Dear diary
Untuk pertama kalinya aku merasa begitu penasaran tentang menjadi seseorang. Mataku menemukan hal yang ada dalam diri orang lain yang tak pernah kumiliki... Aku ingin bisa di pandang oleh dia sebagai wanita yang seperti itu.
Aku mulai mempertanyakan apa perbedaan antara anak perempuan dan wanita dewasa, yang jelas tampak di mataku saat ini hanya penampilannya saja.
Anak-anak itu identic dengan penampilan polosnya, sementara wanita Dewasa….
Aku tak yakin…
Dewasa itu, apa artinya mejadi wanita cantik dengan lipstick dan pakaian modis di tambah dengan penampilan fisik yang menggoda?
Bu… ajari aku untuk menjadi wanita dewasa…
….
Tok tok tok
Karena sedang sangat kesal, aku jadi berpura-pura tak mendengar suara ketukan pintu di kamarku itu, dan hanya membuka-buka halaman bukuku saja. ku lirikan sedikit mataku, ayahku rupanya sedang menyembulkan kepalanya dari balik pintu, lalu dengan canggung ia memasuki kamarku.
“Luna…”
Aku hanya diam, enggan untuk menjawab panggilannya.
“lagi apa? sibuk? Apa ada PR? Atau lagi belajar?”
Ayahku bertanya seperti namun aku saja masih memunggunginya dan mengabaikannya.
“Luna…”
Ayahku sudah duduk di sampingku yang saat ini sedang tengkurap malas di atas tempat tidurku. Tangan lembutnya kurasakan kini mulai mengelusi puncak kepalaku.
“masih marah?”
Tanyanya
“maafin ayah soal yang tadi di mobil, ayah…. Ayah gak maksud buat bentak kamu sayang… ayah cuma kaget aja…”
Ucapnya mengungkit soal kejadian mengesalkan di mobil yang membuatku jadi marahan dengannya saat ini.
“Luna… maafin ayah yaa…”
“ehmmm…”
Aku hanya menjawabnya dengan suara gumaman seperti itu.
“Luna…”
“hhhmmm…”
“apa sekarang udah ada laki-laki yang kamu suka di sekolah kamu itu?”
Tanyanya padaku tiba-tiba, aku yang semula mengacuhkannya langsung menoleh ke arahnya dan memandanginya tak suka.
“engga! Siapa bilang, gak ada… yang kenal aja baru dikit kok”
Aku tiba-tiba meninggikan nada bicaraku pada ayahku itu, tak terima baru saja aku di tuduhnya seperti itu.
“hhhmm… kalo pun iya ada…itu wajar sayang, ayah bisa ngerti kok… suka sama seseorang itu bukan hal yang buruk dan itu perasaan yang kadang gak bisa kita lawan… jadi-”
“iih… ayaaahhh!! siapa yang suka sih, engga ada!”
Kataku sambil mendudukan diri kini sambil menghadap ayahku, berkata dengan tegas begitu padanya. Tapi ku lihat ayahku justru hanya terkehkeh saja menanggapi perkataanku itu.
“AYAH! Aku gak suka serius! Dianya aja yang dekitin Luna, Luna kan jad-“
‘Oh, sial!! Kenapa aku keceplosan gini sih!!!! Ahhhh!’
Aku langsung mengutuk diriku dalam hati karena baru saja aku mengakui kalau ada laki-laki yang memang sedang ingin dekat denganku.
“oooh… gituuuu… terus terus gimana? Kamu suka sama dia? Ganteng? Baik gak?”
Tanya ayahku setelah tahu apa yang telah terjadi pada anaknya ini.
“hhhh… tau ah! Sebel….”
Balasku hanya begitu dan kini sudah aku sudah memeluknya erat dan kusembunyikan wajah malu-ku dalam dadanya.
“hahahhh… gak papa, tapi kalo dia sampe gangguin kamu dan sakitin kamu, kamu wajib bilang sama ayah okey”
Ucapnya, aku tak tahu apa ayahku akan bisa setenang ini saat tahu laki-laki yang mendekatiku adalah orang yang membuat kesal soal insiden mobil hari itu.
“ahhh… ayah, kenapa di sukain orang kok rasanya aneh yaa… kaya ada beban gitu, terus malah jadi gak nyaman sama diri sendiri”
Tanyaku padanya,
Ayahku kemudian melepaskan pelukanku dan menatapku lekat-lekat.
“Luna… orang yang bilang suka sama kamu, dan bener-bener punya perasaan suka itu, mereka akan terima kamu apa adanya… jadi jangan berusaha buat ubah diri kamu cuma buat dia yang bilang suka sama kamu”
Ayahku memberiku nasihat begitu. Tapi memang jauh dalam hatiku aku sedikit penasaran dan ingin mencoba menjadi seseorang yang aku inginkan. Men-ja-di wa-ni-ta de-wa-sa. Aku tak ingin terlihat seperti anak perempuan manis lagi, dan kebetulan saja Reyno menyarankan itu padaku.
“Luna… perasaan suka itu, gak bersyarat sayang. Jadi jangan percaya sama orang yang bilang suka sama kamu tapi kalo kamu bla bla bla… kalo kamu begini atau kamu jadi begitu… mereka gak tulus sama rasa sukanya itu…”
“oh ya?”
Tapi kemudian aku bertanya-tanya, apa hanya dengan menjadi apa adanya diriku, sungguh akan ada orang yang benar-benar menyukaiku??
Jika mempertimbangkan standar kecantikan yang kini sudah semakin tinggi, di tambah lagi harus bisa memiliki ‘ini’ dan jadi orang yang seperti ‘itu’… aku pikir kalau aku sudah sampai pada titik itu, dimana kecantikan, prestasi, profesi, dan pamor ada padaku, barulah akan ada orang yang akan memperhatikan sampai mempunyai perasaan padaku.
Aku tak berpikir sama dengan ayahku, karena dengan mejadi diri yang biasa-biasa saja, siapa yang akan melirik. bahkan orang-orang kini akan lebih memperhatikan wanita yang wajahnya di poles dari pada yang hanya di biarkan polos, bukan begitu?
“ehmmm… kamu ini cantik, putri ayah yang paaaaling cantik. Jadi, gak usah berubah jadi orang lain, apa lagi pengen keliatan sexy buat dapetin perhatian orang lain…”
Ayahku mengungkit soal ‘sexy’ yang jadi permasalahan aku dengannya tadi.
“aahh… ayaaah…udah jangan bahas itu lagi… lagian Luna juga gak yakin bisa jadi sexy kaya gitu, vibenya kayanya gak ada deh di Luna…”
Jawabku.
“ahahahaha… kamu ini ada-ada aja…”
“jangan ketawa ayah...”
Aku sungguh heran dengan yang satu itu. padahal aku selalu memakai rok pendek, atau hot pans, bahkan saat ini aku memakai baju tidur pendek dan tipis, tapi rasanya kenapa aku seperti anak kecil yang di dandani seadanya oleh ibunya yang malas di musim panas yaa?? aku pikir Sexy itu identic dengan keterbukaan, tapi kenapa aku tak merasa diriku ini sexy bahkan setelah memakai pakaian terbuka.
“yaudah tidur sekarang”
“ayah tidur di sini aja yaa… temenin Luna”
Pintaku manja.
“iya ayah tidur sama kamu, jadi ayo tidur…”
Ucapnya padaku. dan aku akhirnya tidur sambil memeluk ayahku malam ini.
***
“dah sayang…”
Ucap ayahku saat aku turun dari mobilnya, ku lambaikan tanganku mendadahi-nya. lalu ayahku mulai menjalankan mobilnya untuk segara menuju ke kantornya.
“hhh… hari ini hari terahkir sekolah di minggu ini, karena besok tanggal merah dan langsung ketemu weekend, jadi semangat Luna…”
Kataku menyemangati diriku saat memasuki gerbang sekolahku ini. dan tiba-tiba mataku menemukan hal yang membuatku tak percaya diri. penampilan beberapa siswa di lorong yang ku lewati saat akan menuju kelasku sungguh sangat menawan di mataku.
Sampai akhirnya aku berjalan menuju toilet lebih dulu. Kini aku berdiri di depan cermin, tengah berkaca melihat bayangan diriku. Tiba-tiba aku teringat pada perkataan Reyno soal rambutku yang lebih cantik saat di urai dari pada di ikat seperti sekarang ini.
Tersugestilah diriku untuk membuka ikatan rambutku, dan sedikit menyisirinya dengan jari-jariku untuk merapihkannya.
“hahahh… bener banget emang nyebelin tu anak satu”
“eh.., pinjem lip teen kamu dong…”
Dua orang siswi masuk dan kini tengah berdiri di sampingku, berbagi cermin yang sama denganku. tangannya salah satu sisiwi itu sedang mengoleskan Lip teen di bibirnya sampai warnanya jadi sangat cerah, merah dan tampak semanis ceri saat ini.
Aku memperhatikan bagaimana caranya menggunakan itu sampai bibirku kini sedidit menurukan gerak bibir bawah dan bibir atasnya yang sedang di adukan itu
‘Bab babb baab’
Sampai terdengar suara seperti itu.
Setelah selesai keduanya lantas pergi meninggalkan toilet dan sekarang hanya ada aku sendiri dengan bayangku saja di toilet ini.
“hhh… kayanya aku harus punya satu yang kaya gitu…”
Ucapku, dan karena kelas sebentar lagi di mulai, akhirnya aku harus segera masuk ke kelasku.
“hei…”
Saat aku sedang menaiki tangga menuju kelasku, Reyno menyapaku dengan senyumnya yang sangat cerah pagi ini. aku jadi berhenti sebentar untuk menunggunya yang sedang berjalan mendekat padaku. Entah kenapa aku malah diam dan jadi sangat canggung sekarang.
“hari ini kamu gak di iket”
Ingatnya padaku sambil tersenyum penuh arti, dan refleks aku langsung mengeluarkan ikat rambutku untuk kembali mengikat rambut yang ku biarkan terurai.
“eitts… udah gak usah di iket, cantik gini”
Ucapnya menghentikan tanganku yang akan mengikat rambutku.
“ini… aku mau kasih ini buat kamu…”
Reyno mengyerahkan protein bar padaku, aku hanya diam memandanginya saja.
“kamu itu kayanya ke kurusan deh… seragam kamu juga jadi keliatan kebesaran gitu”
Ucapnya padaku, mataku jadi memperhatikan penampilanku saat ini. tangan Reyno kemudian mencubit sisa kain bajuku yang memang cukup lebar itu.
“liat kegedeannya sampe kaya gini, ukurannya harus di kecilin 2/3-nya kan? Rok kamu juga…”
Reyno jadi mengukur-ukur ukuran bajuku saat ini.
“ahh…”
Rasanya aneh sekali saat jarinya yang tak sengaja menyentuh pingangku. geli sekali. aku sampai mengelinjang karenanya.
“ishh… jangan pegang-pegang”
Kataku akhirnya dan ku jauhkan tangannya itu dari pinggangku.
“kenapa? geli yaa…”
Sudah tahu aku kegelian tapi ia malah jahil menyentuhkan kembali tangannya ke sisik perutku, menggelitikiku di bagian itu.
“iish… geli Rey”
Kataku, tapi dia tak mendengarkanku dan terus saja tangannya jahil menggelitikku.
“ahahhh… geli… ah… udah… ahah Rey udah… geli ih”
Aku sampai di buat terpojok ke tembok olehnya, dengan tangannya yang masih berada di pinggangku. Aku jadi sangat dekat dan rapat dengannya.
Gulp
Aku menatapnya lekat kini. ku rasakan tangannya merayap di pinggangku dan jari-jarinya berani menyelusup masuk kedalam kemejaku hingga menyentuh kulit perutku.
“ahh…”
Sensinya aneh, sampai langsung ku jauhkan dirinya. pipiku terasa panas sekali saat ini.
“hahahah… kenapa? geli ya?”
Ucap Reyno seductive padaku,
“aku harus masuk kelas”
Kataku dan langsung saja aku berjalan cepat meninggalkan dirinya menuju kelasku.
“Luna pipi kamu meraah”
Katanya keras di belakangku. Ku abaikan saja dirinya.
‘aaahhh… kenapa pipi aku panas gini lagi siiih’
Gerutuku setalah menjauh darinya.
….
Aku baru saja kembali dari Lab bahasa setelah mengikuti tes materi listening. ketika aku kembali, ku temukan sebuah kotak di atas mejaku. Dan karena penasaran, tanpa pikir panjang lagi aku langsung membukanya.
“seragam?”
Tanyaku aneh, ada notes terselip di sana.
….
kayanya seragam yang ini lebih pas kamu pake
-Love from Rey
…
“sshh… dia itu hhh…”
Tak banyak reaksiku, hanya langsung kutaruh saja di bawah mejaku. aku terlalau malas untuk marah atau kesal padanya. jam-jam setelah tengah hari selalu membuatku mengantuk dan ingin tidur saja.
“jangan sampe tidur di kelas sejarah nanti ya Luna…”
Ingat Willy padaku
“sejarah?”
“ehmm… abis ini kita masuk kelas sejarah dan belum apa-apa mata kamu kayanya udah berat aja tuh.. ckckk”
“heheh…”
Aku hanya tersenyum saja padanya.
….
“ayaahh…”
Sapaku pada ayahku saat sudah memasuki mobilnya. Tak lupa untuk ku peluki dirinya.
“kenapa?”
“ngantuk ayah… aku berasa di nina boboin di kelas terakhir”
Kelas sejarah itu berlangsung selama tiga jam lebih. seharusnya dalam satu minggu ada dua kali pertemuan tapi karena ada tanggal merah dan harus mengejar materi jadilah hari ini di padatkan sampai jam pulang.
“kok bisa?”
“sejarah ayah, Arghhhh… aku pusing, kenapa kita harus inget-inget masa lalu sih yah… padahal udah lalu gitu loh… kenapa sejarah itu gak di simpen aja di tempatnya, di masa lalu gitu?”
Heranku, dan ayahku hanya tertawa saja mendengar ucapan asalku itu.
“masa lalu yang biasa aja itu emang harus di simpen di tempatnya yaitu di masa lalu…. tapi kalo sampe jadi sejarah pasti itu jadi peristiwa penting dan jadi bagian dari seseorang atau sesuatu itu sayang…”
“aah… tapi kok di telinga Luna masa lalu yang biasa sama yang luar biasa itu sama aja yaa?”
heranku
“…Luna enek harus inget tanggal, tempat sama nama-namanya yang aneh banget… aahh pusing!!! kepala luna udah kaya berasap gini ayah…”
Aku terus saja berceloteh seperti biasa menceritakan hariku di sekolah, dan ayahku seperti biasa pula menjadi pendengar setiaku. Ayahku pernah berkata padaku untuk selalu menceritakan hal apapun padanya. karena hanya dengan berbicara dan bercerita, ayahku bisa tahu tentang diriku, memahami aku, anak semata wayangnya ini dengan baik. Dan seperti itulah caraku untuk menjaga kedekatan hubunganku dengannya selama ini.
Sampai di rumah, aku langsung masuk ke kamarku.
“ah iyaa… aku lupa seragam yang di kasih Reyno tadi”
Aku langsung mengeluarkan seragam pemberian Reyno itu dari kotaknya. Dan kini aku sudah menurunkan pakaianku dan siap untuk mencobanya.
Saat ku kenakan roknya yang bermotif kotak-kotak itu, aku rasa benar-benar pas di pinggangku.
“hhh… ini kependekan gak sih?”
Tanyaku sambil berkaca pada cermin di hadapanku. karena setelah kupakai ternayta panjangnya hanya setenagnya dari rok seragamku yang sebelumnya. Dan saat aku mencoba berputar, celana dalamku sampai terlihat.
“waah… kalo sampe ke tiup angina bisa berabe ini…”
Ku lanjutkan dengan memakai kemeja putihnya, dan hasilnya benar-benar mengetat sekali di tubuhku. Badanku di press oleh kemeja itu. bahkan aku sedikit kesulitan untuk mengkancingkan di bagian dadanya.
“aah… d**a aku ini kok jadi nyembul gini sih…”
Heranku, dan lagi saat ku angkatkan tanganku, perutku langsung terlihat.
“hhufftt… ini gak bisa di pake deh kayanya…”
Gumamku. dan tak lama kemudian ku dengar pintu kamarku terbuka
“Luna in-“
Ayahku masuk dan kulihat ia tengah membulatkan matanya begitu melihat penampilanku saat ini.
“kekecilan…”
Kataku singkat. Ayahku langsung menghampiriku cepat.
“aahh Ayahh…”
….
…