#1 Malam di Hotel

2298 Kata
“aww… ayahhh… kenapa tangan Luna di pukul sakit, ayah jahat…” Luna meringis saat ia tiba-tiba mendapat pukulan di telapak tangannya oleh ayahnya itu. “suruh siapa nakal pake sentuh-sentuh d**a orang… itu gak baik Luna, ayah gak mau kamu kaya gitu lagi…” Ucap Bryan tegas memarahi anak gadisnya yang di nilainya sudah berperilku tak pantas itu. “jadi bener itu melecehkan namanya?” “bisa jadi, siapa yang kamu sentuh dadanya itu? ehm? kamu harus cepet minta maaf sama dia…” Bryan meminta Luna untuk meminta pada orang yang sudah di sentuhnya itu, “kenapa? kenapa Luna harus minta maaf, dianya aja gak marah kok waktu Luna pegang dadanya… terus ayah juga gak pernah minta maaf pas udah sentuh d**a Luna…” Luna membalas perkataan ayahnya itu. “hhh… itu beda sayang… pokoknya besok kamu temuin dia minta maaf sama dia. Titik” “kalo gitu ayah juga harus minta maaf karena udah lecehin Luna…” Ucapnya kemudian, itu terdengar sangat aneh di telinga Bryan. “Luna… selama ini ayah sentuh, belai kamu, kamu ngerasa ayah ini udah lecehin kamu? Gitu? Waahhh…. Luna… kamu…hhhh….” Sedikit kecewa dengan apa yang baru saja terlontar dari mulut anak gadisnya itu, Bryan akhirnya menjauhkan diri dari Luna. ia sampai berbalik memunggungi Luna. Tiba-tiba adegan ini terlihat seperti drama keluarga di minggu pagi. “ayah….” Luna menari-narik kaus yang di kenakan Bryan sambil memanggil-manggil ayahnya yang di buat merajuk itu. “ayahhh…” “kamu itu, bikin hati ayah sakit tau gak? kamu tau kalo tindakan melecehkan itu kaya gimana? Bisa-bisanya kasih sayang ayah selama ini kamu anggap itu pelecehan…” Bryan membuat keadaan ini menjadi lebih di dramatisir. padahal dalam hatinya ia bisa memaklumi anaknya yang baru mengenal kata yang selama ini mungkin cukup asing baginya. Bryan berusaha menjaga Luna dan hanya mengenalkan dirinya pada hal yang baik-baik saja. Tapi sepertinya dalam pergaulan Luna di luar sana, Bryan harus menerima bahwa Luna juga harus mulai mengenal hal-hal yang di kategorikan ke dalam penyimpangan social seperti pelecehan yang baru di ketahuinya itu. agar ia bisa mawas diri untuk tak terjerumus ke dalamnya. “engga tau ayah… Luna sendiri gak begitu ngerti ‘melecehkan’ itu kaya gimana? Tapi Luna tau itu buruk” “terus kamu anggap sentuhan ayah itu buruk sampe kamu minta ayah buat minta maaf barusan itu?” Luna tampak sangat kebingungan sekarang ini. kepalanya seperti benang kusut, hubungan antara menyentuh sama dengan melecehkan, dan melecehkan itu sama dengan tindakan yang buruk, tapi selama ini ketika ayahnya menyentuh dirinya, ia merasa itu bukanlah tindakan yang buruk. Ada bayak tanda tanya di kepala Luna saat ini. “engga ayah… ehmm itu karena ayah suruh Luna minta maaf sama temen Luna, kadi Luna pikir ayah juga harus-“ “ahhhh!!!!… kepala ayah pingin pecah rasanya, Luna… ahhh… gini-gini biar ayah jelasin” Kemudian Bryan duduk tegak menghadap Luna, dengan wajah putus asanya. Meski ia masih kebingungan harus menjelaskanya seperti apa, tetap ia harus coba menjelaskannya. Jika bukan karena memiliki kewajiban untuk mendidik Luna, ia sepertinya akan pergi saja menegak wine dan menenangkan pikirannya yang dibuat kusut oleh anak gadisnya itu. Sementara Luna sendiri kini juga kebingungan melihat ayahnya yang jadi menampilkan wajah yang sama seperti yang di tampilkan Reyno di sekolah tadi. “gini sayang…. melecehkan atau di lecehkan itu tergantung orang yang melakukannya, ketika orang yang kamu sayang sentuh atau kamu sentuh itu namanya wujud kasih sayang Luna… beda halnya kalo orang asing yang kamu temuin dan tiba-tiba aja dia sentuh kamu, kamu jelas harus marah, merasa terhina dan di rendahkan sama orang itu, karena dia udah lakuin apa yang namanya pelecehan itu…” “ahhh… gitu toh… kenapa gak bilang dari tadi… jadi Luna kan gak usah minta ayah buat minta maaf sama Luna…” Bryan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya kini, ia harus ekstra sabar menghadapi putrinya yang akan tumbuh jadi wanita dewasa itu. “sini lagiii… peluk Luna…” Pinta Luna manja, “katanya itu melecehkan kamu…” Balas Bryan masih mengungkit soal hal sensitive itu. “aahhh… udah dong yah, Lunakan tadi gak tauu…” Bryan hanya diam tak menggubris keinginan anaknya itu. sampai Luna harus menarik lengan ayahnya agar bisa kembali ke dalam dekapannya. “hh… ada-ada aja sih kamu sayang….” Ucap ayahnya dengan membelai rambut dan kulit anaknya yang lembut itu. “Luna, kamu harus bisa jaga diri kamu baik-baik ya sayang, jaga kehormatan kamu sebegai perempuan…” “ya siap ayah” …. Masih belum tertidur keduanya, Luna dan ayahnya kini tengah menyaksikan film keluarga dari saluran Neftlix favorit Luna. Tapi tiba-tiba tangan Bryan bergerak menuju p****t Luna, dan di rasakannya ada lapisan tebal yang sudah pasti itu adalah pembalut yang di pakai Luna. “Luna, kamu masih dateng bulan sayang?” “ehmm… masih, tapi udah gak begitu banyak, kenapa yah?” “ayah dapet undangan buat makan malem di hotel temen ayah kerja, kebetulan dia executive di sana, terus ayah juga dapet satu kamar fasilitas Luxury room dari sabtu malem sampe minggu malem, jadi ayah mau aja kamu buat abisin weekend kita di sana, gimana? Mau ya?” Ajak Bryan pada Luna, tapi yang di ajak malah diam seperti tengah mempertimbangkan sesuatu. “sayang kalo di lewatin, lagian juga kamu kan udah lama gak jalan-jalan, katanya hotelnya punya view yang bagus? Gimana?” “ehmm… ayah, sebenernya ada yang ajakin Luna main di sabtu malem ini, boleh gak Luna pergi dan gak ikut makan malem sama ayah?” Bryan sampai menatap Luna tak percaya, ia akhirnya mendengar anaknya yang mulai meminta izin darinya, yang lebih ingin menikmati weekend bersama temannya, di bandingkan dengan dirinya. Ia merasa Luna sudah mulai tumbuh dan ia harus menerima bahwa kedepannya waktu yang di milikinya bersama Luna akan semakin berkurang. Meski Bryan belum siap untuk itu, tapi ia harus berindak sebagai orang tua yang bijaksana, dan tidak dengan egois mengekang anaknya dengan melarangnya main keluar bersama teman-temannya. “ehhmmm… ayah mau ketemu sama temen kamu itu dulu, jadi biar ayah bisa tau anaknya kaya gimana, baik atau engga keliatannya… karena ayah gak bisa biarin kamu pergi sama orang gitu aja sayang…” Luna terdiam, ia membayangkan akan seperti apa jadinya kalau Reyno sampai bertemu dengan ayahnya. Luna cukup sadar bahwa ayahnya tak suka sejak pertemuan pertamanya hari itu dengan Reyno, ‘kalo gini sih udah pasti gak dapet izin, ayah udah punya kesan buruk sama Si Rey yang songong banget waktu itu… ahhh… kayanya lain kali aja deh aku pergi keluar sama Rey-nya’ “tapi… masa iya ayah pergi sendiri ke undangan makan malemnya… itu emang undangan dari siapa yah?” Tanya Luna, karena Luna cukup tahu beberapa teman dekat ayahnya itu, bahkan tak sedikit dari mereka juga akrab dengan Luna. “itu Gio, Om Gio… kalo gak salah kamu juga pernah ketemu sama dia deh” Balas ayahnya. Luna jadi mengingat-ingat wajah orang yang bernama Gio itu. “ahh… yang waktu di Singapura minta ayah buat jadi konsultan bisnisnya?” Akhirnya Luna mengingat sosok pria antara usia 40-50an namun dengan paras yang masih cukup muda dan tubuhnya yang terbilang masih gagah. “ehmm… ayah di undang ke hotelnya…” “yaudah deh, kayanya Luna ikut ayah aja, kalo nanti ayah sampe di apa-apain sama orang itu gimana… ah, Luna gak bisa biarin ayah pergi sendiri” Bryan tertawa mendengar ucapan anaknya yang seperti tengah menirukan dirinya saat melarang Luna yang ingin pergi sendiri, bahkan nada biacaranya pun di buat sama oleh anak gadisnya itu. “hahahhh… kamu ini, ayah ini kuat yaa… kalo ada apa- apa juga ayah langsung lawan abis semua yang mau apa-apain ayah” “oohh… gak bisa! pokoknya ayah gak boleh pergi sendiri” Ucap Luna masih menirukan dirinya sampai kini ia tengah berpangku tangan seperti apa yang selalu Bryan lakukan. “hahhhh… kamu laedekin ayah yah… ih nakal” Bryan di buat gemas karena tingkah lucu anak perempuannya yang selalu ada-ada saja itu. “ahahhhh ahhh geli ayahhh ahahhh” Bryan membalas Luna dengan menggelitiki tubunya sampai ia tak bisa diam karena kegelian. “hahahah udah… ahhh udah…. Ampun ayaahhh… hahahha” “nakal sih…” “hahahh udah…” ** Luna tampil sangat cantik hari ini, mengenakan dress selutut tanpa lengan berwarna putih, dengan rambut yang di biarkannya terurai, membuat semua mata terpesona akan kecantikan Luna yang tengah melenggang masuk ke sky Lobby yang berada di lantai 27 hotel dimana dirinya dan ayahnya akan makan malam dan menghabiskan weekendnya. Luna mendengar bahwa hotel tempatnya berada saat ini adalah satu dari banyaknya hotel mewah dan ternama lainnya seperti JW Mariot, Sheraton, Shangri-la, DoubleTree by Hilton dan lainnya. The Westin Surabaya adalah hotel yang bisa di bilang memberikan dimensi baru untuk hospitality dan kemewahan, yang terkenal karena ketinggian gedungnya juga dengan fasilitas ballroom terbesar di Kota Surabaya, begitu menurut ulasan yang Luna baca. “ihhh orang-orang gak pernah liat gadis cantic apa, liatin anak ayah sampe segitunya” Ucap Bryan sambil merapatkan Luna pada dirinya, sifat protektif ayahnya mulai dalam mode on saat ini. “aduh ayah… kita gak lagi nyebrang jalan, gak usah seerat gini pegangi tangan Luna, dan kita juga gak lagi payungan di luar gara-gara ujan, jadi gak usah serapet ini…” Luna jadi protes pada sikap ayahnya itu. “diem aja, ayah lagi lindungin kamu dari mereka yang lapar sampe liatinnya kaya mau makan kamu…” “hahahh… yang bener aja deh, berlebihan tau gak?” “biarin…” Keduanya kini sudah berada di sky Lounge yang berada di lantai yang sama dengan sky lobby hotel, dimana hanya member Platinum elite ke atas yang dapat menikmati fasilitas di sana. Tak lama seseorang sudah mengangkat tangannya, melambai-lambai pada Bryan di meja yang sudah di pesannya. “ahh… itu Om Gio, ayo kesana” Luna di gandeng berjalan oleh ayahnya menuju meja tempat temannya itu berada. “Hai… duh makin macho aja nih kayanya, gak ada tua-tuanya…” Sapa Bryan, “ah apa sih… jadi tua itu pilihan bro… eh, ini?” Pria kekar dengan kemeja yang tampak tak muat karena otot-ototnya itu, menemukan sosok cantik dan menawan yang menemani Bryan malam ini, ia tengah menatap Luna dengan sorot mata penasarannya. “Luna… Ini luna…” Kenal Bryan pada temannya itu. “ahhh… oh My God, ini Luna… wahh… Gen unggul emang top banget, cantik banget sumpah” “hallo Om, Luna…” Luna membungkuk dan tersenyum malu malu memperkenalkan dirinya di hadapan teman ayahnya itu. “hallo sayang… cantic banget siih… Bry gimana bikinnya bisa jadi cantic gini” “husss asal banget si kalo ngomong” Bryan menengur sahabatnya itu, menjaga Luna dari lelucon-lelocon konyol orang dewasa yang di anggapnya masih tak pantas untuk Luna dengar. “yaudah duduk… duduk…” Akhirnya Luna dan ayahnya menikmati makan malam yang menyenangkan bersama executive hotel berbintang itu. tak seperti yang Luna pikirkan sebelumnya, yang mungkin akan memubuat dirinya harus terjebak dalam obrolan bisnis soal investasi dan lain sebagainya, tapi rupanya makan malam itu benar-benar hanya seperti pertemuan dua teman lama saja. Sampai waktunya berpisah. “Luna have fun yaah… kalo ada apa-apa tinggal sebut nama om di bagian pelayanan hotel okey… Bry have fun, bye” Luna hanya tersenyum semetara ayahnya melakukan tos dengan temannya itu sebelum dia pergi dengan mobilnya malam ini. “ahhh… sekarang ayo kita naik dan liat gimana kamarnya lets go” Ucap Bryan dengan antusias mengajak Luna untuk naik ke kamar mereka berdua. ….. “ahhh…. Enaknyaa…” Luna langsung menjatuhkan dirinya di ranjang yang di buat senyaman mungkin sebagai fasilitas hotel yang menggunakan brand Heavenly Bed yang merupakan trademark di jaringan the Westin. “suka?” Tanya Bryan mendekat dan sama tengah merebahkan dirinya di samping Luna. “ehmmm suka banget” Luna tiba-tiba bangun dan membuka tirai kamar hotelnya yang kini sudah menampilkan pemandangan malam yang sangat indah. “wahhh viewnya bagus banget… Luna baru tau kalo pemandangan malem di kota ini bakal sebagus ini” Ucap Luna, yang kini tengah berdiri menghadap jendela kaca besar yang membuatnya terpaku karena terpsesona akan keindahan kota itu. Memang berada di kamar Westin Grand Suite yang memberikan fasilitas yang cukup nyaman dengan area yang cukup luas, menjadi pilihan yang tepat untuk menghabiskan malam weekend keduanya. Bryan kemudian mendekat pada Luna dan memeluk Luna erat dari belakang tubuhnya. “hhh… seneng banget rasanya bisa liat pemandangan indah kaya gini sambil pelukin anak ayah yang cantic banget ini….” Ucap Bryan, lalu di tenggelamkannya wajahnya itu ke leher jenjang Luna, tengah menghirup aroma tubuhnya. “yakin? Ayah gak ke goda atau pengen sama kaya orang-orang tadi yang dateng sama pacarnya atau istrinya gitu?” Balas Luna, mendengar hal itu, dengan kedua tangannya Bryan membalikan tubuh anaknya dan membuatnya menghadapnya. Di tatapnya kedua bola mata indah milik Luna itu. “ehmm… ayah cukup punya kamu sayang… tatap kamu, sentuh kamu, peluk kamu kaya gini… bikin ayah sadar selama ini ibu selalu ada di sisi kita … ayah bisa rasain kehadirannya setiap ayah liat diri kamu sayang… jadi ayah gak mungkin untuk punya wanita lain di hidup ayah selain kamu sama ibu kamu…” Ungkap Bryan tulus dan jujur dari dalam hatinya yang terdalam. “ayah….” Luna langsung memeluki ayahnya itu erat erat. ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN