Ayah Luna hanya bisa memantung kini, ia merasa buruk sekali sudah meninggalkan putrinya dan membiarkannya terluka, di tambah lagi ia harus mendengar kritik yang baru saja di lontarkan ibu dari teman Luna.
Dengan pandangan yang sedikit kaburnya, Bryan kemudian menatapi anaknya yang tertutupi selimut asal oleh Bunda Fey yang tak terima melihat Luna yang di kirannya akan di pelukakukan tak baik oleh ayahnya sendiri.
Langkah Bryan mendekat ingin menghampiri anaknya,
“Om”
Fey menghadang langkahnya itu.
“Luna biar Fey aja yang urus”
Bryan terdiam sebentar, ia memejamkan matanya.
“Rey... dia ada di kantor kepolisian sector kota bukan?”
tanya Bryan dengan nada dinginnya.
“ehmm iya... Bunda juga kan lagi dalam perja-“
Bryan tak mendengarkan perkataan Fey setelah ia mendapat jawaban ‘Iya’ itu, ia cepat mendekat pada Luna yang tak sadarkan diri lalu di kecupnya singkat kening Luna,
“titip Luna”
Ucap Bryan sebelum berlari cepat meninggalkan ruangan anaknya itu dan menuju mobilnya.
Brummmm
Suara gas mobil yang tancapnya keras, membuatnya melaju dengan cepat keluar dari area rumah sakit. Bryan mengemudi dengan tak mempedulikan pengendara lainnya, seoalah jalanan itu miliknya sendiri. beberapa kali ia hampir menyerempet mobil lainnya, beberapa kali juga ia harus mendengar umpatan dan klakson mobil yang di salipnya.
Ia tak peduli, yang ada di dalam kepalanya kini. ia harus membunuh tangan yang sudah berani melukai putri semata wayangnya.
...
Sementara itu di kantor polisi, pria muda yang tengah duduk dengan sangat tak nyamannya karena mengalami sakit di bagian bahunya karena telah mendapat bantingan sebelumnya, mulai menceritakan kronologi yang terjadi menurut versinya kepada salah seorang penyidik.
“Pak dengar saya ini tak melakukan apapun padanya, dia itu memang anak nakal, dia bahkan yang ajak saya keluar, dia yang selalu menggoda saya, Pak”
Reyno mengada-ngada keadaannya, ia jelas tak ingin di salahkan sampai membuat cerita seperti itu. Padahal jelas jelas saat di temukan oleh saksi Lunalah yang tengah terbaring tak berdaya di mobilnya dengan kadar alcohol dalam darahnya yang sudah cukup tinggi.
“lalu bagaimana kejadiannya sampai teman perempuan kamu itu bisa tak sadarkan diri dengan pakaiannya yang sudah berantakan, kalau bukan kamu pelakuknya? lalu siapa?”
Tanya polisi itu pada Rey, membuat Bunda Fey yang kini sedang duduk dan menunggu giliran ditanyai jadi geram, padahal sudah jelas pelakunya ada di depan mata penyidik berjaket hitam itu.
“itu... itu-“
bukkkkk bukkkk
“aahh!!!!”
Suasana jadi ricuh saat beberapa kali l kepalan tangan di layangkan, menghantam pipi remaja tampan itu.
“KAMU APAKAN LUNAAA!!!!”
“BAJINGANNNN!!!”
Bryan yang terbakar emosi itu, benar-benar sudah tak bisa dihentikan dan ingin terus menghabisi laki-laki yang sudah membuat putrinya sampai terbaring di rumah sakit saat ini.
“sudah!! hentikan Pak!!”
Bryan berusaha di tahan oleh beberapa anggota kepolisian, tubuhnya di tarik mundur dari atas tubuh Rey yang baru saja di hajarnya habis-habisan.
“tenang!”
Bryan membuang tangan polisi itu dari tubuhnya.
“tenang??!!! bagaimana aku bisa tenang???!!! dia telah melecehkan putrikuuu!!!”
Amuk Bryan pada polisi yang bertugas untuk mengurusi kausu anaknya itu.
“sabar Pak, kami akan berusaha untuk mengurus kasus putri bapak”
“hahahh... hahahhah”
Tiba-tiba saja Reyno dengan wajah yang sudah babak belur dan tengah terbaring di lantai itu malah tertawa sekeras-kerasnya.
“BERANINYA-“
“apa? melecehkan? Pak dengar...”
Bryan membangunkan tubuhnya dan menyempatkan diri untuk menyeka darah di ujung bibirnya ulah pukulan keras Bryan barusan itu.
“kalau hanya aku di sini yang dihukum karena telah melakukan tindak pelecehan, itu tak adil, karena aku hanya menirukan apa yang anda lakukan Mr. Bryan”
Semua mata langsung tertuju pada sosok ayah yang tengah di penuhi api kemarahannya itu.
“aku hanya menyentuh apa yang biasa tanganmu sentuhkan pada tubuh Luna”
bukkkk
Sekali lagi hantaman keras mendarat di wajah Reyno.
“jangan pernah berani sebut nama anakku lagi! atau kurobek mulutmu ini!!!!”
“Pak! Pak! sudah!!”
Bryan di tarik kembali oleh salah seorang polisi lalu diseretnya ayah Luna itu untuk memasuki ruangan yang cukup jauh dari keberadaan Rey yang sudah berulang kali di hajarnya itu.
“Pak, kasus ini kan kami urus sebaik mungkin, kami juga membutuhkan keterangan dari anda sebagai wali Luna...”
“di urus dengan baik? bagaimana? hah? katakan bagaimana? kalian hanya akan mengurungnya beberapa bulan atau bahkan langsung membeskannya dengan syarat, tapi bagiaman dengan Luna... Luna- dia- dia mungkin akan mengalami trauma hebat karena kejadian ini!!!”
Bryan berurai air mata mengungkapkan kekhawatirannya soal kondisi anaknya itu pada Polisi yang menjabat sebagai kepala penyidik itu.
“kami akan berusaha menegakan keadilan dan membuatnya menerima hukuman sesuai dengan apa yang harus di terimanya”
Bryan tak tahan dengan keadaan saat ini, ia merasa telah gagal menjaga Luna, tubuhnya yang bersandar pada dinding kini merosot jatuh berjongkok. Bryan hanya bisa menangisi juga sangat menyesalkan apa yang telah terjadi.
“bersabarlah Pak”
Kepala penyidik itu menepuki pundak yang membungkuk itu berusaha memberikan kekuatan padanya, sebelum ia kembali ke ruangannya untuk mengurusi kasus Luna.
Dan tak lama kemudian Bunda Fey yang baru saja selesai menjelaskan kronologi sebagai pelapor dan saksi kini sedang berjalan menghampiri Bryan.
“Pak Bryan?”
Bryan hanya mendongak, lalu diam menatap Bunda Fey yang memanggilnya itu.
“bisa kita bicara? saya tahu ini sulit bagi anda dan maaf soal kejadian di rumah sakit tadi”
.....
@café’
Bryan dan Bunda Fey itu kini tengah duduk canggung, berhadapan di sebuah café tak jauh dari rumah sakit tempat Luna terbaring.
“mungkin besok... anda yang akan di panggil kepolisian untuk memberikan keterangan... begitu juga dengan Luna...”
Ucap Bunda Fey itu mengawali pembicaraan.
“saya belum mengucapkan terimakasih dan malah membentak anda yang telah menyelamatkan putri saya... Terimakasih banyak”
Bryan membungkukan tubuhnya menujukan rasa terimakasihnya yang terdalam pada Ibunda Fey itu.
“tak seharusnya saya juga tadi membantak anda, saya mengerti bagaimana khawatirnya anda melihat Luna yang baru saja di perlakukan seperti oleh anak itu”
Balas bunda Fey
gulp
Bunda Luna menelan ludahnya kasar, ia ingin bertanya dan ingin mengetahui lebih lanjut mengenai Luna, juga soal bagaimana ia di besarkan selama ini. Bunda Fey tak bisa menutup matanya bahwa kemungkinan besar ayahnya Luna itu tak tahu batasan memperlakukan anak perempuannya yang sudah beranjak remaja itu. Terlebih lagi pengakuan dari Rey tadi, membuatnya semakin menaruh banyak curiga padanya.
Berusaha memberanikan diri, Bunda Fey itu meneguk dulu minuman dingin di depannya, bersiap untuk mengajukan pertanyaannya.
“apa Luna selama ini tumbuh dengan baik-baik saja? maksud saya-“
“Luna tak memiliki Ibu... dia selalu berdua bersama saya sejak ia lahir ke dunia ini”
Bryan memotong kalimat Bunda Fey, sampai kini ibu dari teman sekolah anaknya itu jadi merapatkan bibirnya, tapi dengan mendengar perkataan Bryan itu akhirnya bunda Fey mengerti bagaimana keadaan juga situasinya.
“jadi anda membesarkan Luna selama kurang lebih 16 tahun ini sendiri? tapi... bagimana- anda-”
Bunda Fey tak jelas bertanya kini, sulit baginya untuk merangkai pertanyaan agar tak menyinggung ayah tunggal dari teman anaknya itu.
“Luna...hufttt... karena tak pernah ada wanita di antara saya dengannya selama ini, dia... hanya selalu bergantung pada saya, saya yang harus menjadi ayah juga ibu untuknya... bahkan untuk hal-hal yang menyangkut soal kehidupannya sebagai seorang perempuan...
Bryan menarik napasnya sejenak sebelum meneruskan kembali ceritanya
“...terlebih sejak ia tumbuh jadi seorang remaja, saya tahu segalanya akan berubah mulai dari fisik, psikis juga dari sisi emosionalnya... saya selalu berusaha untuk ada di sampingnya, memegangi tangannya di tengah-tengah dirinya yang saya tahu sangat kelimpungan sekali karena perubahan yang sialnya sama sekali tak bisa saya mengerti”
cerita Bryan pada Bunda Fey
“ehhem...”
Bunda Fey di buat cukup kaget mendengarnya, ia tak tahu akan menemukan jenis keluarga yang seperti itu. Bunda Fey yang merupakan seorang ibu, ia tak bisa membayangkan bagaimana kehidupan remaja perempuan itu saat ia mengalami perkembangan sekundernya, seperti membesarnya bagian payudaranya kemudian mengalami menstruasi pertamanya yang tentu membuatnya amat kesulitan. tak terbayangkan juga olehnya bagaimana sulitnya ayah tunggal di hadapannya itu harus membesarkan anak gadisnya itu sendirian selama ini.
“apa tak ada kerabat? atau temannya yang mungkin bisa membantunya selama ini?”
“dia selalu berada dalam penjagaan saya selama ini dan tak ada satu orang pun yang hadir dalam kehidupan kami... saya semakin ketat mengawasi Luna saat tahu pergaulan yang semakin bebas di luar sana...”
“tapi di satu sisi, mau tak mau saya juga harus mulai menerima bahwa dia akan memiliki kehidupannya sendiri dan tak akan bisa selalu bergantung pada saya... dia akan dan harus tumbuh menjadi wanita dewasa... karenanya saya mulai mendorongnya untuk bergaul dengan seorang teman yang tadinya saya pikir karena berasal dari keluarga terpandang dia akan bisa bersikap sangat baik, tapi- tapi malah... saya malah-“
Bryan tak kuasa melanjutkan ceritanya. kecerobohannya dan memilihkan Luna seorang teman membuatnya malah harus berakhir dengan alcohol dan terbaring tak berdaya di rumah sakit saat ini.
“memang sulit membesarkan anak yang akan beranjak dewasa, kita tak bisa memperlakukannya sebagai anak kecil lagi, tapi kita juga tak bisa memperlakukannya sebagai manusia dewasa dengan membebaskannya melakukan apa yang ingin dilakukannya... kalau boleh saya tahu bagaimana selama ini anda menjaganya?”
Bryan mengambil napas dalam-dalam, berat untuk mengatakannya, karena sesungguhnya tak ada yang mudah baginya dalam membesarkan Luna selama ini, bagaimana dia ingin mengerti dan memahami ketika ia tak bisa merasakan sendiri karena dia tak sama, karena Bryan adalah seorang pria sementara Luna adalah anak perempuannya.
Tapi kemudian ia berpikir mungkin inilah saatnya ia berbagi kesulitan yang selama ini sudah di tanganngungnya seorang diri.
“saya selalu menjaganya dengan perlakuan yang sama seperti saat ia masih kanak-kanak, di usianya yang sudah 16 tahun tapi bagi saya dia adalah anak umur tiga tahun yang baru saja bisa melangkah dan bisa berbicara beberapa kalimat saja... dia bahkan masih selalu kesulitan mengungkapkan dan menjelaskan apa yang tengah di rasakannya... dia masih belum siap untuk mengahapi dunia yang kejam ini...”
“karena ia tak pernah mendapatkan sentuhan dan kasih sayang seorang ibu, saya selalu bertindak sebagai ibu untuknya... saya ingin menenangkan dirinya saat ia sedang kesulitan dengan tubuhnya yang sedang dalam pertumbuhan yang pesat itu”
Bunda Fey tertarik saat kata sentuhan itu terucap dan menjadi bagian dari penjelasan Bryan
“sentuhan? seberapa jauh sentuhan yang anda maksud Pak Bryan?”
Bryan cukup sadar kecurigaan bahwa dirinya yang telah menyentuh anaknya layaknya laki-laki b***t itu menguasai bunda dari teman sekolah Luna.
“saya bukan ayah yang akan melukai bayi saya sendiri, putri yang sangat saya cintai... saya menyentuhnya sebagaimana yang di lakukan seorang ibu, seorang wanita...saya mengurusi dan menjaga tubuhnya yang saya tahu bukan lagi anak umur empat tahun lagi itu dengan-”
“tapi anda seorang pria Pak, anda tak bisa merubah itu, saya tahu dan saya mengerti bagaimana keinginan anda yang ingin menjaga dan menyayangi putri anda... tapi bukan seperti itu caranya....”
Bunda Fey kemudian mengeluarkan kartu nama dari dalam tasnya dan di berikannya pada pada Bryan.
“ini adalah kartu nama seorang psikolog yang saya kenal, anda membutuhkannya baik untuk pendampingan Luna setelah kejadian buruk yang menimpanya, dan mungkin anda membutuhkannya untuk konseling sebagai orang tua yang bertanggungjawab untuk membesarkannya....”
Bryan menatapi kartu nama yang baru saja di terimanya.
“saya harus kembali lebih dulu, Fey dan Luna sudah terlalu lama di tinggalkan”
....