Sementara itu di tempat Lain Bryan tengah mejawab, menceritakan sampai menanyakan banyak hal selama kurang lebih satu jam pada seorang wanita yang duduk berhadapan dengannya.
“.....”
“Apa Luna mengizinkan anda? apa dia tidak risih atau malu ketika anda melakukan itu semua padanya?”
Tanya Psikolog Shopie
“Luna tak pernah menolak, malah ia selalu menyambut ciuman saya dan pelukan saya dengan senang hati... apa saya tidak boleh melakukan semua hal yang selama ini saya lakukan pada Luna? lalu... lalu apa yang harus saya lakukan, sebagai bentuk kasih sayang saya padanya, selain dengan memeluknya, menciumnya dan memberikan semua bantuan yang di butuhkannya???”
Ungkap Bryan setelah selama beberapa hari ini pertanyaan itu selalu hanya bisa di tumpuknya di dalam kepalanya dan kini akhirnya berhasil di tumpahkannya di hadapan sang psikolog itu.
Tak bisa di pungkirinya, Bryan belakangan jadi terusik dan tak bisa berhenti memikirkan akan kebenaran soal apa yang sudah di katakan oleh Bunda Fey saat dirinya baru saja tiba di rumah sakit malam itu.
‘Hormati putri anda sebagai seorang perempuan!’
Kalimat yang sempat terlontar dengan penuh penekanan sekali itu, berhasil mengakar di kepala Bryan sampai tak pernah sedetikpun bisa di lupakannya. Dalam kepalanya sampai jadi bermunculan banyak sekali tanda tanya besar seperti
‘Apa semua wujud perhatiannya selama ini telah merendahkan harga diri Luna sebagai perempuan?’
‘Apa semua sikapnya selama ini termasuk ke dalam tindakan yang tidak menghargai Luna sebagai seorang perempuan?’
‘Salahkah seorang ayah yang ingin menjaga dan merawat tubuh putrinya, di saat putrinya itu masih belum mampu melakukannya sendiri?’
Masih ada banyak sederet pertanyaan atas apa yang telah di lakukannya pada Luna, yang kini mulai di ragukannya soal benar atau tidaknya (tindakannya itu).
“.... dia tak bisa bangun pagi, mandi dan memakai pakaiannya sendiri di saat ia harus pergi ke sekolah, apa saya harus abai dengan itu? atau saya harus memarahinya? membentaknya? bersikap keras padanya? begitu? saya tidak bisaaa...”
Lanjut Bryan berkata demikian dengan nada yang terdengar sangat putus asa sekali.
Selama ini Bryan selalu khawatir, takut-takut Luna sampai akan merasa kekurangan kasih sayang, karena tak pernah sekalipun ia mendapat sentuhan dari ibunya seperti orang-orang di luar sana. Karenanya ia jadi selalu bersikap sangat memperhatikan Luna sampai sedetail-detailnya. Meskipun itu tak mudah untuk di lakukannya dan selalu membuatnya terjebak dalam banyak kebingungan juga kesulitan karena ia tak banyak memahami terutama soal perempuan, tapi Bryan tak pernah menyerah dan selalu berusaha untuk melakukan dan memberikan terbaik untuk putri semata wayangnya itu.
Tapi apa sekarang, semua usahanya untuk menjaga Luna, memperhatikan dan menyayangi Luna, malah di anggap sebagai tindakan tidak menghormati? melewati batas? sampai di cap tak sepantas? Bryan benar-benar di buat pusing, tak tahu harus bagaimana lagi memperlakukan putrinya dengan baik, dalam artian ‘baik’ yang seharusnya di mata semua orang termasuk psikolog yang ada di depannya sekarang ini.
Akhirnya Psikolog Shopie terlihat menghirup napasnya, seolah tengah bersiap untuk menjawab semua kebingungan yang memenuhi kepala ayah tunggal itu.
“... sebenarnya memeluk, mencium, membelai, menggendong, merupakan bentuk sentuhan fisik yang baik dan di butuhkan dalam tumbuh kembang anak. dan biasanya anak akan berhenti meminta kebutuhan sentuhan fisik itu saat mereka memasuki masa remajanya. Mereka cenderung menolak untuk di cium, di peluk, atau untuk menujukan afeksi terutama di keramaian, dengan alasan karena risih, malu, dan merasa sudah besar sampai tak mau di perlakukan seperti saat mereka kecil lagi...”
Psikolog Shopie mengambil napas sejenak sambil membuka dan melihat point point penting dari catatan konseling Luna, sebelum ia melanjutkan kembali penjelasannya.
“Tapi dalam kasus Luna... karena dia tidak menjalin pertemanan dan pergaulannya juga sangat anda batasi, ia jadi tak melewati masa-masa yang di rasakan anak-anak yang mulai tumbuh remaja kebanyakan... Luna merasa semua masih tetap sama, tak akan ada yang berubah. Bahkan secara psikologis, ia jadi terus menganggap dirinya sebagai putri kecil anda, sama seperti saat usianya masih empat tahun di usianya yang kini sudah menginjak 16 tahun”
“lalu? lalu saya harus bagaimana dengannya? apa saya tak boleh menyentuhnya sebagai bentuk kasih sayang saya padanya?”
Tanya Bryan, karena setelah mendengar semua penjelasan Psikolog Shopie, ia malah jadi semakin kebingungan dan merasa telah membesarkan Luna dengan cara yang salah selama ini.
“saya tak bisa menutup mata bahwa di sisi lain memang kebutuhan akan sentuhan itu tak memiliki batasan waktu, karena faktanya orang dewasa juga suka butuh untuk di sentuh, contohnya saja Ibu yang sedang mengalami baby Blues, mereka akan lebih senang di sentuh dan peluk oleh suaminya...”
“Tapi khusus untuk anda yang merupakan ayah dari putri anda, yang pertama harus ada lakukan jika ingin menyentuhnya, seperti mencium dan memeluknya, anda harus pastikan anda sudah mendapat izin darinya lalu melihat bagaimana reaksinya... karena Luna kini juga sudah di beritahu mengenai batasan yang harus ada antara anda dengannya dari sahabat barunya itu, jadi anda juga harus bisa menerima bagaimana reaksinya yang mungkin... akan berubah dan tak lagi sama seperti sebelumnya....”
“dan bukankah anda sendiri yang mengajari Luna bahwa ‘pelecehan itu terjadi jika seseorang itu menyentuhnya tanpa izin, dan itu akan jadi bentuk kasih sayang jika sudah mendapat izin darinya...”
Bryan tertunduk mendengar semua penjelasan itu, dan kini ia merasa kalau ia sudah harus mulai mempersiapkan diri untuk menghadapi perubahan hubungannya dengan Luna. Bryan harus menerima bahwa ia sudah tak bisa lagi mencampuri segala hal tentang Luna seperti sebelumnya.
“kenapa jadi sesulit ini untuk dekat dengan anakku sendiri?? saya tahu, tak seharusnya saya seperti ini... bahkan di awal, saya sendiri yang mengatakan padanya untuk tumbuh dewasa, mendorongnya untuk memiliki keinginan menjadi wanita dewasa yang baik, tapi- tapi... tapi tak pernah saya kira semua akan tampak rumit sekarang ini... saya terlalu percaya diri kemarin, tanpa tahu baru seperti ini saja, saya sudah mulai merasa kehilangan putri kecil saya...”
“semua orang tua merasakan itu Pak, anda harus mulai menerima proses pendewasaannya...”
Mendengar itu Bryan jadi menitikan air matanya, ia membayangkan Luna yang akan tumbuh dewasa, yang artinya semakin jauh saja jarak yang tercipta antara Luna dengannya.
“bahkan kemarin ketika akan saya kecup keningnya, dia menghentikan saya... dan mengingatkan saya soal batas...”
Ungkap Bryan lebih jauh, ia mulai menyayangkan dirinya yang mungkin tak akan bisa dekat dengan Luna seperti dulu lagi.
“soal itu, sepertinya Luna harus di beri pengertian kembali soal batas yang baru di kenalnya itu... jadi sebenarnya dalam sesi koseling terakhir, Luna menceritakan bahwa dia sudah di ajarkan oleh temannya kalau bentuk kasih sayang itu selain dengan mengatakan cinta, memeluk, mencium, itu juga ada yang namanya putting respect atau penghormatan, ia mulai berlajar tentang itu... Luna mungkin merasa kalau kini sudah waktunya baginya untuk mulai menghormati anda sebagai seorang pria dan tak lagi hanya menganggap anda yang berperan sebagai seorang ayah yang selalu menjaganya selama ini. sahabatnya itu mengajarkan bahwa menampilkan tubuh polosnya seperti saat anda memandikan Luna, itu bukan tindakan yang baik, tapi dari semua itu kabar baiknya adalah Luna sudah mulai sedikit tumbuh saat ini...”
Bryan terlihat sedikit melengkungkan senyumnya mendengar Luna yang sudah di nyatakan sedikit tumbuh itu.
“lalu... apa yang harus saya lakukan padanya, bagimana saya harus memberikan perhatian saya padanya sekarang...”
“sebaiknya dari pada memberikan banyak perhatian dalam bentuk sentuhan fisik, Luna kini mungkin lebih membutuhkan kehadiran anda untuk memenuhi kebutuhan emosinya, karena ia juga akan mulai mengalami banyak kebingungan secara emosional, karena merasa harus mulai melakukan segalanya sendirian... nah anda bisa masuk sebagai penghibur dan penenang juga memberikan banyak-banyak bantuan solusi untuk masalah yang mungkin di rasa sangat baru sekali baginya...”
Bryan menganguk dan berencana mengikuti arahan psikolognya itu.
Tapi kemudian Psikolog Shopie menutup catatan psikologis Luna dan meletakan itu ke ujung sisi mejanya, kemudian meletakan kedua tangannya, dengan jari-jarinya yang di buat membentuk sebuah menara di atas mejanya,
“Pak Bryan, ada hal yang harus saya katakan pada anda”
Psikolog Shopie melepas kaca matanya dan kini menatap Bryan dengan wajah yang cukup serius,
“ya... silahkan”
“...sebenarnya lebih dari sebuah bentuk penhormatan atau sopan santun, batasan itu harus ada antara anda dengan Luna... Apa anda menyentuh Luna pure sebagai bentuk perhatian juga kasih sayang yang di butuhkan Luna... atau untuk memenuhi kebutuhan anda?”
Bryan sedikit kebingungan mendengar pertanyaan itu darinya.
“maksud anda?”
Bryan sampai menyiritkan dahinya kini.
“saya harus katakan ini kepada anda sebagai edukasi seksual ... sebenarnya batasan itu ada karena memiliki fungsi sebagai bentuk tindakan preventif untuk mencegah hal-hal yang tak di inginkan terjadi... karena kita juga tak bisa menutup mata kita, kalau Luna yang sudah menginjak masa remajanya ini secara fisik sudah terlihat menarik, bahkan saya pastikan semua kaum adam yang melihatnya akan tergoda oleh kecantikannya... apa anda pernah memandangnya sebagai seorang perempuan dan bukan sebagai putri anda? walau hanya sekali saja Pak Bryan?”
Pertanyaan Psikolog Shopie itu sontak membuat Bryan langsung berdiri dan menatap tajam Psikolog Shopie itu. Pertanyanyaannya itu sangat-sangat membuat Bryan tersinggung.
“anda mulai berbicara yang tidak-tidak, saya akhiri konseling hari ini sampai di sini...permisi”
Ucapnya, ia langsung berjalan cepat meninggalkan ruangan itu.
Sambil berjalan meninggalkan gedung praktik Psikolog Shopie, Bryan terus saja bergumam kesal,
‘bisa-bisanya psikolog itu menuduhku punya pikiran yang engga-engga soal anakku sendiri’
begitu pikirnya.
Brakkk
Pintu mobilnya sampai di bantingnya keras, dan kini ia duduk dengan kesalnya di dalam mobilnya itu.
“hhh... berani banget dia nuduh aku gitu... mentang-mentang dia psikolog... dia sampe berani bilang gitu cih...”
Tapi sedetik kemudian ia jadi terdiam, matanya terpaku memandangi potret dirinya dengan Luna.
Walau tak ingin dan enggan sekali untuk di akuinya, Bryan memang sering kali memandangi Luna sebagai seorang perempuan, perempuan yang sangat sangat sangat di cintainya, perempuan yang merupakan sosok istri yang sudah lama pergi meninggalkannya.
Tiba-tiba Bryan merasa seperti ada tangan yang meninju ninju dengan hebat, tepat di dadanya, membuatnya merasa sesak.
Bryan lalu menundukan kepalanya, dengan tangan yang kini sudah dipakainya untuk memukul-mukuli dadanya, yang baru saja berubah dari rasa sesak menjadi rasa sakit yang kian menghardik hatinya itu.
“Put... maaf, maafkan aku... aku yang gak bisa lupain kamu, malah jadi selalu cari sosok kamu di anak kita... maaf, maafkan aku...”
Bryan menagis dengan tersedu-sedu sambil memohonkan maaf dari istri dan ibu dari anaknya itu.
“tapi jujur tak ada niatan di hatiku untuk melampiaskan semua kerinduanku untuk menyentuhmu pada anak kitaa... tak ada... tak pernah ada hasratku untuk ingin menyentuhnya seperti menyentuhmu saat kamu masih ada put...”
.....