#1 Hubungan Tak Wajar

2227 Kata
Author pov Tanpa Luna dan ayahnya sadari, sepasang mata sudah memperhatikan apa yang di lakukan keduanya sedari awal dengan tatapan anehnya. Reyno rupanya mengikuti Luna sejak ia keluar dari ruang kelasnya yang hendak menuju toilet itu. namun ia tersalip oleh ayah Luna yang memanggilnya lebih dulu, hingga Reyno hanya bisa bersembunyi memperhatikan tingkah anak gadis remaja itu dengan ayahnya yang menurutnya tak begitu wajar. “ayahnya bisa menyentuh Luna sampe sejauh itu? baru pertama kali gue liat ada ayah yang pegang-pegang p****t anak gadisnya yang udah masuk SMA, kaya pegangin anaknya yang masih TK” Gumam Rey di tengah keanehannya itu. “hhh… ada yang gak beres nih kayanya…” Ia mendapati pikiran yang tidak-tidak dan mulai menaruh curiga pada Luna dan ayahnya. Sampai akhirnya ia memilih untuk bolos di jam pelajaran terakhir hanya untuk mengikuti Luna yang pulang lebih dulu karena di jemput langsung ke sekolah oleh ayahnya itu. “gue rasa itu bukan hal yang wajar deh… Luna kan udah gede, seharusnya ada batas gitu… meskipun dia itu ayahnya sendiri, tapi-… ahhh…” Selama di dalam mobilnya Rey tak bisa berhenti untuk tak berpikir kalau itu adalah sesuatu yang sangat tak biasa. Ia terus membuntuti mobil ayah Luna, sampai ia memasuki perumahan di kawasan elit Citraland dan akhirnya berhenti di sebuah rumah yang terlihat cukup asri dan sangat nyaman untuk di tempati. Bryan membukakan pintu mobil untuk Luna, kemudian keduanya masuk ke dalam rumah mereka dengan tangan yang saling rangkul merangkul. Karena design rumah mereka yang modern di mana banyaknya jendela kaca besar terpasang hampir di setiap ruang di rumah yang bisa di katakan megah itu, hingga bagi orang yang mau memperhatikan apa yang terjadi di dalam seperti yang sedang Reyno lakukan, cukup bisa membuatnya melihat sebagian dari apa yang mereka lakukan. Reyno banyak menyiritkan dahinya, tak mengerti jenis hubungan yang terjadi antara ayah dan anak itu. …. Sementara itu di dalam Luna sedang bergelayut manja pada ayahnya yang sedang menyiapkan segelas air hangat dan obat untuk Luna. “di minum sayang…” “ehmm…” Luna menurut saja, ia sedari tadi mengeluhkan bahwa perutnya jadi kembung dan seperti ada banyak gas di dalamnya. kini ia sedang meneguk obat untuk meredakannya. “ayah ganti baju dulu sebentar…” “ikut… Gendong” Sikap manjanya mulai mucul dan Bryan hanya tersenyum saja padanya. “yaudah sini…” Ayah Luna mengangkat tubuh anaknya yang sudah cukup besar itu seperti anak usia empat tahun. Di bawanya Luna masuk ke dalam kamar ayahnya. Luna di dudukan di ranjang tempat tidur sementara Bryan mulai mencari baju di dalam lemarinya. “ahhh… perut Luna harus di gimanain lagi biar kembungnya ilang… kalo aja perut Luna ini balon, Luna turuk juga pake jarum, biar semua anginnya keluar jadi kempes deh sekalian…” Gerutu Luna, ayahnya sedang membuka dan mengganti pakaiannya itu hanya tertawa saja mendengar ocehannya itu. “yaudah… nanti ayah pijiitin deh, biar kembungnya ilang…” “padahal udah minum obat, tapi masih aja kaya gini yah, lama-lama Luna mau tukeran aja deh, biar ayah yang jadi perempuan terus Luna yang jadi laki-laki” Ucapnya asal, “Ngaco kamu” Bryan yang sudah selesai berganti, ia mengampiri Luna dan mencubiti pipinya gemas. “peluk sini…” Luna menenggelamkan dirinya ke dalam pelukan ayahnya itu. “ahhh… turun sedikit ayah…” Bryan memijati pinggang Luna, yang di rasakannya sangat pegal dan ngilu. Area pubic-nya yang juga manjadi keluhan utama Luna membuatnya tak bisa duduk dengan nyaman, sampai ia hanya merebahkan dirinya di atas tubuh ayahnya itu. “ahhh… keluar banyak… ahhhh” Luna merasakan darah yang seperti gumpalan besar-besar itu keluar, begitu ayahnya memijat area pinggangnya dan bagian bawah punggungnya itu. “sakit? ehm?” Tanya Bryan ia sejenak menghentikan pijatannya pada Luna. “engga kok yah… tapi isi perut Luna berasa di keluarin semua… ahhh” Luna bergerak gelisah di atas tubuh ayahnya itu. wajahnya di sembunyikannya di d**a bidang Bryan mencari kenyamanan di sana. Cup Bryan mengecup Luna, “kalo aja ayah bisa gantiin kamu buat rasain sakitnya ini sayang… ayah gak mau liat kamu kaya gini…” Ucap Bryan, Luna kemudian mendongak dan meraih pipi ayahnya balas memberikan kecupannya di sana. “ayah pelukin aku kaya gini aja udah kasih aku kekuatan kok yah… semua gak kerasa berat karena ayah ada buat pelukin Luna…” Luna mengeratkan pelukannya pada tubuh ayahnya itu. “makan malem nanti, kamu mau ayah masakin apa? ehm?” “Luna males makan ayah… perut Luna udah penuh gak jelas sekarang…” Jawab Luna, “kamu harus tetep makan sayang…” “gak usah masak ayah… nanti kalo ayah masak ayah gak bisa pelukin Luna dong… Delivery aja yah” “engga bisa, restoran di luar sana pasti tambahin banyak penyedap rasa sama sodium buat tingkatin rasa masakan mereka, dan itu gak baik buat kamu yang lagi mens kaya gini…” Ucap Bryan, ia selalu jadi memperhatikan sampai sedetail itu soal kesehatan Luna. “Pasta? Sup kentang favorit kamu gimana?” Tawarnya kemudian. Luna tersenyum mengangguk setuju soal yang satu itu. …. Pukul 8 malam, ayah Luna mulai memasak untuk makan malam dirinya dan anak gadisnya itu. “ayah sekarang udah kaya koki deh, aku takjub banget liat ayah masak…” Ucap Luna sambil terus menempeli tubuh Bryan yang sedang memotong bahan masakannya. “butuh 14 tahun buat ayah bisa kaya gini, ayah harus masakin makan enak dan bernutrisi buat anak ayah yang picky banget soal makanan ini…” Bryan memang menyempatkan diri untuk belajar memasak sampai akhirnya kini ia jadi selalu bisa menyajikan banyak menu yang lezat untuk Luna. “Luna jadi inget waktu Luna masih kecil, ayah hampir aja bakar dapur waktu mau bikin api kaya koki di tv waktu itu…” Luna mengingat kenangan lucunya bersama ayahnya saat masih menjadi seorang amatir di dapur. “aahh… jangan ingetin itu… ayah malu jadinya” Balas Bryan dengan wajahnya yang mulai tersipu. Lalu ia berbalik dan mengangkat tubuh Luna untuk di dudukannya di meja dapur. “duduk di sini sebentar, okey… ayah mau mulai masak soalnya…” Luna mengangguk saja. dan api sudah mulai di nyalakannya beserta wajan yang tengah di tuainginya dengan olive oil. “ayah… Ibu, apa dulu suka sakit juga waktu lagi mens kaya Luna?” “ehmm… ibu kamu itu…” Bryan mencoba mengembalikan ingat dalam memorinya pada belasan tahun tahun yang lalu. “ibu kamu cuma jadi lebih sering nangis waktu mens, dan ayah cuma beberapa kali liat dia yang sampe ngeluh karena sakit banget… ibu kamu itu orangnya kuat, bener-bener kuat, jarang ayah denger dia ngeluh sakit…” Luna kemudian memasang raut sedikit muramnya. “ibu beda banget sama Luna… hhh, gimana Ibu bisa tahan rasa sakitnya ya…” Luna di buat jadi sangat penasaran pada sosok ibu yang hanya bisa bernapas sampai ia lahir di dunia itu. Byan kemudian mendekat pada Luna dan memeluknya erat, membuat kakinya melingkar pada pinggnya. “Ibu kamu juga selalu pelukin ayah kaya gini sayang… dan ayah tau kalo ibu kamu lagi pelukin ayah erat banget itu artinya dia lagi cari kenyamanan dan pengen kurangin sedikit bisa rasa sakitnya itu” Ucap Bryan pada Luna “se-erat ini?” “ehmmm se-erat ini” Dua tubuh itu berpelukan begitu erat sampai terlihat seolah tak akan bisa lagi di pisahkan. Selagi mereka menikmati pelukan hangat yang menenangkan, Reyno di luar masih memperhatikan apa yang di lakukan oleh ayah dan anak itu dengan jelas di rumah yang sudah di terangi lampu malam ini. Reyno seperti sedang menyaksikan adegan dari sebuah film keluarga yang sangat tak biasa saat ini. “ahh… kenapa rasanya gue cemburu banget ya sama ayahnya si Luna yang bebas banget peluk terus sentuh Luna di mana aja… hhh dia keliatannya lebih dari sekedar anaknya deh… kaya, emhh cewek yang mungkin aja bisa di tidurin tiap malemnya…” …. “Dy… normal gak sih anak cewek udah SMA masih tidur bareng, di bajuin sampe masuk ke dalem kamar mandi yang sama bareng ayahnya?” Tanya Reyno pada Aldy sahabatnya, jelas ‘anak cewek’ yang di maksudnya adalah Luna yang kemarin di ikuti dan di pantaunya. “hah? Gila yaa? c***l tuh ayahnya… enggalah, orang adek gue yang masih TK aja udah berhenti mandi bareng orang tua gue kok” Jawab Aldy. Dan apa yang di katakana sahabatnya itu satu pemikiran dengan apa yang Reyno pikirkan sebelumnya. Hubungan mereka benar-benar tak lazim untuk ukuran seorang ayah dan anak. “tapi mungkin gak sih kaya ada pengecualian gitu? Misalnya kaya itu tuh terjadi karena gak ada perempuan atau ibu di antara mereka…” Reyno mendapat informasi bahwa Luna memang tak pernah bertemu dengan ibunya dan di besarkan seorang diri oleh ayahnya. Reyno pikir dari sanalah penyebab hubungan mereka sampai seperti itu. “ehmmm… banyak kasus pelecehan orang tua sama anaknya itu juga berasalan kasih sayang ko, jadi rawan banget sih menurut gue, emang siapa sih… gebetan loe yang mana bro?” Aldy langsung menerka bahwa perempuan yang di maksudnya itu adalah satu dari banyaknya perempuan yang di incar oleh Reyno. “adalah pokoknya, ahhh… kenapa rasanya gue jadi harus saingan sama bapaknya yaa…” Gumam Reyno. Luna tak masuk hari ini, dan Reyno di buat tak bisa focus dan pikirannya di penuhi oleh Luna dan Luna saja. ada perasaan khawatir dan bayangan-bayangan liar mengerikan yang mungkin saja terjadi pada perempuan polos nan lugu itu. “ckk… “ Bahkan ingatan soal tangan ayahnya yang sedang meraba-raba p****t Luna, sampai masuk ke balik roknya di depan toilet kemarin membuatnya sangat terganggu dengan itu. “gimana bisa…” ** Reyno sudah nangkring di depan gerbang sejak pagi, ia menantikan kehadiran Luna hari ini. “ahh… itu dia...” Ucapnya, Reyno langsung tahu bayang wajahnya dari balik kaca mobil yang tak begitu jelas itu. seperti biasanya Luna di antar oleh ayahnya ke sekolah hari ini. Tak langsung turun Luna masih di peluki ayahnya di dalam mobilnya itu. di lihatnya ayahnya yang lagi lagi sedang menyentuhkan tangannya pada perut Luna dengan raut wajah yang tampak sangat khawatir itu. setelah itu di kecupinya anak gadisnya itu. “sshh… apa dia lagi sakit ya? Atau… kebiasaan?” Tebak Reyno. Dan tak lama setelah itu Luna turun dari dalam mobil ayahnya, ia sempatkan untuk melambaikan tangannya sebelum ayahnya melaju dan pergi dengan mobilnya itu. Reyno diam-diam mengikuti Luna yang berjalan dengan santainya menuju kelasnya. dan dengan sekali tarikan Luna sudah di pojokan oleh Reyno dan membuatnya terkunci oleh tubuhnya. “ahh… Rey! Apa siih bikin kaget aja deh” Luna benar-benar tampak sangat keget, dan tangannya mendorong d**a Rey untuk membuatnya mejauh darinya. “Luna…” Panggil Reyno dengan tangannya yang kini di tempelkannya pada tembok di belakang Luna, menjaganya agar ia tetap berada dalam posisi itu. “apa… kamu mundur sekit bisa gak sih… kenapa pojokin aku kaya gini” Rey tak mendengar malah terus saja merapatkan tubuhnya pada Luna. “Luna… ini… sakit?” Tanyanya pada Luna, dengan tangan yang mulai di usapkannya ke perut bawah Luna, lalu merayap ke pinggangnya sedikit memijatnya di sana. ia menirukan apa yang di saksikannya kemarin di rumahnya, dimana ayahnya yang melakukan elusan sampai pijatan di tubuh molek gadis cantiknya itu. “ahhh… itu, itu…” Luna jadi menahan napasnya karena mendapat pijatan di area yang benar-benar sangat sensitive baginya, dan selama ini hanya ayahnyalah seorang yang selalu menyentuh area itu. “kenapa?” Reyno memperhatikan raut wajah Luna yang kini sedikit mengerang dengan napas pendek-pendeknya tengah terengah-engah. “ahhh… jangan di teken… ahhh…” Anehnya Reyno malah ketagihan memijat area itu karena berhasil membuat Luna mendesah dengan suara semanja wanita-wanita binal yang selalu di panggilnya untuk memuaskan nafsu penasaran anak muda akan hal-hal berbau seksual. Reyno semakin berani melakukan hal yang lebih jauh, tangannya menirukan apa yang ayahnya kemarin lakukan padanya, yang menjadi bayang-bayang gilanya selama dua malam ini. Ia mulai menggoda p****t Luna dengan jari dan telapak tangannya, sedikit meremas bulatan kenyal dan lembut itu. dan itu berhasil membuat aliran darah laki-laki muda itu berdesir kencang. “ahhh… lepasin, aku lagi datang bulan Rey!” Luna masih berusaha menjauhkan tubuh Rey darinya, “apa?” Reyno sedikit terkejut mendengar pernyataan Luna baru saja. namun tangannya terlalu betah di sana, memang ada yang mengganjal yang di rasakannya tepat di dalam celana dalamnya itu. “ahhh… kamu bikin aku, ahh…” Luna merasakan banyak darah mensnya keluar dari area kewanitaannya dan itu membuat ia merasa lemas seketika. “jadi… ayah kamu pijit kamu kaya gini kemarin, karena… kamu lagi-“ “udah lepas ah…” Luna akhirnya menjauhkan tangan Reyno dari pantatnya itu. “Luna…” “gak seharusnya kamu sentuh aku kaya gini…” Ucap Luna dengan tatapan tak sukanya pada Reyno. “terus… ayahmu yang juga laki-laki sama kaya aku boleh lakuin itu sama kamu? gitu?” “karena dia ayah aku…” Reyno menatap Luna tak percaya. “ikut aku…” Reyno menarik tangan Luna dan membawanya pergi kemudian. ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN