Luna pov
Aku mengerjap-ngerjapkan mataku sambil menatap langit-langit kamarku. Sudah beberapa hari ini kerjaku hanya berbaring dan berbaring saja terus. Aku hanya bangun saat ayah membawa makan juga obat untukku, tapi kemudian ayah jadi selalu memasang wajah murungnya setiap kali harus membawa kembali bubur buatannya yang hampir tetap utuh dan hanya masuk dua atau tiga suapan saja ke mulutku. Nafsu makanku hilang tak bersisa, padahal biasanya aku paling bersemangat saat melihat masakan buatannya.
Dan hasilnya tubuhku berat sekali untuk kugerakan, lemas dan tak bertenaga. Meski tubuhku hanya diam dan kurebakan saja, tapi pikiranku berkelana kemana-kemana. Banyaknya kembali lagi ke saat-saat di mana aku menghabiskan waktuku bersama ayah.
Kata-kata Bunda Fey saat di rumah sakit, terus terngiang-ngiang di kepalaku. Ada banyak pertanyaan soal kata-katanya saat itu.
Terutama mengenai batas.
Kenapa harus ada batas antara ayah dan anak? aku pikir mau aku besar, mau aku kecil, aku tetap anaknya, aku adalah manusia yang lahir dari dari ayah dan ibuku.
Itu menjadi pertanyaan besar di kepalaku, entah pada Bunda Fey atau pada Psikolog Shopie, yang jelas aku harus meminta penjelasan soal itu.
Aku juga sampai menyalahkan takdir dan keadaanku yang tak memiliki Ibu, hingga ayah yang sampai kesulitan mengajariku yang akan tumbuh menjadi wanita dewasa.
Tahu tumbuh besar artinya harus melakukan segalanya sendiri, aku jadi terpikir kenapa aku tak mencari ramuan saja yang membuatku tetap berada di usia 5 tahun, agar bisa menjadi putri kecil ayahku saja selamanya. Membayangkan aku yang harus melakukan segalanya sendiri sangat menakutkan sekali. Bisa apa aku tanpanya.
Saat kantukku mengalahkan keinginanku untuk pergi ke sekolah, kalau bukan ayah yang membangunkanku, memandikanku, dan memakaikan seragam sekolahku, absenku mungkin akan bolong-bolong.
Saat aku harus lupa soal periode menstruasiku, saat sakitnya datang, saat aku pikir ada yang salah dengan tubuhku ayahku yang selalu berusaha mengatasi itu, bahkan soal semua pakaian dalam yang kukenakan. Hanya ayahku yang tahu, ayahku tahu dan mengenal diriku lebih dari diriku sendiri.
Kuraih fotoku bersama ayah yang ada di atas meja di samping ranjang tempatku berbaring saat ini. Aku yang masih berusia 6 tahun tengah di gendongnya di Belanda saat foto di tanganku ini di ambil. Kupandangi itu, dengan senyum yang kutirukan sama seperti yang dilakukan potret diriku dan ayah yang tampak bahagia di sana.
“ayah... Luna terlalu nyaman dan terlalu bergantung sama ayah selama ini... sampai Luna gak sadar kalo Luna bukan putri kecil ayah lagi...”
Kuperhatikan tubuhku lalu kubandingkan dengan tubuhku yang ada di foto itu.
“Aku udah sebesar ini... mungkin bener apa kata mereka... Bunda Fey, lalu Fey, bahkan Si Rey yang mau jahatin aku aja tau kalo aku udah gak sepantasnya masih di mandiin, di bajuin, disentuh seperti yang masih selalu ayah lakuin sama aku selama ini...”
Kuhembuskan napas beratku.
“hhhh.... bagaimana ini...aku takut”
“apa jadinya kalo aku gak ketemu Rey... keadaanku baik-baik aja pastinya”
Pikiran itu muncul berkali-kali di kepalaku, aku tahu aku akan mulai menyalahkan dirinya. lagi. kemudian aku mengutuknya diam-diam dalam hati, sampai kuremas selimutku untuk melampiaskan amarahku padanya.
“dan ayah... ayah juga pasti...”
Ayah pasti tak sampai khawatir seperti sekarang ini. Meski ia tak bersuara, meski ayahku berusaha menunjukan senyumannya setiap kali muncul di depanku, tapi sangat aku tahu bagaimana perasaannya.
Setiap kali dalam beberapa jam aku mendengar langkah pelannya, juga suara pintu kamarku yang sedikit dibukakannya. Dan saat kuperhatikan bagaimana bibirnya yang bergetar begitu namaku diucapkannya, aku tahu semua ini juga berat baginya. Ayah jadi mengalami waktu yang sulit karena aku membiarkan Rey menyentuhku.
Aku benci diriku yang bodoh
Aku terus berputar-putar dari perasaan marah pada keadaan, lalu sadar, kemudian ingin menangis sekencang-kencangnya, mengutuki diri sampai membenci dan menyalahkan diri sendiri sepanjang hari.
“seharusnya aku bisa menjaga diriku lebih baik lagi...”
Saat kubalikan tubuhku untuk menyamping, tiba-tiba tubuhku ini serasa tengah menindihi sesuatu yang berbungkus plastic sampai mengeluarkan suara keresek kresek yang terdengar sangat mengganggu. Tanganku langsung meraih apa yang ada di bawah tubuhku dengan selimut yang masih betah menggulungku.
“coklat?”
Kuperhatikan satu bungkus besar kemasan coklat berwarna ungu yang berisikan banyak coklat-coklat kecil di dalamnya, yang sempat kutindihi itu. dan kutemukan juga secarik catatan di belakangnya.
‘Luna...coklat ini ajaib loooh... bisa bikin kamu lupa sama selimut dan ranjang tidur kamu, jadi di makan ya... kamu pasti langsung mau bangun dan pergi main sama aku...
~ Fey
“hhh... dia ini ada-ada sih...”
Bundanya dan teman baruku itu memang menjadi orang-orang yang turut khawatir akan keadaanku saat ini selain ayahku.
Bahkan sebelum sesi konseling siang tadi berlangsung, Fey menyempatkan diri untuk mengunjungiku. dan berkat semua candaannya juga cerita cerita konyolnya aku bisa melengkukan ujung bibirku, berhasil di buat tersenyum karena tingkah lucunya. Dia benar-benar hebat dalam menghiburku walau hanya sebentar saja, tadi ia tak bisa berlama-lama menemaniku dan harus segara pergi karena masih ada jam latihan taekwondo yang menunggunya.
Moodku yang sudah di buat lebih baik oleh Fey, malah harus di buat jatuh sejatuh-jatuhnya selama sesi konseling yang mengharuskanku untuk mengingat kembali ke saat-saat di mana dengan bodohnya aku yang tak tahu, kalau apa yang aku lakukan dengan Rey itu adalah hal yang tak boleh di lakukan oleh ramaja putri dan seorang laki-laki. Hasilnya aku jadi merasa kotor sekali saat ini.
Kubangunkan tubuhku lalu kuseret kakiku untuk melangkah menuju meja belajarku.
“hhh....”
Kuhembuskan napas beratku dan rasanya lelah sekali, padahal hanya beberapa langkah saja jaraknya kaki ini kulangkahkan dari ranjang ke meja belajar tempat ku dudukan diriku saat ini.
Kuambil diaryku dan kubuka halaman kosong di dalamnya.
....
Dear diary
Kini terjawab sudah, kenapa rasanya aneh, sensasinya asing, buat aku penasaran sekaligus pusing soal sentuhan yang Rey berikan padaku. Meskipun aku tak bisa membohongi diriku, kalau aku sudah di buat larut dalam rasa baru yang di berikan Rey saat itu, tapi kemudian aku juga jadi tahu bahwa ada rasa-rasa yang tak boleh kita selami, yang membuat kita lama terjebak di dalamnya.
Otakku di buat tak bisa berpikir saat itu, ‘enak?’ yang selalu di tanyakannya padaku, itu mungkin seperti sebuah pemanis buatan, pengawet dalam makanan, yang berbahan dasar zat kimia berbahaya yang coba di berikannya padaku. Sepintas aku ingin, tapi jelas itu tak baik untuk diriku, bahkan ayahku selama ini selalu menjauhkan semua itu dariku.
Aku pikir selama ini secara tak sadar, ternyata aku mudah sekali terperangkap dalam sebuah rasa yang seharusnya tak kubiarkan diriku bersarang di dalamnya.
Termasuk kenyamanan, aku terlalu terlena dengan rasa nyaman yang ayahku berikan, rasa nyaman mendapat perhatiannya yang sama seperti saat aku masih berumur lima tahun, padahal sudah sepuluh tahun waktu berlalu, seharusnya sudah kulepaskan rasa ingin bergantungku padanya seiring dengan berjalannya waktu. Aku tak tumbuh dan tetap menguncup dalam penjagaan ayahku selama bertahun-tahun yang sudah berlalu itu.
Bu...
Aku ingin berterimakasih padamu Bu... kini aku tahu dan mendapat sedikit titik terang. Aku pikir semua ini terjadi untuk menyadarkanku akan semua hal yang seharusnya kuketahui sejak lama, bahwa aku harus jadi perempuan yang kuat dan tak bisa selamanya selalu bergantung pada ayah.
Aku bertemu dengan Rey yang semula kupikir akan menjadi seseorang yang bisa memberiku hari yang indah untuk di jalani... aku pikir dia akan menjadi orang yang bisa memberikan kisah yang indah semasa SMA ku... Tapi aku terlalu terburu-buru menyimpulkan semua itu.
Aku pikir semua perhatiannya, sikapnya, dan sentuhannya padaku adalah wujud dari perasaannya padaku, Sampai akhirnya kejadian kemarinlah yang menyadarkanku bahwa dia adalah orang yang hanya ingin melukaiku...
Dia hanya orang yang hadir untuk memberiku pelajaran berharga, yang jelas harus ku tinggalkan dan kulupakan...
Tapi karenanya juga aku bisa bertemu dengan Fey, penyelamatku, teman baruku... aku pikir Ibu menghadirkan dirinya untukku, dia baik sekali dan berkata akan selalu menjagaku...
Terimakasih Bu... bantu aku untuk bisa tumbuh lebih baik... menjadi perempuan yang lebih kuat dan lebih lebih lebih baik lagi...
....
....
Rasanya ini adalah tulisan terpanjang dari diaryku. Aku menyadari banyak hal dan aku pikir aku harus meninggalkan diriku yang lama, belajar lebih banyak lagi mengenai tumbuh dan menjadi dewasa.
“Luna...”
Aku langsung menoleh begitu kudengar ayahku yang baru saja memanggilku dengan suara lemahnya. Dan kutemukan dirinya.
“ayah...”
Panggilku,
Aku tak sadar ternyata kasusku behasil membuat banyak perubahan pada penampilan ayahku. mataku menemukan sosok tubuh yang terlihat mengurus, dan entah sudah berapa lama juga ayahku tak bercukur sampai rambut-rambut halus sudah bersarang di rahang pada wajah tampannya.
Aku seharusnya tak egois karena kejadian ini tak hanya menyulitkan diriku tapi juga dirinya, ayahku yang selalu khawatir dan setia menjagaku.
Aku berjalan menghampirinya, lalu kuhamburkan diriku ke dalam pelukannya.
“ayah...”
“Luna... maaf kamu harus mengalami hal seperti ini sayang... maaf... maaf sayang...”
“ayah... berhenti minta maaf, bukan keinginan ayah semua ini terjadi... Luna-... Luna... Luna gak papa kok, Luna akan baik-baik aja...Luna mau ambil hikmahnya aja... karena kejadian ini buat Luna jadi banyak belajar...”
Kataku, dan kulihat air mata sudah lolos saja dari mata yang sudah dalam dengan lingkar hitam di sekitarnya itu. Aku berjinjit untuk menghapus itu.
“sayang...”
“Ayah... Luna akan tumbuh jadi perempuan yang lebih kuat, yang bisa lindungi diri Luna sendiri...”
“iya sayang... iya kamu akan bisa tumbuh jadi perempuan hebat yang kuat...”
Ayahku memeluk diriku erat erat, akhirnya aku bisa menemukan rasa amanku kembali.
Aku pikir sudah terlalu lama aku menguncup dan membuat tangan yang menjagaku kerepotan dan selalu tak tenang. Sudah saatnya aku tumbuh, berbatang, berdaun, dan mengembang lalu bertemu dengan hari, kupu-kupu, lebah, angin, hujan, dan semua hal yang seharusnya sudah kutemui sejak lama.
“bantu dan ajari Luna tumbuh lebih baik, ayah...”
“tentu sayang, ayah akan selalu ada di samping kamu, menjaga kamu untuk bisa tumbuh dewasa dengan baik sayang...”
***