#1 Pelecehan Terjadi adalah Murni Kesalahan Pelaku

1842 Kata
Selimut yang merungkup tubuh yang meringkuk di kamar gadis remaja itu, tampak naik turun mengikuti irama napas yang di hembuskannya di balik kain tebal itu. Ia tak sadar bahwa saat ini sang ayah tengah berdiri memperhatikan dengan tatapan sedih dan khawatirnya, tepat di depan pintu kamar yang hanya di biarkan sedikit terbuka. “Luna...” Bryan memanggil putrinya itu dengan pelan dan begitu lirih terdengar. Bryan menggigiti bibir bawahnya, ia tak tega harus melihat anaknya yang selalu ceria, kini bahkan jadi terlihat seolah telah kehilangan senyumnya. wajah sedihnya di tundukannya tak kuasa dan tak terima dengan situasi juga keadaannya yang tak pernah di sangka-sangkanya akan jadi seperti ini. ‘seharunya aku gak usah pergi kemarin’ ‘seharusnya aku gak tinggalin Luna sendirian’ ‘seharusnya aku bisa tau kalo si b******n Rey itu mau berbuat yang engga-engga sama Luna...’ ‘seharusnya... seharusnya... aku bisa jagain dia lebih baik’ Banyak penyesalan yang kini memenuhi hati dan pikirannya. Bahkan ia sudah tak lagi mempedulikan dirinya sendiri, wajahnya juga pakaiannya sudah lusuh karena belum berganti sejak hari kepulangan Luna dari rumah sakit dua hari yang lalu. Bryan tak bisa menutup mata bahwa Luna jelas mengalami trauma hebat saat ini. Kejadian di malah ketika ia akan pergi sungguh menjadi cobaan besar dalam hidup Bryan. “Om...” Bryan menoleh dan langsung membenarkan raut wajahnya, ia ingin bersikap mampu untuk tegar di hadapan anak perempuan yang sudah menyelamatkan Luna. “Fey...” “Luna?” Tanyanya pelan sambil berjalan menghampiri ayah sahabat barunya itu. “dia di dalem” “tidur? boleh aku masuk?” “ehm... boleh” Setelah mendapat izin dari ayah Luna, Fey langsung melangkah masuk ke dalam kamar Luna, tapi kemudian tiba-tiba saja ia terhenti, kakinya malah berjalan berbalik menghampiri Bryan kembali. “ada apa?” “kayanya... Om harus bersihin diri Om deh... ganti baju terus makan... Om harus kuat buat Luna, jaga kesehatan Om selagi Luna sedang dalam kondisi seperti ini... aku pikir Luna juga bakal sedih banget kalo liat penampilan ayahnya yang kaya sekarang ini” Ucap Fey pada Bryan sebelum ia dengan cepat berbalik kembali melangkan kakinya masuk ke dalam kamar Luna dan duduk di samping sahabat barunya itu. Bryan jadi melirikan pandangannya pada tubuhnya yang super lusuh itu, “ahh... bener apa kata Fey, aku harus mandi, seengganya aku gak boleh kaya gini di depan psikolog Luna nanti” Gumamnya sambil pergi menuju kamarnya untuk membersihkan diri. *** “Shopie...” “ah iya silahkan masuk” akhirnya psikolog yang sudah di tunggu-tunggu oleh Bryan sejak satu jam yang lalu itu akhirnya di persilahkan masuk ke dalam rumah Bryan itu. “kita langsung mulai saja sesi konselingnya, dan dari apa yang sudah Pak Bryan katakan kemarin di klinik saya... saya akan coba dengan sangat hati-hati agar Luna tak tertekan selama sesi ini” Ucap Psikolog Shopie. “mohon lakukan yang terbaik untuk anak saya...” pinta Bryan. Bryan menyesalkan kepindahannya yang kali ini malah harus jadi momen buruk yang tak akan pernah terlupakan bagi Luna, bahkan tepat saat dirinya baru saja memasuki masa SMA yang seharusnya jadi masa-masa terindahnya. Dan tak bisa di pungkirinya bahwa saat ini Luna sedang mengalami guncangan mental akibat kejadian itu dan sangat sangat membutuhkan pertolongan seorang professional. Sampai kemarin Bryan memutuskan untuk mengunjungi klinik praktik psikolog yang di rekomendasikan oleh Bunda Fey saat malam itu. Ia langsung menceritakan soal insiden tak mengenakan yang harus menimpa putrinya, dan akhirnya hari ini menjadi hari pertama Luna menjalani sesi konseling psikologisnya. Psikolog Shopie memulai sesi dengan memperkenalkan dirinya, dengan gentle ia mendekati Luna layaknya seorang teman yang ingin mendengarkan cerita Luna. .... ... Setengah jam masa pendekatan berlalu, Luna akhirnya mau terbuka dan menceritakan sedikit demi sedikit yang terjadi antara Rey dengannya. “....” Luna kini di hadapkan pada sebuah boneka perempuan kecil berambut panjang pirang yang memakai rok selutut berwarna putih. “Luna... bisa kamu tunjukan jari kamu pada boneka di tangan saya ini, di bagian mana saja Rey pernah menyentuh kamu?” Tanya Psikolog Shopie yang kini duduk sedang berhadapan dengan Luna. “itu... di sana... dan di sana...” Jari telunjuk di arahkannya pada area d**a dan area pada bagian di antara kedua paha boneka perempuan itu. “itu terjadi di club malam kemarin?” Luna menggelengkan kepalanya, “... aku masih belum bisa ingat apa yang terjadi setelah aku minum minuman yang diberikan Rey padaku... aku hanya ingat dia yang mengatakan akan membawaku ketempat yang lebih tenang karena suasan club yang sudah sangat chaos” “lalu kapan?” Luna me-recall kembali memorinya soal kapan dan dimana saja Rey pernah menyentuhnya. “itu... saat itu di rumah, saat ayah akan membeli makanan untukku dengannya... tiba-tiba dia menyentuh bagian itu...” Ungkap Luna dengan jari telunjuk yang tengah ditunjukannya pada area d**a boneka yang tengah di jadikan ilustrasi sebagai dirinya itu. “awalnya dia menggunakan pulpen tapi karena kutepis jadi jarinya lalu tangannya yang jadi menyen...tuh ku...” Suara Luna semakin ujung semakin melemah tak jelas terdengar. kini ia sudah menundukan wajahnya, sadar seharusnya saat itu ia bisa menghentikan Rey yang berlaku begitu pada tubuhnya, sehingga ia tak perlu mengalami kejadian seperti malam itu. “lalu apa lagi yang di lakukannya?” “dia... buka baju aku... dan sentuh bagian itu dengan jarinya...” Kini jari Luna menunjuk area di antara kedua paha boneka itu. “lalu?” “karena aku tiba-tiba ingin pipis... jadi aku langsung lari ke kamar mandi malem itu” Jawab Luna, psikolog itu terlihat menghembuskan napasnya, ada sedikit perasaan lega, saat mengetahui yang di lakukan remaja laki-laki bernama Rey yang pada sesi awal menjadi pembahasan mereka itu hanya sampai melakukan Fingering saja. *(Fingering adalah suatu kegiatan merangsang Miss V dengan menggunakan jari) Di mata Psikolog Shopie, secara psikologis Luna masih terlihat seperti anak-anak yang masih berusia di bawah 10 tahun, ia masih belum mengerti apapun soal pengetahuan s*x yang seharusnya sudah di ketahuinya dalam batas wajar di usianya saat ini. Atau gambaran lebih tepatnya, Luna layaknya pulau yang masih belum terjamah dan terisolasi dari semua ganguan di luar sana, sampai sialnya muncul anak laki-laki yang penasaran dan tiba-tiba memborbardir gadis polos yang tengah murung di hadapannya itu. “seberapa sering dia bertingkah seperti itu padamu?” “esokan paginya di belakang sekolah, terus... ah, terakhir waktu dia ajak aku makan di tempat aneh... aku tak tahu di mana itu” “apa yang di lakukannya saat makan waktu itu” “dia ehm lakuin yang gak jauh beda sama waktu di rumah... dia udah buka baju aku, tapi karena ayah telpon jadinya... dia langsung pakein semua baju aku siang itu...” Psikolog Shopie kini mengangguk-angguk mendnegarkan cerita Luna itu. “aku... bodoh banget ya? biarin dia lakuin itu semua sama aku?” Tanya Luna tiba-tiba dengan wajah yang di tundukannya, ia terlalu malu sekali saat ini. “ehm... engga kok, kemarin kamu cuma belum tau aja Luna... gak papa, kita belajar dari semua itu, kalo orang yang sentuh kamu pada bagian-bagian ‘tertentu’ tubuh kamu, kamu akan berakhir dengan di lukainya... dan jangan pernah berpikir semua ini terjadi karena salah kamu Luna, semua ini jelas salah Rey” Psikolog Shopie memberikan nasihat seperti itu pada Luna. “tapi ini juga salah aku.... padahal sebelumnya aku selalu di kasih tau kalau dua bagian tubuh aku itu adalah area privasi yang gak boleh disentuh sama siapapun, berulang kali ayah ingetin aku soal itu setiap kali mandiin aku, pakein baju aku... bahkan baru beberapa hari lalu ayah ingetin-“ “Luna... kamu masih di mandiin sama ayah kamu?” Tanya sang Psikolog dengan raut wajah yang sedang berusaha di kontrolnya agar tak menunjukan kekagetannya. “aku tau aku udah gede dan bukan anak TK lagi, begitu juga soal batasan... aku udah denger dari bunda Fey kemarin malem, tapi itu kaya kebiasaan... lagi pula ayah itu beda dan gak mungkin sakitin aku kaya Reyno...” “soal yang satu ini, kita bicarakan nanti ya... kita sudahi sesi hari ini” “terimakasih utuk hari ini” Ucap Luna sambil memaksakan senyumnya pada wanita yang sudah mau mendengarkan semua ceritanya hari ini. “kerja bagus Luna, kamu hebat udah mau menceritakan semua yang terjadi sama saya... jadi teruskan dan tetap semangat ya” Ucap Psikolog Shopie, Luna tersenyum seperti baru saja mendapat penguatan dari ucapan psikolognya itu. Setelah itu ia berjalan meninggalkan kamar Luna dan berakhirlah sesi konseling pertamanya hari ini. “gimana? Luna baik-baik saja kan?” Bryan yang sedari tadi menunggu dengan tak tenang, bahkan ia tak duduk selama kurang lebih satu jam, hanya terus berjalan-jalan mondar mandir saja kerjanya, langsung menyambut Psikolog anaknya itu dengan pertanyaan itu. Psikolog Shopie menyempatkan untuk melirik Luna dari celah pintu yang belum benar-benar tertutup rapat. “sebaiknya kita bicara di sana” Ucap psikolog Luna itu, keduanya kemudian duduk berhadapan di kursi ruang tamu. “pertama yang harus saya sampaikan adalah pengetahuan Luna soal hubungan, batasan, beserta pergaulannya minim sekali... sampai ia kebingungan mana tindakan orang yang ingin dekat dengannya karena ingin membina hubungan yang baik dan mana tindakan seseorang yang jelas akan menyakitinya...” Bryan tertunduk mendengar Penjelasan psikolog yang datang sebagai pendampingan psikologis Luna. “ini salah saya yang terlalu mengekang pergaulannya, seharusnya saya ajarkan bagaimana dia berteman sedari awal” Ucap Bryan, ia tak bisa berhenti menyalahkan dirinya yang merasa sudah gagal melindungi putrinya itu. Belum lagi Si Reyno, sang pelaku yang kini malah sudah di bebaskan karena kurangnya bukti dan hanya membayar denda saja yang tentunya tak seberapa baginya. Pak Yohan sang pengacara sampai di marahi habis-habisan oleh Bryan sebelumnya. Ia sampai dikatai tak becus oleh ayah Luna itu. Namun dengan alasan bahwa Reyno yang berasal dari keluarga konglomerat, tentu bukan hal yang sulit baginya untuk lepas dari apa yang coba di lakukannya pada Luna. Bryan tak bisa berbuat apa-apa lagi soal itu, dan kini yang ada di pikirannya hanya satu, Luna. bagaimana cara mengembalikan kondisi mental dan psikisnya saat ini. “sudah menjadi naluri orang tua untuk ingin selalu menjaga anaknya, tapi ada baiknya anda hanya perlu mengawasi saja dan mengarahkan pergaulan Luna jika di rasa itu mulai menyimpang...” “lalu kondisinya sekarang?” “ia jelas mengalami trauma... dan dari penjelasan anda mengenai apa yang telah terjadi sebelumnya, tak sepantasnya Luna sampai mendengar hal yang memojokan dirinya seperti yang diutarakan oleh pihak kepolisian... karena itu membuat Luna berpikir bahwa apa yang telah menimpa dirinya itu adalah kesalahan dirinya, Luna di buat merasa sudah memberikan kontribusi yang besar dalam terjadinya pelecehan itu... bahwa dirinyalah penyebab tindak pelecehan itu terjadi” “lalu... lalu saya harus apa? luna dia- dia akan... baik-baik aja kan?” Bryan mulai ketakutan mendengar penjelasan pskolog Shopie yang bergelar B.A, M.Psi itu. “kita harus bisa menekankan pada Luna bahwa apa yang terjadi padanya adalah murni kesalahan pelaku, agar ia bisa berhenti menyalahkan dirinya dan bisa menjalani hari-harinya kembali” “mohon bantuannya” “tentu saja, dan satu lagi... sepertinya kita harus membicarakan bagaimana cara anda membesarkan Luna selama ini... karena itu berkaitan erat dengan cara pandangnya dalam pergaulannya juga hubungannya dengan seseorang di masa depan” ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN