku taman tempat ku duduk dengannya sekarang ini. Aku tahu setelah berlarian pasti ia lelah dan butuh rehat sejenak untuk menormalkan napasnya, jadi aku lebih memilih untuk menunggunya memulai pembicaraan setelah napasnya kembali membaik. Namun beberapa menit sudah berlalu, Billy tak kunjung bertanya atau berkata apapun padaku. Aku dengan Billy hanya terus diam, tak bersuara kini. Sampai sedikit kesal kumenunggu, akhirnya kumainkan saja kaki kakiku sambil menunggunya membuka topik pembicaraan. Kulirikan ujung mataku padanya, ia malah terlihat tengah tersenyum memandangi kakiku yang sedang ku ayun-ayunkan. Masih belum ada juga kata yang di ucapkannya. Dan sampailah aku pada kesimpulan kalau dia itu memang lebih suka diam dari pada berbicara. Meskipun sebenarnya aku juga menyukai ketenangan seperti ini, dari pada harus di hujani banyak pertanyaan di pertemuan pertama, oh ralat yang kedua, di momen harus hanya berdua saja seperti sekarang ini bersamanya. Karena terkadang aku memiliki perasaan seperti tengah di tuntut untuk berbasa-basi, bertanya, menyapa atau sedikitnya mengetahui orang yang ada di sampingku, atau kadang aku merasa harus sedikit menceritakan siapa diriku pada orang yang baru kutemui itu. Tapi rasanya itu semua tak berlaku pada Billy, entah karena dia yang selalu diam dan hanya menatapku saja yang kerjanya, jadi aku merasa tak perlu melakukan itu semua. Dan anehnya aku malah nyaman dengan sikap diamnya itu. Ia kemudian tiba-tiba menatapku dan tak tahu kenapa aku refleks melemparkan senyumku padanya, sampai ia jadi tertunduk dengan bibir yang sedang di lengkungkannya. Sekali lagi mataku dengan matanya bertemu dan kali ini ialah yang pertama melemparkan senyumnya padaku. sekujur tubuhku tergelitik geli dalam kecanggungan ini. kakiku jadi semakin tak bisa diam kini, kedua ujung sepatuku tengah kuadu-adukan, bahkan jari-jari di dalamnya bergerak-gerak tak karuan. “kamu-“ “kam-“ Larut oleh kecanggungan ini, aku sampai berbicara dalam timing yang sama dengannya. ‘Tuhan kenapa aku begini... situasinya awkward sekali...’ Kutundukan wajahku karena tak tahu harus berbuat apa padanya. Leher belakangku tiba-tiba saja juga jadi minta kugaruki, kakiku jadi nakal tak bisa kudiamkan, seolah memintaku untuk kembali berlari, untuk menjauhi suasana kikuk ini. kulirikan mataku padanya dan sialnya ia juga melakukan hal yang sama denganku, ia mengintipku dari ujung matanya. Sedetik kemudian keinginan untuk tertawa di tengah-tengah kecanggungan ini memenuhi diriku, dan ku tebak Billy juga begitu. Ia terlihat tengah menahan tawanya dengan tangan yang sudah di pakainya untuk menutup bibirnya yang sudah melengkungkan senyumnya itu. “makasih...” ungkapku akhirnya, “buat?” “ehm... buat semua...” “semua? termasuk rusakin banner? terus bikin kamu hampir di marahin Pak Bowo? atau udah bikin kamu harus lari?” Aku tertawa renyah mendengarnya. “ehmm iya itu semua...” Seperti de javu tadi pagi, kini aku bertatapan dalam diam bersamanya kembali. untuk pertama kalinya kutemui laki-laki yang betah sekali memandangiku dalam diamnya seperti yang selalu di lakukannya padaku. “LUNA!!” Suara yang terdengar melengking itu bisa langsung ku ketahui siapa pemiliknya, aku sampai menoleh dan benar saja ku temukan Fey yang sedang melambai-lambai di depan gedung kelasku. “kayanya kita harus balik kelas...” ucapnya akhirnya, ia bangkit lebih dulu dan mengulurkan tangannya padaku. “ehm?” “ayo” Ia seperti memberiku kode untuk meraih tangannya yang sudah menunggu untuk kuraih itu. “ehm... ayo” Kataku, tapi tak kuraih tangannya itu dan hanya mulai melangkah beriringan bersamanya. Selama berjalan bersamanya, sesungguhnya isi kepalaku tak diam. aku sibuk menyiapkan banyak jawaban karena mungkin saja Billy akan bertanya soal kenapa hanya dengan melihat gambar Rey tadi itu, aku sampai di buat ketakutan sekali karenanya. Tapi setelah sampai setengah jalan menuju kelasku, Billy masih saja diam tak bersuara. “Billy...” “ehm?” “kamu... gak mau tanya kenapa aku takut sama banner tadi itu?” Tanyaku akhirnya, tapi sedetik kemudian aku sesali pertanyaan ku lontarkan itu padanya, ‘Lunaaa... kenapa tanya gitu sih... buat apa juga dia tanya? kan baru aja kenal tadi pagi... mungkin dia gak tertarik dan emang gak mau peduli... ahhh Lunaaaa kepedean banget sih mau di kepo-in orang, gimana kalo Billy emang gak ada niatan buat tau...’ Billy masih belum menjawab pertanyaanku, kugigiti bibir bawahku, rasanya sangat malu sekali. “Luna...” “YA? iya... kenapa?” Ia mengentikan langkahnya dan kembali menatapku, “aku mau kamu lupain dia...” Ucapnya tiba-tiba “maksudnya?” “ehmm... liat gambar wajahnya aja udah bikin kamu takut, pasti bicarain soal dia... itu gak kalah bakal bikin kamu gak nyaman banget kan? jadi... dari pada pikirin atau inget-inget sesuatu yang bikin kamu gak nyaman, lebih baik di lupain aja... masih ada banyak hal bagus buat di liat, di pikirin atau kita inget” Ucapnya, aku terdiam sejenak mencerna perkataannya. “aku pikir kamu gak bisa bicara...” kataku “apa?” “maksud aku... kamu tuh diem mulu, tapi ternyata sekalinya bicara malah bisa sepanjang itu” “ah... itu- itu aku...” Dia kembali menatapku dan tak melanjutkan kata-katanya, aku tebak dia akan kembali dalam mode diamnya lagi sekarang ini. “hhh... ayo masuk” kataku sambil melangkah lebih dulu masuk ke dalam kelas. .... ..... @Rumah “....” “apa? diem-dieman aja gitu? hahahhh...” Fey yang mendengarkan ceritaku dengan Billy tadi siang di taman sekolah malah tertawa dengan puas sekali sekarang. “kirain aku ngapaiiin gitu, ngobrol atau apa gitu, ini Cuma diem-dieman doang hahah...” “ish Fey udah bahas Billynyaaa, jawab dulu pertanyaan aku, Si Rey beneran udah pindah ke Amerika?” Sebenarnya sedari tadi aku terus menanyakan soal keberadaan Rey yang kuragukan keberadaannya sekarang. Karena ayah tak menceritakan padaku soal kelanjutan dan bagaimana kasusku itu berkahir. Dan selama di sekolah pun wajahnya juga tak terlihat muncul lagi. Tapi di tengah-tengah rasa penasaranku itu, Fey malah terus memaksaku untuk menceritakan dulu apa yang kulakukan bersama Billy di taman siang tadi. “Ya ampun Luna... beneran deh, Si Rey itu udah di pindahin ke Amerika sama papahnya, ya kan mau gimana pun apa yang udah dia lakuin ke kamu itu udah mencoreng nama baik keluarga Tedja, pemilik Pakuwon Grup... meskipun akhirnya lolos hukum sih, tapi ya denger denger dia di marahin abis-abisan kok, sampe akhirnya di suruh pindah sekolah deh” Aku bisa bernapas lega mendengarnya, “eh eh... tapi waktu aku liatin kalian dari kelas, kok keliatannya kalian kaya bahagia gitu ya? katanya cuma diem-dieman aja” “aaahhhh!!! Fey stop bahas itu...” “Lunaaa cerita duluuuu... kenapa dan ada apa dalam diam kalian ituuu, aku kepo tauu” Fey memaksa, Dan bodohnya aku, kini malah refleks tersenyum karena mengingat apa yang kurasakan saat siang tadi di taman bersama Billy. Padahal bukan hal yang special dan hanya saling diam menatap saja, tapi kenapa aku sampai kegelian dan senyum-senyum sendiri begini walau hanya sekedar mengingatnya. “nah kan senyum-senyum ada apa hayooo... terus aku liat tadi waktu Billy ulurin tangannya... kenapa gak kamu pegang tangannya?” Fey juga ternyata melihat aku yang mengabaikan uluran tangan Billy tadi. “itu... itu karena aku sedikitnya juga udah belajar Fey, kalo apa yang aku lakuin hari ini sama seseorang itu, mungkin aja bisa jadi awal dari jenis hubungan ‘apapun itu’ antara aku sama dia di hari esok dan kedepannya. Aku tadi bahkan sampe bertanya-tanya kaya....” “Apa yang bakal di lakuin tangan Billy itu besok, kalo aku sampe pilih buat raih dan genggam tangannya tadi?” “Apa setelah jadi selalu terbiasa saling genggaman tangan, kemudian dia bakal berani genggam bagian tubuh aku yang lainnya?” “hhhh... Aku mikirin banyak hal soal kontak fisik yang aku lakuin, dan sampe batas mana yang bisa aku lakuin sama orang lain, terutama sama orang yang baru aku kenal contohnya kaya Billy Si Anak Baru yang kerjanya cuma diem dan tatapin aku... Karena aku juga sadar, sesungguhnya tamu itu gak akan masuk kalo pintunya gak aku bukain, lalu kupersilahkan masuk ke dalem buat bertamu, iya kan?” Fey mengusapi puncak kepalaku seperti aku ini adalah anak kucingnya. “anak pinter...” “hehehe” Aku cengengesan sedikit berbangga diri setelah di panggilnya ‘pinter’ begitu. “Tapi tunggu... bukannya waktu lari dari Pak Bowo, dia juga pegang tangan kamu ya? itukan juga namanya kontak fisik gimana sih Luna hadeeh...” Fey tiba-tiba saja protes padaku, “ah... iya, tapi itu kan beda, tadi itu darurat...” “ngelessss.... tapi senengkan di bawa lari sama cowok ganteng? hayooo ngaku ajaa deh” ucapnya padaku. Mataku langsung memperhatikan pergelangan tanganku yang tak bisa kupungkiri kalau sampai saat ini saja, genggaman tangan Billy masih meninggalkan jejak di sana. “engga, biasa aja tuh” Bohongku sambil mengulum senyumku malu-malu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN