#1 Batas Antara Ayah dan Anak

1212 Kata
Satu jam lebih lamanya aku mendengarkan Fey yang bercerita mengenai siapa dirinya. Soal betapa hebatnya dirinya membawa nama sekolah dengan bela dirinya itu, soal Bundanya yang ternyata berprofesi sebagai perawat di rumah sakit ini dan kebetulannya lagi tengah bernasib sama seperti ayahku, yang harus membesarkan Fey sendiri sebagai orang tua tunggal kurang lebih 10 tahun lamanya. Aku juga menceritakan tentang diriku yang di balasnya dengan sangat antusias, saat kusebutkan beberapa negara yang ternyata masuk ke dalam daftar destinasi yang ingin di kunjunginya. Tak lupa aku juga menceritakan soal pertemuanku dengan Rey dan bagaimana kedekatanku dengannya selama ini. “APA? WAHHH b******n GILA YAAA??!!” Fey meninggikan suaranya, saat sebutkan apa-apa saja yang sudah Rey lakukan padaku selama ini. “Luna... denger, itu gak baik... itu- itu- tindakan yang mengarah ke pelecehan seksual, kamu tuh-“ “itu bukan pelecehan, kalo kitanya izinin dia sentuh kita... gitu kata ayah aku, bahkan itu bentuk perasaan sukanya sama aku... anak anjing tetangga aku juga waktu di Singapura suka jilatin aku, ciumin aku, peluk-“ “Luna... Rey itu bukan anak anjing! dia itu... dia itu- manusia yang tingkahnya emang di bawah attitude anjing” Ucap Fey menyanggah perkataanku, aku pikir dia terlalu sarkas padanya. Tapi aku juga jadi dibuat berpikir keras karenanya, Satu persaatu memoriku saat bersamanya bermunculan, seperti saat ia berusaha memasukan jarinya ke area kewanitaanku sampai membuatku kesakitan, lalu saat ayah tak ada di berani mempermainkan dadaku dan membuatku tak nyaman, lalu yang... ah! yang di resto aneh waktu itu, yang sampe aku di buat rebahan... semua momen yang terkesan sangat asing dan membuatku merasakan sensasi aneh. Aku jadi sadar, mungkin semua perasaan dengan sensasi aneh itulah yang di namakan perasaan telah di lecehkan secara seksual. “anjing itu gemesin Luna, tapi yang Si Rey itu kaya minta aku pitesin tau gak...” “jadi... menurut kamu Rey bersikap gitu sama aku, bukan karena suka sama aku tapi karena emang mau berbuat jahat sama aku?” Aku sampai pada kesimpulan itu, bahwa ia sikap yang ia tunjukan padaku bukanlah karena perasaan sukanya padaku tapi berniat ingin menyakitiku. “iya!!! ah kepala aku sakit hadapin kamu... pokoknya besok jangan baikin-baikin dia di depan penyidik, dia yang sentuh kamu yang perlakuin itu sama kamu... itu mau ambil ‘manfaat’ aja dari kamu Luna, buat puasin hasrat yang mereka punya...” Ucap Fey padaku. “Rey... dia juga sempet bilang kaya gitu sama aku Fey... kalo aku ini udah gede bukan hal wajar lagi kalo ada yang sentuh aku di bagian tubuh tertentu...” Ceritaku dengan suara yang cukup pelan pada Fey. “kapan? itu pasti cuma akal-akalan dia aja, biar cuma si Rey aja yang bisa sentuh kamu... dasar emang tu anak, udah jadi b******n, egois lagi” “waktu dia.... liat ayah aku sentuh bagian yang dia juga sentuh... waktu itu dia sampe narik aku ke ruang Bimbingan Konseling buat laporin ayah aku yang udah lecehin aku katanya...” “Luna...” Fey kini menatapku dengan cara yang berbeda, matanya jadi sangat melebar dan membulat. Bahkan nada suaranya yang memanggil namaku juga jadi ada banyak napas yang mengikuti ujung katanya. “kamu... kamu... diapain aja sama ay- ayah kamu... yang tadi... Om tadi dia-“ “Fey kamu gak ngerti... ayah aku gak lakuin itu buat ambil ‘manfaat’ sama kaya Rey, dia bantu aku, dia jagain aku... dia-“ “Luna...” Bunda Fey menyela perkataanku dengan memanggilku namaku lirih begitu. Entah sejak kapan ia berdiri di ambang pintu kamar inapku. Aku menunduk kini, sementara ujung mataku menemukan kakinya yang tengah melangkah mendekat ke arahku. “Luna... Bunda ngerti sayang... ayah kamu sentuh area tubuh kamu yang cukup privasi itu, sebagai wujud kasih sayang orang tua... tapi mau bagaimanapun ayah kamu itu adalah seorang pria, sementara kamu adalah gadis remaja yang akan tumbuh menjadi wanita dewasa... meski ayah kamu sendiri yang rawat dan jaga kamu, juga urusin semua keperluan kamu dari bayi hingga sebesar ini... sudah saatnya kamu bisa menjaga hal yang menjadi privasi dari diri kamu ini sayang” Jelasnya sambil mengusapi kedua sisi lenganku. “Bunda... ayah aku adalah seorang ayah, dia bukan pria... ayah aku gak sama kaya Rey atau pun pria di luar sana...” Kataku pada Bunda Fey. Jujur saja aku mulai takut saat ini, harus tahu bahwa ada batas antara ayahku yang seorang pria dan aku yang akan jadi seorang wanita dewasa. Aku pikir selama ini ayahku tak bisa di kategorikan sebagai seorang ‘pria’ karena dia adalah ayahku, seorang ayah, manusia yang juga sudah selalu bertindak layaknya Ibu bagiku. “Luna...” “aku- aku bisa apa tanpa ayah...” Kataku sambil menangis ketakutan harus mengetahui tersenyata selama ini seharusnya ada tembok tinggi yang membatasi antara diriku dan ayahku. “ada Bunda... ada Fey... mulai saat ini kamu juga punya kita sayang...” Bunda Fey memelukku erat, ia memberiku ketenangan. “tenang Luna aku bakal jadi sahabat yang selalu bisa jagain kamu...” ucapnya sambil ikut ke dalam pelukanku dengan Bundanya itu. ... Ini sudah pukul 12 malam lewat, Bunda Fey dan Fey pamit untuk pulang satu jam yang lalu. Dan sejak saat itu pula aku berpura-pura memejamkan mataku layaknya orang yang sedang lelap tertidur. “Luna... maafin ayah... ayah janji gak akan pernah tinggalin kamu lagi” Ucap Ayahku yang sedari tadi memegangi tanganku dan mengelusi puncak kepalaku. Aku tak tahan dan ingin menangis mendengarnya. Kurasakan lembut tangan ayahku membelai wajahku, aku tahu ayahku sangat khawatir kini pada keadaanku. Aku juga cukup tahu bagaimana bersalahnya dirinya saat ini, kata bahkan maaf tak pernah absen terucap dari mulutnya sedari tadi selama ia berada di sampingku untuk menemaniku. Sampai akhirnya aku merubah posisiku jadi menyamping menghadap kepadanya. kubuka mataku perlahan. “ayah...” “sayang....” “Luna baik-baik aja, jadi berhenti minta maaf” “engga sayang... ayah jelas harus minta maaf sama kamu... maaf gak bisa jagain kamu sayang...” .... Author Pov “maaf... maaf sayang... maaf” Bryan tak bisa berhenti untuk meminta maaf pada putrinya. Ia merasa sangat bersalah, pertama karena telah meninggalkan Luna, kedua karena ia telah membiarkan Luna sampai dekat dengan seseorang seperti Rey yang malah membuatnya jadi berakhir di rumah sakit seperti ini. dan terakhir mungkin ia tak akan bisa membuat Rey mendapat hukumannya karena dokter mengatakan hasil visum fisik Luna tak bisa menjadi bukti kuat dalam perkara kasus kekerasan seksual yang baru saja di alaminya. karena tak di temukannya luka memar atau apapun selain dari kadar alcohol tinggi dalam darah Luna yang tak bisa menujukan bahwa Rey lah yang membuatnya berada dalam pengaruh efek alcohol yang tinggi sekali sampai tak sadarkan diri. Sampai esokan paginya, Luna tampak baik-baik saja, ia masih tak mengingat apa-apa saja yang terjadi selama di club sahabat Rey itu. “Luna... nanti kamu bakal di tanyain sama polisi, jadi... jawab aja sebisanya, jangan maksain dan lagi jangan-“ “iya ayah... Fey juga udah bilang tadi malem... jangan baik-baikin Rey di depan penyidik” “tapi gak ngarang cerita juga sayang... jawab aja sejujurnya, sebisa kamu... kalo nanti pusing atau badan kamu tiba-tiba sakit, langsung bilang ayah okey” Bryan terus menasihati Luna, ia benar-benar tegang saat ini. Terlebih setelah ia di beritahu oleh pengacaranya ternyata tak ada banyak bukti yang bisa menjadikan Rey sebagai pelaku tindak pelecehan seksual pada anaknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN