Luna pov
“ahhh….”
Aku bangun dengan perasaan yang aneh sekali, dadaku tiba-tiba berdetak kencang sekali.
“aahh… kenapa dia muncul di mimpi aku siiih…”
“Padahal cuma nempelin minuman dingin di pipiku aja tapi kenapa bisa sampe ke bawa mimpi segala”
heranku.
“aahhhh… Luna kamu pasti udah gilaa!!”
Aku sampai menendang-nendang kakiku pada selimutku yang tak tahu menahu soal si Reyno yang sekarang malah jadi selalu terpikirkan olehku.
“engga engga… aku gak boleh kaya gini. Dia itu nyebelin dan bahaya banget, jadi harus aku jauhin”
Aku tebak ini pasti karena untuk pertama kalinya ada yang melakukan itu padaku seumur hidupku.
**
Hari ini aku berangkat ke sekolah seperti hari-hari kemarin di antar ayahku dan ini masih cukup pagi sebenarnya untuk aku sampai di kelas,
“hhh… masih kosong…”
Gumamku,
“ah!”
Seseorang menarik ikatan rambutku sampai membuat rambutku terurai, aku berbalik untuk melihat siapa pelakunya.
“Rey…”
“Morning babe…”
Ucapnya tanpa merasa bersalah atau sekedar meminta maaf padaku karena sudah menarik ikat rambutku baru saja.
“kembaliin itu”
Pintaku. Ia malah tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
“hhmmm… no no no”
Apa salahku pagi-pagi begini sudah di ganggu dan harus menghadapi kejahilannya coba hhfttt…
“kembaliin!”
Aku kini berusaha merebut kembali ikat rambutku itu darinya, tapi ia juga dengan cepat menjauhkan itu dariku.
“kembaliin iket rambut akuuu”
Ia tak peduli dan kini ia malah sudah mengangkat tinggi-tinggi ikat rambutku. Aku berusaha meraih itu meski tangannya terlalu tinggi, sampai aku harus berjinjit di depannya saat ini.
“Luna…”
Panggilnya padaku, sampai aku menatapnya. Dan tak tahu sejak kapan posisiku sudah jadi sangat merapat pada dirinya.
“ehmm?”
Aku diam kini, tak lagi berusaha menjangkau dan merebut kembali ikat rambutku. Reyno denganku hanya jadi diam dan saling menatap dalam dekat.
“kamu… lebih cantik di urai kaya gini”
Ucapnya sambil menyampaikan rambut yang menjuntai di pipiku lalu menyampaikannya ke belakang daun telingaku. sentuh tangannya tak sengaja mengenai kulit pipi dan telinga bahkan leher belakangku. dan itu berhasil membuat tubuhku berdesir hebat.
‘aahh… apa-apaan ini… Luna sadar!’
Aku langsung menjauhkan diri darinya, Ia terkehkeh kini menatapku.
“kamu itu lebih cantik di urai kaya gitu, kenapa harus di iket sih…”
Ucapnya
“suka-suka aku dong…”
“gak kamu coba gaya rambut baru? Kaya cewe itu misalnya… kayanya aura cantik kamu bakal makin terpancar deh…”
Tambahnya sambil menunjuk salah satu senior di sekolahku, yang memang memiliki gaya rambut lebih mengembang dan di blow up sepertinya.
“kamu nanti bakal keliatan lebih dewasa… pluss…”
Reyno tak menyeselesaikan kalimatnya, aku kini manatapnya penasaran, menunggu kelanjutannya. Ia kemudian mendekat padaku dan akan berbisik sesuatu di telingaku.
“sexy….”
Buluku langsung berdiri,
“kamu ini gila ya!! Kembaliin itu dan pergi dari kelas aku!”
Aku jadi bereaksi berlebihan dengan membentak dirinya, setelah di godanya seperti itu.
“hahahh… santai Luna… tapi jangan lupa di pertimbangin okey… bye babe”
Ucapnya sebelum akhinya dia pergi meninggalkan ruangan kelasku.
“ahhh… dia itu kenapa pagi-pagi udah bikin mood aku rusak deh…”
Hari ini untungnya kelasku di sekolah hanya sampai pukul 2 siang saja, karena katanya guru-guru dan beberapa staf di sekolah harus mengadakan rapat untuk menyusun kembali agenda di kalender akademik. Jadilah aku kini sudah berada di KFC dekat kantor baru ayahku bekerja untuk makan siang bersamanya.
“hay sayang…”
Ayahku datang dengan senyum lebar di wajahnya. langsung mencium pipiku dan duduk di kursi di depanku.
“hay ayah…”
“lama nunggunya?”
“ehmm.. lumayan sih udah 20 menit kayanya”
“ehmmm maaf yah bikin kamu nunggu”
Ayahku jadi meminta maaf begitu padaku,
“gak papa kok yah…”
Ayahku tadi menyuruh salah seorang supirnya untuk menjemputku dari sekolah dan membawaku ke kantor ayahku. Tapi rasanya akan canggung sekali jika aku yang masih memakai seragam SMA ku ini tiba-tiba harus menunggu di lobi sementara ayahku masih harus menyelesaikan rapatnya. aku pikir aku akan terlihat seperti anak hilang saja di sana. jadilah aku memutuskan untuk menunggu di KFC yang berada tepat di samping gedung kantor ayahku sambil menikmati Mocha float favoritku.
“yakin mau makan di sini aja? Gak jauh dari sini ada resto yang enak kok sayang…”
Tawar ayahku, sebenarnya aku tak keberatan untuk makan di manapun itu. tapi kalau harus pindah ke resto lain, itu artinya aku harus turun dari lantai dua ini, masuk ke jalanan yang cukup padat, belum lagi mencari area parkir.
“engga yah, di sini aja…”
Jawabku akhirnya
“yaudah, mau makan apa biar ayah pesenin”
“yakiniku?”
“okey siap sayang…”
Ayahku langsung menuju meja pemesanan dan aku hanya diam menunggu saja sambil memainkan handphoneku.
Tiba-tiba anak kecil di samping mejaku menjatuhkan sisirnya ke dekat ku duduk saat ini. aku langsung mengambilkan itu untuknya.
“ini…”
Ku berikan pada anak perempuan berambut pirang itu.
“ooh… kakak cantiknya sekolah di SMA ST. Louis 1 yaa…”
Ucapnya sambil mengambil kembali sisir miliknya dari tanganku, dan sepertinya anak perempuan yang masih duduk di bangku di sekolah dasar ini sudah bisa mengenali sekolahku hanya dari seragam yang kupakai saat ini.
“ehmm… kenapa?”
“aku juga nanti mau SMA di sana… “
“oh ya?”
“ehmm aku mau banget sekolah disana…”
Jawabnya dengan sangat yakin
“waahhh… ternyata bener apa kata temen-temen aku bu, di sana kakak-kakaknya cantic semuaa… liat aja kakak ini…”
Ucapnya pada ibu nya itu. dia benar-benar menggemaskan sekali di mataku.
“iya sayang…”
Ibunya hanya bisa menjawab seperti itu pada anak perempuannya itu. lalu ia menggeser kursinya untuk bisa duduk lebih dekat denganku.
“aku juga mau cepet-cepet gede dan masuk SMA kaya kakak, biar bisa bawa mobil sendiri ke sekolah, bisa pake make up, terus warnain rambut aku, pacaran di sekolah-“
“Husss! ngelantur kamu… masih kecil pikirannya udah kaya gitu”
Anak kecil di sampingku jadi kena semprot ibunya karena mengatakan yang tidak-tidak barusan itu.
“iih… ya kan nanti kalo aku udah besar ibuuu… aku mau jadi bebas. gak harus ikutin apa kata ibu lagi”
Balasnya. Aku benar-benar di buat sangat kaget dengan ucapan anak kecil itu. jujur saja aku tak pernah membayangkan hal-hal seperti itu.
‘bebas katanya? apanya yang bebas, aku gak nemuin banyak perbedaan dari sebelum dan sesudah masuk SMA tuh, Cuma seragamnya aja yang jadi beda…”
“…Tapi apa iya ya jadi anak SMA bisa bebas kaya gitu? terus kenapa aku masih aja di awasi ketat ayahku ya…’
“ayo pulang, kamu ada les privat sekarang, permisi yaa… maaf jadi ganggu”
“ooh gak papa kok… anaknya lucu, gemesin lagi”
“kita pergi duluan…”
“ehmmm…”
Balasku begitu sambil tersenyum pada ibu anak itu yang sudah berdiri dan mulai menuntunnya untuk segera pergi meninggalkan KFC ini,
“daaah kakak cantic”
“daaah…”
Balasku sambil melambaikan tanganku padanya yang mulai berjalan pergi.
“hhh ada-ada aja sih…”
Gumamku tapi kemudian aku jadi terpikir oleh kata-katanya barusan itu. apa jadi anak SMA itu benar-benar bisa melakukan semua itu?
‘bawa mobil? Ssshhh…. Di sekolah memang beberapa anak bawa mobil mereka sendiri, make up? Ah! bener juga, kalo aku perhatiin hampir semua anak perempuan di sekolah men-touch up di wajah mereka… kalo rambut…
… aisshh aku malah kepikiran Si Rey lagi jadinya, soal dia yang nunjuk kakak perempuan senior tadi itu. mungkin penampilan kaya gitu yang di maksud anak kecil itu… apa anak SMA harus punya penampilan kaya gitu yaaa? Rambut yang bagus, badannya juga bagus, pake make up yang pas di wajah, terus juga aksesoris… ah satu lagi, aku inget warna cat kukunya yang pas banget sama warna kulitnya kakak senior tadi itu…’
“aahh… itu terlalu jauh dari penampilanku sekarang ini…”
“kenapa? ada apa sayang?”
Ayahku menyahuti gumamanku begitu datang dengan membawa yakiniku yang tadi kupesankan padanya dengan menu combo untuknya makan siang hari ini.
“engga kok yaah…”
Balasku,
“inii selamat makan sayang…”
Aku mulai menyantap makan siangku itu, dan saat aku mengunyah itu, ku lihat beberapa wanita tak jauh dari mejaku tengah saling berbisik dan senyum-senyum sambil melihat ke arah ayahku.
“isshh… genit”
Umpatku.
“apa?”
Ayahku yang rupanya mendengarku mengumpat pada mereka langsung menyahutiku.
“itu… ada mata yang liatin ayah terus”
“mana?”
Ayahku langsung mencari siapa pemiliki mata yang ku maksud. Dan tak ku sangka ayahku malah melemparkan senyum pada dua wanita itu.
“itu cuma salah satu karyawan di kantor ayah aja sayang…”
Aku masih menatap ayahku tak suka. Tapi mau bagaimana lagi ayahku ini memang tampan sekali, jadi tak heran kalau ada keryawan wanita yang genit padanya.
“iiishhh udah biarin aja… ayah itu gak akan lagi nambah wanita di hidup ayah, ada kamu aja satu udah lebih dari cukup buat ayah”
Ucapnya, aku tersenyum mendengarnya berkata begitu.
“ooohh.. Love youuu…”
“ehmmm love you baby…”
Ucapnya sambil mengusapi puncak kepalaku.
Setelah selesai makan, aku kini bersiap untuk pulang.
Dalam perjalanan pulang. Lampu merah menyala di jalanan kini dan membuat mobil ayahku terhenti.
Aku mantap keluar, beberapa anak SMA yang sepertinya seumuran denganku tapi memiliki penampilan yang jauh lebih keren dariku tengah berdiri dan berkerumun di depan gerbang sekolah mereka. entah apa yang mereka bicarakan, tapi yang jelas mereka terlihat tertawa begitu senang.
“ayah… menurut ayah anak perempuan itu gimana?”
“yang mana?”
Tanyanya dengan mata yang mulai mencari anak perempuan yang ku maksud.
“itu yang rambut pirang itu… yang rambutnya curly itu…”
“ehmmm… gimana yaa? Ehmmm gak tau ayah gak bisa nilai…”
Ayahku kebingungan untuk menilai anak SMA itu. aku penasaran apa ayahku akan memiliki penilaian yang sama seperti Reyno. Kebetulan sosok anak perempuan itu sebelas dua belas dengan kakak senior yang tadi di sekolah di tunjuk oleh Reyno.
Tapi ayahku malah sudah tak memperhatikannya lagi, seolah tak tertarik. kulihat ayahku sedang mengambil botol minumnya dan mulai meneguknya.
“apa bener kalo aku punya rambut kaya gitu… aku bakal keliatan sexy?”
Uhukkk uhuukkkk
Ayahku terbatuk-batuk karena tersedak saat mendengar pertanyaanku barusan itu.
“LUNAAA!!!”
…..