“Dah Billy...” “dah Lunaa... tidur nyenyak ya... jangan lupa mimpiin aku” Ucapnya dengan tatapan hangat dan mesranya sambil memegangi tanganku. “kamu juga, see you besok...” Balasku, dan tiba-tiba rasanya jadi enggan sekali untuk masuk ke dalam pintu rumah yang hanya beberapa langkah saja di belakangku. Tangan Billy juga malah semakin erat saja menggenggam tanganku, ia bahkan sedikit menarikku untuk mendekat padanya, sampai aku jadi berdiri merapat padanya. “Luna...” Tangannya kini membelai pipiku, membenarkan rambutku yang menjuntai, aku merasa sangat senang dengan semua sentuhan juga perhatian yang Billy lakukan padaku. “ehemm... udah malem” Ayah tiba-tiba saja muncul dan berkata begitu. Aku dan Billy jadi bertatapan canggung, jelas sekali aku dengannya amat kecewa pada w

