Luna terlihat mengerjap-ngerjapkan matanya, bulu matanya yang lebat dan lentik itu kini sedang berusaha diangkatnya.
Ia sedikit mengerang sampai Fey yang tertidur saat di mintai untuk menjaga Luna kini jadi terperanjat dan menghampiri Luna dengan paniknya.
“Luna...”
“Luna... Luna... Luna”
Fey ketakutan melihat Luna yang seperti tengah kesakitan, ia bahkan memegangi kepalanya sambil terus mengerang.
“ah... gimana ini...”
“Luna, bentar aku panggil dokter dulu...”
Ucapnya pada Luna, ia langsung berlari ke luar ruangan untuk mencari dokter yang menanganinya tadi.
“dokter... dokter....”
Fey terus memanggil manggil dokter yang namanya tak di ingatnya itu. Ia sangat ketakutan dengan kondisi Luna saat ini.
Sampai kemudian matanya bukan menemukan dokter Luna, tapi menemukan Bundanya yang berdiri di lorong rumah sakit menatap kaget Fey yang tengah berlarian dengan paniknya.
Fey berlari menghampiri Bundanya dengan napas yang berusaha di aturnya.
“Bunda bunda bunda bunda... Bunda-“
“apa? ada apa?”
Fey malah menunjuk-nunjuk ke arah ruangan Luna dengan napas yang terputus-putus dan tengah coba di normalkannya.
“Fey ada apa sih? kenapa?”
Bundanya jadi ikut panik saat ini karena tingkah Fey yang sangat tak jelas itu.
“Bunda... Luna Bundaaa!!!”
Ucap Fey dengan nada bergetarnya.
“Fey liat Luna duluan di kamarnya”
Sadar mungkin telah terjadi sesuatu pada Luna, Bunda Fey meminta anaknya itu untuk kembali ke ruangan Luna.
Sementara itu Bundanya langsung menghampiri meja receptionist yang sialnya sedang tak ada petugas yang berjaga, ia lantas menekan nomor dokter yang sangat di butuhkan oleh Luna saat ini. Bunda Fey menghubungi Dokter Luna, ia mengatakan kondisinya yang sedang darurat dengan tegas dan lugas, karena ibunya Fey yang kebetulan berprofesi sebagai seorang perawat di rumah sakit itu, jadi ia sangat tahu di jam-jamnya seperti ini dokter yang merawat Luna sedang melakukan control malam pada beberapa pasiennya.
***
Luna pov
...
Kepalaku sangat pening sekali, berat, sakit, berdenyut rasanya ingin pecah seketika. Pandangan mataku kabur dan jadi sulit sekali untuk di buka.
“ah!”
Kuremas kepalaku untuk menghentikan denyutnya yang terasa seperti akan meledak.
“Lunaa... Luna...”
Suara perempuan yang tengah memanggil namaku dengan nada ketakutannya itu, terasa asing bagiku. Mata yang kusipitkan karena sakit yang semakin tak tertahankan, membuatku sulit untuk melihat beberapa wajah yang kini mulai menedekat kearahku.
“Luna... Luna... dengar saya?”
Tanya seseorang yang berpakaian putih itu. Aku merasa asing saat ini, dimana ini? dan siapa mereka?
“aku di mana?”
Tanyaku
“Luna...”
Tanganku yang semula memegangi kepalaku, di turunkannya oleh wanita berjas putih khas dokter itu, aku sudah bisa menebak di mana lagi aku terbaring sekarang ini kalau bukan di rumah sakit.
Bahkan tangan dokter itu kini membelalakan mataku dan di periksanya kedua mataku itu dengan senter kecil yang di keluarkannya dari dalam jas sakunya itu.
“dokter aku kenapa?”
Tanyaku pada dokter yang sedang memeriksaku.
“tadi sebelum kamu pingsan, kamu ingat lagi di mana?”
Kupejamkan mataku, hanya ada bayang hitam dan aku tak mengingat apapun.
“aku... aku kenapa bisa sampe di sini? aku kenapa... ayahhh....”
Aku langsung takut atas apa yang telah terjadi padaku. Aku ingin ayahku,
“ayah aku di mana dokter??”
Baru kutanyakan keberadaan ayahku pada dokter yang tepat tengah berdiri di sampingku. di detik berikutnya mataku langsung menemukan sosoknya yang sedang berlari dan langsung memelukku.
“Lunaa...”
“ayahhh....”
Kupeluki erat tubuhnya, mencari keamanan darinya.
“ayaaah... Luna kenapa? kenapa kepala Luna pusing, terus... terus... Luna- Luna kenapa bisa di sini?”
“ayah di sini sayang, maafin ayah gak bisa jagain kamu... dokter Luna kenapa? kenapa dia kaya gini?”
Tanya ayahku pada dokter yang sudah memeriksaku itu.
“sepertinya minuman yang Luna minum itu memiliki kandungan alcohol yang cukup kuat, bahkan kadar alcohol dalam darah Luna di atas 14%, di tambah lagi dengan tubuh Luna yang mengalami kenaikan kadar alcohol lebih cepat yang menyebabkan ia mengalami kondisi Blackout saat ini”
“Blackout?”
Tanya ayahku kaget, begitu juga dengan dua orang lainnya yang kini sedang berdiri di ruanganku.
“Blackout adalah kondisi dimana seseorang mengalami hilang ingatan setelah mabuk, dan biasanya ini terjadi pada beberapa orang yang mengkonsumi alcohol itu secara berlebihan”
“alkohol? aku? aku- mabuk? ayah Luna... Luna... cuma-”
Aku berusaha mengembalikan ingatanku, rasanya tak mungkin sekali aku bisa sampai menyentuh alcohol. tapi yang ada suara berdengung malah kini terasa begitu menusuk isi kepalaku.
“aa!!!”
Aku memekik jadinya.
“Luna... Luna...tenang sayang”
Ayahku mendekapku erat yang kini sudah berurai air mata.
Aku tahu, tak seharusnya aku menyentuh alcohol, ayahku jelas selalu memperingatkanku untuk tak sampai setetes pun minuman itu sampai di lidahku. tapi apa sekarang, aku... aku malah sampai seperti ini karena alcohol katanya, dan sialnya aku tak bisa mengingat apapun, aku harus bagaimana.
“ayah... maafin Lunaaa....”
kataku sambil kusembunyikan wajahku di dadanya, aku merasa sangat bodoh sekali.
“gak papa sayang... gak papa, yang penting kamu bisa baik baik aja dulu sekarang...”
“ayahhh....”
***
Setelah aku jadi lebih tenang, ayahku pergi karena harus menemui dokter untuk membicarakan lebih lanjut mengenai kondisiku. Dan kini aku di tinggal dengannya, sosok yang hanya pernah sekali saja kutemui, namun kini malah telah berjasa sekali dalam hidupku ini.
Canggung.
Aku juga sangat takut untuk bertanya bagaimana? kenapa? dan kapan? bersama siapa aku saat di temukan lalu di selamatkan olehnya.
“Luna...”
Ucapnya padaku sambil tersenyum.
“hhh... makasih banyak, aku- aku... bodoh sekali ya sampai minum alcohol terus jadi bikin kamu sama bunda kamu kerepotan”
Kataku padanya.
“ehmmm... engga engga... kamu gak gitu kok, emang dasar aja si b******n Rey-“
Aku terbelalak saat nama laki-laki itu terucap dari mulutnya. dan kini ingatan terakhirku muncul dalam bayangku.
“ah iya... Rey ngajak aku buat pergi ke sana...”
Kini potongan potongan memori di kepalaku muncul meski sayangnya tak jelas dan acak-acakan. hanya ada gambar Rey yang mengajakku main, lalu aku di suruhnya berganti pakaian, club, dan suasana gaduh dari music yang berdentum sangat keras.
“hhh... tenang Luna, dia udah aku banting, dua kali malahan, wajah songongnya juga udah aku bikin babak belur terus-...”
Fey jadi merapatkan bibirnya saat tahu aku menatapnya serius dan telingaku seksama mendengarkan apa yang telah di lakukannya pada Rey.
“maaf... aku emang selalu bersemangat, intinya dia udah aku habisin kok, jadi dia gak akan berani ganggu kamu lagi”
Ucapnya masih dengan nada yang benar apa katanya, bersemangat, padaku.
“sekali lagi makasih banyak, kalo gak ada kamu... mungkin aku- aku udah....”
Tak bisa kulanjutkan dan tak bisa juga kubayangkan hal buruk yang mungkin terjadi padaku jika Fey dan Bundanya tak datang menolongku.
“seharusnya aku dengerin apa kata kamu waktu itu... seharusnya aku jauhin Rey sejak awal... aku pikir semua yang dia lakuin sama aku, itu normal... itu yang di lakuin orang ketika ingin dekat pada kita...”
“Luna jangan gini... jangan salahin kamu kaya gini... kamu jelas korban di sini... dan cuma dia yang pantes buat di salahin atas kejadian ini...”
Ucapnya sambil memegang tanganku, lalu kutatapi wajah manisnya dengan rambut pirang dan ikalnya yang kini tengah menatapku lekat-lekat,
“makasih Fey, tapi semua ini gak akan terjadi kalo aku bisa jaga diri aku lebih baik lagi...”
“kamu bisa kok Luna, kamu bisa belajar dari semua ini, kita sebagai perempuan harus jadi lebih kuat dan jangan mau lagi di kibulin sama cowok-cowok b******k kaya si Rey... okey”
“mana bisa... sekarang aja buat bangun, kepala aku berat sama pusing banget... terus kejadian aku sampe kaya gini, bahkan aku gak inget sama sekali gimana ceritanya...”
“tenang ada aku... aku yang mulai saat ini bakal terus jagain kamu... gini-gini aku ini atlit taekwondo putri loh, medali emas lagi... aku bisa jagain kamu 24 jam...”
Aku tersenyum mendengarnya.
“makasih banyak Fey... jadi... kita temenan?”
Tanyaku memastikan.
“okey, Luna yang cantik banget kaya boneka... mulai saat ini kita temenan....”
Aku berjabatan tangan dengannya, sebagai tanda jadi persahabatanku dengannya.
“tapi... kamu beneran gak inget apa-apa? kalo polisi minta kesaksian kamu besok... terus gimana dong???”
Tanyanya padaku dengan raut wajah kebingungannya.
“polisi?”
.....