#2 Si Gossip Girl dan Kondom di Tas Luna

2324 Kata
Pagi ini sepertinya aku benar-benar akan berangkat dengan Billy, “ayah... jahat banget sih gak mau anterin anaknya ke sekolah” “leher ayah sakit sayang... ayah mau tidur lagi abis sarapan” Balasnya, tapi kalau aku perhatikan lagi ayahku itu jelas sehat-sahat saja, bahkan ia sempat sempatnya memasakan bekal makan untukku hari ini. “itu nanti di bagi berdua ya makannya sama Billy” Ucapnya padaku, ayahku entah sudah di pellet atau bagaimana oleh Billy aku tak tahu, kenapa dia baik sekali padanya. “ayah... ayah gak di sogok kan sama Billy?” Tanyaku pensarasan “di sogok?? ayah? waahh... buat apa ayah terima sogokan dari anak SMA sayang...” “terus kenapa baik banget sama Billy?” Ayahku meletakan rotinya terlebih dahulu sebelum menjawab pertanyaannku itu. “ayah tuh gereget aja sama kalian, lagian kamu gak mau liat hasil dari waktu yang kamu habisin kemarin-kemarin buat liatin fotonya terus, kepikiran dia terus, sampe cangar cengir sendiri kaya orang gila apa? masa udah di bikin jatuh cinta segila itu gak mau sampe jadian sih” Ada benarnya juga apa kata ayah, kalau aku hanya sampai di sini saja semua waktu yang kuhabiskan untuk marah, senang, karena memikirkan Billy akan sia-sia begitu saja dong. Tin tin tin Klakson bunyi motor Billy sudah terdengar di depan gerbang sana, itu artinya aku harus segera berangkat ke sekolah, “Billy udah sampe kayanya, Luna berangkat ke sekolah dulu ya” “ehm... hati-hati, bilangin ke Billy bawa motornya jangan ngebut-ngebut ya sayang” “ehmm.... dah ayah” Aku menyempatkan diri untuk memeluknya dan mendapat kecupan di kening dari ayah sebelum melangkah keluar dan menemui Billy. “Pagi Luna...” Sapanya dengan senyum cerahnya padaku pagi ini, “ehm... pagi Billy” “ayah kamu? aku sapa ayah kamu dulu... atau-“ “gak usah, ayah aku lagi sakit leher katanya” Kataku, padahal sebenarnya aku tak ingin saja mereka bertemu dan akan membuatku harus berangkat siang ke sekolah, karena rencananya aku akan mampir dulu ke supermarket untuk membeli kondom milik Pak Dewa yang sudah Fey dan aku buka beberapa hari yang lalu. Aku harus mengembalikan training olahraga Pak Dewa berikut dengan kondomnya. “oh ya? tapi gak papa kan? udah minum obat? apa mau di bawa ke dokter?” “hhh... aku gak tau sakitnya itu beneran apa boongan, liat aja di di sana” Kataku pada Billy sambil menoleh ke arah jendela tempat di sanalah ayahku tengah berdiri dan memperhatikan anaknya dengan teman laki-lakinya ini. Aku sadar itu sedari tadi, ayahku ternyata kepo-an sekali pada hubunganku dan Billy. “ah iya itu ayah kamu lagi liatin kita...” Billy tersenyum lalu menganggukan kepalanya sebagai ganti sapanya pada ayahku yang kulihat kini juga ia sedang balas melambaikan tangannya, “mana ada orang sakit senyumnya ngalahin sinar matahari pagi ini, ckckckkk....” Billy terkehkeh saja mendengar gerutuku pada ayahku itu. “yaudah kita berangkat sekarang yu” “Billy nanti bisa anter aku ke supermarket dulu bentar ya... aku mau beli sesuatu soalnya” “okey, buat kamu apa sih yang engga” Balasnya, dia membuatku malu saja. Billy memang baik sekali, hangat dan perhatian sekali padaku tak heran kalau aku sampai memiliki hati untuknya, selain pada guru olahragaku itu tentunya. Akhirnya kemudian aku naik motornya lalu melaju bersamanya untuk menuju ke supermarket terdekat lebih dulu. Hanya butuh waktu 15 menit saja untuk aku sampai di salah satu store yang setelah kucari di google bahwa di sinilah tempat kondom itu biasanya berada. “cari apa dek?” “ehmm... itu, apa ada kondom?” Tanyaku dan yang kutanyai malah membulatkan matanya sambil menutup mulutnya. Kaget. Ya tentu pastilah kaget, karena setelah kuingat lagi ayahku saja sampai kaget dan marah sekali saat tahu aku yang memegang dan memainkan kondom beberapa hari yang lalu. “itu... buat orang dewasa dan gak bisa-“ “tunggu tunggu tunggu dengerin aku dulu Mbak, aku harus lurusin kalo itu bukan buat aku, aku cuma mau ganti kondom yang sempet aku rusak milik orang lain aja kok...” Kulihat ia sedikit berpikir saat ini. “boleh ya? aku beli dua kali lipat dari harga deh” “dari merk apa? apa ada request ukurannya?” Tanya pramuniaga depstrore itu “ooh... itu segede gini, yang bisa masuk buat seukuran jempol tangan aku” Kataku sambil mengacungkan ibu jariku sebagai patokan ukuran kondom yang kubutuhkan, tapi kulihat pelayan itu kemudian malah tertawa kecil kecil sambil menutupi mulutnya setelah mendengar jawabanku itu. “kenapa? ada yang salah?” “itu ukurannya sekecil itu? itu gak salah? kamu gak beli buat anak kecil kan?” “engga kok, buat orang dewasa” Balasku, “dari apa? durex atau fiesta?” “ah iya itu Fiesta yang warna pink” “yaudah ini... jangan di pake buat sembarangan ya, langsung di kasiin ke orangnya” “iya makasih...” Setelah drama kecil membeli kondom itu, aku kemudian langsung memasukannya ke dalam saku training milik Pak Dewa dan berjalan keluar dengan cepat, takut-takut Billy kesal karena terlalu lama menunggu di bawah. “udah? beli apa sih?” “ehmm... secret, kamu gak perlu tau” Balasku padanya, “bikin penasaran deh, apa sih??” “kepo deh, ayo berangkat nanti gerbangnya keburu di tutup Pak Satpam” “yaudah ayo cepet naik” Akhirnya Billy mau menyerah dan kini ia sedang membantuku memasangkan kembali helmku. Setelah itu ia mulai melaju kembali di jalanan menuju ke sekolah. Begitu sampai di sekolah ternyata masih sisa lima belas menit lagi saja sebelum gerbang di tutup, tapi anehnya suasana di sekolah hari ini tampak lebih ribut dari biasanya. Entah apa yang sudah aku dan Billy lewatkan karena datang agak siang pagi ini. “ribut banget ya” “ehm... ada apa sih? kita lewatin info update sekolah deh kayanya” “Luna, sini” Ucapnya sambil menggenggam tanganku, “Billy, kita lagi gak akan nyebrang jalan kenapa kamu pegang tanganku” “orang-orang ribut di sana bisa nabrak kamu lebih kenceng dari pada mobil di jalanan tau gak, kalo kamu nanti ketabrak mereka terus jatoh gimana?” Aku menatapnya dan sepertinya aku harus mengiyakan saja apa yang ingin dilakukannya padaku, toh dia juga hanya ingin menjagaku, jadi tak masalah sepertinya. “yaudah ayo ke kelas” Selama berjalan melewati koridor mataku tertuju pada madding sekolah yang kini tengah di kerumuni oleh banyak siswa di sana. Orang berlalu lalang dan berlarian, sibuk saling berbisik, pokoknya tak ada ketenangan sekali pagi ini di sekolah. “kayanya asalnya dari madding lagi deh....” Terka Billy, tapi memang sepertinya benar dari sanalah kekacauan pagi ini berasal. “BILLY! LUNA!!” Leo berteriak memanggilku dan Billy sambil berlarian ke arahku. “apa? kenapa? ada apa sih?” Billy langsung bertanya demikian dengan tak sabarnya pada Leo yang masih ngosngosan karena berlari barusan. “itu... ada penyakit menular! iih jijijk deh” “HAH? PENYAKIT MENULAR??!” Tanyaku bersamaan dengan Billy “iya, Si Gossip Girl pasang berita lagi di madding kalo Si Agnes anak kelas kita itu kena penyakit menular s****l!” “apa??? terus itu... itu- itu bahaya? kaya HIV gitu maksdunya?” Tanya Billy pada Leo dengan tangannya yang kini mulai di pakaikannya untuk merangkulku, “bukan, apa ya tadi namanya... infeksi... sshhh kla- klam apa ya gitu deh pokoknya” Tak jelas sekali Leo menceritakannya. “ish kenapa ada-ada aja sih ni sekolah, kalo kita sampe ketularan gimana coba? Luna, kita gak usah ke kelas aja, kalo perlu hari ini kita bolos aja, pantesan orang-orang pada ribut di sini, pasti gara-gara pada takut ketularan deh” “itu gosipnya aja belum tentu bener Billy, kamu udah ajak aku kabur aja gimana sih” “ya abisnya, penyakit menular itu bahaya Luna” “AAAA!!!! SIALAANNNN SIAPA YANG PASANG INI DI SINI!!!” Tiba-tiba terdengar suara teriakan seorang siswi yang kini terlihat tengah mengamuk sambil merobek-robek apa yang terpajang di madding sekolah. “oh? itu Agnes kan?” Tanyaku memastikan pada Leo dan Billy, aku mendapat anggukan yang artinya itu memang teman sekelasku yang tengah menjadi topik utama gossip hari ini. “AAAAA!!! LO KAN!! PASTI LO!!” Dia sampai menuduh beberapa anak yang sedang berada disekitar madding itu dengan emosinya yang meledak-ledak. “wahh... alamat ribut ini” Gumam Billy, tapi kemudian yang sedang mataku perhatikan saat ini bukanlah Agnes sang tersangka penyakit menular yang sedang mengamuk itu, tapi seseorang yang sedang menatapku dengan dinginnya dari kejauhan, “Fey... dia kayanya masih kesel banget deh sama aku, liatin aku sampe segitunya di sana” “ehm? kamu berantem sama Fey? kenapa?” “hhh... gitu deh” Balasku malas menjelaskannya pada Billy yang bertanya barusan, Padahal sebenarnya aku marahan dengan Fey karena dirinya yang keukeuh inginkan aku untuk tak memainkan perasaan Billy dengan memiliki perasaan juga pada Pak Dewa, aku kemarin sampai heran Fey itu sebenarnya sahabatku atau sahabat Billy sih, kenapa dia tak pro padaku. “baikan sana, gak baik loh marahan lama-lama” Ucap Billy padaku “hhh... nanti deh masih sebel, ah iya! Billy, aku aku mau cari orang dulu bentar ya” “siapa??” “aku harus kembaliin sesuatu sama dia...” Kataku sambil melepaskan rangkulan tangan Billy dari pundakku, dan langsung saja aku melarikan diri cepat darinya, “Luna!” Teriaknya memanggilku, aku sampai berbalik sebentar untuk menengoknya “sebentar kok! aku balik lagi nanti!” Kataku sambil berteriak lalu meneruskan langkahku untuk berlari menjauh darinya dan mencari Pak Dewa. Hingga kini aku sudah berada di koridor tepat di depan lapangan siswa siswi sekolah ini biasanya berolahraga, tapi tak ada siapapun di sini, bahkan orang yang sedang kucaripun belum juga terlihat sedari tadi. “hhh... semua orang pasti pada kerumunin madding di gedung depan, makanya di sini sepi gak ada orang gini” Gumamku, tapi kemudian ku dengar suara cekikikan khas perempuan tertawa malu-malu, refleks kulangkahkan kakiku menuju ke arah suara itu berasal. Dan apa yang kutemukan adalah Pak Dewa yang sedang di gandrungi oleh tiga orang siswi di sana. “ish, genit banget sih!” gerutuku, Jelas aku marah dan tak suka sekali melihatnya. padahal niatku ingin mengembalikan pakaiannya tapi Pak Dewa malah mengobrol dengan riangnya di pinggiran lapangan dengan siswi yang terlihat tengah bertingkah kecentilan sekali padanya. “tuh kan, Pak Dewa itu emang dasarnya player, dia itu emang perhatian, tapi perhatiannya bukan cuma sama kamu doang, tapi sama semua cewek Luna” Ucap Fey yang tiba-tiba muncul di sampingku. “ish, sebel sebel sebel” Saking kesalnya aku sampai menghentak-hentakan kakiku saat kulihat tangan Pak Dewa juga kini sedang memainkan rambut siswi yang sedang berdiri di sampingnya itu. “jadi lebih pilih mana, dia yang perhatian sama semua cewek apa Billy yang perhatiannya cuma sama kamu” “aku suka perhatiannya Pak Dewa, dan aku suka perhatian Billy yang cuma buat aku seorang... ahahahhh aku pengen paket complete, tapi mereka punya kelebihan sama kekurangannya masing-masing!!” Kataku sambil memeluk Fey putus asa “auuuhhh!!! ini anak suka sama orang banyak maunya deh! terus sekarang mau gimana?? balik dulu kelas yuk, Pak Bowo kayanya udah di kelas deh” “gak mau... ada penyakit menular di sana” Balasku pada Fey, “itu penyakitnya menular s****l, jadi gak akan nular kalo gak ada aktivitas sexualnya Lunaaa” “aktifitas s****l? ah yang telanjang kaya video porno di laptop Willy waktu itu?” Terka-ku, aku di beritahu kalau aktifitas di video porno itu pasti menyangkut soal hal-hal berbau seksualitas, jadi pasti ya aktifitasnya semacam bertelanjang begitu. Meskipun aku tak tahu tujuannya itu untuk apa dan kenapa mereka begitu, tapi setidaknya aku tahu sedikit soal apa itu aktifitas seksual. “ahahahh... nah itu tumben tau” Ucap Fey sambil mengacak-acak puncak kepalaku, dan ketika mendengar Fey tertawa lagi, rasanya aku senang sekali, sepertinya aku bisa mulai berbaikan dengannya. “Fey, maafin aku ya... semalem, aku agak sensitive” “ehm... aku juga, minta maaf... seharusnya aku gak emosi dan desek kamu buat pilih siapa yang kamu mau buat jadi pacar kamu” “ehmm... yaudah sebagai bentuk maaf aku nanti malem aku traktir kamu delivery buat makan sepuasnya deh” “serius??? ini nih baru Luna sahabat akuuu” ucapnya sambil memelukku. Dan setelah acara berbaikan itu aku dan Fey kemudian berjalan ke kelas, tapi begitu langkahku semakin dekat pada ruang kelasku, aura-aura tak mengenakan sekaligus menegangkan tiba-tiba saja terasa menggerayangi tubuhku. “oh... Fey kayanya kita-“ “FEY! LUNA! kalian ini dari mana aja??!!! sini cepet!” Pak Bowo kemudian memanggilku dengan nada galaknya, terdengar lebih seram dari anjing-anjing ganas yang suka menyalak, eerrr.... “i-iya Pak” “keluarin semua isi tas kalian! cepet!!” “apa??” Tanyaku tak mengerti dan saat kulihat semua teman-temanku ternyata mereka juga kini tengah di geledah oleh beberapa guru yang bertugas memeriksa. “CEPET!” bentaknya padaku dan fey, dengan semua ketakutanku akhirnya kubuka tasku dan mulai ku keluarkan satu persatu isinya “Si Gossip Girl tukang bikin ulah itu udah berhasil bikin malu sekolah lagi!! kalian semua denger ya KLAMIDIA ITU BUKAN HIV, BUKAN DI TULARKAN LEWAT NAPAS jadi gak usah kalian ribut kaya ada wabah!! hhh... orang tua kalian ribut lagi telponin pihak sekolah tau!” Tegas Pak Bowo pada semua orang, “tapi Pak si Agnes pasti cewek kotor Pak, dia pasti sering di pake deh terus cowoknya gak pake kondom makanya sampe kena penyakit seksual gitu” Balas seorang siswa di bangku paling belakang, mendengar kalimatnya itu aku bertanya-tanya tak mengerti dengan maksud ucapannya itu, ‘cewek kotor’ ‘kondom- ‘OH TUNGGU!! OMG!!! AKU BARU INGET AKU TARO KONDOM DI TAS!!!!' “Fey, tolongin aku, ada kondom buat pak Dewa di tas aku, kalo ketauan gimanaa????” bisikku pada Fey. “APA???” Fey bertanya padaku dengan kagetnya, namun untunglah ia tetap berusaha untuk meredam suaranya dengan menutup mulutnya dan tak membuat keributan yang terlalu ketara seperti biasanya. Dan sialnya lagi kulihat salah seorang guru kini mulai memeriksa beberapa barangku, aku jadi gemetaran hebat takut akan ketauan. ‘aduh gimana iniiii???’
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN