Sampai saat yang paling menegangkan bagi Bryan akhirnya tiba.
Jarum jam tengah mengarah tepat ke angka sembilan, Bryan sudah tak bisa duduk tenang karena tahu anaknya kini harus berhadapan dengan orang-orang penyidik dari kepolisian.
Dan ketidaktenangan ayah Luna itu jadi kian bertambah saat ia harus mengetahui kalau yang datang akan meminta keterangan dari Luna bukanlah polisi perempuan, melainkan dua orang pria berbadan tegap yang seperti siap akan melakukan penyergapan.
“Pak, apa-apaan ini? Luna hampir aja jadi korban pelecehan seksual, tapi kenapa yang datang malah bapak-bapak polisi seperti ini...”
Bryan kebingungan bertanya demikian pada pengacaranya, karena ia sangat sadar betapa akan tak nyamannya Luna jika harus mengatakan apa yang terjadi pada dua polisi itu.
“dan lagi itu bukan penyidik yang kemarin saya temui di kepolisian... apa Luna akan baik-baik aja jika kita biarkan dia harus di tanyai oleh mereka?”
Tanya Bryan lebih lanjut. ia benar-benar khawatir memikirkan apa yang akan terjadi pada putrinya itu.
“kita lihat dulu saja bagaimana prosesnya, kita memiliki hak untuk diam dan kita juga bisa saja menghentikan prosesnya jika sampai keadaannya menyudutkan Luna”
Bryan merasa ini bukanlah hal benar, firasatnya kuat soal hal tak mengenakan akan terjadi pada putrinya. Sampai akhirnya ia merasa harus melakukan sesuatu.
Bryan dengan langkah yang berani, menghampiri dua petugas penyidik yang akan berjalan memasuki ruangan Luna berada saat ini.
“Pak, dengan tak mengurangi rasa hormat saya, saya ingin penyidik yang akan meminta keterangan dari Luna di gantikan oleh petugas perempuan saja”
Pinta Bryan tegas pada salah satu polisi itu.
“ini akan sebentar, dan lagi... kami hanya ingin mengkonfirmasi beberapa hal saja pada putri anda”
Bryan di buat jadi menatap pengacaranya, ia tak mengerti maksud dari apa yang di katakan oleh penyidik dari kepolisian itu. karena jujur saja bagi Bryan proses hukum kasus Luna sangat tidak transparan dan di penuhi ketidakjelasan. bBhkan ia tak di perbolehkan mengetahui bagaimana dan sampai mana penyelidikan kasus putrinya itu di tangangi sampai saat ini.
Akhirnya suasana tegang memenuhi seisi ruangan.
Luna juga sudah duduk di atas ranjang kamar inapnya, siap menjawab pertanyaan yang akan di ajukan oleh tim penyidik yang sudah berdiri di hadapannya.
Itu akan berlangsung dengan satu penyidik yang menanyai dan yang satunya yang bertugas untuk mencatat keterangan yang akan Luna sampaikan. Bryan tentu menemani Luna yang masih di bawah umur sebagai walinya beserta pengacaranya sebagai kuasa hukumnya.
“Luna bisa kita mulai?”
Luna mengangguk dengan mata yang menatap ragu.
“jadi semalam kamu ada di club F itu karena ulang tahun temanmu yang bernama Aldy?”
Luna diam saat mendengar nama laki-laki itu di lontarkan oleh pihak penyidik.
“aku... aku gak tau siapa Aldy”
Jawab Luna,
“Lalu? bagaimana kamu bisa ada di pesta ulang tahunnya semalam? Reyno? apa dia yang ajak kamu ke sana?”
Luna mengangguk. Ia kemudian beralih menatap pengacaranya yang memberikan kode anggukan padanya.
“Luna... kamu dateng ke club itu atas paksaan Reyno atau dengan sadar itu adalah keinginan kamu sendiri?”
“maksudnya?”
Luna kebingungan untuk menjawabnya, ia kembali menatap ayahnya lalu pengacaranya, yang kemudian memberikan kode agar Luna memilih menggunakan hak diamnya untuk pertanyaan yang baru saja itu.
“Rey mengatakan kalau kamu sedang bosan di rumah karena ayahmu yang sedang pergi untuk urusan pekerjaannya, jadi kamu meminta Reyno untuk mengajak kamu pergi bermain kemarin malam, benar begitu?”
Luna hanya mengerutkan dahi dan alisnya, ia jelas menunjukan wajah ketidaksetujuannya dengan ucapan polisi itu.
“PAK!”
Bryan menyela dengan memanggil keras polisi itu, ia tak menyangka harus mendengar perkataan konyol yang di ucapkan polisi itu pada anaknya.
“apa alcohol yang buat kamu sampai tak sadarkan diri karena mabuk semalam, itu Rey yang memaksa kamu buat minum atau kamu sendiri yang meminumnya atas dasar keinginan kamu diri sendiri Luna?”
“Pak! anda menyudutkan anak saya!”
Bryan mulai emosi, namun penyidik itu seolah tak ingin peduli pada sang ayah dari gadis remaja yang sedang di tanyainya saat ini.
“apa hubungan kamu Reyno? apa dia teman dekat? atau pacar mungkin?”
Bryan langsung mendekat pada polisi itu dengan tangan yang kini sudah mencengkram kuat pakaian penyidik yang sedang menanyai anaknya itu,
“APA MAKSUD ANDA??!!!”
Polisi yang tengah di cengkram Bryan itu kini mulai berusaha untuk melepaskan diri dari ayah Luna.
“Pak dengar... kami tak bisa menutup kemungkinan kalau anak bapak ini memang berada di club itu untuk bersenang-senang bersama anak laki-laki yang mengaku sebagai pacarnya, lalu pesta alkohol, sampai mungkin akan melakukan tindakan asusil-“
Bukkkkk
Anggota kepolisian itu langsung di hajar Bryan tepat di mulut yang sudah lancang menyamakan anaknya dengan gadis nakal seperti gambaran dari ucapan polisi itu.
“LUNA ITU KORBANN!!!”
Teriaknya.
“Pak tenang!!”
Pengacaranya kini berusaha untuk menghentikan Bryan yang emosinya jadi begitu tak terkendali.
Begitu pun dengan Luna yang kini hanya bisa mematung, kaget seperti baru saja tersambar api geledek, tak percaya dengan perkataan yang baru saja di lontarkan penyidik itu soal dirinya. Perasaan takut, malu, dan sedih, sampai kecewa pada dirinya sendiri karena sudah membuat ayahnya sampai bertingkah emosi seperti itu kepada penyidik yang ada di hdapannya, kini tengah bercampur aduk tak jelas memenuhi apa yang ada di dalam dadanya.
“Ayah... ayah udah...”
Ucap Luna, ia takut Bryan mungkin saja bisa sampai membunuh polisi itu karena dirinya. air mata mulai bercucuran dari matanya, ia benar-benar harus menghentikan ayahnya yang sangat emosi sekali saat ini.
“AYAH!”
Luna sampai berteriak begitu memanggil ayahnya, akhirnya Bryan mau mengendurkan sedikit cengkramannya pada kerah pakaian penyidik menyebalkan dari kepolisian itu. Bryan menoleh dan menemukan Luna yang sedang menangis karena melihat amarahnya yang tak bisa di kendalikannya itu.
“Luna...”
“Luna coba ceritakan semua yang terjadi di club itu, apa saja yang kamu lakuin sampe kamu bisa mabuk?”
Tanya polisi itu berani, meski ia masih berada dalam cengkraman tangan Bryan.
“Luna... Luna... Luna gak inget....”
Ucapnya bergetar, dan akhirnya tangisnya kini pecah sudah, Luna tersedu-sedu dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
“PERGI! PERGI KALIAN DARI ANAKKU!!”
Bryan menyeret lalu membuang sampai membuat jatuh ke lantai dua tubuh pria yang sudah membuat anak semata wayangnya itu menangis, keluar ruangan. Semua mata penasaran di sekitar ruangan Luna itu jadi melihat keributan yang sedang terjadi antara dua polisi dan seorang ayah itu.
“kalian menyandang status sebagai penegak hukum tapi apa??? apa yang kalian lakukan pada anakku hah??? Luna kutakutan di dalam!!”
Mendengar ucapan Bryan, kedua polisi itu langsung bangkit berdiri, kemudian satu di antaranya terlihat tengah menarik napasnya bersiap untuk membalas ucapan Bryan
“Pak, mungkin saja ini bukan mengarah ke kasus pelecehan seksual tapi lebih kepada kenakalan remaja yang anak anda lakukan-“
“BERANINYAAA!!!”
Bryan yang emosi dan akan melayangkan tinjunya kembali langsung di tahan oleh beberapa orang termasuk oleh salah seorang perawat yang kemarin menjadi saksi di malam kejadian.
“SUDAH!”
“Jangan buat keributan di sini! ini rumah sakit!”
Ucapnya tegas sambil memposisikan diri sebagai penengah di antara keributan yang akan semakin pecah itu.
“Pak, saya saksi dan saya pelapor dari kejadian yang menimpa Luna, apa keterangan saya kemarin malam itu tak cukup untuk di jadikan pertimbangan kasus Luna ini? saya menemukan Luna jelas akan di perlakukan tak pantas oleh anak muda itu! dan-“
“ehem... kami akan tinjau ulang kembali kasusnya, tapi seperti kesaksian semua teman-teman Luna, mereka menikmati hubungan mereka dan itu di lakukan saudari Reyno karena mereka sama-sama sedang dalam hubungan percintaan remaja”
Bryan hanya mampu menggeleng-gelengkan kepalanya saja kini, ia tak tahu harus meng-apa-kan lagi dua polisi yang sudah berlaku tak adil pada anaknya itu.
“Luna yang sedang tak sadarkan diri, dan hampir saja di lucuti-“
“kami sudahi sampai di sini, terimakasih atas waktunya, untuk hasil penyelidikan kasus putri anda akan kami konfirmasi kembali dalam tiga hari kedepan”
Beberapa mata jelas terlihat menatap dua polisi itu dengan sorot tak percaya juga kecewanya, penegak hukum itu jelas bertindak dengan tak berada di pihak Luna. Mereka bahkan seolah menutup mata, enggan tahu bahwa Luna mungkin saja akan menjadi korban pemerkosaan jika Fey dan Bundanya yang kini sudah sangat geram harus mengetahui keadilan yang terjadi pada Luna itu tak datang untuk menyelamatkannya.
“kami permisi”
ucap polisi itu tanpa rasa malu.
“waahh... ini- ini jelas gak adil! ... ahhh!!!”
Sambil bertolak pinggang, Bunda Fey yang sedang memakai seragam lengkap perawatnya kini terlihat jadi sangat emosi karena tingkah polisi itu.
“Pak Bryan, saya akan urus ini bersama tim hukum dari firma kita, jadi bersabar dulu, kita pakai cara kita yang selalu tenang tapi bisa berakhir menang”
Setelah berkata begitu untuk menenangkan Bryan, Pengacara Bryan yang benama Pak Yohan itu langsung bergegas pergi untuk melakukan pekerjaannya menangani kasus Luna.
Bryan yang di liputi rasa kesalnya sampai memukuli tembok berkali dengan kerasnya, tangannya jadi memerah dan memar karena pelampiasan kekesalan yang di lakukannya itu.
“ayah...”
“Luna... sayang....”
Bryan langsung menghampiri Luna yang tengah berdiri sambil menangis tak jauh dari ranjang tempat tidurnya, ia sudah pasti sangat syok sekali saat ini.
“Luna tenang sayang, kita akan buat dia menerima hukuman setelah apa yang dia coba lakuin sama kamu sayang....”
Ucap Bryan sambil memeluki erat tubuh putrinya.
....