#1 Drama Menstruasi

1862 Kata
Aku duduk dengan sangat tak nyaman dalam mobil menuju ke sekolahku hari ini. “ada apa sayang?” Sepertinya ayahku menyadari kalau aku sedari tadi tampak tak nyaman dan tengah duduk dengan gelisah. “ehmm… ayah… Luna kayanya…” Tanganku masuk ke balik rok sekolahku dan mulai meraba-raba celana dalamku yang kurasa jadi sedikit basah di sana. “hhhh….” Ayahku langsung menghentikan mobilnya. “kenapa?” “ini…” “biar ayah liat” Ayahku menaikan rokku dan dengan perlahan juga hati-hati tangannya menurunkan celana dalamku. Dan ku lihat ada bercak merah darah di sana. “ahhh… kamu dateng bulan sayang” “Luna lupa bawa pembalut ayah… gimana ini…” Aku benar-benar lupa padahal semalam sudah di beritahu ayahku kalau aku mungkin akan mulai mens hari ini. “ehmm… tunggu di sini sebentar, biar ayah beli pembalut ke minimarket itu” Ucapnya, setelah itu ayahku langsung keluar dan berlari menuju minimarket yang tak jauh dari tempat ayahku memberhentikan mobilnya. “hhh… kenapa pake lupa segala sih…” Gumamku sambil menunggu ayahku. Dan tak lama kemudian kulihat ayahku sudah keluar dari pintu minimarket itu. Ayahku kini sudah masuk kembali ke dalam mobil. “ini sayang…” “loh celana dalemnya beli baru?” Tanyaku saat aku tahu ayahku juga membeli celana dalam untukku selain pembalut yang ku butuhkan. “ehmm… karena gak mungkin kamu pake celana dalem kamu itu” “yaudah ayo, kamu ganti dulu di sana ada toilet” Ayahku kemudian membuka pintu mobil dan keluar lebih dulu, lalu ia juga membukakan pintu mobil untukku. “ayo sayang…” “ehmm…” Harus berjalan sedikit untuk sampai ke toilet umum, ayahku tiba-tiba membuka jasnya dan memakaikannya padaku. “kenapa yah? Tembus ya sampe ke rok Luna?” Tanyaku khwatir, “engga kok sayang, ayo cepet nanti kamu kesiangan” Ucap ayahku, kemudian aku masuk ke dalam untuk memasang dan memakai pembalut. Sementara ayahku menungguku di luar. Dengan cepat ku selesaikan itu. dan kini aku sudah berdiri depan ayahku. “udah?” “ehmm…” Akhirnya aku bisa duduk kembali di mobil dengan nyaman sekarang. “hhh… ada-ada aja sih pagi-pagi…” Ucap ayahku. “oh iya celana dalem tadi yang kotornya dimana?” “ahh… Luna buang aja di tempat sampah tadi…” Karena aku juga tak mungkin harus membawa-bawa pakaian kotor jadi ku buang saja tadi di tempat sampah yang ada di toilet. “iya gak papa, tapi itu celana yang kamu pake pas kan? Gak kebesarankan?” Tanya ayahku “engga kok Yah…” “syukur deh…” Ayahku kemudian kembali menjalankan mobilnya menuju ke sekolah. Dan selama perjalanan ayahku terus saja melirik ke arahku dengan tatapan mata khawatirnya. “Luna ini hari pertama… kamu yakin gak akan kenapa-kenapa pergi ke sekolah?” Tanyanya sambil meraih tanganku dan menggenggam tanganku. “ehmm… ini masih baik-baik aja kok yah, belum yang keluar banyak. Sakitnya juga belum yang gimana gimana jadi kayanya gak papa” “ahh… tapi kalo nanti di sekolah kamu sampe ngerasa sakit banget, langsung telpon ayah ya… biar ayah jemput kamu…” “ehmm… tapi di sekolah juga ada unit kesehatan kok yah… aku bisa tiduran dan dapet perawatan darurat di sana kalo emang nanti aku kenapa-kenapa” Jawabku padanya. “ehmm… engga, pokoknya kamu harus kabarin ayah kalo sampe kamu ngerasa sakit gara-gara mens kmu itu. ayah tau banget kalo kamu lagi mens hari pertama itu kaya gimana… dan ayah juga gak mau kamu sampe sembarangan di tanganin sama orang di sekolah kamu itu…” Ayahku mendadak jadi sangat protektif sekali padaku, mungkin karena selama ini ayahku yang bahkan sampai selalu mengambil libur atau bolos bekerja hanya untuk ada di sampingku dan menjagaku saat hari-hari pertama mens yang rasanya sangat tak nyaman dan perutku yang selalu saja di buat tak karuan. Terlebih saat darah menstruasi itu keluar begitu banyaknya, aku jadi hanya selalu meringkuk saja dalam pelukan ayahku. “ayah… inget pertama kali aku datang bulan?” Ingatku pada ayahku yang sedang menyetir itu. ku lihat segurat senyum tampak di wajahhnya. “ehmmm… waktu itu kita di LA dan ayah pikir darah itu ada karena kamu terluka sampe ayah lari gendong kamu ke UGD malem itu…” Ayahku mengingatkanku bagaimana paniknya dirinya saat itu. bagaimana tidak, aku yang hidup hanya berdua bersamanya dan tak ada wanita lain di keluarga kecilku ini, tak ada yang memberitahuku bahwa saat memasuki masa remaja aku akan mengalami pendarahan dari organ reproduksiku setiap bulannya. Dan saat pertama kalinya itu, aku di buat kaget bukan main. Aku ingat sekali saat itu aku tiba-tiba terbangun di tidur malamku, dan ku rasakan ada yang aneh di area ke wanitaanku. rasanya seperti sesuatu yang asing keluar begitu saja dan tak bisa ku tahan dari sana. dan yang hanya aku tahu saat itu, yang bisa keluar dari sana hanya air kencingku saja, tapi saat itu rasanya berbeda sekali di tambah rasa sakit di area perut bawahku. Akhirnya aku bangun dan ku dapati dari celana dalamku keluar cairan merah. dan begitu ku sentuh itu dengan tanganku, ku lihat noda darah di tanganku yang sudah pasti berasal dari vaginaku itu. “ahahhh… ayahhh… Luna berdarah…” Ayahku yang sedang tidur di sampingku langsung bangun dan panic melihat darah yang membuat celana dalam warna putihku itu jadi merah. Ayahku mendekat dan menurunkan celana dalamku itu. memperhatikan area vaginaku yang terus mengeluarkan darah. “ahh ahahahahahaaaa….” Aku takut dan mulai menangis. “ahhh sayang… tenang ayah di sini, kita ke rumah sakit sekarang…” Ayahku langsung memangku diriku dan membawaku berlari malam-malam menuju rumah sakit terdekat di kota itu. bahkan aku ingat sekali saking paniknya ayahku hanya memakai satu sandalnya saja. ia siap siaga untukku dan sudah seperti superhero hari itu untukku. “she’s bleeding… what’s wrong with my baby… she’s right? Tanya ayahku pada dokter yang bertugas di UGD saat itu. ia langsung memeriksa vaginaku, tapi kemudian dokter itu menampilkan raut wajah yang tak bisa ku artikan apa maksudnya itu. “she’s on her period… it’s okey, she’s right” Jelasnya masih ku ingat saat itu. tapi kemudian raut wajah tak mengerti jelas tergambar dari ayahku. “what? Period? What’s that?” Dokter wanita berambut pirang itu menjelaskan pada ayahku bahwa aku baru saja mendapatkan menstruasi pertamaku, yang merupakan bagian dari perkembangan tubuhku yang memasuki tahap remaja. Ayahku pasti sangat kebingungan saat itu, ia tak mengerti soal wanita dan permasalahanya yang sampai bisa seperti itu. “Are you Single daddy? It’s really new for you?” Ayahku hanya mengangguk untuk menjawabnya. kemudian ia berkonsultasi pada dokter itu tentang seperti apa dan bagaimana menanganiku selama masa menstruasi yang akan mulai datang setiap bulannya. Ayahku belajar hal baru seperti soal pembalut, dan cara membersihkannya, kemudian apa saja yang terjadi selama masa menstruasiku, bagaimana jika ada ke anehan dan hal yang tak wajar, sampai ayahku juga di ingatkan untuk tak panic saat aku yang mungkin akan ke sakitan selama waktu menstruasiku itu. (Tapi tetap saja raut gelisah, panic dan khawatirnya selalu saja muncul di wajah tampannya itu selama ini. ckckck…) Tak lupa dokter itu juga memberikan penjelasannya padaku, bahwa aku yang mulai saat itu sudah memasuki tahapan baru kehidupanku sebagai seorang remaja. Bahwa aku harus bisa menjaga diriku karena tepat sejak saat itu aku adalah seorang remaja perempuan yang akan beranjak menjadi wanita dewasa. Sejak saat itu ayahku jadi selalu ekstra memperhatikanku. Ayahku selalu tepat berada di sampingku, memegangi dan memelukku saat aku sedang kesakitan. Di tambah lagi ayahku harus jadi super sabar saat menghadapi aku yang mendadak jadi super sensitive, seperti berubah lebih cengeng dan gampang menangis untuk hal-hal kecil saja, atau jadi emosi karena hal-hal yang sebenarnya biasa-biasa saja. Karena aku yang selalu masuk sekolah seni dan olahraga di semua lembaga pendidikan yang ku ikuti di banyak negara karena profesi ayahku itu. aku tak pernah mendapatkan kelas biologi yang katanya memiliki bab yang membahas soal tubuh manusia, ataupun mata pelajaran lainnya seperti fisika, kimia, dan matematika, jadi aku tak tahu banyak soal hal-hal seperti itu. hanya selalu bahasa yang ku pelajari dan cara melukis juga kelas renang dan senam atletik yang memang ku sukai. “ayah… terimakasih” Ucapku padanya tulus. “ehmm… pastiin kamu hubungin ayah, atau kamu aktifin terus handphone kamu, biar ayah aja nanti yang hubungin kamu …” “ehhmmm…” Ku peluki ayahku sebelum aku turun dari mobil untuk masuk ke dalam gerbang sekolah. ….. Selama kelas pendidikan kewarganegaraan, aku sungguh tak bisa focus. Rasanya sungguh tak nyaman. ‘hhh… gara-gara tadi pagi aku buru-buru jadi gak bener deh pasang pembalutnya’ Gerutuku, karena aku rasa bagian belakangnya jadi lebih ke kanan. Dan itu rasanya sangat mengganggu. “kenapa?” Tanya Leo padaku, sepertinya ketidaknyamanku ini cukup mengganggunya. “ehmm… engga kok” Aku hanya menjawab begitu. “mau ke toilet?” Tanyanya. Dalam hati mungkin benar aku harus pergi ke toilet untuk membenarkannya. “ehmm… gitu deh” “yaudah gih sana, ngapain di tahan, keluar di sini berabe nanti” Ucapnya, setelah ku sempatkan diri meminta izin untuk pergi ke toilet pada guruku yang sedang mengajar di depan kelas, aku langsung berjalan dan kini sudah tepat di depan toilet perempuan. “Lunaa…” Aku langsung berbalik saat ku dengar suara tak asing yang memanggil namaku itu. “ayaahh…” Aku kaget sekali saat kudapai ayahku berada di sekolahku saat ini. ayahku langsung berjalan dengan cepat untuk menghampiri anak perempuannya ini. “mau kemana sayang… ayah pikir kamu masih belajar di kelas” “ehmm… Luna harus ke tolet sebentar ayah” “kenapa? apa mau ganti pembalutnya?” Tanya ayahku, aku menggeleng saja. “Luna pasangnya agak miring tadi, jadi mau Luna benerin” Jawahku, dan kemudian tangan ayahku meraba-raba area pantatku, untuk tahu bagaimana posisi pembalutku itu. “ahh… miring ke kanan yaa…” Ucapnya setelah tahu dari sentuhan tangannya itu. “yaudah gih masuk” Kuhabiskan beberapa menit untuk membenarkan pembalut itu, tapi sepertinya perekatnya sudah tak lagi menempel jadi aku pikir aku harus menggantinya saja. aku mulai berjalan keluar toilet untuk naik ke kelas dan mengambil pembalut baru yang ada di tasku. “ayah… kok tas Luna-?” Kagetku saat ku temukan ayahku sudah berdiri tepat di depan toilet sambil memegangi tasku. “ayah udah izin sama guru kamu, kamu bisa pulang lebih awal hari ini…” “apa? ohh… tapi Luna masih bisa ikut kelas terakhir kok yah” Jawabku “ayah gak tenang, jadi kita pulang aja. Ayah juga udah izin dari kantor ayah tadi…” “hhh… yaudah deh, tapi Luna mau ganti dulu pembalut” Mendengar hal itu ayahku langsung mengeluarkan pouch biru dari dalam tasku yang berisi semua perlengkapan pribadiku. “ini…” “makasih ayah…” Aku kembali masuk ke dalam toilet untuk berganti pembalut. ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN