Author pov
Sudah tiga hari berlalu, Bryan akhirnya bisa bernapas sedikit lega melihat putrinya yang tak lagi mengurung diri di kamarnya dengan wajah murungnya. Setiap kali bertemu bibir merah cerinya coba di lengkungkannya pada sang ayah, kaki-kakinya juga sudah mau di langkahkannya keluar kamar, sampai turun ke lantai bawah untuk makan bersama di meja makan. Meski keadaannya sudah pasti tak lagi sama, ada perubahan yang jelas terasa, bahkan suasana canggung belangan ini selalu tercipta diantara ayah dan anak itu.
Sambil memangku laptopnya di atas ranjang tempat tidur yang sudah beberapa malam ini hanya di tiduri oleh dirinya seorang, Bryan terlihat duduk dengan tak ada ketenangan sedikitpun. Berkali-kali ia mengubah posisi duduknya itu, berkali-kali juga matanya melirik ke arah pintu dalam beberapa menit sekali. Waktu kini sudah menunjukan pukul 10 malam, Bryan masih menunggu Luna yang mungkin saja akan mengetuk dan membukakan pintu kamarnya itu.
Ia sangat merindukan putrinya yang selalu meminta melakukan ini dan itu untuknya.
“ahhh... Luna, kamu itu kalo gak bisa, kamu bisa minta tolong ayah sayang...”
Gumamnya, kesal. Saat satu lagi history pencarian di akun google Luna muncul.
‘cara cepat dan mudah menggunakan bra’
Luna yang biasanya meminta pertolongan Bryan, kini malah selalu bertanya segalanya pada google yang memang akunnya itu ada dalam pantauan Bryan, termasuk grafik history pencariannya.
Itu di lakukan Bryan agar Luna bisa terjaga dari segala macam ‘racun’ di dunia maya yang sangat rawan untuk pergaulannya. Bahkan Bryan memblokir semua redirect link URL yang selalu membawa pencarian pada beberapa website ke beberapa situs yang sangat tak baik dan belum pantas di ketahui oleh Luna yang kini masih berusia 16 tahun itu.
Bahkan beberapa istilah yang bisa di katakan cukup vulgar, yang tak sengaja di ketahui Luna dari novel fantasi favoritnya pun, ketika ia coba cari sendiri maknanya di pencarian google langsung Bryan blokir sampai yang tampak hanyalah
‘Penelusuran Anda tidak cocok dengan dokumen apapun’
Alasannya karena terkadang ketika kita mengetikan satu kata saja di pencarian google, itu akan membawa kita nge-link kemana-mana, sampai ke gambar, video, berita, iklan, sampai di tautkan juga pada apa yang orang lain cari. Belum lagi saat membuka foto dan video, selalu saja ada banyak hal yang tidak berkaitan yang di upload oleh tangan-tangan jahil. Atau seperti belakangan meme dengan humor yang menjurus ke hal-hal yang berbau s****l sudah bertebaran di mana-mana.
Dan yang terpenting adalah kemudahan akses dari media social yang malah di manfaatkan oleh orang-orang tak bertanggung jawab, Bryan berusaha keras untuk menghindarkan Luna dari semua itu. Dan karena itu semua lah Luna jadi sangat polos sekali.
Begitu juga dengan semua tontonan dan bacaan Luna, Bryan menstrerilkan semua hal-hal yang menjadi konsumsi putri kesayangannya itu. YouTube Luna bahkan di setting menjadi YouTube Kids olehnya.
Tapi ketika ia ceritakan semua yang dilakukannya itu pada Psikolog Shopie, yang kini sudah di putuskannya dan di tetapkan jadwalnya akan memberikan konseling rutin untuknya juga Luna sekali dalam seminggu itu, menanggapinya dengan respon begini.
“jika anda terlalu menjauhkan segala sesuatu yang menurut anda bsia memberikan dampak buruk bagi Luna, layaknya bakteri dan kuman. Maka ketika ia tak sengaja harus menghadapi sesuatu yang buruk, yang sudah sangat anda jauhkan darinya itu, Luna akan sangat kaget. Ia akan bereaksi layaknya tubuh yang untuk pertama kalinya terinfeksi bakteri. Ada baiknya Luna sedikit tahu atau sekedar mengenal saja hal-hal yang menyimpang, seperti mengenai pregaulan remaja yang menurut anda tak baik dan tak pantas di lakukannya, lalu di beritahu juga dampak buruk dari perilaku atau hal yang coba anda jauhkan selama ini darinya...”
“itu baik untuk di lakukan, jadi ketika Luna tak hanya mengenal yang baik saja tapi juga hal yang buruk beserta dampaknya, ia sudah mengenal, tak asing, tak terlalu kaget dan tak kebingungan sendiri... karena proses pendewasaan itu sendiri adalah ketika kita bisa membedakan hal yang anggap benar dan salah, baik dan buruk, lalu kita bisa memilih yang baik di antara kedua pilihan itu...”
Bryan menempelkan penjelasan psikolog Shopie itu dalam kepalanya sampai ia buat mengakar di otaknya. Itu adalah pelajaran yang sangat berharga, karenanya Bryan jadi tahu bagaimana seharusnya ia menjaga Luna dalam masa pertumbuhan juga pendewasaannya.
Ia sadar betul selama ini telah membuat Luna terkurung layaknya selalu berada dalam sebuah ruang inkubasi. seolah terlalu menggeneralisasikan bahwa yang namanya bakteri itu pasti buruk, padahal ada juga bakteri yang baik dan berguna bagi tubuh. Bahwa hal buruk selamanya tercipta dengan segala keburukannya, padahal dari hal buruk kita bisa mengambil pelajaran dan hikmah di baliknya.
Bryan akhirnya memutuskan untuk mengubah caranya menjaga Luna dengan batuan dan arahan psikolognya itu.
Di lihatnya sudah enam website yang di bukan Luna dan itu masih seputar cara menggunakan Bra dengan mudah.
“ah, kesel aku...”
Ucapnya frustasi, tangannya ingin sekali membuka pintu kamarnya dan berlari menuju kamar putrinya untuk membantunya. Selama ini memang Bryan yang selalu memasangkan pengaitnya itu, karena Luna pernah cedera saat ia berenang satu tahun lalu, tangannya selalu kesulitan untuk meraih pengait bra yang ada di belakang tubuhnya.
Ia sudah tak bisa lagi melakukan itu, karena Luna sudah mendeklarasikan diri dengan tegasnya kemarin, bahwa ia akan berubah jadi mandiri, bahwa ia akan belajar mengurusi dirinya sendiri. Bryan hanya bisa keibingungan sendiri, entah apa sebenarnya yang sudah di biacarakan Fey, yang selalu rutin datang setelah pulang sekolah selama beberapa hari ini pada Luna, sampai sampai Luna jadi berubah ingin melakukan segalanya sendiri.
“Luna...”
Luna yang sedang kesulitan, tapi nampaknya itu membuat Bryan yang mengetahuinya malah jauh lebih merasakan kekesalannya.
Bryan kemudian membuka situs belanja online. Tapi kemudian jarinya mengklik tab baru untuk mencari rekomendasi bra yang cocok untuk remaja.
Selama ini Bryan selalu membelikan Luna jenis Underwire bra. Itu adalah jenis bra berkawat fleksibel yang menurut penjelasan pramuniaga tempat Bryan membelinya saat itu, dapat membantu mengangkat p******a dari sisi bawah dan samping. Dan bra jenis itu juga katanya bisa membantu p******a agar terbentuk dengan baik.
Di samping itu masih ada alasan penting yang membuat Bryan sampai memutuskan untuk memilih jenis bra itu. Itu adalah karena ukuran p******a Luna yang cukup besar meskipun badannya tergolong kurus. Dan ternyata bra jenis itu sangat di rekomendasikan untuk remeja yang memang memiliki d**a berukuran lebih besar, karena memiliki kawat juga penopang guncangan. Bryan pikir bra jenis Underwire akan cocok untuk Luna yang terkadang selalu berlarian dan ketika exited selalu melompat-lompat, jadilah Bryan memutuskan untuk memilih yang satu itu.
Tapi ia juga memilihkan Luna jenis lain yang khusus di pakainya ketika musim panas, itu adalah Bra katun yang menjadi pilihan favorit Luna karena tersedia dalam pilihan berbagai warna motif juga design yang cantic, terlebih karena bahannya yang terbuat dari katun sehingga bisa menyerap keringat saat cuaca panas.
Tapi ketika masalahnya bukan lagi soal kenyamannya saja kini, tapi juga soal kemudahan dalam penggunaannya oleh anaknya yang masih belum bisa memakainya, karena selalu menggunakan bantuan tangannya, jadilah Bryan kini harus mencari jenis yang lain yang mungkin akan sangat membantu Luna.
“Bandeau bra dan sport bra”
Bryan akhirnya memutuskan untuk membelikan putrinya dua jenis bra itu saja untuk Luna
*(Bandeau bra yang tanpa tali dan hanya di design dengan kain dan dengan cup saja.)
“semoga ini bisa bantu Luna...”
Ucapnya sambil melakukan check out pada situs belanja online itu.
***
Sementara itu di kamar Luna, setelah ia berusaha untuk menggunakan bra sendiri dan mengikuti arahan beberapa website, akhirnya ia menyerah juga dan memilih untuk tidur tanpa bra seperti biasanya.
“hhhfffttt... padahal Fey udah ingetin gak baik untuk kita liatin bagian tubuh kita di depan orang tua kita, apalagi yang berbeda gender... ahhh tapi ini susah... kenapa cederanya udah setaun tapi belum sembuh-sembuh juga ini bahu sama tangan...
Luna ngedumel sendiri jadinya.
“semoga aja ayah gak masuk tiba-tiba deh, aku.... harus mulai punya malu sama ayah...”
Luna memang di ajari Fey untuk tak sembarangan menampilkan tubuhnya di hadapan ayahnya, “meskipun ayah adalah orang yang menyayangi kita, merawat, dan menjaga kita selama ini, tapi seorang ayah juga merupakan orang tua yang harus kita hormati. dan menunjukan hal pribadi seperti seenaknya menampilkan tubuh polos di hadapannya itu bukan sikap yang baik untuk di lakukan”
Begitu ucap Fey pada Luna hari kemarin.
Dan kini Luna sudah mulai berkutat dengan handphonenya kembali, bukan untuk bertanya pada google melainkan ia tengah mengatur alarm yang di setnya beruntut setiap lima menit sekali. Ia sadar diri ketikan ia di bangunkan oleh ayahnya yang di katakannya adalah
‘Lima menit lagi yaah....’
itu otomatis terucap setiap kali ia di bangunkan setiap pagi.
06:00
06:05
06:10
06:20
06:25
06:30
“ah... kalo aku pasang alarmnya kaya gini aku pasti berhasil bangun jam setengah tujuh...”
Gumamnya, tapi kemudian ia diam kembali.
“tunggu... setengah tujuh itu masih dingin banget, dan pastinya aku bakal tarik selimut lagi, terus balik tidur deh, okey tambah lagi alarmnya”
06:45
“ehm... paling telat jam 7 aja deh kayanya... iya jam 7 aja, pokoknya jam 7 aku udah duduk bangun terus turun dari tempat tidur”
06:55
07:00
“okey... perlengkapan aku udah siap semua, besok hari pertama aku sekolah lagi jadi aku harus siapin semuanya sendiri... ahh... jadi mandiri itu ribet ternyata, apa apa harus sendiri”
Tapi kemudian Luna mengingat kembali kata-kata Bunda Fey yang kemarin sempat mengunjunginya dan memberikannya banyak sekali makanan enak.
“.... tumbuh itu memang tak nyaman, seperti bunga di halaman yang harus menjaga dirinya sendiri bahkan di saat cuaca buruk harus tiba-tiba mengancam”
“aku seharusnya bersyukur gak jadi bunga di halaman... aku punya kamar, rumah, ayah, temen yang bikin aku selalu aman... meskipun badai kemarin... hhhhfffttt... udah lupain Luna sekarang tidur”
Ucapnya sambil merangkak dan masuk ke balik selimutnya. Ia menutup matanya, tapi kemudian pikiran-pikiran buruk kini mengahmpirinya.
‘kalo besok aku gak bisa bangun gimana?’
‘kalo ternyata ayah yang jadi harus mandiin aku lagi gimana? aku gagal tumbuh gitu?’
‘tunggu... apa aku juga harus mulai bikin sarapan sendiri?’
‘ahhh... kenapa ribet banget sih’
Luna larut dalam semua lamunannya, sampai tiba-tiba saja terdengar suara pintu kamarnya yang terbuka. Itu adalah Bryan yang kini sudah melangkah masuk untuk memastikan keadaan putrinya. Bryan tersenyum menatapi Luna yang terlihat sangat menggemaskan, tengah berpura-pura tidur saat ini.
Bryan kemudian menemukan handphone Luna dengan sederet alarm yang sudah di pasanganya setiap lima menit sekali untuk membangunkannya besok pagi.
Ia terkehkeh berkat tingkah putrinya yang baru saja ingin mandiri itu.
“hhh... jadi besok beneran udah mau sekolah lagi?”
Tanyanya pada Luna yang sedang berbaring dan memejamkan matanya itu.
Luna balas dengan mengangguk pertanyaan ayahnya itu, dan itu artinya gagal sudah acting tidurnya di depan ayahnya itu. Bryan lalu mengusapi puncak kepala Luna dengan senyum yang masih betah bertahan di wajah tampannya.
“yaudah tidur ya sayang...”
Bryan kemudian membungkukan tubuhnya, akan mendekatkan wajahnya pada wajah Luna yang kini sedang di kerutkannya seperti tengah ketakutan.
“Batas ayah...”
Ucapnya tiba-tiba pada Bryan,
“ehm?”
“katanya harus ada batas antara ayah dan anak... kalo Luna di cium-“
Cup
Tak Bryan dengarkan malah ia langsung saja daratkan kecupannya di pipi Luna.
“ayah...”
“itu bukan sentuhan yang butuh batas sayang... ayah juga masih suka di cium sama nenek kamu waktu ayah masih seusia kamu...”
“oh... gitu ya...”
Luna masih kebingungan soal itu, sepertinya ia harus benar-benar mempelajari soal yang satu itu.
“sekarang tidur ya”
ucap Bryan sambil membenarkan selimut putrinya itu.
“boleh Luna peluk ayah dulu?”
Dan tanpa di jawabanya terlebih dahulu pertanyaan Luna itu, Bryan langsung memberikan pelukan pada putrinya yang siap untuk tidur itu
“ayah sayang kamu Luna...”
“Luna juga...”
Luna mencium pipi Bryan. Ia sebenarnya ingin sekali tidur di peluki ayahnya seperti malam-malam sebelum kejadiannya dengan Rey, sebelum ia mengenal batas, dan sebelum ia memiliki keinginan untuk tumbuh.
“tidur sayang... kalo ada apa-apa kamu bisa langsung ke kamar ayah yah...”
Luna mengangguk, Bryan memberinya kecupan terakhir di keningnya sebelum ia bangkit berdiri dan mematikan lampu kamar Luna. Ia sudah berjalan meninggalkan ruangan putrinya itu.
Sampai di depan kamarnya, Bryan meninggalkan pintunya terbuka.
“pintu ayah selalu terbuka buat kamu sayang... sesekali takut dan kembali pada ayah itu gak papa sayang...”
Gumamnya sebelum merebahkan diri pada tempat tidurnya.
.....