#1 Di Lecehkan?

1666 Kata
Reyno menyeret Luna sampai ke ujung ruangan yang ada di gedung sekolah. Tertulis plang di depan ruangannya Layanan Konseling Siswa. “REY! Lepas!!” Luna menarik tangannya kuat-kuat sampai akhirnya pergelangan tangan yang di genggam Reyno dengan kerasnya itu bisa terlepas. Luna meringis kesakitan dan dilihatnya merah melingkar di pergelangan tangannya itu. “sakit Rey!” “kamu butuh layanan konseling” Ucapnya, “APA?!! kenapa? aku gak nakal, dan gak ada yang salah sama diri aku!” Luna dengan penuh penekanan mengatakan itu, ia kesal dan ingin marah sekali saat tahu Rey menyeretnya jauh-jauh sampai pergelangan tangannya sakit hanya untuk mendapat layanan konseling. Luna pikir untuk apa dirinya di seret ke ruangan di mana anak-anak bermasalah mendapat bimbingan. “Masuk dulu!” Rey lagi-lagi memaksa. “engga!” Luna tak ingin kalah, ia keras menolak. Tangan Rey kembali menarik tangan Luna, dan membuatnya memasuki pintu ruangan layanan konseling. “Bu, dia korban pelecehan ayahnya! Bantu dia!” Ucapnya saat tiba di satu meja guru BK di sekolahnya. Ada dua wajah yang mendengar ucapan Reyno kini menegang tak mengerti dan sangat kaget mendengar pernyataannya itu. “REY! Kamu gila ya!! Aku bukan korban pelecehan!! Dan apa?? sama ayah aku??!! ngaco kamu!” Luna menginggikan suaranya, dia benar-benar bisa meledak pagi ini karena ulah dirinya. “tungu, tunggu ada apa ini? kenapa kalian ini?” Tanya guru wanita dengan rambut cepolnya itu, tak mengerti dengan dua siswa yang di depannya itu. “engga ada apa-apa Bu, kayanya Rey butuh bimbingan sama Ibu” Ucapnya dan langsung keluar dari ruangan itu dengan sangat kesal. “LUNAA!!” Reyno memanggil Luna yang buru-buru keluar dari ruangan layanan konseling itu. “dia itu gila ya? Pelecehan? Ayah? Oooh… yang bener aja…” Gerutunya. “Luna…. Luna… Hey” Reyno berhasil menyusul gadis muda yang sudah di buatnya kesal itu. “kamu tuh gila ya, nuduh ayah aku sama aku sembarangan!!! Pelecehan apaan!! Kamu yang jelas-jelas punya niatan mau lecehin aku kan??!!” Luna lagi lagi emosi dengan nada tingginya ia kini berbicara pada Reyno. “Luna denger, aku Cuma kasian aja sama kamu… hubungan kamu sama ayah kamu itu gak sehat!!” Ucap Reyno, semakin kesal di buatnya Luna sampai mendorong d**a Reyno dengan sangat emosi. “jaga mulut kamu Rey!” Ia tak terima hubungannya di nilai dan di kritik seperti itu olehnya. “kamu gak tau apa-apa soal aku sama ayah! Ayah aku jelas sayang aku, kamu ngaco tau gak??!!” “kamu tau… ada batasan di mana orang tua laki-laki sentuh anak perempuannya? Seorang ayah gak boleh sentuh area privasi meskipun itu milik anak perempuannya sendiri Luna… aku kasih tau kamu… apa yang udah ayah kamu lakuin sama kamu… itu di luar batas wajar apa yang seharusnya di lakukan seorang ayah sama anak perempuannya” Ucap Reyno tegas memberitahu sesuatu yang sangat asing bagi Luna. Luna hanya mengabaikan ucapan Reyno yang di anggapnya hanyalah sebuah omong kosong saja. hanya satu yang ia yakini, ayahnya dan semua yang telah di lakukannya padanya adalah karena ia sangat mencintainya. “berhenti muncul di hadapan aku lagi” Ucap Luna. Ia memberikan peringatan pada laki-laki di hapannya itu. Luna lalu berbalik dan berjalan dengan tangan yang di kepalkannya untuk menahan emosinya. “Luna… siapapun yang liat ayah kamu hari itu lagi pegang-pegang p****t kamu, mereka bakal langsung tau kalo kamu udah di cabuli sama ayah kamuu!!!” Luna yang baru saja berjalan beberapa langkah menjauh dari Reyno, langsung terhenti berkat ucapannya itu. ia berbalik dan menatap tajam Reyno. “apa… kamu-… maksud kamu?” Luna baru menyadari itulah akan permasalahannya. Ia menebak jika Reyno melihat ayahnya kemarin yang memeriksa pembalut di balik rok yang di pakainya itu. “aku… udah liat semua… semua yang di lakuin ayah kamu sama kamu… sadar Luna… meskipun dia ayah kamu, gak seharusnya kamu berbagi bagian privasi dari tubuh kamu itu sama ayah kamu…” Tambah Reyno, “kamu gak tau apa-apa soal aku sama ayah, jadi gak usah bicara yang engga-engga” Ucap Luna, lalu ia berbalik dengan berlari meninggalkan Reyno agar tak lagi mendengar hal gila dari mulutnya itu. Luna menggerutu, memaki kesal pada laki-laki itu selama perjalanan menuju kelasnya. ia tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya itu. “dia tuh kenapa sih… padahal aku… aku … baru aja anggap dia orang baik yang mau baik sama perhatian sama aku… tapi- tapi dia malah katain ayah c***l kaya gitu…” Ucap Luna tak sadar air mata sudah keluar dari matanya, untuk pertama kalinya ia merasa sangat kecewa setelah sempat menaruh hati pada laki-laki yang sampai muncul dalam mimpinya beberapa hari yang lalu itu. “ih sebel deh” “aahh sebel sebel sebel!!!” …. Luna banyak terdiam sejak kejadian pagi dengan Reyno, kata-katanya terngiang di telinganya. ‘dilecehkan? c***l?’ Luna tak mengerti tindakan apa saja yang dapat di kategorikan ke dalam dua kata itu. tapi satu yang ia pasti tahu adalah kedua kata itu pastilah tindak criminal dan di lakukan untuk menyakiti seseorang. “Luna…” Ayahnya memanggil anaknya yang sedari tadi tampak melamun saja kerjanya di meja makan malam ini. “Luna… hey…” Masih tak menyahuti. “Luna...” Ayahnya sampai harus memegang tangannya untuk menyadarkannya dari lamunannya itu. Luna tampak sedikit terkejut kemudian. “ehmm? apa? kenapa ayah?” Tanyanya, kemudian. “kamu ini kenapa sih, kok ngelamun gitu… itu makanan kamu juga cuma di mainin aja bukannya di makan” Ucap Bryan, “ah… iya Luna makan kok yah” Barulah Luna mengambil sesuap sup ke dalam mulutnya. “kenapa sayang? Ada masalah?” Tanya Bryan, ia tahu ada hal yang mengganggu pikiran anaknya, sampai sampai ia melamun seperti itu. “ehmm… gak ada kok yah…” “bohong, ayah tau kamu… ada apa ehmm? Luna langsung ketahuan berbohong oleh ayahnya. “itu… ada istilah di sekolah yang asing buat Luna, jadi kepikiran deh” Jawabnya. “apa? siapa tau aja ayah tau artinya…” “ehmmm… itu… ehm- ah, Luna cari online aja nanti arti katanya Yah” Ucapnya, ia sangat ragu untuk memberitahu soal itu pada ayahnya. Karena jelas dua kata itu di tujukan pada ayahnya oleh Reyno tadi, jadi ia pikir baik untuknya menyembunyikan hal itu lebih dulu. “hhhh… ada ada aja si kamu ini” “hehhee… kenapa baru kepikiran ya, kan bisa cari di kamus online” “yaudah di abisin makannya dulu…” Ucap Bryan. Luna menurut apa kata ayahnya itu. Setelah selesai ia naik ke kamarnya, baru akan mengetikan dua kata itu di pencarian google, jari-jarinya terhenti, bahkan menghapus kembali huruf-huruf itu. “ahh… kenapa takut gini ya” Ia terdiam sejenak. “Lunaaa…. Ngapain sih pake di pikirin segala omongan di Rey, ayah kamu itu gak mungkin mau sakitin kamu” “ayah itu gak mungkin lecehin apa lagi c***l yang apa gak jelas itu artinya… jangan mikir yang aneh-aneh deh… ayah kamu itu udah besarin, rawat sama jagain kamu selama iniii…. Gak besyukur banget si jadi anak” Luna melakukan dialog sendiri, ia tiba-tiba merasa bersalah karena hampir saja termakan omongan laki-laki gila itu. Ia kemudian berlari menuju kamar ayahnya, “ayaahh…” Ia memeluki ayahnya dari belakang, begitu sampai dan di temukannya ayahnya yang sedang berdiri di kamarnya. “Luna, ada apa sayang?” Tanya ayahnya yang kaget tiba-tiba mendapati Luna yang memeluki dirinya dengan sangat erat itu. “ehmmm… Luna- Luna… ahhh… Luna kangen ayah” Ucapnya begitu. “kangen? Ahahhhh ada-ada aja sih… baru lima menit tadi kamu naik ke kamar kamu, terus sekarang udah kangen lagi gitu? hahahahhh” Ucapnya dengan tawa renyah mengetahui tingkah lucu anaknya itu. “ehmmm… Luna kangen ayah” Padahal jauh dalam hatinya, di sisipkannya kata maaf bersamaan dengan ucapan kerinduan pada ayahnya itu. “aduuuh anak ayah, manja banget sih” Ucapnya sambil berbalik dan memangku Luna. Membuat wajah mereka sejajar. Di tatapinya wajah cantic anak gadisnya itu. Cup Bibir Bryan di daratkan di bibir menggemaskan anaknya itu. “ehmm… pasti gara-gara lagi mens ya, jadi manja gini” Ucapnya. Luna tak menjawabnya karena jelas-jelas itu ulah si Reyno yang berkata yang tidak-tidak soal ayahnya itu. Luna lalu mengalungkan tanggannya pada leher ayahnya, ia memeluk dan menyembunyikan wajahnya di lehar Bryan. Tak ingin lagi ia memikirkan hal buruk soal ayahnya yang menjadi satu-satunya tempat ternyaman dan teraman di dunia. “mungkin… Luna agak aneh tadi yah…” Ucapnya tiba-tiba “aneh?” “ehmmm…” “aneh kenapa?” Tanya ayahnya penasaran. “adalah pokoknya, ayah… ayo tidur” Ucap Luna mengalihkan, “gak jelas banget si kamu sayang…” Tapi Bryan menurut saja, dengan tangan tangan kokohnya ia membawa Luna yang ada dalam pangkuannya itu ke ranjang tempat tidurnya dan membaringkannya di sana. Luna di tatapinya lekat-lekat. Senyum cantik tergambar di wajah putrinya itu. Kemudian tangan ayahnya tiba-tiba merayap kembali ke area p****t Luna. Wajah Luna di buatnya menegang, kata-kata yang di ucapkan Rey tadi terngiang dengan jelas di telinga Luna saat ini. ‘apa bener kalo orang di luar sana liat ayah aku yang lagi pegang-pegang aku kaya gini… mereka bakal mikir kalo aku ini lagi di cabuli?’ Tanya Luna dalam hati, “ayah…” Luna meraih tangan ayahnya yang berada di pantatnya itu. “ehmm kenapa?” “jangan di pegang… nanti darahnya kena tangan ayah gimana” Luna hanya bisa berkata begitu. Karena memang tangan Bryan sampai masuk ke balik pembalutnya dan benar-benar menyapa kulitnya. “ehmm… itu darah anak sendiri kok jadi gak papa…” Balas Bryan santai. “tapi baunya gak enak… udah pelukin Luna aja” Luna akhirnya memegangi tangan ayahnya, ia mencoba untuk menahan ayahnya sampai menyentuh area itu kembali. … ….
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN