#1 Drama Pramenstruasi (sensitive talk 16+)

1678 Kata
“Luna… liat ayah…” Ayahku meraih wajahku dan membuatku menatapnya. Seperti biasanya ayahku selalu yang mengapplykan night routine skincare-ku “jerawat” Ucapnya singkat sambil memperhatikan pipi kananku. “apa? jerawat? aaahh sebel… kenapa jerawatnya muncul terus sih… padahal baru aja bekasnya ilang bulan lalu, eh ini ada lagi yang baru” Ayahku tersenyum mendengarku mengeluhkan jerawatku yang selalu muncul di setip bulannya. “loh… ini emang tanggal berapa?” Ayahku langsung melihat kalender periode menstruasi yang di instalnya sejak aku mulai mengalami menstruasi tiga tahun yang lalu. “oohhh… kayanya besok kamu udah dateng bulan sayang” Ucapnya, “pantes aja perut bawah Luna gak enak banget ayah…” “ehmm ini?” Ayahku meraba-raba perut bawahku, tepat di area yang kini rasanya sedikit lebih mengembang. “mau ayah kompres?” “ehmm… boleh” Ayahku kemudian mengambil kotak yang berisi pembalut, bantalan perut, obat Pereda nyeri dan semua benda yang ku butuhkan saat menstruasi datang. “sini sayang…” Aku mendekat pada ayahku yang sudah duduk bersandar di kepala ranjang tidurnya lalu aku bersandar di dadanya. “ini? di sini?” Ayahku bertanya di mana letak sakitnya. “iya di situ ayah…” Ayahku mulai mengompresi perut bawahku yang ku rasakan jadi sangat tak karuan itu. “aahh… rasanya sakitnya jadi ngurangin kalo di kompres kaya gini, makasih ayah” Kataku sambil mendongak untuk melihat wajahnya, dan Ayahku hanya tersenyum padaku kini lalu mengecup puncak kepalaku. “Luna, ini… kalo ini sakit lagi?” Ayahku bertanya begitu, dengan tangannya yang sudah di sentuhkannya di payudaraku. “ehmm… yang kanan yah, rasanya kaya ngebengkak gitu…” Jawabku, rasanya payudaraku memang lebih jadi lebih kencang, berat dan agak nyeri. Terutama yang sebelah kanan. “ini? emh?… sakit banget? kalo sampe bulan selanjutnya sakitnya masih kerasa… kita ke dokter aja yaa…” Ucap ayahku dengan raut khawatirnya, “kayanya gak usah deh yah…” “gak usah gimana… kalo nanti kamu sampe kenapa-kenapa gimana sayang… ayah gak punya p******a kaya kamu, jadi ayah gak tau rasa sakitnya itu kaya gimana…” “hhh… lama-lama ayah pengen jadi perempuan aja deh jadinya…” Aku tersenyum saja mendengarnya, ayahku selalu jadi ikut stress saat masa mestruasiku datang. ia selalu kebingungan karena tak bisa memahami rasa sakitnya seperti apa, bagaimana dan dimana tepatnya. ayahku juga selalu tampak frustasi sendiri saat tak bisa mengurangi rasa sakit di perutku ini, di tambah belakangan aku juga mengeluhkan rasa tak nyaman di payudaraku. “sini… coba ayah liat…” Ayahku membalikan tubuhku, membuatku menghadapnya, lalu menurunkan tali kecil piyama tidur lingerieku dan karena aku biasa tidur tanpa bra jadilah ayahku kini sudah bisa memperhatikan lekat-lekat payudaraku itu. “ini… ini yang sakit?” Ayahku memegangi payudaraku dan ia mulai meraba-raba dengan sedikit memijatnya untuk mencari letak sakitanya di mana. “aaahh… agak atas ayaahh ahh…” Jawabku, sambil memperhatikan payudaraku, sesekali ayahku melirikku, memeriksa raut wajahku. “ini?” “ehmmm itu hhh…” Ayahku kini sedang menyentuh bagian nyerinya yang berada tepat di samping putting payudaraku. “lohh… kok… kenapa rasanya ada benjolan sayang?” Ayahku jadi terlihat lebih panic saat ini. “apa?? aahh ahhhh ayahhh jangan di remes… sakitt” “ooh maaf sayang… ayah cuma pastiin itu benjolan atau bukan? aahhh gimana ini?? ke dokter… ayo ke dokter aja sayang…” Ayahku benar-benar sudah sangat panic saat ini. tapi kulihat ini sudah pukul sebelas lewat, “ayaaah ini udah kemaleman…” “rumah sakit tetep buka sayang, UGD aja siaga 24 jam kok…” Rasanya akan aneh sekali kalau aku sampai di bawa ke UGD hanya karena payudaraku yang memiliki benjolan kecil, bahkan itu tak berdarah atau terluka seperti pasien yang biasanya di larikan ke UGD, hfftt… “ayah… dari pada ke rumah sakit, kita coba dulu buka layanan kesehatan online itu loh…” “gak jelas itu sayang, dokternya gak akan langsung periksa keadaan kamu…” Ayahku jadi terlihat lebih panic dari pada aku yang sedang merasakan sakitnya ini. “hhh… coba dulu layanan online itu, jadi ada gambaran dan sedikit info biar gak negative thinking duluan kaya gini, dan lagi kalo emang beneran sampe ada apa-apa, besok ayah bisa langsung anter aku ke rumah sakitnya…” Saranku, “hhh… sebentar… handphone ayah di mana ya?” “hhfftt kebiasaan deh lupa naro handphonenya…” Ayahku mencari-cari handphonenya yang ternyata ada ada di saku celananya sendiri. “kalo sampe kata layanan ini kondisi kamu gak bagus, gak akan ayah tunggu sampe besok tapi malem ini juga kita langsung pergi ke rumah sakit okey…” Aku mengangguk saja padanya. ku lihat ayahku mulai mengetikan sesuatu di sana. “ooh ini… langsung ada balesan dari dokternya…” Ayahku kembali duduk di sampingku dan membacanya. ‘…. itu adalah gejala pramenstruasi atau di sebut juga Mastalgia atau rasa nyeri yang muncul di p******a. Mastalgia merupakan keluhan yang umum di alami oleh wanita menjelang haid dan selama haid. Saat menjelang haid hingga menstruasi, tubuh wanita mengalami perubahan kerja hormone estrogen dan progesterone. Perubahan inilah yang di duga menimbulkan nyeri pada p******a menjelang haid. Selain rasa nyeri pada p******a dan putting, pada masa pramenstruasi ini wanita juga kerap dapat merasakan adanya ‘benjolan’ pada p******a yang nyeri jika di tekan. Sebelum anda panic, benjolan yang terasa nyeri dan kalau di raba seperti tidak beraturan tersebut adalah normal…’ “ooohhh… ternyata itu gejala pramenstruasi dan itu cukup normal… tapi meskipun katanya gak papa, ayah gak mau liat kamu sampe kesakitan kaya gini sayang…” Ayahku masih saja tak bisa berhenti khawatir, aku yang sedang sakit di perut dan di payudaraku harus di tambah dengan kepanikannya. Rasanya aku ingin meledak jadinya. “ayah… dari pada ayah panic gini, kayanya lebih ngebantu kalo ayah kompresin lagi perut atau p******a Luna aja gimana…” “oh? Aahh… kayanya itu lebih baik sayang…” “ah iya! minum obat paracetamol atau ibuprofen katanya bisa bantu kurangin nyerinya, sebentar ayah ambil air minum buat kamu minum obat yaa...” Ayahku kemudian mengambilkan air minum dan obat untukku. “ini di minum sayang…” Aku menurut langsung meminum obatnya. “sini ayah kompresin lagi…” Ayahku menarik tubuhku untuk kembali mendekat padanya seperti posisi awal tadi. ia mulai mengompresi payudaraku, sementara aku memegangi kompresan untuk meredakan nyeri di perutku. “masih sakit?” Aku menggelengkan kepalaku, “abis minum obat, rasanya jadi gak begitu sakit lagi kok yah…” Balasku, Ayahku kemudian menggenggam payudaraku yang jadi lebih besar dan kencang itu, bahkan kini sudah tak tertampung di tangan ayahku itu. “tapi … kayanya ini jadi jauh lebih besar dari ukuran normalnya sayang… beneran udah gak begitu sakit?” “gak papa kok yah… udah baikan sekarang” Karena rasanya sudah lebih baik jadi ku sudahi mengompres perutku, “ehmmm Luna ngantuk…” Ayahku langsung menurunkan sedikit tubuhnya ke posisi setengah berbaring, “sini tidur ayah peluk…” Ucapnya dan aku langsung membaringkan tubuhku di atas tubuhnya, memeluknya. Cup “good night sayang…” …. “ehmmm…” Hawa dingin di kota ini jadi semakin terasa saat hari mulai pagi, sampai selimut yang semalam ku tendangi kini harus ku tarik untuk menutupi tubuhku kembali. Dengan mata yang masih enggan ku buka, tanganku mulai mencari-cari ayahku yang semalaman kupeluki, ingin aku bersembunyi di tubuhnya yang sangat hangat lagi. “ehmm… dimana ayah?” Akhirnya mau tak mau ku buka mataku. Dan tak dapat ku temukan dirinya di sampingku lagi. “ini masih jam 6, masa ayah udah bangun sih…” “hhh…” Dengan malas ku bangunkan tubuhku ini dan kuturunkan kakiku dari ranjang tempat tidur. Lalu ku seret dengan malas tubuh ini berjalan menuruni tangga. “ayah… pagi-pagi udah di dapur aja…” Gumamku saat ku temukan dirinya yang tengah berkutat dengan beberapa perlengkapan di dapur itu. “pagi ayaahh…” Sapaku pagi ini sambil ku peluki dirinya dari belakang. “pagi sayang…” Ayahku langsung berbalik dan memelukku. lalu tangan kokonya mengangkat tubuhku untuk mendudukanku di meja dapur. “gimana perut sama ini?” Ayahku menyentuh dadaku dan mengecupnya singkat. “…. udah baikan?” “ehmm… berkat ayah” Cup cup cup Ayahku memberikan banyak kecupan di bibirku. “ayah siapin menu sarapan special buat anak ayah yang cantic banget ini…” “ehmm?” “ini cobain…” Ayahku rupanya membuat toast dengan alpukat dan telur sebagai toppingnya. “aaa…” Aku mencoba satu gigitan dan rasanya lumayan enak. Ayahku semakin hari semakin meningkat kemampuan memasaknya. Aku pikir kalau ada penghargaan untuk ibu rumah tangga terbaik, ayahku bisa menjadi juaranya. “enak?” Tanyanya dengan tatapan penuh harap. “ehmmm enak banget ayah” Ayahku tersenyum lebar akhirnya. “alpukat itu baik buat kamu yang lagi kena sindrom pramenstruasi, katanya kandungan lemak baiknya bisa kurangin keram sama rasa sakit di perut kamu…” Aku mengangguk-angguk saja mendengarnya. “ahh satu lagi, ini jus bit di minum…” Ayahku memberikanku segelas jus berwarna merah pekat padaku, dengan sedikit ragu aku coba meminumnya. “ooh… manis ternyata…” “Bit itu juga bagus buat atasin sakit karena gejala pramenstruasi soalnya mengandung vitamin B1 dan B2 sayang…” Aku tersenyum saja mendengar penjelasannya, mendadak ayahku jadi terlihat seperti ahli kesehatan wanita. “makasih ayah… gara-gara Luna ayah jadi kerepotan gini” “ehmmm buat kamu ayah bisa lakuin apa aja asal kamu tetep sehat dan bisa terus senyum kaya gini. orang tua itu akan ngerasa jauh lebih sakit waktu liat anaknya sakit… jadi jangan sakit-sakit lagi ya sayang…” Aku sangat tersentuh dengan semua perhatiannya itu. “ehmmm… love you dad” “love you more baby…” ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN