#1 Hari Kedua : Perubahan Rencana Reyno

1967 Kata
“pagi ayah…” Sapaku di selasa pagi ini. Cup Ayahku langsung mengecup pipiku begitu aku berjalan menghampiri dirinya yang sedang duduk dan siap untuk menyantap sarapan pagi ini. “pagi sayang… ayo sarapan” “ehmm… hoaammm…” Balasku yang sambil menguap. “loh kok… nguap gini masih ngantuk?” “biasalah Yah… aku gak bisa tidur semalem…” Jujurku “kenapa?” “ehmmm… gak kenapa kenapa… susah merem ajaa…” Balasku padanya dan ayahku kini hanya menatap aneh anak perempuannya ini sekarang. Tak tahu kenapa belakangan aku jadi overthinking setiap malam sebelum aku tidur. aku membayangkan banyak hal terjadi padaku, dari yang baik sampai yang buruk sekali pun. Mataku sulit untuk di rapatkan, dan isi kepalaku selalu berkelana kemana-mana memikirkan yang tidak-tidak. ‘astaga… semalam aku pasti sudah gila membayangkan aku menjadi perempuan dewasa yang mengenakan miniskirt merah dan high heels berjalan melenggang dengan sexy menuju sebuah club dengan minuman keras di tanganku…’ Untuk beberapa saat aku larut mengingat bayangan gilaku semalam. ‘udah berhenti ngehalunya Lunaaa…’ “tapi serius gak ada apa-apa kan? Kamu gak bisa tidur bukan karena lagi ada masalah yang di pikirin kan? Tanya ayahku, dengan nada khawatirnya kini. “ehmm… gini loh yah, malem-melem tuh aku ngerasa kaya susaaaaah banget buat tidur. Tiba-tiba banyak banger gangguannya kaya… punggung aku sakitlah, kaki aku jadi pegellaah, terus kasur aja tuh kaya berasa keras banget padahal udah segitu empuknya… aku cuma jadi guling-guling deh semaleman. (sambil ngehalu yang engga-engga hehe…) tapi pas pagi-pagi ehmmm… udah, itu kasur bikin aku betah banget, empuk. dan grafitasinya bikin nagih, sampe males buat bangun…” Ceritaku pagi ini… “hhh… loh ya, kamu gak bisa tidur kok gak ke kamar ayah? Biasanya kalo ada angin yang agak kenceng dikit aja, kamu suka langsung lari ke kamar ayah terus masuk ke balik selimut… nyelusup, tiba-tiba bikin ayah kaget…” Aku memang terkadang selalu begitu, tapi sekarang aku sudah SMA dan karena kemarin ada bahasan untuk jadi dewasa… aku pikir baik untuk aku belajar menangani ketakutan kecil soal masalah tidurku itu. “kamar kita sekarang jauhan ayah, Luna males harus turun tangga dari lantai atas ke kamar ayahnya…” Balasku begitu saja pada ayahku. “ahahah... yaudah nanti ayah bakal temenin kamu dan gak akan pergi dulu sebelum kamu nyenyak tidur deh… semalem ayah gak sempet ke kamar kamu karena banyak kerjaan… maaf ya sayang” Semalam memang ayahku tak mengunjungi kamarku dan mengucapakan selamat tidur padaku seperti biasanya. aku mengerti kalau ayahku yang mendadak sibuk itu, ia harus banyak mengurusi ini dan itu karena baru saja pindah ke tempat baru. “gak papa kok yah...” Ayahku lalu tersenyum dengan tampannya padaku. ….. Setelah itu aku di antar ke sekolah oleh ayahku. Rasanya enggan sekali sejujurnya, karena aku yang takut harus bertemu dengan Si Reyno itu lagi. “baik-baik di sekolah ya sayang…” “ehmm… dah ayah…” Ayahku memberikan kecupan sebelum aku turun dari dalam mobil dan memasuki area sekolah. Berjalan dengan malas menuju kelasku. Dan begitu aku sampai ku dapati banyak bunga di atas mejaku. “ini… kenapa di meja aku ada banyak banget bunga gini?” Tanyaku pada Leo yang sudah duduk di kursinya pagi ini, sedang berkutat dengan buku-bukunya itu. “anak kelas 11 IPS yang naruh semua itu di sini… bilanganya sih surprise. Di beresin gih, biar gak bernatakan kaya gini…” Ucap Leo padaku. “iya aku beresin sekarang. Maaf ya… aku jadi bernatakin meja kita…” Kataku sambil ku ambil semua bunga-bunga itu lalu ku bawa ke luar, untuk ku buang ke tepat sampah. “hhh… udah aku duga kamu gak akan suka bunga-bunga kaya gitu…” Aku langsung berbalik saat ku dapati seseorang yang tengah bebicara padaku itu. dan siapa lagi orangnya kalau bukan si Reyno yang sudah memebuatku jadi harus membereskan mejaku pagi-pagi begini. Aku hanya menatapnya datar kini. “gak suka ya? Yaudah gak papa ini aja … ambil” Ia mengeluarkan sesuatu dari dompetnya lalu menyerahkan black card miliknya padaku. “you know this? No limit… jadi ini bisa-“ “Rey… ayahku cukup mampu untuk kasih lebih dari satu yang kaya gitu, jadi simpen semua uang kamu itu… karena aku gak butuh” Kataku sambil melangkah pergi meninggalkannya. “Luna… Lunaaa…” …. Author pov …. Reyno terus memanggil-manggil Luna yang hanya mengabaikannya dan sudah kembali masuk ke dalam kelasnya saat ini. jelas sekali ia baru saja mendapatkan penolakan dari anak pindahan di sekolahnya itu yang sangat menarik perhatiannya karena kecantikannya itu. Dengan kesal Reyno kini hanya bisa duduk saja di kursi taman sendiri dengan raut wajah masamnya. “hey bro… kok jelek banget sih mukanya pagi-pagi” Sahabat Reyno menghampirinya, Aldy namanya dan ia sudah mendudukan diri di sampingnya. “ehmm kesel gue…” “kenapa??” “Si Luna… dia nolak gue… padahal gue udah kasih dia bunga, terus sampe gue tawarin black card tapi dia bilang gak butuh masa… padahal tuh yaa biasanya- itukan yang paling mujarab banget buat deketin cewek tapi kok sama dia mental yaa…” Cerita kesal Reyno pada sahabatnya itu. “hahahh… kok bisa… dia kayanya jadi yang pertama, yang sulit loe dapetin yaa… hahahaa kasian” Aldy malah tengah puas kini menetertawakan Reyno yang baru saja di tolak oleh perempuan incarannya itu. “sialaan Loe!” “tapi yaa loenya juga yang salah deketin dia pake duit, dia mah bukan orang susah yang bakal antusias sama begituan bro… gue denger-denger sih, bokapnya itu diplomat yang udah punya nama gitu, terus ibunya juga dari keluarga Salim yang yaah… sekelas lah sama loe… jadi, dia kebilang anak berada laaah, uangmah soal kecil buat si Luna…” Reyno merasa kalau dirinya telah miss information soal perempuan cantic yang ingin di milikinya itu. ia bahkan tak tahu soal siapa orang tua Luna, dan malah baru mendengar tentang dirinya dari sahabatnya sekarang ini. “kenapa loe baru bilang si ah…” “lah… kok jadi marah sama gue, lagian loe kan juga gak nanya… makanya kalo mau deketin cewek itu cari dulu informasi semua soal dia, jangan main sambet aja… gimana sih…” Reyno kini diam saja jadinya. “terus gue harus gimana dong sekarang…” “gini, gue kasih tips buat taklukin cewek kaya si Luna itu….” Reyno mendekatkan duduknya pada Aldy, siap mendegarkan tips darinya itu. “pertama dekitin dia pelan-pelan, jangan sombongin semua yang loe punya karena bagi dia itu bukan apa-apa, cukup Loe muncul secara intens dan…” “dan apa?” Aldy menghentikan kata-katanya sampai membuat Reyno penasaran. “sini… gue bisikin” Reyno kemudian mendekatkan telinganya pada Aldy dan mendengarkan dengan seksama apa yang di bisikan sahabatnya itu. ia mengangguk-angguk mengerti dan kini seringai senyum sudah tergambar di wajahnya. ia seperti memiliki sejata baru untuk mendekati Luna kembali. *** Luna kini sedang mengikuti kelas olahraga, ia baru saja selesai berlari beberapa putaran dan terlihat sangat kelelahan tengah duduk di pinggiran lapangan dengan kaki yang di luruskannya. “hhh…hhh… hhhhh” Ia masih berusaha mengatur napasnya yang terengah-engah, dengan mata yang di pejamkannya karena silau oleh cahaya matahari yang cukup terik hari ini. keringat bercucuran dari dahi sampai lehernya. Namun tiba-tiba sensasi dingin di rasakannya terpat di pipinya. Tentu ia terkejut dengan itu. “aaa!” Luna sampai tersentak dan terperanjat karenanya. “capek ya?” Tanya Reyno yang kini sudah duduk di sampingnya dan tengah menempelkan sebotol minuman dingin pada pipi Luna yang merah karena kepanasan itu. Luna reflex ingin menjauh dari Reyno yang sudah di capnya laki-laki menyebalkan itu. “udah, diem aja dulu… aku gak akan ngapa-ngapain kamu kok” Ucapnya sambil menahan tangan Luna yang akan pergi itu dan terus melanjutkan aktifitasnya menempelkan botol minuman dingin itu di pipi Luna. “dingin kan?” Luna hanya menatap, ia tak bergerak, karena sejujurnya ia merasa nyaman sudah di dinginkan pipinya oleh Reyno, di saat tubuhnya kepanasan sekali saat ini. “pipi kamu sampe merah gini” Reyno mendekat pada Luna, dan mengalihkan botol minuman dingin itu ke pipi Luna yang satunya. Mata Luna sampai di buat membulat, menatap Reyno yang kini berjarak sangat dekat dengan wajah Luna. Secara penampilan Reyno memang cukup bahkan bisa di katakan satu dari jajaran siswa tampan di sekolah ini. “ehmm… biar aku aja” Ucap Luna sambil akan meraih botol dingin dari tangan Reyno itu, namun yang terjadi justru malah tangannya jadi bersentuhan dengan tangan Reyno. dan itu berhasil membuat Luna tampak sangat kikuk, untuk pertama kalinya ia harus mengalami hal seperti itu dengan laki-laki asing di sekolahnya. “maaf…” Ucapnya, lalu dengan terburu-buru dirinya menjauhkan tangannya itu dan mengambil botol dingin di tangan Reyno. dengan menunduk Luna menempelkan sendiri botol itu pada pipinya. Dan belum selesai sampai di sana, Reyno kini tengah mengelapi keringat Luna dari dahi dan lehernya dengan handuk yang juga ternyata sudah di siapkannya untuk Luna. “biar aku lap keringet kamu…” Ucapnya, dan entah kenapa Luna tiba-tiba diam mati kutu, mendapat perlakuan begitu dari pria yang sudah di katainya songong itu. Keduanya saling bertatapan kini. “ehmm… aku harus pergi buat ganti…” Luna buru-buru bangkit berdiri dan berjalan pergi meninggalkan Reyno dengan langkah yang tak pasti, sudah seperti orang linglung dirinya saat ini. Setelah Luna di lihatnya sudah menjauh pergi, Reyno terkehkeh lucu melihat tingkah Luna yang berhasil di buat kikuk olehnya. “hahahhaayy… gimana berhasilkan?” Ucap Aldy yang kini tengah berjalan menghampiri Reyno. rupanya sedari tadi ia menyaksikan apa yang lakukan sahabatnya itu pada Luna dari sudut lapangan. “ehmm… liat gak dia tadi gimana?” “kayanya sih tips gue manjur deh sama tu anak” “kayanya… thanks bro, gue kasih satu mobil gue yang nganggur di rumah” Ucap Reyno dengan santainya, seolah mobil itu hanyalah mainan baginya. “waah waaahhh… serius nih…” “tapi entar kalo gue sampe berhasil jadian sama doi“ Balas Reyno, ia akan melakukan apa saja untuk mendapatkan Luna, karena dia sudah di buat terobsesi padanya. ‘so, Loe Cuma harus jadi calm, gak usah buru-buru dan gentle aja deketin dia. Kasih dia banyak perhatian, karena cewek kaya Luna tuh bakal tunduk kalo di kasih perhatian dan sedikit kejutan manis lewat sentuhan-sentuhan yang gak terduga…’ Itu adalah tips dari Aldy yang di bisikannya tadi di telinga Reyno. Dan kini Reyno tengah mengikuti tips yang sepertinya sudah akan memebuahkan hasil itu. ….. Jam pulang sekolah tiba, Luna sepertinya biasanya di jemput pulang oleh ayahnya. namun selama perjalanan, Luna hanya diam dan tak henti-hentinya memegangi pipinya yang ia rasa sentuhan Reyno tadi di pipinya itu sudah meninggalkan jejak kuat di sana. “kamu demam sayang?” Tanya ayahnya dengan mengeluskan tangannya pada pipi anaknya yang tampak memerah itu. “ehmm? Ahh… engga kok yah…” “pipi kamu merah gini, agak panas lagi” Ayahnya jadi sedikit khawatir dengan keadaan Luna saat ini. “ini tadi abis olahraga aja kok yah, terus juga tadi cuaca kan emang lumayan cerah, agak kebakar kayanya kulit Luna” Jawab Luna beralasan demikian, padahal sedari tadi yang membuat pipinya memerah adalah karena perasaan malunya saat ia mengingat telah bertatapan lama dengan jarak yang cukup dekat, dengan siswa tampan di sekolahnya. “ahh… kenapa gak apply sunscreen? Aduh, kita ke dokter kulit yaa…” “ehmmm gak usah deh yah, Luna pengen pulang terus rebahan aja kayanya…” Ucapnya. …..
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN