“hey hey… duduk! Kalian ini… malah lari-larian begini ckckkk”
Bentak seorang pria paruh baya yang berjalan beriringan bersamaku pada beberapa anak laki-laki yang berlarian tengah begitu aku dengannya memasuki ruang kelas. Mereka yang semula gaduh langsung duduk dan diam karena ucapan yang merupakan guru mereka itu, jujur saja aku juga sedikit di buat takut olehnya.
“selamat … pagi!”
Sapaannya pagi ini terdengar sudah seperti seorang ABRI, sangat keras dan lantang. aku sampai tersentak kaget dengan caranya mengucapkan selamat pagi itu.
“Pagiii”
Tapi semua siswa di ruangan ini justru hanya menjawab dengan tenaga yang saadanya saja dan terdengar cukup malas untuk sekedar membalas sapaan sang wali kelas yang sangat bersemangat pagi ini. perbedaan vibenya sungguh sangat kontras ku rasa.
“sepertinya kalian semua belum sarapan pagi ini…hadeh”
Aku hanya diam berdiri di sampingnya, menunggunya mempersilahkanku duduk bersama dengan yang lainnya di kelas ini. dan kulihat kini beberapa wajah sedang memperhatikanku, sampai ada yang tengah saling berbisik sambil menatap ke arahku. Aku pikir itu cukup normal mereka lakukan pada anak baru sepertiku. mereka mungkin saja sedikit penasaran saat ini atau mulai menerka-nerka tentang diriku sampai menggosipkanku yang belum di kenal oleh mereka. sedikit banyak aku sudah biasa dengan itu. dan menurutku tak di Indonesia saja tapi negara manapun itu, rasanya tak jauh berbeda bagaimana reaksi anak-anak di sekolah saat ada murid baru.
“ah, iya saya harus kenalin kamu”
Ucapnya saat sadar aku yang masih berdiri dengan kikuk di sampingnya.
“jadi, hari ini kita kedatangan murid baru, dia akan masuk dan jadi bagian dari di kelas IPA-4 ini, Luna ayo kenalkan diri kamu sama temen-temen kamu”
Aku sedikit ragu saat Pak Bowo, nama guru yang ada di sampingku itu dan merupakan wali kelasku di sekolah baruku ini, menyuruhku memperkenalkan diri terlebih dahulu.
“selamat pagi semua… aku Luna Putri Prihardjo...”
Kataku akhirnya memperkenalkan diriku di depan mereka semua yang akan menjadi teman sekelasku.
“Pagi Lunaa….”
Balas mereka bersamaan. Ku coba untuk melemparkan senyum termanisku pada semua siswa yang ada di depanku ini, dengan harapan bisa di terima sebagai bagian dari mereka. lalu ku lihat beberapa ada yang melambai-lambai sambil tersenyum genit padaku, ku abaikan saja yang satu itu. dan lainnya bersikap normal, aku pikir aku bisa berbaur dengan baik di kelas ini.
“ya sudah kalau begitu… ehmm…kamu bisa duduk di kursi ke tiga di sana… Leo, kamu duduk sama Luna, dan bantu dia kalau nanti ada kesulitan saat kelas …”
“baik Pak”
Balas siswa berkaca mata tebal bernama Leo itu.
“Luna kamu duduk di sebelah Leo ya”
aku mengangguk saja, tak lupa aku berterimakasih padanya lalu aku langsung berjalan ke kursiku dan kemudian mendudukan diri di samping siswa laki-laki bernama Leo itu.
“Leo…”
Kenalnya padaku,
“Luna...”
Balasku, memperkenalkan diriku padanya. aku tebak, aku sudah duduk di samping siswa terajin di kelas ini. karena di saat kulihat meja siswa lain masih bersih dan belum ada buku-buku di atasnya, di depan Leo kini sudah tersaji setumpuk buku yang kulihat sala satunya ada buku bank soal dan beberapa materi pelajaran.
“ini… sebentar lagi kita belajar bahasa Indonesia…”
Ucapnya sambil memberikan buku tebal miliknya padaku,
“ahh… terimakasih”
Balasku, tapi ia tak menjawabku, malah langsung mengambil pensilnya dan mulai membuka beberapa halaman bukunya. Leo langsung mengerjakan beberapa soal yang penuh dengan angka-angka rumit di sana.
“kita belajar bahasa Indonesia kan? Terus- itu…”
Tanyaku karena heran padanya, katanya sebentar lagi pelajaran bahasa Indonesia tapi kulihat buku yang sedang ada di hadapannya itu berisi soal-soal materi fisika.
“ahh… ini? aku harus belajar buat ujian masuk universitas nanti”
“universitas?”
Sedikit kaget aku di buatnya, maksudku ini masih tahun pertama dan itu berarti masih ada sisa waktu tiga tahun untuk sampai lulus dan mengikuti ujian masuk universitas bukan?
“hey… Luna, dia itu agak-agak gak waras, gila sama ujian masuk unversitas kedokteran yang di incarnya… jangan ikutin Leo pokoknya kalo gak mau masa-masa SMA kamu di sini cuma jadi pusing sama pelajaran doang…”
Ucap seorang siswa laki-laki yang duduk tepat di depanku dan mau menanggapi keherananku soal si Leo itu.
“aahhh…”
Aku hanya ber-ah saja menjawabnya.
“kenalin, aku Willy ketua kelas di sini. Jadi kalo ada apa-apa kamu bisa langsung tanya aku…”
“ehmm… thanks … Willy”
Balasku sambil tersenyum berterimakasih padanya. ia kemudian berbalik lagi menghadap ke arah depan kelas. Sepertinya dia cukup tahu kalau aku akan di acuhkan oleh siswa pintar yang duduk di sampingku ini. Bahkan kulihat Leo kini sudah mengenakan earphonenya tengah mendengarkan lagu-lagu clasik untuk meningkatkan focusnya sambil menusliskan rumus-rumus yang membuatku pusing di atas bukunya itu.
‘aah… padahal dia yang belajar rumus-rumus itu tapi kenapa aku yang mual yaa…’
Langsung saja ku alihkan pandanganku pada siswa lainnya di ruang kelas ini yang kerjanya tak hanya belajar dan tak se-serius si Leo ini.
Di sisi kanaku, tengah duduk di sana seorang siswa perempuan yang terlihat sangat girly menurutku. di atas mejanya ada cermin, sisir berwarna pink sampai cat kuku dan barang-barang wanita lainnya.
“hay Luna… aku Cindy…”
Kenalnya padaku sambil memainkan rambutnya yang di curly itu.
“hay Cindy…”
Balasku,
“bisa pegang cermin ini sebentar, aku harus benerin alis aku…”
Pintanya sambil memberikan cerminya padaku, aku menuruti saja apa maunya itu.
‘hhh… ada-ada aja deh, padahal alisnya itu udah on point banget…’
“udah, thank you Luna”
“ehmmm…”
Balasku hanya begitu dengan menampilkan senyumku saja padanya. satu-satunya senjataku saat berada di tengah-tengah dunia yang cukup asing dan baru bagiku hanya tersenyum. Itu lumayan membantu, tak sulit juga untuk di lakukan.
Menengok sedikit kebelakang, mataku malah menemukan seorang siswa yang mengenakan hoodie kebesaran dengan earphone terpsangan di kedua telinganya, tengah tertunduk dengan matanya yang terpejam.
‘sepertinya aku baru aja terkena culture Shock di sini…’
Terkaku dalam hati, karena ada begitu banyak ragam siswa dengan keunikannya masing-masing di kelas ini.
Dan kini kelas sedang berlangsung, aku berusaha mengikuti kelas dengan baik. Meskipun sebenarnya aku sedikit kesulitan memahaminya karena itu adalah mata pelajaran bahasa Indonesia. Alasanya pertama, karena mungkin aku yang selalu berada di luar negeri, jadi kosa kataku lebih miskin dari siswa yang lainnya, ada banyak kata-kata dengan makna yang tidak ku ketahui. Kedua, menurutku itu terlalu rumit bahkan aku tak bisa memahami pola kalimat yang benar. dan terkahir, teksnya yang selalu panjang, membuatku malas untukk membacanya, padahal di soal latihan misalnya hanya di tanyakan judul atau sekedar isi paragraph satu saja tapi bacaannya sungguh membuat mataku bosan melihatnya. Meskipun aku suka membaca, bahkan bisa ku lahap novel setebal apapun hanya dalam semalam saja, tapi entah kenapa saat membaca teks di buku pegangan siswa di depanku saat ini, rasanya aaahhhh… enggan sekali.
Dan aku pikir tak hanya aku saja yang merasa kelas bahasa Indonesia ini sangat membosankan. Beberapa siswa bahkan ada yang tidur, dan ada yang malah asik memainkan handponenya. ada juga yang menonton music video k-pop dari handphonenya, yang dengan pintarnya ia coveri oleh bukunya, agar terlihat seperti sedang membaca buku di mejanya itu.
Tak jauh dari tempat ku duduk, ada yang sepasang tangan yang tengah sibuk saling berpegangan dan menikmati waktu kencan di kelas yang cukup membosankan.
‘hhhh… hari pertama yang luar biasa Luna…’
Gerutuku dalam hati.
**
Kelas selesai dalam dua jam, bel istirahat baru saja berbunyi dan tiba-tiba saja
“Luna… kamu pindahan dari mana?”
“tadi pagi kamu di anterin ayah kamu yang masih muda plus ganteng itu yaa… kamu pasti blasterankan?”
“eropa?”
“Amerika?”
Aku hanya diam membeku saat tiba-tiba empat orang siswi yang kini sedang mengeruminiku dan menyerbuku dengan banyak pertanyaannya itu.
“aahh... itu-“
“kenalin aku Vlo…”
“aku Oliv, dia Giny…”
“dan aku Zee”
Belum sempat ku jawab mereka sudah langsung memperkenalkan diri mereka.
“tinggal di mana?”
“eh, tadi pagi aku liat kamu ngobrol sama si Rey… kamu kenal dia?”
“aaah iya Luna kamu mau join grup kita gak?”
Aku tak tahu harus menjawab pertanyaan yang mana dulu, bahkan aku sudah lupa pertanyaan yang pertama tadi di ajukan salah satu mereka padaku. mereka seperti seorang wartawan yang mewawancaraiku karena baru saja tersandung skandal atau semacam kasus, pikirku.
“hey… hey… jangan ganggu Luna… pergi pergi pergi!”
Laki-laki pagi itu datang lagi dan kini berani mengusir mereka yang baru saja menghampiriku itu.
“ishh… dasar, sok penguasa banget sih…”
Gerutu salah satu dari perempuan yang memperkenalkan dirinya sebagai Oliv tadi padaku. kemudian mereka pergi dan menurut pada Rey begitu saja. sedikit kesal aku jadinya pada si Reyno itu.
“Luna…”
Panggilnya padaku. dengan beraninya kini ia sudah duduk di atas mejaku tengah tersenyum padaku.
“apa… kamu gak seharusnya usir mereka kaya gitu”
Jujurku dengan nada dingin padanya.
“kenapa? mereka itu cuma mau ganggu kamu Luna, dan itu gak penting makanya aku suruh mereka pergi”
Dia tak berkaca pada dirinya sendiri yang sekarang juga sama tengah menggangguku. dan kalau boleh jujur aku lebih suka merasa terganggu karena mereka semua tadi itu, di bandingkan sekarang harus berdua dengan dirinya.
“ini….”
Reyno memberikanku sekotak s**u stroberi, aku hanya diam menatapnya.
“di minum, kamu bisa minta apapun dari aku… pasti aku kasih, gak usah capak-capek turun tangga ke kantin, karena-“
“Rey… kenapa kamu kaya gini sama aku?”
Tanyaku, memotong kalimatnya.
“ehmm… jelas karena aku suka kamu…”
“ehmm?”
Tunggu, aku baru saja mendapatkan pernyataan suka dari seorang siswa di hari pertama sekolahku. OMG!!!
“kenapa? aku harus bawa coklat atau bunga untuk mengatakan itu? atau aku harus berlutut?”
Ucapnya saat hanya mendapat reaksi diam dariku.
“apa?”
Aku semakin tak mengerti pada dirinya.
“ssshhh… tapi aku tak suka hal murahan seperti itu…. kalo kamu mau, alih-alih ku beri bunga yang bisa layu, atau coklat yang bikin kamu gemuk… aku bisa kasih bunga bank yang nilainya sangat tinggi terus kita diner mewah nant-
“No!”
Tolakku padanya.
“kamu ini ngelnatur ya… aku gak butuh semua itu”
Tambahku,
“terus kamu maunya apa? ehmm? Kita bisa happy-happy… party?”
Rey sudah berani memegangi tanganku saat ini. dan dengan menyirit takut aku langsung melepaskan tangannya itu.
“kenapa? gak suka? Ehm? atau mau yang lain?”
“hhh… aku harus ke toilet”
Kataku langsung bangkit berdiri dan buru-buru berjalan pergi ke luar ruangan meninggalkan si Reyno itu.
“Luna… mau ku antar?”
Tariaknya dari dalam ruangan kelas.
‘aaiuuuhhh… dia itu gila atau apa??!! yang bener aja, masa iya mau anter aku ke toilet hufttt… kenapa aku harus satu sekolah sama dia siih…aaahhhh….’
Aku menggerutu dalam hati selama perjalanan menuju toilet sekolah baruku ini.
**
Bel pulang sekolah sudah berbunyi lima menit yang lalu dan aku kini tengah awas melihat sekeliling, takut – takut harus bertemu dengan si Reyno itu lagi. Tadi aku sampai berlama-lama di toilet hanya untuk menghindari dirinya, karena di sanalah tempat yang aman untuk aku bisa bersembunyi. aku pikir ia tak akan segila itu untuk menerobos masuk toilet perempuan. Dan benar aku bisa lolos darinya. Tapi sekarang sudah waktunya untuk aku pulang, dan lagi-lagi aku sangat takut harus sampai bertemu dengannya.
“hey…”
“aahh!!”
Aku terkejut saat seseorang menepuki pundakku dan berhasil mengagetkanku.
“ahhh… Willy, kamu bikin aku hampir aja jantungan tau gak?”
Kataku, tapi aku merasa beruntung karena yang ku temukan di belakangku dan baru saja menepuki pundakku itu adalah Willy dan bukan si laki-laki songong Reyno itu.
“kenapa si… kok ngumpet-ngumpet gitu?”
Tanyanya, aku jadi terlihat seperti sedang bersembunyi seperti kata Willy. padahal niatku hanya mengawasi lorong panjang gedung kelas IPA sekolahku ini. Takut tiba-tiba Rey muncul dan kemudian dia sampai ingin menculikku lagi, errr… aku sampai paranoid seperti ini kan jadinya -__-“
“ahh… itu aku gak sembunyi cuma-“
“Rey? Tenang… Dia masih di kelasnya jam segini, kelas 11 itu ada jam tambahan buat lintas minat mereka…”
“ahhhh…. Syukurlah…
Mendengar itu aku merasa sangat lega dan bisa bernapas dengan bebas sekarang.
“tapi kok kamu tau Rey-”
“taulah… orang setiap ada anak yang bening, pasti aja langsung jadi targetnya, jadi hati-hati…”
“really? Wahhh…”
Aku sudah di beri peringatan untuk berhati-hati pada Rey itu, jadi sudah pasti aku harus menjauh darinya,
“Luna…”
Tiba-tiba ada suara yang sangat tak asing tengah memanggil namaku, dan itu sungguh terdengar seperti suara malaikat di telingaku saat ini.
“ayahhh….”
Begitu kulihat sosoknya, aku merasa seperti sudah satu tahun lamanya tak bertemu dengannya, sampai sampai aku kini berlari ke dalam pelukannya. Entah kenapa aku jadi sangat merindukan dirinya padahal masih tadi pagi ia menciumi pipiku saat mengantarku masuk ke sekolah ini.
“loh… kenapa? ada mesalah?”
“ehmmm…”
Aku menggelengkan kepalaku dalam pelukannya. Aku tak tahu kalau di kejar-kejar laki-laki di sekolah itu bisa di katakan masalah atau tidak, aku ragu untuk memberitahu ayahku. Terlebih si Reyno itu sudah membuat ayahku kesal kemarin soal mobil incarannya di Mall. Dan kira-kira apa jadinya kalau ayahku sampai tahu sekarang aku satu sekolah dengannya… hhhh Aku rasa untuk yang satu ini aku tak perlu memberitahunya.
“terus kenapa?”
“Luna laper ayah…”
Aku jadi menjawab begitu saja.
“hahhh… ada-ada aja kamu ini”
Tapi aku juga tak berbohong soal itu, karena tadi aku bersembunyi sampai istirahat habis di toilet jadi aku tak sempat makan siang ke kantin.
“ayoo makan…”
“itu siapa?”
Tanya ayahku saat melihat Willy yang rupanya masih berdiri di tempat yang sama sedari tadi.
“ahh… itu Willy, dia ketua kelas aku yah…”
Mendnegar itu ayahku tersenyum kepadanya, bermaksud untuk menyapanya. Dan kulihat Willy juga sedikit membungkukan tubuhnya pada ayahku untuk membalas sapaannya. aku kemudian melambaikan tanganku saja mendadahinya karena aku harus pergi pulang bersama ayahku.
“daahh…”
Balasnya, sama melambaikan tangannya padaku.
……
Aku sudah duduk di mobil dan dalam perjalan pulang ke rumahku saat ini.
“jadi… udah punya temen?”
Tanya ayahku.
“ehmmm… gimana ya… tadi ada beberapa yang samperin Luna dan ngajak kenalan juga… tapi ya ayah tau sendiri… aku terlalu canggung kalau harus membuka diri…”
Harus ku katakan kalau aku ini sedikit tertutup orangnya.
“siapa? Perempuan kan?”
Tanya ayahku sambil menatapku, sepertinya ayahku sudah menaruh curiga padaku.
“ehmmm perempuan dan itu satu geng, mereka semua langsung deketin aku, terus hujanin aku sama banyak banget pertanyaan”
“satu geng?? Hahahh… siapa aja? ayah mau tau…”
Aku jadi mencoba mengingat satu persatu wajah-wajah dari mereka yang tadi sempat menghampiriku itu.
“oohh… siapa ya tadi… Oliv… Zee, terus Gin- itulah pokonya…”
“loh kok gak inget nama temennya sih?”
Ayahku jadi bawel sekali pada anak remaja ini. dalam hati aku berkata
‘aku kan juga baru ketemu sebentar, dan waktu aku mau ngobrol tadi, ehhh tiba-tiba si songong Roy muncul jadi lah… aku gak bisa berbincang banyak sama mereka’
“gimana yaa… Luna pasti inget kalo ketemu orangnya kok yah, cuma gak tau kenapa tiba-tiba lupa… hehe”
Balasku, ayahku hanya tertawa saja jadinya.
“terus tadi belajar apa aja?”
Tanyanya lagi padaku
“bahasa Indonesia ayaaahh… eehmmmm pengen nangis deh aku, it’s so complicated and I hate it”
“jangan gitu, itu bahasa ibumu… dan ayah kan juga udah ajarin kamu dari kecil buat selalu pake bahasa Indonesia di manapun kita tinggal… jadi kamu harus terbiasa dengan itu”
Ayahku jadi mendadak menceramahiku saat ini.
“ehmmm… aku tau itu, kalo di ucapin aja kaya gini nih, sekarang ini, yaa… aku lancar-lancar aja Yah… tapi pas masuk teori, tiba-tiba ketemu istilah frasa nomina, preposisi yang bikin artinya beda - beda, terus keterangan yang banyak jenisnya juga, baaanyak deh pokonya… ah iya! belum lagi soal tanda baca, titik aja tuh Yah, sampe kita salah naruhnya dimana, udah salah. di coret langsung sama gurunya … padahal se titik gitu aja… aahhh udah… I’m done… aku mau udahan aja…”
Aku jadi bercerita panjang lebar soal kesulitanku di mata pelajaran bahasa Indonesia itu. dan ayahku hanya terkehkeh sambil menggeleng-gelengkan kepala saja mendengar ocehanku.
“sabarr… namanya juga belajar”
Ucapnya dengan tangannya yang mengelusi puncak kepalaku,
“ayah masakin makanan favorit kamu deh nanti…”
“sirloin…”
“iyaaa …. sirloin steak special buat kamu nanti ayah buatin”
Aku bisa tersenyum akhirnya.
“cium aku…”
Pintaku pada ayah tampanku itu.
Cup cup cup
Ayahku menciumi pipi kananku banyak.
“kamu ini udah gede kok masih minta di manjain kaya gini si?”
Tanya ayahku sambil mencubiti pipiku gemas
“ehmm… emang kalo udah gede gak boleh minta di cium?”
Tanyaku.
“hahha… engga juga, tapi dari banyak yang ayah denger, perkembangan remaja itu biasanya focus ke pergaulannya dan bikin hubungan mereka jadi merenggang sama orang tuanya selama proses pendewasaannya itu”
Aku mengerutkan dahiku mendengar penjelasan ayahku itu.
“iiih gak mau ah… kenapa kaya gituu… aku gak mau hubungan aku sama ayah sampe renggang kaya gitu…”
Aku tak mau hal itu sampai terjadi, bahkan untuk membayangkannya saja aku sudah tak tak mau. titik.
“yaa maksud ayah, bukan gitu sayang… ayah juga gak mau sampai hubungan kita rengagang. Tapi kalau suatu hari nanti dalam proses pertumbuhan kamu menjadi seseorang yang lebih dewasa, konflik itu pasti ada aja… dan ayah harap kamu bisa lebih tenang dan gak terlalu keras kepala soal itu, okey…”
“ih ayah udah ah, kok jadi bahas itu sih… Luna gak suka, Luna mau tetep kaya gini aja, gak mau dewasa-dewasa kaya gitu…”
Tolakku.
“tumbuh jadi dewasa itu emang gak nyaman sayang… tapi itu bagian dari diri kamu dan hidup kamu… ayah harap kamu bisa lewatin itu dengan baik dan jadi seseorang yang lebih baik di masa depan…”
Kriukkkk
“di jawab sama perut aku yang udah kelaparan aja ya Yah…”
Kataku saat perutku berbunyi di tengah pembicaraan yang sangat serius ini.
“hahahhahh… itu perut kamu gak bisa di ajak kompromi banget si sayang…”
“ini karena udah bener-bener laper ayaaah… dan kenapa ini gak nyampe-nyampe…”
“hahahhh sabar sabar ayah ngebut ini…”
**
Malam tiba, aku merasa sangat lelah di hari pertama aku sekolah. Dan jujur saja semua terasa tak mudah. Aku harus berada di tempat asing untuk yang kesekian kalinya. Bahkan sekarang waktuku bertemu dengan ayahku jadi semakin sedikit, karena jadwalku penuh sampai sore di sekolah. Akan jadi seperti apa masa SMA ku kedepannya, aku tak memiliki bayangan apa-apa untuk itu saat ini. aku hanya berharap yang baik-baik saja terjadi padaku.
“ahh… kenapa ayah tadi bahas-bahas soal jadi dewasa sih, padahalkan aku masih 16 tahun sekarang ini … aku kan jadi kepikiran, jadi dewasa bikin aku takut”
Aku kemudian mengambil buku diaryku untuk menuliskan sesuatu di sana.
….
Dear diary
Hari ini aku di kenalkan dengan istilah dewasa yang terdengar sangat asing di telingku, dan aku cukup tak suka membayangkannya. Aku tak tahu apa aku bisa menjadi seseorang yang cukup untuk bisa di katakan dewasa nantinya. Tapi bahkan sekarang ini saja… dewasa sendiri itu apa, aku masih belum tahu.
Bu… bisakah aku jadi dewasa seperti apa yang Ayah harapkan tadi… bisakah aku tumbuh menjadi seseorang yang lebih baik suatu hari nanti…
Aku mohon padamu…
Bimbing aku dari tempatmu, awasi dan jaga aku…
Ibu…
Aku merindukanmu…
…….
“dewasa itu apa ya?”
“apa itu soal hidup sendiri? terus gak lagi mimun s**u tapi lebih sering nyeruput kopi? Atau soal ganti warna baju cerah dengan warna mati kaya abu, hitam dan putih? jadi lebih sering pasang wajah serius dari pada tertawa sampe guling-guling?"
"aaahhhh aku gak mauuu!!!!”
….